Monday, December 27, 2010

Berapa kilo?

Beberapa minggu belakangan ini saya sedang bersemangat ber-fun bike keliling kota. Bahkan jika waktunya memungkinkan bersemangat ber-bike to school (coz I work at school). Motivasi bersepeda karena kebetulan mantan pacar juga hobi bersepeda dan menyediakan fasilitas bersepeda buat saya, so pada mulanya lebih kepada memanfaatkan sarana yang telah ada.

Awalnya jarak dekat dari rumah ke minimarket buat beli susu atau eskrim kesukaan anak2. Setelah menemukan teman yang punya hobi sama saya tambah teratur bersepeda tiap minggu dan tambah jauh. Jika dihitung bisa lebih dari 10 kilo bersepeda setiap minggu.

Sekali waktu saya seperti biasa bersepeda di hari minggu dengan teman, berpapasan dengan sekitar 20 orang anggota sebuah klub sepeda. Hampir semua anggotanya melambaikan tangan dan mengajak kami untuk bergabung. Karena kami melihat secara usia kebanyakan mereka jauh diatas kami dan ada ladies biker, akhirnya saya dan teman tertarik untuk ikut bergabung tanpa tahu kemana menuju.
Karena kesamaan hobi, walaupun kami baru bertemu, suasana sangat akrab seperti sudah bertahun-tahun kenal. Dan kebetulan klub sepeda mereka adalah klub sepeda yang telah ada sejak 16 tahun lalu!

Alhasil dari perjalanan tersebut rute yang diambil cukup jauh dan baru hujan di pagi harinya, membuat saya yg menggunakan seli cukup kerepotan ketika harus melintas pematang yang licin dan sempit. Jika dihitung hari itu sekitar 40 kilo kami bersepeda!

Seperti biasanya new comer, saya mengalami euphoria dan semangat yang menggebu saat bercerita tentang sepeda. Termasuk ketika bertelepon dengan mantan pacar yg sedang tugas di luar pulau dan sudah lebih dulu menyukai bersepeda.
Saya; asik ai, apalagi waktu gabung dengan klub yang keluar masuk kebun.
Ai; iya, saya pernah juga lewat jalur itu.
S; jauh banget Ai... Saya juga nyoba bike to school ai..
Ai; emang klo ke sekolah juga pake speda?
S; iya ai... Ampir tiap hari sekarang mah..
Ai; berapa kilo?
S; (menjawab dengan semangat) klo ke sekolah bisa sampe 7 kilo-an ai bolak balik, waktu minggu itu jaraknya ada 40 kilo tuhh! (Dengan bangga saya bercerita bahwa saya juga bisa bersepeda sejauh biasanya dia bersepeda).
Ai; iiii mamah ga denger ya... Maksudnya udah turun berapa kilo berat badannya?
S; (sedikit malu) beloom sih aaiii.. Tapi paling ngga aku sehat lahh.. Hehehe
I didn't mention it ya.. Setiap bersepeda selera kuliner berkembang.. Akhirnya bisa ditebak. Tapi untuk menjadi tambah sehat adalah 100% benar karena dalam pancaroba ini saya terbebas dari flu yang bolak balik mencoba menyerang.. Alhamdulillah... ^_^

Saturday, December 4, 2010

Memutar Waktu.



Sudah lebih dari sebulan ayah Ilham bertugas di daerah lain. Buat Ilham ini adalah pengalamannya yang pertama jaun dengan ayahnya. Sejak hari pertama keberangkatan ayahnya, setiap pagi Ilham selalu bertanya 'ayah dimana'.

Minggu lalu ayah Ilham berkesempatan pulang beberapa hari. Selama itu juga Ilham tidak mau jauh dari ayahnya. Kemanapun ayahnya pergi, Ilham pasti ingin ikut, sampai-sampai ketiduran di warnet waktu ayahnya surfing. Saking capek setiba di rumah Ilham tidur lagi sehingga waktu ayahnya akan menghadiri launching @america di Jakarta, Ilham tidak tahu. Alhasil ketika Ilham bangun dan mendapati ayahnya tidak ada, Ilham menagis meraung-raung dilanjutkan dengan rengekan panjang yang baru berhenti setelah ayahnya telpon dan acara sketsa kesayangannya tayang... Fiuuuhhh..

Pagi sebelum berangkat ke bandara pelan-pelan saya bangunkan Ilham dan bilang kalau ayahnya akan berangkat kerja jauh lagi. Tidak seperti malam sebelumnya, kali ini Ilham hanya diam sambil mengikuti gerak-gerik ayahnya yang sibuk bersiap-siap dengan tatapan matanya. Sampai ketika berangkat pun Ilham dengan tabah melambaikan tangan, kelihatan benar ia berusaha sangat kuat merelakan ayahnya pergi lagi.

Seharian itu sepertinya Ilham tak ingat ayahnya. Namun pada saat Maghrib ketika semua sedang bersiap untuk sholat, Ilham naik ke bangku dan mulai memutar jarum jam dinding. Neneknya yang melihat itu lantas bertanya:
"Ilham kenapa jarumnya diputer-puter?"
"Biar cepet jam 7, Nini," kata Ilham sambil terus memutar jarumnya.
"Emang kenapa harus jam 7?" Neneknya bertanya lagi, saya ikut memperhatikan jawaban Ilham karena ingin tau juga.
"Iya Nini, biar ayah cepet pulang, kan ayah pulangnya jam 7.." Kata Ilham menjawab dengan polosnya.
Kami yang mendengar jawaban itu otomatis tertawa sambil terselip perasaan bangga, nalarnya sudah sampai pada 'mempercepat waktu'.