Friday, November 27, 2009

Ternyata Saya Bisa!

Kemarin ada kejutan manis buat saya. Naskah yang saya kirimkan untuk ikut lomba penulisan cerita inspiratif guru dalam rangka ulangtahunnya tanggal 25 ini, (KELEMAHAN YANG JADI KEKUATAN) berhasil menjadi Runner up!

Sudah lama saya ingin "menguji" nilai tulisan-tulisan saya apakah layak untuk disebut sebuah tulisan atau hanya sebatas 'curhat'.
Kisahnya bermula dari ketidaksengajaan sebetulnya. Pada suatu hari saya berpapasan dengan seorang rekan guru yang membawa sehelai kertas untuk difoto kopi. Tanpa sengaja sudut mata saya cukup jeli untuk melihat tulisan "LOMBA MENULIS...." di kertas yang dia bawa. Seketika langkah saya berhenti.
"Bu, boleh lihat kertasnya? aku mau ikutan dong..", mata saya tak lepas dari sehelai kertas yang dipegangnya.
"Oo.. ini undangan workshop dari TRuE tentang penulisan di blog. Ah, Ibu kan udah bisa nulis kayaknya, saya pengen bisa juga nih.." rupanya dia mengira saya ingin ikut dalam workshop yang akan diselenggarakan True (Teacher ResoUrces Empowerment) sebuah lembaga yang concern terhadap peningkatan kualitas guru bekerjasama dengan harian Jurnal Depok dan Jurnal Bogor. Ada workshop-fee yang harus dibayar dan sekolah mengirimkan 2 orang guru untuk terlibat. Untuk hal pelatihan atau workshop, hampir tidak pernah sekolah mengirimkan saya sebagai wakilnya, mungkin karena saya kurang memenuhi syarat (entah syaratnya apa..)dan hal ini saya terima dengan lapang dada.
"Bukan workshopnya, Bu, saya ingin tahu lombanya menulisnya," saya terus mengintip berusaha membaca tulisan di atas kertas yang tetap dipegangnya.
"Oooh.. ini.... Rencananya saya sama Bu Sinta yang mau ikut, besok," akhirnya berpindah juga kertas itu ke tangan saya. Tapi ternyata informasinya kurang lengkap.
"Undangan lengkapnya ada di Bu Nurlela, Bu," katanya lagi seakan menangkap pikiran saya yang sibuk membolak-balik selembar kertas tadi. Mata saya langsung berbinar...
"Saya cari Bu Nurlela sekarang deh, makasih kertasnya ya, Bu.." lalu kertas itu berpindah lagi ke tangannya.

Di ruang guru saya temukan Bu Nurlela.
"Bu, boleh lihat undangan workshop True ngga?" saya berkata sambil (seperti) sedikit memohon.
"Mm.. emm.. yang mana ya?" lagi-lagi saya seperti 'dicegah' untuk tahu, apalagi ikutan (hiks..!)
"Tadi aku lihat punya Bu Elly, Bu," saya tambah wajah memohon saya dengan senyum yang lebar berusaha menarik simpati.
"Nanti ya, saya ada kelas dulu..," Bu Nurlela sedikit jual mahal. Saya anggap menunggu 2x45 menit tidak akan menghalangi saya untuk tahu informasi yang saya inginkan.
"OK!" saya menjawab pasti.

Ketika saya lihat syarat lombanya, saya hampir tidak percaya. Bukan karena waktunya yang mepet (naskah harus sudah ada di tangan panitia dalam 3 hari ke depan!), melainkan karena syaratnya sangat sederhana dan tidak 'neko-neko' kalau kata orang Jawa bilang, alias tidak macam-macam. Kita cuma diharuskan menulis pengalaman inspiratif saat jadi guru, selain itu syarat lain hanya teknis penulisan yang harus 4 halaman A4, spasi 1,5.
"Kalo cuma ini syaratnya siapapun pasti mau ikut," saya lalu berkata dalam hati. Lalu saya niatkan dalam hati, besok akan saya ajak sebanyak mungkin teman-teman untuk berpartisipasi.

