Friday, November 27, 2009

Ternyata Saya Bisa!

Kemarin ada kejutan manis buat saya. Naskah yang saya kirimkan untuk ikut lomba penulisan cerita inspiratif guru dalam rangka ulangtahunnya tanggal 25 ini, (KELEMAHAN YANG JADI KEKUATAN) berhasil menjadi Runner up!

Sudah lama saya ingin "menguji" nilai tulisan-tulisan saya apakah layak untuk disebut sebuah tulisan atau hanya sebatas 'curhat'.
Kisahnya bermula dari ketidaksengajaan sebetulnya. Pada suatu hari saya berpapasan dengan seorang rekan guru yang membawa sehelai kertas untuk difoto kopi. Tanpa sengaja sudut mata saya cukup jeli untuk melihat tulisan "LOMBA MENULIS...." di kertas yang dia bawa. Seketika langkah saya berhenti.
"Bu, boleh lihat kertasnya? aku mau ikutan dong..", mata saya tak lepas dari sehelai kertas yang dipegangnya.
"Oo.. ini undangan workshop dari TRuE tentang penulisan di blog. Ah, Ibu kan udah bisa nulis kayaknya, saya pengen bisa juga nih.." rupanya dia mengira saya ingin ikut dalam workshop yang akan diselenggarakan True (Teacher ResoUrces Empowerment) sebuah lembaga yang concern terhadap peningkatan kualitas guru bekerjasama dengan harian Jurnal Depok dan Jurnal Bogor. Ada workshop-fee yang harus dibayar dan sekolah mengirimkan 2 orang guru untuk terlibat. Untuk hal pelatihan atau workshop, hampir tidak pernah sekolah mengirimkan saya sebagai wakilnya, mungkin karena saya kurang memenuhi syarat (entah syaratnya apa..)dan hal ini saya terima dengan lapang dada.
"Bukan workshopnya, Bu, saya ingin tahu lombanya menulisnya," saya terus mengintip berusaha membaca tulisan di atas kertas yang tetap dipegangnya.
"Oooh.. ini.... Rencananya saya sama Bu Sinta yang mau ikut, besok," akhirnya berpindah juga kertas itu ke tangan saya. Tapi ternyata informasinya kurang lengkap.
"Undangan lengkapnya ada di Bu Nurlela, Bu," katanya lagi seakan menangkap pikiran saya yang sibuk membolak-balik selembar kertas tadi. Mata saya langsung berbinar...
"Saya cari Bu Nurlela sekarang deh, makasih kertasnya ya, Bu.." lalu kertas itu berpindah lagi ke tangannya.

Di ruang guru saya temukan Bu Nurlela.
"Bu, boleh lihat undangan workshop True ngga?" saya berkata sambil (seperti) sedikit memohon.
"Mm.. emm.. yang mana ya?" lagi-lagi saya seperti 'dicegah' untuk tahu, apalagi ikutan (hiks..!)
"Tadi aku lihat punya Bu Elly, Bu," saya tambah wajah memohon saya dengan senyum yang lebar berusaha menarik simpati.
"Nanti ya, saya ada kelas dulu..," Bu Nurlela sedikit jual mahal. Saya anggap menunggu 2x45 menit tidak akan menghalangi saya untuk tahu informasi yang saya inginkan.
"OK!" saya menjawab pasti.

Ketika saya lihat syarat lombanya, saya hampir tidak percaya. Bukan karena waktunya yang mepet (naskah harus sudah ada di tangan panitia dalam 3 hari ke depan!), melainkan karena syaratnya sangat sederhana dan tidak 'neko-neko' kalau kata orang Jawa bilang, alias tidak macam-macam. Kita cuma diharuskan menulis pengalaman inspiratif saat jadi guru, selain itu syarat lain hanya teknis penulisan yang harus 4 halaman A4, spasi 1,5.
"Kalo cuma ini syaratnya siapapun pasti mau ikut," saya lalu berkata dalam hati. Lalu saya niatkan dalam hati, besok akan saya ajak sebanyak mungkin teman-teman untuk berpartisipasi.

