Monday, August 14, 2017

Negeri Gurindam 12, Pulang.

Hari ke-3 di Bintan saatnya pulang. Belum puas memang, masih bayak tempat yang belum kami kunjungi, tapi waktu jualah yang mengharuskan kami untuk kembali ke rumah. Sarapan di Bintan Lagoi sangat memenuhi syarat dengan menu yang beragam. Sehat dan cukup mengenyangkan. Jam 7 kami siap agar tiba di bandara jam 8.

Perjalanan ke bandara cukup lancar, hanya satu hal yang membuat agak cemas, hujan lebat yang turun beberapa saat kami meniggalkan Lagoi dan semakin deras saat kami tiba di bandara. Harapan kami hujan akan berhenti saat kami masuk pesawat karena pesawat kami masih 2 jam lagi. Waktu kami tiba bandaranya belum buka karena penerbangan yang paling pagi dari Jakarta masih akan tiba 1 jam lagi. Better early than late.

Selesai check in dan bagasi kami menuju ruang tunggu. Kami melewati beberapa toko oleh-oleh khas Tanjung Pinang. Harga yang ditawarkan cukup bersahabat. Jadilah saya membeli teh prendjak khas tanjung pinang, kopi hawaii, kopi arabica khas tanjung pinang, serta beberapa souvenir. Tanpa kami sadari hujan ternyata sudah reda dan pesawat sudah terparkir siap untuk membawa kami ke jakarta. Selamat tinggal Bintan, sampai jumpa lagi.

Negeri Gurindam 12, Keliling Pulau.

Pagi menyapa dengan segar. Dari kejauhan terdengar sesekali debur ombak. Matahari masih malu-malu mulai muncul dari Timur. Hari ini rencana kami akan mengunjungi pulau Penyengat yang dapat ditempuh dengan kapal kecil dari Tanjung Pinang.

Setelah sarapan, jam 9 pagi transportasi yang akan membawa kami ke Tanjung Pinang sudah siap. Kami memilih untuk menyewa mobil lepas kunci alias bisa bawa sendiri. Beruntung ayah blogger punya kenalan yang bisa menghubungkan ke tempat persewaan mobil sehingga mendapat harga yang sangat bersahabat. Kami berkendara melalui jalan yang kemarin kami lalui. Jalan yang lurus-lurus saja ditambah dengan papan penunjuk jalan yang jelas menjadikan perjalanan kami menuju Tanjung Pinang lancar.

Tujuan pertama kami di Tanjung Pinang tentu saja ke pelabuhan Penyengat. Pelabuhannya berdampingan namun melalui jalan yang berbeda dengan Pelabuhan Sri Bintang Pura tempat kapal tujuan Singapura dan Batam bersandar. Kami menggunakan kapal yang dinamakan Pompong dengan tarif 7k sekali jalan. Namun apabila kita sewa satu pompong bertarif 200k pulang pergi. Dengan alasan waktu kami segera berangkat dengan menyewa satu pompong. Tujuan kami di pulau penyengat adalah Mesjid Raya Sultan Riau. Konon mesjid ini dibangun menggunakan campuran putih telur. Namun yang kami temukan disana ternyata bukan hanya itu.

Hanya sekitar 15 menit perjalanan pompong dari pelabuhan tanjung pinang ke pulau penyengat. Sejak tahun 1995 pulau Penyengat dijadikan situs warisan dunia oleh UNESCO. Walaupun kecil, Pulau Penyengat punya peran besar terhadap lalu lintas laut perdagangan pada masa lu, sehingga dijadikan pusat pemerintahan kerajaan Riau. Oleh karena itu di pulau ini terdapat kompleks pemakaman raja-raja dan keturunannya. Yang lain adalah bangunan istana kantor tempat tinggal Raja yang juga dijadikan kantor.

