Saturday, June 27, 2009

Comfort Zone


Timbul keinginan untuk mengupas masalah ini pertama ketika Lucas menugaskan dan memberi rambu-rambu membuat Curriculum Vitae yang baik, kemudian saya membaca Jack Canfield tentang kunci sukses.. tapi yang lebih menguatkan hati ketika kebiasaan 'bertahan' di daerah kenyamanan ini menjauhkan dari sikap kreatif, inovatif dan tif-tif yang lain. Gairah yang seharusnya muncul seiring dengan ritme kerja kita akhirnya malah tidak muncul samasekali.


(Dari Wikipedia)
One's comfort zone refers to the set of environments and behaviours with which one is comfortable, without creating a sense of risk.

Berarti setelah seseorang merasa nyaman dengan keadaan saat ini (padahal nyaman itu belum berarti usaha yang maksimal) akhirnya mereka akan diam di posisi tersebut untuk menghindari resiko apabila ia melakukan hal yang diluar kebiasaan.


A person's personality can be described by his or her comfort zones. Highly successful persons may routinely step outside their comfort zones, to accomplish what they wish.

Nah.. kepribadian seseorang ternyata bisa dilihat dari bagaimana mereka menciptakan daerah kenyamannya. Orang yang sangat sukses bisa dipastikan keluar dari zona kenyamannya.


A comfort zone is a type of mental conditioning that causes a person to create and operate mental boundaries that are not real. Such boundaries create an unfounded sense of security. Like inertia, a person who has established a comfort zone in a particular axis of his or her life, will tend to stay within that zone without stepping outside of it.

Dari Jack Canfield;

Jangan Bodoh Seperti Gajah

Seekor anak gajah dilatih sejak lahir untuk hidup di tempat yang sangat kecil. Pelatihnya akan mengikat kakinya dengan tali ke sebuah tiang kayu yang ditancapkan ke dalam tanah. Panjang tali itu membatasi ruang gerak anak gajah-zona kenyamannya. Meski pada awalnya anak gajah itu akan berusaha memutuskan tali, tali itu terlalu kuat. Jadi, anak gajah itu belajar bahwa ia tak bisa memutuskan tali itu. Anak gajah itu belajar bahwa ia harus tinggal dalam area yang ditentukan oleh panjang tali.

Ketika tumbuh menjadi raksasa berbobot 5 ton, yang bisa dengan mudah memutuskan tali yang sama, gajah itu bahkan tak berusaha melakukannya, karena sejak bayi ia sudah belajar bahwa ia tidak bisa memutuskan tali itu. Dengan cara itu, bahkan gajah terbesar pun bisa ditahan oleh tali kecil yang sangat rentan.


Pada saat membaca cerita tersebut sudah dapat dipastikan bahwa kita akan menganggap gajah itu bodoh, tanpa kita sadari kita pun seringkali melakukan pembatasan pada diri kita sehingga tidak akan pernah mencoba untuk mencapai sasaran yang lebih tinggi.


To step outside a person's comfort zone, they must experiment with new and different behaviours, and then experience the new and different responses that then occur within his environment.

Jadi, untuk dapat keluar dari zona kenyamanan kita harus berani berbuat diluar kebiasaannya. Berani karena perilaku baru kita belum tentu mendapat respons yang berbeda-beda. Ketakutan atas respons negatif yang mungkin muncul menyebabkan orang lebih suka berperilaku secara 'aman'.


Klo baca paparan di atas (puyeng juga..) menggambarkan pengertian tentang 'daerah/keadaan aman'. Dalam manajemen keadaan seperti ini dikatakan sangat tidak mendukung seseorang untuk menjadi kreatif dan inovatif.

Sikap kreatif dan inovatif bagi pelajar misalnya, pada saat test, jawaban essai, jawaban 'aman' adalah jawaban yang sesuai dengan materi yang ada di buku, sementara berlaku kreatif apabila kemudian ditambahkan dengan aplikasi di dunia nyata tentang jawaban tersebut.
Bagi mereka yang sudah bekerja, keluar dari rutinitas kerja sehari-hari, mengeluarkan ide-ide baru serta melaksanakan ide tersebut.

