Saturday, June 3, 2017

Gowes 'NoWhereToGo'

Di kalangan pesepeda ada beberapa golongan. Yang pertama mereka yang 'maniak' sepeda. Hampir setiap hari kemanapun mereka bersepeda, sampai kayaknya ke kamar mandi pun naik sepeda (lebay) :D.
Ada yang suka 'bike to work', golongan ini pastinya pergi ke tempat kerja dengan menggunakan sepeda. Barangkali tukang siomay keliling bisa jadi salah satu golongan ini? (hehe..).
Ada lagi yang disebut weekend warrior, ini buat mereka yang bersepeda hanya di akhir pekan. Biasanya mereka akan bersepeda ke tempat-tempat yang agak melipir untuk uphill atau downhill tergantung kesukaan.
Golongan yang lain adalah mereka yang suka bersepeda antar kota antar propinsi (kayak bis malem aja) atau kita kenal dengan touring. Jika ada waktu libur beberapa hari biasanya dimanfaatkan oleh golongan ini untuk mengunjungi tempat-tempat yang agak jauh.
yang paling kenyang adalah golongan pesepeda yang khusus mencari tempat kuliner. Makanan-makanan khas yang biasanya diminati oleh para pesepeda kuliner yang lebih mudah dijangkau bila menggunakan sepeda.

Saya termasuk golongan pencinta sepeda yang campur aduk. Maniak karena bila ada kesempatan ke warung-pun bersepeda, B2W sekali-kali saya lakukan meski ngga pake bawa siomay, weekend warrior semi wajib karena sudah mulai sugesti jika tidak bersepeda di hari sabtu/minggu bakalan sakit. Atau gowes kuliner.. yang ini wajib. Entah cari warung kopi, pecel, mi ayam, bubur  ayam sampai bir kocok.

Dalam kegiatan bersepeda di akhir pekan wajib bawa GPS (baca: Ceu@Tarie). Temanku yang satu itu paling canggih cari jalan dan ngga pernah tersesat. Kelebihannya dari GPS yang paling canggih sekalipun adalah ga perlu ganti batre dan bisa nanya ama orang.. hehehehe..

Tapi hari minggu kemarin bisa jadi disebut gowes 'galau' karena saking galaunya sibuk bm-an dulu cuma ingin pasti mau gowes atau tidak, alhasil kesiangan. Kami baru start nyaris jam 7.30! Jatah gowes juga pendek, cuma sampe jam 9 karena Ceu@Tarie harus mencari semangkuk berlian, lembur uy!
Jadilah akibat 'GPS' yang galau, gowes kami hari itu jadi 'NoWhereToGo'.

Baru kali ini ceu@Tarie sibuk tanya ke saya yang mengikuti di belakang, "kiri-kanan?!", tentu saja saya jawab "terserah!". Ngga kapok dengan jawaban itu, tiap kali bertemu persimpangan Ceu@Tarie selalu bertanya "kiri-kanan?!" kadang ditambah "lurus?!" dan selalu jawaban saya "terseraahhh!" :D

Walaupun saya mengendarai folding bike (sepeda lipat/seli), tidak tabu buat jalan ke jalan selain aspal. Hari Minggu kemarin membuktikan bahwa si kuning cukup lincah di jalan setapak yang licin akibat hujan sehari sebelumnya.
Dalam bersepeda belum pernah saya keluar dari kota Bogor. Alasannya yaa.. kekuatan dan waktu tempuh yang ga bisa terlalu lama. Gara-gara gowes tak tentu arah kemarin saya jadi tahu jalanan di kota Bogor ini tidak selamanya mulus. Awalnya aspal, kemudian berganti beton, berganti conblock sampai akhirnya tanah licin dengan bebatuan besar. Pada saat bertanya arah, ada seorang Ibu menggendong bayi yang belum genap sebulan umurnya. Rumah yang ditinggalinya sangat jauh dari sebutan layak. Hanya berdinding kayu triplek disangga kardus-kardus tebal, tanpa jendela dan penerangan. Sempat merasa miris masih terlihat pemandangan seperti itu di tempat yang kita sebut "kota". Tapi ceu@Tarie berpendapat lain. Hal itu adalah awal dari orang-orang yang sulit untuk diminta pindah dari tanah yang bukan haknya karena sudah merasa menempati selama beberapa lama bahkan beberapa generasi... mmm ada benarnya.