Berhubung waktu dzuhur masih cukup lama, kami berkeliling pulau dengan menggunakan bentor (becak motor) yang dikelola oleh masyarakat setempat. Yang kami kunjungi adalah kompleks pemakaman raja-raja dan keluarganya serta bangunan istana kantor. Sambil mengendarai bentor, pengemudinya sekaligus bertindak sebagai pemandu wisata. Pulau penyengat dulunya adalah mas kawin Sultan Mahmud Marhum Besar, penguasa Johor untuk mempersunting Engku Putri Raja Hamidah salah satu putri dari Raja Ali Haji. Makam Engku Putri mendiami kompleks khusus dan berada terpisah dari makam yang lain. Di kompleks makam tersebut juga terdapat makam Raja Haji Sastrawan yang membuat karya puisi terkenal yaitu Gurindam 12. Isi guridam 12 ternoktah diatas batu marmer dan dilekatkan di sepanjang tembok makam Engku Putri. Saat masuk ke kompleks pemakaman, juru kunci makam Engku Putri dengan tepat menebak:" Ibu ini BuGuru ya?" karena saat masuk saya langsung tanya:"Coba bang, sebut satu aja gurindam yang abang hapal... " :D

Kemudian berkeliling lagi ke kompleks makam yag lain dan menyempatkan diri berfoto di istana kantor. Tak sampai 15 menit berkeliling kami kembali ke mesjid Raya Sultan Riau yang berdampingan dengan dermaga penyengat tepat saat adzan dzhuhur.

Setelah dzuhur dan mengabadikan beberapa gambar kami kembali ke Tanjung Pinang, Bintan. Saat mencari tempat parkir kami sempat berputar-putar dan melihat satu monumen berbentuk hewan gonggong yang masih tampak baru. Beruntung lagi, kami diajak mengitari Tanjung Pinang oleh orang yang sudah sekitar 8 tahun tinggal disana. Sepertinya banyak orang yang mencari peruntungan di Bintan sehingga membuat heterogen masyarakatnya.

Pertama kami diajak ke ruah makan khas Melayu yang masakannya berasa makan di rumah. Berbagai masakan terhidang seperti prasmanan, kita tinggal memilih apa yang mau kita makan. Nama rumah makannya Singgah Selalu, dan kalau ke Tanjung Pinang lagi kami akan singgah lagi disana karena makanannya sangat cocok bagi lidah semua orang. Di rumah makan ini pula saya kenal istilah untuk minuman teh di Bitan. Teh tawar disebut teh kosong, teh manis hangat disebut teh O, untuk teh manis dingin dengan es disebut teh obeng! Saya pesan teh kosong saja :).  Selesai makan kami dibawa ke rumah makan Ica di Dompak. Dompak ternyata pulau kecil yang disebrangi dengan jembatan. Di RM Ica yang menawarkan menu seafood, kami mencicipi makanan khas Tanjung Pinang lainnya yaitu gonggong. Gonggong (Laevistrombus canaris) adalah sejenis siput laut khas Tanjung Pinang yang memiliki daging gurih dan lembut. Dengan hanya direbus dan dimakan dengan sambal, rasa gonggong ini skala 1-10 nilainya 9!

Saat Ashar kami tunaikan di Mesjid Agung yang sekompleks dengan kantor Gubernur masih di pulau yang sama, Dompak. Tampak sedang dibangun jembatan yang langsung menghubungkan kota Tanjung Pinang dengan kompleks Kantor Gubernur.  Diperkirakan beberapa bulan lagi akan rampung. Pembangunan memang tampak dimana-mana.

Tujuan akhir setelah Dompak adalah monumen/gedung Gonggong yang kami lihat sebelum ke Penyengat. Ternyata memang monumen ini baru diresmikan beberapa minggu yang lalu (29/10/2016) dan berupa taman dengan berbagai macam fungsi. Tempat bermain anak, olahraga street gym atau hanya untuk sekedar bersantai. Bangunan gonggongnya sendiri adalah berupa gedung serbaguna dengan 2 lantai yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan apa saja. Tempatnya yang tepat di bibir pantai memiliki pemandangan langsung ke laut dan letaknya yang disamping pelabuhan memungkinkan wisatawan yang masuk melalui pelabuhan Tanjung Pinang dengan mudah melihat ikon ini. Setelah puas berfoto kami siap kembali ke Lagoi.



Negeri Gurindam 12, Bintan Lagoon Resort.

Bintan Lagoon Resort yang kami kunjungi berlokasi paling ujung dari keseluruhan resort yang ada di Lagoi. Masuk gerbang resort pemandangan kiri-kanan adalah beberapa lapangan golf dengan pepohonan yang cukup rapat di kiri kanan jalan. Tepat ketika badan mulai penat karena lelah dan kekenyangan, Bintan Lagoon Resort seolah siap memeluk kami.