Tantangannya adalah belum tentu nilai yang kita peroleh dengan memberi jawaban 'lebih' menghasilkan nilai yang lebih besar dibanding dengan mereka yang memberi jawaban 'aman'.
Ide-ide dan inovasi yang kita laksanakan tidak disukai (atau belum) disukai atasan. bahkan dalam beberapa kesempatan, ide dan inovasi kita dianggap menyalahi aturan yang berlaku bahkan lebih jauh dianggap sebagai sikap membangkang. Hal ini jelas terjadi kepada para ilmuwan jaman 'baheula' (dahulu) yang membayar ide dan inovasinya dengan nyawa.


Intinya adalah... memunculkan dan melaksanakan kreasi dan inovasi tidak mudah, perlu orang-orang dengan keberanian dan motivasi yang tinggi. Selain itu mereka harus juga memiliki kebesaran jiwa untuk tidak lalu diterima hasil kreasi dan inovasinya. Paling tidak apa telah kita lakukan pada akhirnya akan memperkaya kita dengan pengalaman dan keterampilan mengolah pikir menjadi sesuatu yang 'lebih'.

Friday, June 19, 2009

Silent moment.

Menikmati saat diam... ketika yang lain sibuk berseliweran kesana-kemari... terang saja lalu saya dikatakan.. PENAKUT... lalu yang lain mengatakan.. TIDAK TEGAS.. ada yang menganggap.. MALAS (mungkin yang ini ngga terlalu salah..^_^)..
Tapi ada juga yang sangat mengerti dengan 'my silent moment' ini. "Kalau kita mau teriak-teriak.. emangnya kita ini siapaa?" lantas, "Memangnya kamu sudah yakin kalau kamu 100% benar??"..
Entahlah apapun itu.. yang pasti saat ini saya bak SPONGEBOB.. menyerap semua tanpa memberi judge buruk atau baik.. toh jika kembali ke kalimat "tak ada yang sempurna" semua berujung pada seberapa jauh dan dari sudut mana kita memandang sebuah ketidaksempurnaan...

Ketika Manohara berhasil pulang.. BERSYUKUR.. cerminan buat kita bahwa harta dan kedudukan bukan segalanya.
Ketika Bu Prita yang telah jatuh tertimpa tangga pula.. PRIHATIN .. tapi juga bertanya.. kenapa untuk tulisan yang mencerca bangsa kita tak pernah ada tindakan seperti ini?? saking hapeningnya kasus bu prita, sampai2 masuk (atau dimanfaatkan?) dalam sesi debat Capres kemarin..
Ketika mengamati sistem Penerimaan Siswa Baru tahun ini.. BINGUNG.. saking bingungnya sampai tidak tahu apa yang harus dibingungkan...
Banyak siswa tidak lulus yang dihadapi dengan tangis, pingsan hingga bunuh diri.. SEDIH.. terjadi revisi daftar siswa yang lulus di Jawa Tengah.. akhirnya media bertanya.. "Apabila daftar siswa lulus saja bisa salah, bagaimana dengan wajah pendidikan di Indonesia sebenarnya?"
Untuk hal ini pendapat saya mungkin kita harus memperbaiki rentang antara Diknas hingga praktisi (baca:Guru), sehingga setiap kebijakan yang baik akan dilaksanakan dengan baik juga. Apabila di tengan perjalannya dicabik tikus pengerat, yang sampai ke telinga murid-murid kita adalah gambaran kekecewaan dan kegagalan semata.

Dengan DIAM barangkali kita bisa lebih kaya, menyerap tanpa harus fokus berteriak untuk satu masalah..... lebih bijak, dan lebih SABAR.. sehinga InsyaAlloh menjadi 'manusia yang baik hati dan tidak sombong' yang sebenar-benarnya...