Hari Sabtu, dengan semangat saya mulai promosi lomba. Saya ingin sebanyak mungkin teman-teman menuangkan pengalaman mereka mengajar selama bertahun-tahun yang siapa tahu bisa menjadi inspirasi bagi guru-guru lain. Saya sebarkan formulir (yang bisa diperbanyak sendiri) kepada siapa saja yang saya temui. Namun rupanya karena teman-teman hanya punya waktu 2 hari untuk membuat ceritanya, mereka kurang punya cukup waktu untuk berkreasi lewat tulisan, walaupun setiap hari dalam kehidupan teman-teman sebagai guru pasti sangat inspiratif. Keadaan ini sedikit saya sesalkan karena undangan ini terlalu lama tersimpan di meja administrasi sebelum (akhirnya) bisa diinformasikan dan ditindak lanjuti.
Namun saya berhasil mengajak 2 teman. Jadilah kami bertiga sepakat untuk menyerahkan naskah kami pada hari Senin.

Tinggal sekarang saya berfikir, jangankan ditulis, idenya sendiri masih berserakan di kepala. Ini namanya bekerja 'under pressure' . Cukup lama saya tatap prompt yang berkedip-kedip menanti huruf pertama dimasukkan lewat keyboard. Lalu saya pejamkan mata mulai menghitung mundur, menata ide yang berserakan di kepala, 5-4-3-2-1..mulai!

Saya baca ulang naskah yang sudah saya ketik selama kurang lebih satu jam dengan tatapan ragu. Apakah naskah ini layak ikut lomba? Untuk menambah rasa PeDe alias Percaya Diri, saya minta seorang teman (yang biasa saya ajak share tentang tulisan-tulisan saya) untuk menjadi pembaca pertama.
Saya pandangi terus ekspresi wajahnya saat dia membaca tulisan saya, sampai dia merasa jengah. "Bentar dong, Missell," katanya berkali-kali.
"Gimana ?" akhirnya saya bertanya saat dia mengangkat wajahnya dari monitor.
"Bagus.." dia menjawab. Saya menunggu kelanjutannya..tapi dia cuma bilang satu kata saja.
"Alurnya? konfliknya? klimaksnya?" saya kejar dia dengan pertanyaan, hanya karena saya kembali punya keinginan untuk tidak akan mengirimkan naskah saya.
"Udah Miss, kirimin aja, bagus kok..", dia cuma bilang itu lagi. Yahhh, dia pasti bilang bagus, dia kan teman saya. itu yang ada dalam fikiran saya.
"Yakin?" saya berusaha memastikan.
"Yup, hundred percent sure!" menyemangati sekali teman saya yang satu ini.
Akhirnya saya print juga naskahnya, saya masukkan ke dalam amplop coklat lalu saya simpan di laci meja saya. Sengaja tidak saya bawa pulang karena takut dalam perjalan pulang saya kembali ragu dan naskah ini akan tersimpan di sudut lemari di rumah saya yang sesak dengan buku yang beberapa belum sempat saya baca.

Senin, Bu Etty, teman yang ikut mengirimkan naskahnya berbaik hati membawa serta naskah saya yang hari itu penuh mengajar 8 jam pelajaran. Ada baiknya dibawa Bu Etty, supaya saya tidak harus menatap wajah panitia yang menerima naskah saya. Betul-betul rasa percaya diri saya "parah banget" kalau kata murid saya. Setelah naskah saya berpindah ke tangan Bu Etty, saya berusaha tidak memikirkannya lagi dan tenggelam dalam kesibukan belajar bersama murid-murid, sampai dua minggu kemudian TRuE menghubungi melalui telepon dan SMS bahwa para penulis diminta mengirimkan profil lengkap untuk dicatat sebagai peserta lomba.

"Pemenangnya udah ada, Bu," Pak Asep, teman yang ikut mengirimkan naskahnya berkata pada saya.
"Bukan saya kan, Pak?" sedikit 'ngarep' ya, tapi tak apalah.
"Ada di koran Jurnal hari ini, Judulnya: Terima Kasih, Faey," Pak Asep berkata lagi.
"Korannya mana?" saya ingin tahu seperti apa tulisan yang 'benar' dan 'bagus' sehingga bisa menang.
"Tadi ada disini," Pak Asep menengok kesana kemari sambil membolak-balik kertas yang berhamburan di mejanya. Hari bersih-bersih rupanya.
"Ga apa-apa, Pak, biar saya cari," saya lalu tinggalkan Pak Asep yang sedang menyortir kertas-kertas yang ada di mejanya.

Cerita inspiratif pemenang lomba itu akhirnya saya baca melalui Jurnal Bogor online (karena korannya akhirnya tidak ketemu). Ceritanya ringan dan mengalir, sangat manusiawi dan menyentuh. Pantes deh, kata saya dalam hati. Lalu saya menerawang, suatu saat saya harus bisa bertutur seperti itu.

