Thursday, July 16, 2009

Riwayatmu..."DULU"...

Kemarin ada teman berkata...
"Saya paling tidak suka kalimat yang diawali kata 'dulu'...."
"Maksudnya...?"
"Ketika kita usul inovasi dan kreasi baru, mereka lalu bilang... 'DULU' kita pernah melakukan itu, atau 'DULU' saya pernah punya usul begitu... tapi....bla..bla..bla..."
Kelihatan benar teman saya yang satu ini lagi kesal.
Lalu dia melanjutkan;
"Jadi kapan majunya kalo kita hanya berpikir 'dulu'... mandeg!"

Sebetulnya apa yang salah dengan kata 'dulu'? Ngga ada! apalagi klo melihat bahwa dalam pelajaran sejarah kata 'dulu' hukumnya fardhu 'ain... heheheh
Tapi bukan berarti kita harus terpaku pada masa lalu kan?? inovasi ke arah yang lebih baik juga perlu lhoo..

Inovasi berasal dari kata innovation yang berarti "new idea" atau the act or process of inventing or introducing something new.
Jadi, sebetulnya, memperkenalkan sesuatu yang sifatnya BARU seringkali dicurigai sebagai yang dapat merusak tatanan dan kemapanan yang sudah ada. Makanya seorang inovator harus mempunyai semangat tinggi dalam memperkenalkan ide-idenya, karena PENOLAKAN hampir selalu ada. Jika kemudian sesuatu yang baru tadi ternyata SUDAH PERNAH ADA, artinya ada sesuatu yang SALAH yang belum diperbaiki.

Secara teori dalam sebuah proses manajemen diawali dengan PERENCANAAN, kemudian tahap PELAKSANAAN, dan terakhir tahap EVALUASI yang mengukur hasil kinerja organisasi. Hasil evaluasi akan dijadikan acuan untuk pelaksanaan perbaikan program selanjutnya.

Kembali pada kekesalan teman saya tadi, apabila ternyata ada kalimat: "DULU pernah (dijalankan atau sekedar diusulkan), tapi ngga bisa berjalan programnya..." Indikasinya menjadi "sesuatu yang dianggap mentok dan dibiarkan mentok, kemudian dianggap gagal.. padahal niat programnya baik".

Coba kalau kita kembalikan ke proses manajemen tentang pelaksanaan suatu program. Awali dengan rencana yang merupakan tuangan dari apa yang tadinya hanya berupa WACANA. Rencana artinya pertimbangan antara yang baik dan penyelesaian perkiraan masalah yang akan timbul dari program tersebut. Perencanaan yang kita buat semakin detail dan semakin memandang ke depan, semakin baik.
Setelah selesai membuat rencana, laksanakan program STEP BY STEP. Jadikan tiap masalah sebagai kekayaan dalam perbaikan program yang diungkapkan dalam proses evaluasi. Evaluasi terhadap program tidak hanya dilaksanakan di akhir program (berupa sebentuk pelaporan) melainkan dilaksanakan mengiringi program berjalan.

Jika kemudian ada program yang (ternyata) baru berjalan (atau belum dijalankan) sudah mengalami kegagalan, ini artinya proses manajemennya tidak berjalan dengan benar. Seharusnya bisa diambil langkah perbaikan mulai dari tahap perencanaan sampai tahap evaluasinya. Syaratnya adalah; KOMITMEN terhadap program dan KONSISTEN dalam melaksanakan program tadi. jadi ngga bakal tuh ada kata MENTOK.