Ada lagi kejadian yang lumayan bikin nyengir saat bertanya arah:
ceu@Tarie : Punten kang, ini jalan ke kanan kemana, ke kiri kemana ya?
Akang2 : memangnya Teteh mau kemana?
CT: ngga kemana2 sih kang...
A: Ya udah atuh teteh lurus aja, nanti belok kanan... (perasaan tanya kiri dan kanan, malah disuruh lurus)
CT: nuhun kang... (nurut)



Betul saja tidak sampai 10 menit mengayuh kami tiba di jalan besar.. lhaa heran juga keluarnya disitu padahal kami kira sebelumnya tujuan kami ada di sisi yang lain :D.
Berhenti sejenak ambil nafas dan minum karena setengah dari perjalanan kami tadi yang jika tidak perlahan karena jalan licin, kami juga lakukan tuntun bike karena jalan yang sempit dan menanjak, jika nekat digowes bisa jadi saya jumping bareng si kuning :D.
Dari sana jalan yang kami lalui full aspal dan tetap tak henti mengayuh karena (lagi-lagi) jalanan panjang dan menanjak. Tapi semangat karena hari mulai panas dan takut meleleh saya kayuh sepeda tak jauh di belakang ceu@Tarie. Bertemu beberapa pesepeda lain, kami sapa dengan membunyikan bel masing-masing sambil senyum dan lambai tangan. Senangnya bersepeda 😊





Saturday, October 31, 2015

Jazz Dan Alam.

Jumat, 30 April 2015. Warga Bogor yang perduli dengan kemarau yang berkepanjangan memohon bersimpuh dalam Shalat Istisqo yang diadakan pemerintah Kota Bogor. Mulai dari Walikora Bogor, Bima Arya dan jajarannya, tentara, pelajar, masyarakat umum seluruhnya larut dalam permohonan kepada Alloh untuk segera diturunkan hujan. Belum sempat jamaah beranjak dari lapangan Sempur tempat digelarnya Sholat, hujan turun deras merata di kota Bogor, membuktikan kekuatan doa, Masyaalloh...

Banyak bencana yang sedang terjadi belakangan ini. Kemarau yang berkepanjangan ditambah kabut asap yang parah dan tak berkesudahan menjadi fenomena. Ketika dulu dengan teknologi seadanya,  manusia dengan arif bersatu dengan alam sehingga alam memberikan yang terbaik untuk kelangsungan hidup manusia. Mutual relationship, mutual respect.

Ketika teknologi semakin berkembang, kepentingan manusia semakin banyak dan untuk memperolehnya manusia menghalalkan segala cara.. awal bencana yang sebenarnya. Itulah yang ingin diingatkan kembali oleh Bogor Jazz Reunion kali ini. Dengan mengusung tema Respect The Nature kita diajak untuk memikirkan apa yang harus kita lakukan dengan kerusakan yang telah kita buat. Apa yang harus kita perbaiki untuk keberlangsungan kehidupan anak cucu kita di masa yang akan datang. Untuk kali ini saya akan ingat-ingat sambil mendengarkan bang Idang Rasjidi, Teteh Rika Roeslan, Mbak Iga Mawarni dan para pendukung acara Bogor Jazz Reunion untuk bertutur tentang alam.. sampai ketemu di Kebun Raya Bogor :)


Saturday, October 25, 2014

Minuman Berkarbonasi dan Kesehatan.

Judulnya saya buat sama dengan tema Seminar Sehari pada hari Sabtu, 18 Oktober 2014 bertempat di IICC (IPB International Convention Center) yang dihadiri oleh guru se kota Bogor serta teman-teman Pasca Sarjana IPB jurusan Pangan dan Gizi. Hadir ke acara ini dengan pemahaman awal yaitu minuman berkarbonasi berbahaya bila dikonsumsi terlebih oleh anak-anak atau orang yang sudah 'agak' berumur seperti saya karena kandungan gula dan zat lain yang terkandung didalamnya.

Namun ketika PT. Dhimas Joudan Janai sebagai Consulting Company on Food, Nutrition ans Health selaku penyelenggaran menggandeng Coca-Cola Company sebagai sponsor utamanya, tentu rasa penasaran saya tak berkurang dengan adanya pertanyaan di kepala, "so, dimana letak baiknya minuman berkarbonasi?".

Sunday, October 5, 2014

Menguak Harta Warisan Ayah.

Mengetahui ada event Bogor Jazz Reunion yang akan digelar 25 Oktober 2014 mendatang, hari-hari belakangan tone jazz di kepala saya semakin kuat berdetum. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Moksa Event Management ini merupakan event yang saya tunggu.

Jazz begitu kuat pengaruhnya dalam hidup saya, sampai-sampai saya ingin tahu kenapa dan darimana datangnya ketertarikan saya terhadap musik jazz. Titik awalnya membawa saya kembali ke rumah dimana tersimpan harta ayah yang selama ini terlupakan.