Tepat hari GURU, 25 November, ada SMS masuk, isinya undangan untuk share buat semua peserta lomba keesokan harinya. Nah, acara seperti ini sebetulnya yang saya tunggu. Langkah untuk perbaikan diri, self quality improvement yang terus berlangsung. Esoknya pun secara khusus saya ditelepon oleh panitia untuk 'sekedar mengingatkan', katanya. Jadilah siang itu, dibawah gerimis hari Kamis saya datangi kantor TRuE.

Rupanya selain merangkap base camp (kira-kira begitu ya?) kantor TRuE ternyata sebuah sekolah alam untuk usia TK. Saya sangat tertarik ketika melihat ada rumah pohon, kelas-kelas yang terbuka, membiarkan segarnya udara, basahnya hujan dan teriknya matahari dapat dengan bebas menyelinap melalui dinding kelas yang setengahnya adalah jendela dan terbuat dari bilik bambu. Di sebuah sudut saya melihat sebuah periskop mini, yang kalau kita intip, gambar yang tampak seperti kalau kita mengintip daratan dari bawah air. Dua orang anak sibuk mengintip dan memutar-mutar periskop tadi. Dengan melihat itu saya berpikir hanya keceriaan yang setiap hari dilakukan disini, spontanitas dan rasa ingin tahu yang tinggi pasti menyertai hari-hari bermain sambil belajarnya. Dan kesan itu semakin kuat ketika saya diundang masuk.

Isi 'obrolan' hari itu dengan para pendiri dan penggagas TRuE adalah seputar dunia menulis, tips serta kekuatan dalam menulis (sepertinya hal ini suatu saat akan saya buat dalam episode sendiri). Lomba ini memang sengaja diadakan dengan syarat 'ringan' untuk menjaring sebanyak mungkin tulisan tentang Guru. Responsnya cukup baik, ada 35 tulisan dari 25 orang peserta yang datang dari Jobodetabek dan juga Sukabumi. Saya lihat bundel karya para peserta.. banyak juga. TRuE juga mengungkapkan keinginan mereka untuk menjadikan bundel cerita tadi menjadi sebuah buku yang akan disebarkan dengan lebih luas lagi (dengan catatan kalau ada penerbit yang tertarik, karena biasanya penerbit akan sangat mempertimbangkan sisi pasarnya). Yang saya fikirkan saat itu adalah betapa malunya ketika karya saya dibaca banyak orang, karena jangankan dibaca banyak orang, berfikir karya saya akan dibaca sekelompok orang juri saja rasanya saya tidak PeDe. Namun cara pandang saya ini diluruskan oleh Bapak M. Ridwan, editor senior yang merangkap Humas di Pemkot Bogor sebagai salah seorang anggota Juri. "Anda penulis, bukan EDITOR. Jadi yang menetapkan tulisan anda bagus atau jelek bukan anda, melainkan orang-orang yang membaca karya anda. Sementara hasilnya akan sangat subjektif, karena selera orang berbeda-beda," betul-betul kalimat ini Powerfull buat saya.

Waktu berlalu tanpa terasa, saat itu saya seperti spons yang ingin menyerap setiap kata tentang bagaimana cara menulis yang baik. Tulisan adalah sebuah ungkapan hati yang jujur, tulus, bebas, sesuai dengan apa yang kita lihat dan rasakan yang tidak boleh berhenti. Walaupun sebenarnya hati saya belum puas benar, namun acara share itu harus selesai. Tiba pada saat yang ditunggu oleh seluruh peserta lomba, pengumuman pemenang.

Karena saya merasa sudah tahu pemenangnya, saya hanya mendengarkan tanpa pengharapan. Karya saya masih perlu banyak perbaikan dibandingkan tulisan yang berhasil menang, saya kira. Tiba pengumuman 10 besar. Saya malah berharap kedua teman saya bisa jadi masuk di posisi 2 dan 3. Kemudian 6 besar, lalu 3 besar!