Ini yang lebih modern. The Balance Scorecard dari KAPLAN dan NORTON. Pada intinya teori ini berusaha menyeimbangkan 2 perspektif yaitu perspektif finansial dan perspektif non-finansial. Perspektif non-finansial yaitu;
  1. Perspektif pelanggan, yaitu untuk menjawab pertanyaan bagaimana customer memandang perusahaan.
  2. Perspektif internal, untuk menjawab pertanyaan pada bidang apa perusahaan memiliki keahlian.
  3. Perspektif inovasi dan pembelajaran, untuk menjawab pertanyaan apakah perusahaan mampu berkelanjutan dan menciptakan value.
  4. Perspektif keuangan, untuk menjawab pertanyaan bagaimana perusahaan memandang pemegang saham.
Ini sih proses manajemen tingkat tinggi.. di link aja ke tetangga klo mo lebih jelas; http://setyowibowo.wordpress.com/2006/07/06/balanced-scorecard-dari-performance-measurement-hingga-strategy-focused-organization/

Dalam teori yang baru ini intinya adalah usaha perusahaan dalam memuaskan pelanggannya, baik pelanggan internal berupa anggota organisasi dan pelanggan eksternal yaitu masyarakat. Kalau dalam masyarakat sekolah, GURU, TAS, MURID dan Orangtuanya adalah bagian dari pelanggan internal (ini kata instruktur ISO-International Standard Organization- yang setiap Sabtu datang dan memberi materi tentang ISO), pelanggan eksternalnya adalah stake holder yaitu masyarakat.
Bedanya teori ini dengan teori yang lama adalah cara pandang organisasi terhadap anggota organisasi. Dulu (dulu lagi nih..) penilaian tentang program hanya datang dari pihak manajerial, penyelesaiannya pun cukup oleh para manajer. Saat ini kepuasan pelanggan merupakan modal yang sangat penting bagi organisasi.
Jadi, bila ada kegagalan program artinya adalah kegagalan organisasi dalam memuaskan pelanggannya.

Seru juga kalau kita sudah tiba di bagian puas dan tidak puas karena indikator kepuasan tiap orang yang berbeda. Akhirnya untuk berinovasi, organisasi (sangat) perlu berkomitmen dan konsisten terhadap perbaikan setiap program untuk kepuasan pelanggan yang berujung kepada organisasi yang SEHAT.
Lalu bagaimana kabarnya dengan kata "DULU"? Orang yang terpaku pada masa lalu adalah orang-orang yang terlalu nyaman dengan sejarah dan kemapanan masa lalu serta menghindari resiko dan sudah dipastikan sangat memusuhi inovasi yang datang dari mereka yang lebih muda.



Wednesday, July 1, 2009

Belajar Menerima

Saat ini walaupun murid-murid sedang menikmati liburan, guru-guru sudah mulai mempersiapkan perangkat pembelajaran untuk tahun pelajaran baru.
Saat sibuk, masih sempat bercakap-cakap dengan rekan.

"Saya sedang belajar tidak memiliki sikap suudzhon... ingin selalu husnuzhon..."
"Susah pa.. manusia itu fitrahnya memiliki sifat untuk menimbang mana yang baik dan buruk. Makanya fikiran buruk pasti akan mengikuti.."
"Emang ya... susah..."
"Kalau saya mencoba dengan langkah yang paling mudah... (tapi implementasinya sangat sulit...) bisa menerima apapun yang menimpa kita.. terutama yang paling buruk (menurut ukuran kita... karena saya selalu ingat kata-kata Prof.-teman saya- bahwa ukuran baik-buruk bukan milik manusia, melainkan milik Alloh)"
"Selalu ada hikmah yang bisa kita ambil dari apa yang terjadi pada diri kita.. SABAR ya, Bu..."

Menjadi Seorang GURU


Waktu saya membongkar foto-foto lama milik Ibu, ada beberapa foto yang memperlihatkan kegiatan pada saat beliau baru masuk IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan; sekarang menjadi UPI-Universitas Pendidikan Indonesia) di Bandung.

Sambil memandangi Foto, Ibu tersenyum, lalu tertawa pada saat membaca nama yang diberikan para senior kepada beliau dan teman-temannya.
Padahal keadaan pada saat itu tidak memungkinkan untuk bisa tersenyum apalagi tertawa.

Perploncoan.. yang belakangan banyak diberitakan memakan korban sakit bahkan meninggal dunia karena kelelahan fisik dan mental.