Kami terdaftar untuk paket keluarga, untuk 4 orang, orangtua dan 2 orang anak. tidak pakai lama setelah check in kami diberi kunci bernomor 3030. Kamar yang cukup luas buat kami berempat ditambah dengan panggung seperti dipan dengan kasur busa yang bisa dipakai tidur sehingga kami tidak perlu menambah extra bed. Saat pertama masuk kamar sasaran kami berbeda-beda. Ayah blogger langsng mengabadikan keadaan kamar yang masih rapi menahan kami yang berkeinginan menghempaskan diri ke kasur yang empuk. Si kecil penuh rasa ingin tahu memeriksa kamar mandi, si besar cek televisi dan sinyal internet, saya sibuk mengatur barang bawaan kami supaya keliatan rapi. Lalu tujuan kami senjutnya adalah.. balkon!
Pemandangan yang bisa dilihat dari balkon kamar kami tentu saja laut! Lapangan rumput yang hijau membentang sebelum mencapai pantai dengan bukit-bukit batu kecil yang bisa dicapai dengan mudah. Bangunan keseluruhan resort bisa dilihat dari balkon kamar kami. Kolam renang dengan pohon-pohon kelapa menawarkan kesegaran di hari yang cukup panas setelah sebelumnya hujan.

Niat untuk rebahan gagal jadi keinginan untuk eksplorasi sekitar resort. Air laut yang tenang dengan rumput hijau dan bukit batu kecil, belum lagi kolam renangnya. Akhirnya tanpa berlama-lama kami keluar menuju pantai. Mengabadikan banyak gambar lalu menyusuri pantai. Dari sekian banyak olahraga air dan pantai kami memilih berkano di sepanjang pantai. Sebetulnya hanya ayah blogger dan si kecil yang berkano, saya dan si besar memilih berayun-ayun menikmati semilir angin dalam hammock (tempat tidur gantung) di bawah pohon di tepi pantai sambil melihat si ayah sibuk mendayung kanonya.

Matahari mulai bersahabat dan bercahaya dengan hangat. Saatnya berenang! si Ayah cukup puas dengan membasahi badan, si besar sibuk ambil pose boomerang untuk IG nya, si kecil latihan menyelam, saya.. merajut di tepi kolam :D.
Sepanjang berada di resort banyak kami temui tamu lain yang kebanyakan berasal dari Singapura melihat fisik dan mendengar cara mereka bercakap-cakap. Tapi walaupun ramai, resort ini sangat tenang dan nyaman. Ketika lewat pantai kami melihat pantai yang disulap menjadi tempat makan sepertinya untuk acara nanti malam. Kami sendiri berniat untuk mekan malam di restoran Nelayan yang menawarkan menu Indonesia dan Internasional khususnya seafood.

Tiba di kamar kembali kami semua berniat mandi untuk menghilangkan penat. Si kecil yang belum puas berenang gara-gara kacamata renangnya tertinggal di kamar akhirnya berendam di bathtub lengkap dengan memakai kacamata renang! Sementara menunggu yang lain bocan dan bogan dulu.
Sekitar jam 7 malam kami berjalan dalam keremangan penerangan jalan setapak menuju ke tempat makan. Yang pertama dipesan tentu saja seafood, kepiting, udang dan lobtster! Memesan menu lengkap mulai appetizer, main course dan dessert dengan milkshake dan juice kami kembali ke kamar dengan perut kenyang dan siap untuk tidur.

Negeri Gurindam 12, Menuju Lagoi.

Sekitar pukul 10 pesawat tiba di Bandara Raja Haji Fisabilillah - Tanjung Pinang. Seolah menyambut kedatangan kami, hujan turun rintik-rintik. Sisa hujan lebat sebelumnya tampak pada landasan yang basah dan bau amis menyengat seketika tercium di udara, entah dari mana. Petugas Bandara dengan sigap menyiapkan payung-payung besar dibawah tangga pesawat. Selamat datang di pulau Bintan, Kepulauan Riau, Negeri Gurindam 12.

Rasa dingin yang sangat di kabin pesawat berganti menjadi udara yang lembab dan basah. Segera ke toilet dan siap didepan rel bagasi untuk mengambil koper kami. Rupanya hujan cukup menahan barang bawaan kami turun dari pesawat. Dan koper kami datang dalam keadaan basah. Untunglah isinya tidak ikut menjadi basah.
Di pintu keluar sudah siap seseorang dengan tulisan Bpk. Harris Maulana .. sarana yang akan membawa kami ke Lagoi. Bersalaman, berbasa-basi, foto-foto sejenak lalu cusss .. kami berangkat. Tomy nama driver kami, asli dari Sumatra Utara baru satu tahun tinggal di Bintan sudah cukup hafal dengan keadaan di sekitar Bintan. Termasuk hujan yg turun karena 'musim Utara', angin yg bertiup dari Utara membawa hawa dingin dan hujan.