Tempat ke 3.. diraih oleh Bapak Eman.. (aduh maaf, Pak, saya lupa nama Bapak..), dari SD Ummul Quro, sekolahnya para calon pemimpin yang Juara bukan saja dari pemahaman dunia tapi juga memahami agama.
"Tempat kedua.. Dari SMPN 1," kata pihak panitia yang mengumumkan... 'waduh, itu kan sekolah tempat saya mengajar.. langsung saya menengok ke kiri dan kanan, tempat Pak Asep dan Bu Etty duduk. Dalam hati saya beruntung benar mereka bisa dapat posisi runner-up.
"Judul ceritanya adalah...," panitia sengaja membuat tegang.
"KELEMAHAN YANG JADI KEKUATAN, karya Ibu Selly," lalu disusul tepuk tangan.
'Eh... dia sebut nama saya!', wajah saya langsung memerah, antara perasaan senang, bangga, malu (kok malu ya??) dan tidak percaya! Fikiran saya flash back ke belakang, ingat cerita saya yang menggambarkan betapa saya berjuang untuk pantas disebut sebagai GURU oleh murid-murid saya, betapa tetesan keringat dan airmata ikut memperindah perjuangan saya, betapa energy yang saya curahkan ternyata berakhir dengan sangat manis.

Saya tatap selembar kertas berwarna hijau dengan nama saya tercetak besar-besar, lalu dibawahnya tertulis: "Sebagai Juara 2 lomba menulis kreatif dan inspiratif...". Masih tidak percaya saya tatap dan baca lagi sebelum dengan hati-hati saya masukkan ke dalam ransel yang penuh dengan pin dan gantungan kunci yang selalu bergemerincing, yang setia mengikuti langkah saya. Saya juara... mudah-mudah memang bisa jadi inspirasi. Saya juara...ini yang pertama tapi bukan yang terakhir. Saya juara... Ternyata saya BISA!!.

Saturday, November 14, 2009

KELEMAHAN YANG JADI KEKUATAN.

Entah pengalaman ini inspiratif atau tidak, tapi setiap pengalaman buat saya adalah inspirasi untuk belajar, memperbaiki diri, dan menjadi lebih baik. Amir Tengku Rusli dalam “Menjadi Guru Kaya” kurang lebih menyatakan bahwa profesi guru menginginkan kita untuk terus menerus melakukan sesuatu yang disebut self quality improvement (perbaikan kualitas diri yang terus menerus) dan salah satu yang bisa meningkatkan kualitas diri adalah bila kita bisa belajar dari pengalaman.

Langkah pertama saya memasuki dunia pendidikan adalah melalui perpustakaan. Karena membaca adalah hobi saya sejak pertama kali bisa membaca, profesi ini sangat saya sukai. Setiap hari saya masuki dunia yang sarat dengan ilmu. Di tempat ini semua informasi bisa saya peroleh, apalagi ketika internet masuk dan dijadikan salah satu media di perpustakaan. Dari perpustakaan inilah saya yang ‘gaptek’ alias gagap teknologi mulai surfing, browsing, googling, chatting dan sedikit-sedikit belajar blogging.

Namun keadaan tenang dan senang ini tidak bertahan lama. Saat seorang guru cuti dan memerlukan seorang pengganti, beliau meminta saya untuk menggantikan. Berbekal ijazah AKTA IV, jadilah saya memberanikan diri mencoba untuk berhadapan langsung dengan siswa di kelas.

Pertama yang saya rasakan adalah TAKUT. Takut tidak bisa menghadapi tatapan siswa, takut tidak bisa mengajar dengan benar, takut pertanyaan siswa tidak dapat saya jawab. Terus menerus dilanda ketakutan akhirnya minggu pertama saya mengajar dipenuhi dengan keraguan. Buku tak pernah lepas dari tangan saya, walaupun materi telah saya kuasai benar, pertanyaan murid selalu saya jadikan pekerjaan rumah (PR) yang akan saya jawab pada pertemuan berikutnya hanya karena takut salah menjawab.
Bertanya kepada guru lain yang lebih senior malah menambah rasa takut saya. Bahwa menjadi guru bukan sekedar mengajar melainkan MENDIDIK. Muncul lagi keraguan, apakah saya yang serba tidak sempurna ini bisa mendidik murid ?

Saya tenggelamkan diri saya di perpustakaan untuk menjawab pertanyaan saya dan menghilangkan keraguan. Dalam satu buku yang saya lupa judulnya, menyatakan bahwa menjadi seorang guru adalah mengajarkan sebanyak mungkin yang kita tahu, mendidik siswa kita untuk menjadi lebih baik. Dan untuk menjadi seorang pengajar sekaligus pendidik, seorang guru harus BELAJAR. Artinya seorang guru adalah seorang PEMBELAJAR.

