Monday, June 27, 2011

Karakter Sapi


Sangat kebetulan, pelatihan Peningkatan Profesionalisme Guru RSBI se Jabar minggu lalu diadakan di kota Lembang, karena di kota itu pula adik ibu saya tinggal. Di hari pertama tiba di kota ini, udara dingin yang menyambut membuat segar dan jernih di hati. Ternyata jadwal pembukaan diadakan pukul 19.00, artinya saya masih punya waktu beberapa jam untuk sekedar jalan-jalan. Setelah membereskan barang bawaan dan mencoba tidur sebentar, akhirnya saya putuskan untuk mengunjungi tante saya tadi.

Bi Noi, begitu saya memanggilnya, sudah sekitar 20 tahun bekerja di BIB (Balai Inseminasi Buatan) Lembang. Tempat dimana sapi dikembangbiakan serta sebagai bank sperma sapi berkualitas tinggi. Sapi-sapi tersebut banyak didatangkan dari Australia yang beberapa waktu lalu mengecam cara sapi mereka diperlakukan disini.
Saya kira, hal tersebut juga berpengaruh terhadap impor sapi pejantan (bull) yang dipakai untuk bibit. Ternyata tidak, mungkin sapi-sapi disini diperlakukan secara lebih sapiawi... :D

Sapi disana memang diperlakukan dengan baik. Ternyata (kata tante saya) jika diperhatikan dan dipelajari dengan baik, setiap sapi memiliki karakter yang berbeda, tak berbeda dengan manusia. Seekor sapi bisa punya kebiasaan untuk selalu berjalan di tepi.. boleh dibilang selalu mepet-mepet ke pinggir, sapi lain bisa punya kebiasaan unik dengan selalu ingin mendengarkan siaran radio ;) Jika kebiasaan tersebut tidak dipenuhi, misalnya baterai radio yang habis dan telat mengganti, sapi tersebut akan menjadi gelisah. Karena keharusan tersebut, dicari stasiun radio yang tak pernah berhenti siaran... yup... RRI alias Radio Republik Indonesia... :)
Setiap sapi juga punya perasaan. Jika mereka tidak diperlakukan dengan baik, mereka juga akan memperlakukan orang tersebut dengan sama.

Sekali kejadian, seekor sapi dimandikan oleh pengasuhnya dengan kasar (mungkin pengasuhnya sedang bad mood). Sapi tersebut merasakan elusan di badannya tidak seperti biasanya. Alih-alih diam, sang sapi malah mendesak sang pengasuh ke tembok dengan (maaf) pantatnya, sampai sang pengasuh tadi terdesak dan tidak bisa kemana-mana dan baru dilepaskan setelah dibujuk.... :D
Memperlakukan seekor sapi lebih efektif dengan lemah lembut. Sapi lebih menurut bila kita bicara halus dan bernada membujuk daripada memerintah dengan kasar dan membentak.

Menarik sekali obrolan kami sore itu didampingi awug, getuk dan cemilan tradisional khas sunda serta semangkuk sup kaki sapi yang buatan mang Eden , suami bi Noi. Tak terasa maghrib berkumandang yang berarti saya harus segera kembali ke tempat pelatihan.



Jika sapi saja diperlakukan sesuai dengan karakternya, apalagi anak kita yang kaya kemampuan, perasaan, keinginan dan keterampilan. Bedanya dengan sapi, anak perlu kita arahkan agar segala yang dimilikinya menjadi lebih bermakna dan bermanfaat dalam kehidupannya saat ini dan di masa yang akan datang.

link

Friday, June 24, 2011

Pendidikan Karakter

Dari tanggal 23 Juni sampai dengan 26 Juni 2011, dapat pengalaman mengikuti Workshop tentang Peningkatan Profesional Guru RSBI Se-Jawa Barat. Sisipan materi yang didengungkan kali ini adalah selain membangun profesionalisme melalui pembelajaran dengan bahasa Inggris dan ICT, juga ditekankan pembelajaran yang berkarakter. Karakter yang bagaimana yang dimaksud dan kenapa karakter bangsa perlu ditekankan dan disisipkan dalam pendidikan?
Pembicara pertama yang merupakan Ketua PGRI Provinsi Jawa Barat; H. K. Edi Parmadi, menekankan bahwa bangsa Indonesia sebetulnya mempunyai karakter yang kuat dan tangguh. Namun benturan teknologi dan budaya asing yang kurang tersaring akhirnya memberi dampak yang kurang baik terhadap perkembangan karakter anak bangsa pada masa sekarang. Karakter itu hanya perlu dibangkitkan lagi.
Pembicara-pembicara selanjutnya yang merupakan para pakar dan praktisi di bidang pendidikan sepakat dengan itu. Namun dari sekian materi yang disampaikan masih terkesan bahwa pendidikan di Indonesia terkukung oleh intervensi dan pencitraan semata.
Baru-baru ini anak-anak yang berani mengungkapkan kebenaran 'contek massal' hanya berada di headline pemberitaan selama seminggu, setelah itu.. ??
Pencopotan Kepala Sekolah? Menindak guru yang ikut bekerjasama dalam usaha pembodohan tersebut? Ujian ulang? No No No...
Bahkan Menteri Pendidikan dengan tegas mengatakan "NO" contek massal. Tampak jelas darimana sebenarnya intervensi tentang 'angka sempurna' ini berasal.
Tahun ini sekolah negeri kembali menggunakan nilai ujian murni sebagai syarat masuknya. Awalnya saya fikir ini merupakan suatu tindakan yang fair, mengurangi beban sekolah tujuan karena tidak perlu mengadakan ujian mandiri dan mengetahui standar anak secara nasional. Ternyata...
Mungkin tulisan ini semata kekecewaan karena anakku tahun ini kemungkinan besar tidak bisa masuk smp negeri seperti keinginannya. Mungkin juga karena kecewa terhadap sistem pendidikan kita yang terlalu mementingkan kuantitas, bukan kualitas, angka, bukan nilai. Atau karena kecewa terhadap diri sendiri yang membiarkan semua itu terjadi di depan mata...