Koleksi kaset Jazz Ayah
yang belum terbongkar semua


Ayah saya percayai sebagai sosok yang pertama kali mengenalkan musik pada saya. Walaupun pengakuan Ibu menyatakan sering mendengarkan musik yang easy-listening saat mengandung saya, itupun dari koleksi Ayah. Musik sangat menenangkan bagi para ibu yang sedang mengandung dan kabarnya akan mencerdaskan janin yang dikandungnya. Jadi hari ini selain berterimakasih telah dilahirkan ke dunia, saya patut berterimakasih pada Ibu yang telah menambah kecerdasan saya dengan musik. :)

Ayah telah aktif di dunia musik sejak SMA. Awal kuliah beliau sudah memiliki band yang cukup terkenal di kota kelahirannya, Bandung. Saat itu era 60an dimana musik jazz mempunyai pengaruh yang kuat sehingga menjadi musik yang wajib bisa dimainkan setiap grup band pada masa itu. Alhasil referensi musik ayah banyak didominasi oleh jazz yang dapat dilihat dari koleksi kaset pribadinya yang sampai saat ini masih saya simpan.


Musik selalu hadir di rumah. Musik Jazz bisa jadi adalah jenis musik pertama yang saya dengar selain petikan kecapi yang selalu diperdengarkan ayah untuk menenangkan saya. Ayah bahkan merekam suara ketika beliau bermain kecapi dan saya bersuara di belakangnya seakan bernyayi dengan suara bayi yang khas. Seingat saya di jazz Ayah menyukai Duke Ellington, Ella Fitzgerald, Frank Sinatra, Nat King Cole, Paul Muriat, Sergio Mendez. Belakangan beliau menyukai Bob James, Lee Ritenour dan Four Play-nya, George Benson dan Natalie Cole. Yang agak Pop beliau suka Kenny G, lalu di Indonesia beliau menyukai Idang Rasjidi, Ermi Kullit hingga Iga Mawarni. 
Ella Fitzgerald with Duke Ellington, Stuff Smith,
Ben Webster dan Oscar Peterson.

Begitulah musik jazz mempengaruhi hidup saya. Setiap saat Jazz selalu hadir menemani di pagi hari di hari libur, saat berkendara dengan ayah, sore hari, malam hingga akhrinya album pertama yang saya beli dipengaruhi pula oleh jazz (*Sheila Majid). Hingga saat ini referensi musik jazz dari Ayah masih sering saya dengar di You Tube, ditambah musisi baru yang mendaur ulang lagu lama seperti Michael Buble dan Harry Conick Jr serta grup musik dan penyanyi yang dipengaruhi jazz seperti Simply Red dan Basia.

Karena musik, saya percaya hingga saat ini saya tidak pernah mengalami kesulitan dalam bermasyarakat atau belajar. Saat mood kita turun cukup mendengarkan musik, dunia serasa indah kembali. Karenanya kita akan terhindar dari stress. Dan terbukti berkali-kali pengetahuan kita tentang musik akan membuka percakapan yang mengasyikan dengan kenalan baru.

Lalu apa hubunganya antara musik jazz dan Bogor? Bogor adalah kota dimana saya dilahirkan. Orangtua saya hijrah ke kota ini sejak tahun 70an. Musik jazz adalah salah satu genre musik yang punya ciri khas penuh dengan improvisasi kadang setiap elemen musik dan vokal seperti bermain sendiri-sendiri.  Walaupun demikian tetap dalam harmonisasi nada yang seringkali hanya bisa dimainkan satu kali untuk kemudian di
mainkan improvisasi untuk lagu yang sama di waktu yang lain. itulah uniknya Jazz, dan itu pula uniknya kota Bogor yang penuh dengan orang yang datang dari berbagai daerah, dekat dengan ibukota Jakarta, tetapi punya ritme yang sangat berbeda dengan Jakarta.

Bogor tidak pernah mengalami pergolakan yang berarti. Suhu politik yang sedang panas di ibukota dijamin tidak akan mempengaruhi suhu di kota Bogor. Itulah Bogor yang seperti irama swing, santai seperti bossanova, dan penuh semangat seperti R&B. Apapun itu, Bogor seperti juga jazz yang aman, nyaman dan tentram dengan masyarakatnya yang dinamis serta harmonis.

Bersepeda di Kebun Raya Bogor salah satu kegiatan yang
Jazzy ;)


Referensi:
http://www.bogorjazzreunion.com/
http://doktersehat.com/pengaruh-musik-terhadap-perkembangan-janin/
http://id.wikipedia.org/wiki/Jazz
http://en.wikipedia.org/wiki/Simply_Red




Thursday, September 26, 2013

Sebuah Sore di Pendopo Enam.

taken by @Yola; semangat!
Hanya dalam waktu sehari, Alhamdulillah Mitha, Yoris dkk berhasil mengumpulkan Guru-guru dan teman sewaktu SD dulu di SDN Polisi 4 angkatan tahun 1985. Yup, minggu lalu kami diundang untuk temu kangen sekaligus tasyakur atas terpilihnya Bima Arya S. sebagai F1 (baca: Walikota Bogor) tahun 2014-2019.