Hari Sabtu, dengan semangat saya mulai promosi lomba. Saya ingin sebanyak mungkin teman-teman menuangkan pengalaman mereka mengajar selama bertahun-tahun yang siapa tahu bisa menjadi inspirasi bagi guru-guru lain. Saya sebarkan formulir (yang bisa diperbanyak sendiri) kepada siapa saja yang saya temui. Namun rupanya karena teman-teman hanya punya waktu 2 hari untuk membuat ceritanya, mereka kurang punya cukup waktu untuk berkreasi lewat tulisan, walaupun setiap hari dalam kehidupan teman-teman sebagai guru pasti sangat inspiratif. Keadaan ini sedikit saya sesalkan karena undangan ini terlalu lama tersimpan di meja administrasi sebelum (akhirnya) bisa diinformasikan dan ditindak lanjuti.
Namun saya berhasil mengajak 2 teman. Jadilah kami bertiga sepakat untuk menyerahkan naskah kami pada hari Senin.

Tinggal sekarang saya berfikir, jangankan ditulis, idenya sendiri masih berserakan di kepala. Ini namanya bekerja 'under pressure' . Cukup lama saya tatap prompt yang berkedip-kedip menanti huruf pertama dimasukkan lewat keyboard. Lalu saya pejamkan mata mulai menghitung mundur, menata ide yang berserakan di kepala, 5-4-3-2-1..mulai!

Saya baca ulang naskah yang sudah saya ketik selama kurang lebih satu jam dengan tatapan ragu. Apakah naskah ini layak ikut lomba? Untuk menambah rasa PeDe alias Percaya Diri, saya minta seorang teman (yang biasa saya ajak share tentang tulisan-tulisan saya) untuk menjadi pembaca pertama.
Saya pandangi terus ekspresi wajahnya saat dia membaca tulisan saya, sampai dia merasa jengah. "Bentar dong, Missell," katanya berkali-kali.
"Gimana ?" akhirnya saya bertanya saat dia mengangkat wajahnya dari monitor.
"Bagus.." dia menjawab. Saya menunggu kelanjutannya..tapi dia cuma bilang satu kata saja.
"Alurnya? konfliknya? klimaksnya?" saya kejar dia dengan pertanyaan, hanya karena saya kembali punya keinginan untuk tidak akan mengirimkan naskah saya.
"Udah Miss, kirimin aja, bagus kok..", dia cuma bilang itu lagi. Yahhh, dia pasti bilang bagus, dia kan teman saya. itu yang ada dalam fikiran saya.
"Yakin?" saya berusaha memastikan.
"Yup, hundred percent sure!" menyemangati sekali teman saya yang satu ini.
Akhirnya saya print juga naskahnya, saya masukkan ke dalam amplop coklat lalu saya simpan di laci meja saya. Sengaja tidak saya bawa pulang karena takut dalam perjalan pulang saya kembali ragu dan naskah ini akan tersimpan di sudut lemari di rumah saya yang sesak dengan buku yang beberapa belum sempat saya baca.

Senin, Bu Etty, teman yang ikut mengirimkan naskahnya berbaik hati membawa serta naskah saya yang hari itu penuh mengajar 8 jam pelajaran. Ada baiknya dibawa Bu Etty, supaya saya tidak harus menatap wajah panitia yang menerima naskah saya. Betul-betul rasa percaya diri saya "parah banget" kalau kata murid saya. Setelah naskah saya berpindah ke tangan Bu Etty, saya berusaha tidak memikirkannya lagi dan tenggelam dalam kesibukan belajar bersama murid-murid, sampai dua minggu kemudian TRuE menghubungi melalui telepon dan SMS bahwa para penulis diminta mengirimkan profil lengkap untuk dicatat sebagai peserta lomba.

"Pemenangnya udah ada, Bu," Pak Asep, teman yang ikut mengirimkan naskahnya berkata pada saya.
"Bukan saya kan, Pak?" sedikit 'ngarep' ya, tapi tak apalah.
"Ada di koran Jurnal hari ini, Judulnya: Terima Kasih, Faey," Pak Asep berkata lagi.
"Korannya mana?" saya ingin tahu seperti apa tulisan yang 'benar' dan 'bagus' sehingga bisa menang.
"Tadi ada disini," Pak Asep menengok kesana kemari sambil membolak-balik kertas yang berhamburan di mejanya. Hari bersih-bersih rupanya.
"Ga apa-apa, Pak, biar saya cari," saya lalu tinggalkan Pak Asep yang sedang menyortir kertas-kertas yang ada di mejanya.

Cerita inspiratif pemenang lomba itu akhirnya saya baca melalui Jurnal Bogor online (karena korannya akhirnya tidak ketemu). Ceritanya ringan dan mengalir, sangat manusiawi dan menyentuh. Pantes deh, kata saya dalam hati. Lalu saya menerawang, suatu saat saya harus bisa bertutur seperti itu.