Dalam perjalanan menuju Lagoi kami melewati Vihara Avalokitesvara Graha, sebuah tempat beribadah umat Budha yang kabarnya terbesar se Asia Tenggara. Sambil masih hujan rintik-rintik kami mengabadikan kekaguman kami akan mahakarya yang sarat makna. Sudah puas mengambil gambar kami segera melanjutkan perjalanan berharap sempat makna siang sebelum waktu sholat jumat.
Jarak antara tanjung pinang - Lagoi sekitar 65 km ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam melalui jalan baru. Dari jalan ini tampak gunung Bintan yang merupakan satu-satunya gunung di pulau Bintan. Mengorek soal nama Bintan, bang Tomy bilang konon di Bintan banyak terdapat intan sehingga disebut pulau berintan dan jadilah Bintan.

Setelah melalui jalan yang lurus dan beberapa jembatan lebar yang membelah sungai serta muara, kami tiba di kawasan Lagoi. Sebuah kawasan yang dikembangkan oleh pihak swasta untuk aset wisata. Untuk masuk ke Lagoi dikenakan biaya 5k satu kendaraan dan didata isinya sehingga pos depan tahu benar berapa orang yang keluar masuk Lagoi. Masih sempat maksi, kami dibawa ke kawasan pujasera, daerah yg khusus diperuntukan untuk para pegawai di kawasan Lagoi. Tempatnya mirip perumahan atau asrama tepatnya, karena satu bangunan bisa berisi beberapa rumah seperti bangunan kontrakan disini. Di Pujasera sendiri terdapat pedagang sayuran, pedagang makanan jadi dan toko kebutuhan sehari-hari.

Kami tiba di kawasan pujasera jam 11, sempat untuk menyantap masakan Padang sebelum sholat jumat. Rasa lapar membuat makanan kami menjadi tambah lezat dilengkapi dengan rasa hangat dan sedap dari teh prendjak, teh khas tanjung pinang. Tak berlama-lama, tujuan kami selanjutnya mesjid Raya. Jangan membayangkan bangunan mesjid yg besar dan megah bila melihat namanya, mesjid ini unik dengan bangunan yg terbuat dari kayu seluruhnya. Besarnya cukup untuk menampung mereka yg tinggal di pujasera. Kami menunggu para lelaki sholat sambil mengamati seragam sekolah anak2 Lagoi yg berbentuk baju Koko panjang dan longgar khas melayu serta baju kurung untuk perempuan dengan warna-warna yg cerah seperti oranye dan hijau terang ada pula yang pink cerah.
Selesai sholat kami langsung menuju Bintan Lagoon Resort tempat kami akan menginap selama 2  malam. Resort yg terdapat di Lagoi semuanya menawarkan fasilitas bermain golf dan olahraga air. Tempat wisata umum yang bisa dikunjungi diantaranya mini zoo dan kolam renang yang super besar meliputi area kurang lebih 1Ha (kata bang Tomy).
Bagi masyarakat umum seperti kami, menginap di Lagoi akan dirasa cukup mahal, beruntung kali ini kami nebeng fasilitas yg ditawarkan buat ayah blogger.. selamat datang di Bintan Lagoon Resort.

Negeri Gurindam 12, Awal yang Indah.