Dengan banyaknya Guru dan teman-teman yang menyempatkan hadir bisa diartikan sebagai dukungan penuh atas usaha dan niat Kang Bima untuk mewujudkan kota Bogor menjadi lebih baik. Terungkap saat bincang-bincang santai, kami yang pernah merasakan zaman keemasan Bogor sekitar tahun 80-an merindukan kota kami yang BERIMAN alias bersih, indah dan nyaman. Tahun-tahun itu keberadaan kota Bogor diakui dengan memperoleh Adipura sebanyak 6 kali (Adipura Kencana). PKL yang tertib, kemacetan yang langka, hijau oleh keteduhan tanaman (bukan oleh angkot), ketersediaan tempat sampah sampai di setiap angkot, juga kewajiban setiap toko untuk menyediakan tempat sampah serta menjaga kebersihan di lingkungan tokonya. Seluruh program berjalan dengan baik didukung oleh pengawasan yang teratur.

Keinginan kang Bima untuk bersilaturahmi dengan guru-guru dan teman di SD nya dulu, saya terjemahkan sebagai ungkapan terimakasih kepada guru-guru yang pernah membentuknya dan ingin sharing secara santai dan jujur dari orang-orang yang telah dikenalnya sejak dulu. Atau mungkin sekedar melepas rindu seperti saya? ciee... Namun dapat dipastikan kang Bima akan menerima masukan yang "jujur" dan langsung dari sumbernya tanpa ada kepentingan apapun atau niat untuk ABS (Asal Bapak Senang). Bahkan saya secara terang-terangan menyatakan saya pernah dikecewakan! (-_-)V

Wajar apabila karena merasa kenal, keinginan atau barangkali lebih tepat disebut keluhan kita ingin lebih didengar. Ceritanya, saya pernah mempertanyakan tentang masalah yang berkaitan dengan almamater kang Bima di situs jejaring sosialnya. Namun karena merasa tidak mendapat jawaban (apalagi tindakan nyata) saya jadi kecewa berat. Pada akhirnya saya pikir lucu juga mengharapkan seseorang yang kesibukannya seabreg menjawab keluhan kita yang ukurannya setetes diantara lautan.  :)
Saya pernah berfikir seseorang yang miskin pengalaman di birokrat pasti akan mengalami kesulitan berhadapan dengan mereka yang terlalu lama berada di zona aman, tidak out of the box dan kebanyakan ghibah.. namun ini bukan berarti pukul rata semua pegawai pemerintah seperti itu, seringkali mereka yang tadinya semangat tinggi memiliki ketakutan tidak akan berhasil atau tidak diterima lingkungan jika berbuat diluar kebiasaan sehingga ter/dipaksa menjadikan kreatifitas dan inovasi pegawai pemerintah seperti jalan ditempat, bikin cape tapi tidak menjadikan dirinya maju. :D
Hal ini juga sangat disadari kang Bima. Namun kekuatan suara masyarakat Bogor yang selama 2 tahun ini ditampung melalui blusukan keluar masuk kampung memberi kekuatan dan kepercayaan untuk sanggup memimpin kota Bogor dan bekerjasama langsung dengan para birokrat yang telah lama berkarya di pemerintahan.

Masalah krusial lain juga muncul dari pembicaraan santai sore itu seperti kemacetan, PKL, mall dan hotel liar, tatakota yang tidak jalan, perencanaan yang bagus tidak didukung pelaksanaan yang baik, bidang pariwisata yang kurang digali, sampai ke harga ruko yang mahal banget, trotoar untuk pejalan kaki dan jalur sepeda (yang 2 terakhir keinginan pribadi sebagai tambahan :D). Yang pasti semua dibicarakan dengan santai dan bebas kepentingan. Saya dengar hari itu kang Bima khusus menyediakan waktu pribadi tanpa diliput media apapun atau dipertemukan dengan organisasi manapun, jadi murni temu kangen (thanks Kang!)
Intinya sore itu di Pendopo Enam, semua dapet, ya temu kangen ya laporan pandangan mata untuk kang Bima yang April 2014 nanti akan memimpin kota Bogor. Doa dan dukungan semua teman agar pada saatnya nanti kang Bima diberi kelancaran dan kekuatan untuk punya NYALI memimpin kota Bogor tercinta, Aamiin... Semangat Kang!

taken by @Dali Pv @Ex Polpat 1985: Cheers guys!