Belajar tidak hanya bisa kita peroleh dari buku. Belajar dari murid adalah salah satu yang akhirnya sangat saya senangi. Dunia anak yang polos dan keingintahuan mereka yang besar memperkaya saya untuk terus menggali lebih dalam potensi mereka. Ini membuat saya semakin pandai secara material dan spiritual. Semangat dan kepercayaan diri saya terus tumbuh seiring dengan keinginan saya untuk terus belajar.
Dalam proses belajar ini pula saya temukan kelemahan-kelemahan saya yang lain. Seringkali saya LUPA akan materi pembelajaran. Saya sadari betul kekurangan saya ini akibat kurangnya waktu belajar dan kurangnya ‘jam terbang’ dalam mengajar. Alhasil seringkali materi yang saya bawakan meluas hingga akhirnya saya kesulitan untuk focus pada tujuan pembelajaran yang telah tercantum dalam rencana pembelajaran.

Untuk mengatasi ini saya mulai belajar membuat peta konsep, atau lebih trend bila kita sebut mind mapping. Pokok pikiran yang kemudian diurai menjadi poin-poin yang lebih khusus dan memperjelas materi pembelajaran. Tidak puas dengan mind mapping, saya belajar membuat presentasi dengan power point. Saya buat presentasi yang menarik dengan memperbanyak gambar, membuat cuplikan film dan memasukkan lagu ke dalam presentasi saya. Selain membuat saya lebih fokus dalam memberikan materi, tampilan presentasi yang menarik membuat siswa tertarik untuk memperhatikan dan terlibat dalam pembelajaran.

Namun belajar terus menerus dengan power point membuat siswa menjadi jenuh. Selain jenuh, mereka mulai tidak memperhatikan proses pembelajaran dengan mengobrol, mengalahkan suara saya yang tidak terlalu kuat menjangkau setiap sudut kelas. Teringat saya kata-kata ‘I hear, I forget; I see, I remember; I do, I understand’. Kung Fu Tzu (Confusius) seorang filsuf Cina sejak ribuan tahun lalu sudah menemukan bahwa sesuatu yang kita dengar akan kita lupakan, yang kita lihat kita akan ingat dan apa yang kita lakukan akan kita mengerti dan pahami.

Jadi, tahapan presentasi powerpoint saya, semenarik apapun akan hanya diingat oleh siswa. Mulailah saya mencari sesuatu yang sifatnya dilakukan oleh siswa, suatu kegiatan student-center (berpusat kepada siswa) supaya mereka memahami apa yang mereka pelajari. Pada saat mempelajari lapisan tanah, saya meminta mereka melakukan penelitian dengan membawa sampel tanah dari rumah masing-masing. Dari praktek ini selain siswa mengetahui dan paham lapisan-lapisan tanah, kejadian yang barangkali tidak akan mereka lupakan adalah bahwa pot-pot tanaman di rumah mereka bukan diisi dengan tanah melainkan dengan kompos.

Kelemahan saya yang lain adalah saya CEPAT BOSAN. Lingkungan sekolah dan ruang kelas semakin lama terasa semakin mengukung dan membuat bosan. Kebosanan ini juga terlihat di mata para siswa. Akhirnya saya cari kegiatan yang memungkinkan untuk dilakukan di luar sekolah.

Bogor mulai tahun ini mencanangkan wisata pendidikan. Tanpa saya sadari sebelumnya bahwa memiliki lokasi di tengah kota tidak melulu menyesakkan karena bising dan debu, melainkan memiliki keuntungan karena dekat dengan tempat wisata pendidikan. Setiap tahun saya tidak pernah melewatkan untuk mengajak para siswa ikut dalam Istana Bogor open sebuah acara yang dilaksanakan setiap hari jadi Bogor. Pada saat itu selama satu minggu, Istana Bogor yang lokasinya tepat berada di depan sekolah bebas dikunjungi. Kebun Raya, Museum Tanah, Museum Zoologi, Museum Etnobotani, Museum Perjuangan, Museum Peta, semuanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Dengan field trip kebosanan berganti dengan keceriaan dan mendekatkan hubungan saya dengan siswa karena dalam perjalanan kita lewatkan dengan obrolan-obrolan ringan.

Kesulitan terbesar saya dalam dunia ini ternyata bukan datang dari para siswa, melainkan datang dari sesama rekan guru dan ketidaksempurnaan sistem pendidikan kita. Kesenjangan usia, perbedan status dan perbedaan dalam metode pembelajaran baik proses maupun perbedaan pandangan dalam hubungan guru dengan murid merupakan kendala yang pada awalnya seringkali memancing emosi. Setiap kali saya menyampaikan pendapat sering dianggap sebagai sesuatu yang sifatnya membangkang hanya karena ‘berbeda’ dari yang seharusnya (padahal yang seharusnya ini belum tentu benar). Keadaan ini jelas membuat saya tidak nyaman dan seakan hidup dalam tekanan.