Fasal 6; Cahari olehmu akan sahabat yang boleh dijadikan obat, Cahari olehmu akan guru yang boleh tahukan tiap seteru .....
Demikian penggalan fasal 6 gurindam yang jumlah seluruhnya ada 12. Gurindam merupakan puisi Melayu dengan jenis puisi didaktik karena isinya nasihat dan petunjuk hidup yang diridhoi Alloh. Gurindam 12 ditulis oleh Raja Ali Haji pada 23 Rajab 1263 Hijriyah atau 1847 Masehi di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau yang beberapa waktu lalu kami kunjungi. Mencegah lupa, kenangan akan perjalanan kami akan ditulis disini, let's go!
Travel Blogger kami kali ini (baca:ayah) membawa serta keluarga untuk berlibur selama 3 hari 2 malam. Seolah membayar perjalanan-perjalanan solonya, liburan ini kami dibawa ke Pulau Bintan, salah satu Pulau di gugusan Kepulauan Riau dimana kota Tanjung Pinang sebagai ibukotanya terletak di pulau ini. Untuk menuju kesana memerlukan waktu 1 jam 30 menit di udara. Dengan pertimbangan waktu sekolah dan waktu kerja akhirnya kami memilih 11,12 dan 13 November 2016. Pilih2 maskapai yang cocok lebih ke pertimbangan ekonomis dan waktu keberangkatan. Buat anak-anak, ini pengalaman pertama mereka terbang, jadi apapun maskapainya mereka terlihat excited, senang-senang saja...
Berangkat pukul 4 pagi dari rumah dengan memperhitungkan waktu perjalanan ke bandara dan waktu untuk check in, lebih baik menunggu daripada terlambat kan? (ini kata blogger kita :)). Perjalanan menuju bandara lancar, ticketing, check in, bagasi, dan jam 7 kami sudah di boarding room, masih sempat sekedar meluruskan kaki sambil merem-merem ayam (ada yg bogan, boboganteng juga) karena pesawat masih 2 jam lagi. Tidak lupa men-charge alat komunikasi dan  baterai di stop kontak yang tersebar di sekitar boarding room supaya urusan dokumentasi lancar.
Akhirnya pesawat yang kami tunggu tiba tepat waktu. Seakan bergerak cepat, dalam waktu singkat pesawat sudah berjalan menuju run way dan mulai menggeram bersiap mengudara. Saya komat-kamit berdoa, anak-anak tak lepas sejak tadi memandang keluar jendela seolah tak ingin kehilangan momen pertama mereka terbang. Dan dengan sekali hentakan pesawat mengudara, mulai membelok kiri-kanan hingga tanda lampu seatbelt mati dan pesawat meluncur tenang.



Anak-anak yang duduk di jendela memandang keluar sejak tadi. Kepulauan seribu mulai hilang dari pandangan berganti lautan, awan cukup tebal menutup pemandangan dibawahnya, cuaca hari itu memang kurang baik, bahkan sebelum mendarat pesawat kami melewati awan hujan dan membuat pesawat bergetar lampu seatbelt menyala dan para pramugari yang sejak tadi lalu lalang menjajakan makanan dengan segera duduk dan mengikatkan diri ke kursi.
Setelah agak khawatir melihat air hujan membasahi jendela pesawat, akhirnya kami mendarat juga di Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah - Tanjung Pinang. Raja Haji Fisabilillah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah atas jasa beliau dalam memerangi Belanda. Jika kita lihat sejarah keluarganya, ternyata masih seketurunan dengan Sultan Selangor, Malaysia. Itu cerita tentang Raja Haji Fisabilillah. Cerita tentang kami yang turun dari pesawat disambut dengan hujan dan bau amis berlanjut, ternyata jika musim angin Utara cuacanya seperti itu. Koper yang kami simpan di bagasi sampai basah karena hujan. Ilham mulai naik ke troli bersama koper kami. Tanpa tunggu lama, keluar pintu bandara sudah ada yang menjemput. Rupanya perjalanan kami masih jauh..

Saturday, June 3, 2017

Gowes 'NoWhereToGo'

Di kalangan pesepeda ada beberapa golongan. Yang pertama mereka yang 'maniak' sepeda. Hampir setiap hari kemanapun mereka bersepeda, sampai kayaknya ke kamar mandi pun naik sepeda (lebay) :D.
Ada yang suka 'bike to work', golongan ini pastinya pergi ke tempat kerja dengan menggunakan sepeda. Barangkali tukang siomay keliling bisa jadi salah satu golongan ini? (hehe..).
Ada lagi yang disebut weekend warrior, ini buat mereka yang bersepeda hanya di akhir pekan. Biasanya mereka akan bersepeda ke tempat-tempat yang agak melipir untuk uphill atau downhill tergantung kesukaan.
Golongan yang lain adalah mereka yang suka bersepeda antar kota antar propinsi (kayak bis malem aja) atau kita kenal dengan touring. Jika ada waktu libur beberapa hari biasanya dimanfaatkan oleh golongan ini untuk mengunjungi tempat-tempat yang agak jauh.
yang paling kenyang adalah golongan pesepeda yang khusus mencari tempat kuliner. Makanan-makanan khas yang biasanya diminati oleh para pesepeda kuliner yang lebih mudah dijangkau bila menggunakan sepeda.