"Waktu itu 'mah' ngga ada hukuman fisik yang berlebihan, ga ada tonjok-tojokan...", Ibu memperlihatkan fotonya sambil bercerita.
"Waktu itu pernah kesiangan.. kan dari rumah naek sepedah tuh (7 kilo lho... bike to school ternyata lebih efektif jaman dulu ya...). 500 meter lagi tiba ke aula tempat kumpul para mahasiswa baru, lonceng tanda masuk berbunyi... Mamah ama teman-teman yang telat otomatis (harus) berjalan mundur, ngga boleh tungak-tengok.. jadi tabrak sana sini...." Lalu Ibu tertawa..

Pembinaan mental para calon guru dilatih pada saat MAPRAM (perkembangannya menjadi perploncoan, opspek, orientasi siswa). Dari satu contoh kasus terlambat, kita dilatih untuk selalu tepat waktu dalam memulai kegiatan.

"Memanggil para senior harus menggunakan 'Akang' dan 'Teteh' supaya kita menghormati yang lebih tua".
Namun bukan berarti lahir lebih dulu menjadikan kita 'lebih' segala-galanya dari mereka yang lahir setelah kita.
Menghormati senior adalah karena pengalaman yang telah mereka lalui, namun bukan berarti sebagai senior menghalangi kesempatan buat para junior yang ingin (dan mamapu) untuk maju. Sebetulnya adalah, kemajuan senior dihasilkan bila mereka mau sedikit terbuka dengan pembaruan yang dibawa oleh para junior. Sementara keberhasilan junior adalah juga berkat dukungan para senior.


Kegiatan MAPRAM disertai dengan kegiatan MENWA (Resimen Mahasiswa) selama setahun penuh (hari-hari tertentu). Dalam MENWA para calon guru ditempa fisik dan mental. Latihan semi-militer (bahkan sama dengan latihan militer) membuat para calon guru ditempa dalam hal kedisplinan, menjadi calon guru yang tidak 'cengeng', berjuang dalam memajukan siswanya serta bermental baja dengan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan.

"Jaman Mamah mah dari mulai SMA yang mau jadi guru udah dijuruskan ke Sekolah Guru (kalau jaman saya masih ada SPG yang bisa langsung disalurkan menjadi guru SD), lalu kalau mau jadi guru SMP masuk PGSLP setelah lulus Sekolah Guru tadi. Kalau diteruskan masuk IKIP lebih baik lagi".

Jadi, niat seseorang untuk menjadi seorang guru sudah ditentukan pada saat mereka lulus sekolah menengah pertama. Kadang-kadang kita bilang bahwa sesuatu itu bisa kita lihat hasilnya tergantung niat kita. Niat baik, hasilnya akan baik, sebaliknya niat buruk, hasilnya akan dipastikan kurang baik pula.
Makanya, ngga heran deh kalau niat dan cita-cita menjadi seorang guru merupakan hal yang kurang populer di masa sekarang. Mungkin saja penyebabnya adalah hilangnya sekolah-sekolah keguruan, apalagi nasib guru sekarang selalu 'tidak jelas'.

Pendidan "moral" menjadi seorang guru sangat ditekankan. GURU adalah teladan bagi murid-muridnya. Sisi negatifnya barangkali guru selalu merasa yang paling benar dan "anti" terhadap pendapat dan masukan yang berbeda dari muridnya.

Menjadi Guru yang terpenting adalah bagaimana kita mengelola ilmu yang kita peroleh, kita kemas dalam kemasan yang menarik sehingga siswa lebih mudah menyerap dan menerapkannya di kehidupan sehari-hari.

Guru juga perlu menyadari bahwa mereka adalah teladan dan panutan bagi murid-muridnya sehingga selalu ingat jika akan melakukan sesuatu.

Guru juga sebaiknya bersikap terbuka terhadap perubahan, menerima setiap kritik dan saran yang baik dari pihak manapun, termasuk yang menjadi murid kita.

Tinggal sekarang berdoa.. semoga kita sebagai seorang guru sanggup menerima dan mengemban tanggung jawab yang besar dalam MENDIDIK generasi bangsa.
SEMANGAT!!