Dari keadaan ini saya mencoba untuk lebih tenang. Tapi hanya berdiam diri sementara ide-ide di kepala seperti tak terbendung dan ingin melompat keluar sering membuat saya hampir frustasi dan ingin mundur dari dunia pendidikan. Saya kemudian mencari jalan untuk membuat diam saya ini lebih berkualitas. Akhirnya terpikir untuk menyalurkannya kepada hobi.

Beruntung hobi saya adalah membaca. Membaca adalah obat rasa putus asa saya berada di lingkungan para pendidik yang seringkali merasa dirinya paling pintar dan paling benar. Dari semua pengalaman orang sukses yang saya baca, semuanya pernah mengalami masa ‘sulit’. Karenanya rasa putus asa yang melanda saya ternyata hal yang sangat biasa dan mungkin sangat remeh bila dibandingkan dengan tujuan kita untuk menjadi seorang guru. Dari hari ke hari semakin banyak referensi yang saya baca, semakin saya sabar dalam menghadapi kendala dalam bekerja dan dapat mencari solusi untuk menyelesaikannya.

Sudah menjadi kebiasaan berganti menteri, berubah pula kebijakan yang berlaku di dunia pendidikan. Saat ini kecenderungan untuk mempolitisir dunia pendidikan menjadikan saya sebagai praktisi yang langsung berhadapan dengan siswa prihatin dan kadang membuat saya bingung, karena pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan tidak disertai dengan pelaksanaan kebijakan tersebut di lapangan. Contohnya pada saat penarikan buku sejarah beberapa tahun yang lalu karena penggunaan sebuah kata yang dianggap salah. Akhirnya buku yang sudah dibeli ditarik kembali tanpa ada gantinya.
Merubah tatanan yang datang dari pemerintah tentu tidak semudah membalikan tangan, dan hal itu saya pahami benar. Namun kembali ide di kepala seakan ingin berlompatan keluar. Saat itulah saya lebih mendalami dunia maya. Dengan berinternet, informasi yang saya peroleh semakin banyak dan saya jadikan dasar sebagai bahan penulisan melalui blog. Dengan surfing dan blogging saya semakin paham mengapa sebuah kebijakan diambil dan bagaimana seharusnya kita sebagai praktisi dalam menyikapi kebijakan tersebut.

Menjadi seorang guru memang tidak mudah namun bisa kita jadikan mudah karena yang kita hadapi jenisnya sama dengan kita, MANUSIA. Karena itu saya jadikan semua kelemahan saya menjadi suatu kekuatan untuk menjadi lebih baik. Dari apa yang pernah saya lakukan, saya peroleh kesimpulan;
1. Saya ubah rasa takut saya untuk mengajar siswa menjadi belajar bersama siswa.
2. Penyakit lupa dan tidak focus saya atasi dengan belajar menjadi pembicara yang baik dengan bantuan program presentasi power point.
3. Perasaan gampang bosan dan terkukung ruang kelas saya alihkan menjadi mencari aktivitas yang lebih banyak melibatkan siswa dan kegiatan field trip.
4. Kesulitan dalam berhubungan dengan rekan kerja bisa saya atasi dengan pemahaman dan empati terhadap keberadaan serta kepentingan orang lain.
5. Kekecewaan tentang sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia justru semakin memperkaya saya untuk lebih tahu tentang apa arti pendidikan, tujuan pendidikan dan cara mendidik. Fokus pada tujuan utama sebagai seorang guru jauh lebih penting daripada memusingkan sesuatu yang tidak terjangkau.

Akhirnya sebagai seorang guru sebaiknya selalu POSITIVE THINKING, dengan selalu berfikir positif, semua hal yang paling buruk sekalipun masih memiliki sisi yang menyenangkan dan dapat diselesaikan. Menganggap semua siswa sebagai teman belajar adalah sebuah usaha untuk memanusiakan manusia. Siswa tidak hanya kita jejali dengan materi melainkan juga kita bekali dengan nilai-nilai penting yang akan berlaku dalam kehidupan nyata. Dan yang paling saya sukai menjadi seorang guru adalah bahwa kita tidak pernah berhenti B E L A J A R.