Saya termasuk golongan pencinta sepeda yang campur aduk. Maniak karena bila ada kesempatan ke warung-pun bersepeda, B2W sekali-kali saya lakukan meski ngga pake bawa siomay, weekend warrior semi wajib karena sudah mulai sugesti jika tidak bersepeda di hari sabtu/minggu bakalan sakit. Atau gowes kuliner.. yang ini wajib. Entah cari warung kopi, pecel, mi ayam, bubur  ayam sampai bir kocok.

Dalam kegiatan bersepeda di akhir pekan wajib bawa GPS (baca: Ceu@Tarie). Temanku yang satu itu paling canggih cari jalan dan ngga pernah tersesat. Kelebihannya dari GPS yang paling canggih sekalipun adalah ga perlu ganti batre dan bisa nanya ama orang.. hehehehe..

Tapi hari minggu kemarin bisa jadi disebut gowes 'galau' karena saking galaunya sibuk bm-an dulu cuma ingin pasti mau gowes atau tidak, alhasil kesiangan. Kami baru start nyaris jam 7.30! Jatah gowes juga pendek, cuma sampe jam 9 karena Ceu@Tarie harus mencari semangkuk berlian, lembur uy!
Jadilah akibat 'GPS' yang galau, gowes kami hari itu jadi 'NoWhereToGo'.

Baru kali ini ceu@Tarie sibuk tanya ke saya yang mengikuti di belakang, "kiri-kanan?!", tentu saja saya jawab "terserah!". Ngga kapok dengan jawaban itu, tiap kali bertemu persimpangan Ceu@Tarie selalu bertanya "kiri-kanan?!" kadang ditambah "lurus?!" dan selalu jawaban saya "terseraahhh!" :D

Walaupun saya mengendarai folding bike (sepeda lipat/seli), tidak tabu buat jalan ke jalan selain aspal. Hari Minggu kemarin membuktikan bahwa si kuning cukup lincah di jalan setapak yang licin akibat hujan sehari sebelumnya.
Dalam bersepeda belum pernah saya keluar dari kota Bogor. Alasannya yaa.. kekuatan dan waktu tempuh yang ga bisa terlalu lama. Gara-gara gowes tak tentu arah kemarin saya jadi tahu jalanan di kota Bogor ini tidak selamanya mulus. Awalnya aspal, kemudian berganti beton, berganti conblock sampai akhirnya tanah licin dengan bebatuan besar. Pada saat bertanya arah, ada seorang Ibu menggendong bayi yang belum genap sebulan umurnya. Rumah yang ditinggalinya sangat jauh dari sebutan layak. Hanya berdinding kayu triplek disangga kardus-kardus tebal, tanpa jendela dan penerangan. Sempat merasa miris masih terlihat pemandangan seperti itu di tempat yang kita sebut "kota". Tapi ceu@Tarie berpendapat lain. Hal itu adalah awal dari orang-orang yang sulit untuk diminta pindah dari tanah yang bukan haknya karena sudah merasa menempati selama beberapa lama bahkan beberapa generasi... mmm ada benarnya.

Ada lagi kejadian yang lumayan bikin nyengir saat bertanya arah:
ceu@Tarie : Punten kang, ini jalan ke kanan kemana, ke kiri kemana ya?
Akang2 : memangnya Teteh mau kemana?
CT: ngga kemana2 sih kang...
A: Ya udah atuh teteh lurus aja, nanti belok kanan... (perasaan tanya kiri dan kanan, malah disuruh lurus)
CT: nuhun kang... (nurut)



Betul saja tidak sampai 10 menit mengayuh kami tiba di jalan besar.. lhaa heran juga keluarnya disitu padahal kami kira sebelumnya tujuan kami ada di sisi yang lain :D.
Berhenti sejenak ambil nafas dan minum karena setengah dari perjalanan kami tadi yang jika tidak perlahan karena jalan licin, kami juga lakukan tuntun bike karena jalan yang sempit dan menanjak, jika nekat digowes bisa jadi saya jumping bareng si kuning :D.
Dari sana jalan yang kami lalui full aspal dan tetap tak henti mengayuh karena (lagi-lagi) jalanan panjang dan menanjak. Tapi semangat karena hari mulai panas dan takut meleleh saya kayuh sepeda tak jauh di belakang ceu@Tarie. Bertemu beberapa pesepeda lain, kami sapa dengan membunyikan bel masing-masing sambil senyum dan lambai tangan. Senangnya bersepeda 😊