Tepat hari GURU, 25 November, ada SMS masuk, isinya undangan untuk share buat semua peserta lomba keesokan harinya. Nah, acara seperti ini sebetulnya yang saya tunggu. Langkah untuk perbaikan diri, self quality improvement yang terus berlangsung. Esoknya pun secara khusus saya ditelepon oleh panitia untuk 'sekedar mengingatkan', katanya. Jadilah siang itu, dibawah gerimis hari Kamis saya datangi kantor TRuE.

Rupanya selain merangkap base camp (kira-kira begitu ya?) kantor TRuE ternyata sebuah sekolah alam untuk usia TK. Saya sangat tertarik ketika melihat ada rumah pohon, kelas-kelas yang terbuka, membiarkan segarnya udara, basahnya hujan dan teriknya matahari dapat dengan bebas menyelinap melalui dinding kelas yang setengahnya adalah jendela dan terbuat dari bilik bambu. Di sebuah sudut saya melihat sebuah periskop mini, yang kalau kita intip, gambar yang tampak seperti kalau kita mengintip daratan dari bawah air. Dua orang anak sibuk mengintip dan memutar-mutar periskop tadi. Dengan melihat itu saya berpikir hanya keceriaan yang setiap hari dilakukan disini, spontanitas dan rasa ingin tahu yang tinggi pasti menyertai hari-hari bermain sambil belajarnya. Dan kesan itu semakin kuat ketika saya diundang masuk.

Isi 'obrolan' hari itu dengan para pendiri dan penggagas TRuE adalah seputar dunia menulis, tips serta kekuatan dalam menulis (sepertinya hal ini suatu saat akan saya buat dalam episode sendiri). Lomba ini memang sengaja diadakan dengan syarat 'ringan' untuk menjaring sebanyak mungkin tulisan tentang Guru. Responsnya cukup baik, ada 35 tulisan dari 25 orang peserta yang datang dari Jobodetabek dan juga Sukabumi. Saya lihat bundel karya para peserta.. banyak juga. TRuE juga mengungkapkan keinginan mereka untuk menjadikan bundel cerita tadi menjadi sebuah buku yang akan disebarkan dengan lebih luas lagi (dengan catatan kalau ada penerbit yang tertarik, karena biasanya penerbit akan sangat mempertimbangkan sisi pasarnya). Yang saya fikirkan saat itu adalah betapa malunya ketika karya saya dibaca banyak orang, karena jangankan dibaca banyak orang, berfikir karya saya akan dibaca sekelompok orang juri saja rasanya saya tidak PeDe. Namun cara pandang saya ini diluruskan oleh Bapak M. Ridwan, editor senior yang merangkap Humas di Pemkot Bogor sebagai salah seorang anggota Juri. "Anda penulis, bukan EDITOR. Jadi yang menetapkan tulisan anda bagus atau jelek bukan anda, melainkan orang-orang yang membaca karya anda. Sementara hasilnya akan sangat subjektif, karena selera orang berbeda-beda," betul-betul kalimat ini Powerfull buat saya.

Waktu berlalu tanpa terasa, saat itu saya seperti spons yang ingin menyerap setiap kata tentang bagaimana cara menulis yang baik. Tulisan adalah sebuah ungkapan hati yang jujur, tulus, bebas, sesuai dengan apa yang kita lihat dan rasakan yang tidak boleh berhenti. Walaupun sebenarnya hati saya belum puas benar, namun acara share itu harus selesai. Tiba pada saat yang ditunggu oleh seluruh peserta lomba, pengumuman pemenang.

Karena saya merasa sudah tahu pemenangnya, saya hanya mendengarkan tanpa pengharapan. Karya saya masih perlu banyak perbaikan dibandingkan tulisan yang berhasil menang, saya kira. Tiba pengumuman 10 besar. Saya malah berharap kedua teman saya bisa jadi masuk di posisi 2 dan 3. Kemudian 6 besar, lalu 3 besar!

Tempat ke 3.. diraih oleh Bapak Eman.. (aduh maaf, Pak, saya lupa nama Bapak..), dari SD Ummul Quro, sekolahnya para calon pemimpin yang Juara bukan saja dari pemahaman dunia tapi juga memahami agama.
"Tempat kedua.. Dari SMPN 1," kata pihak panitia yang mengumumkan... 'waduh, itu kan sekolah tempat saya mengajar.. langsung saya menengok ke kiri dan kanan, tempat Pak Asep dan Bu Etty duduk. Dalam hati saya beruntung benar mereka bisa dapat posisi runner-up.
"Judul ceritanya adalah...," panitia sengaja membuat tegang.
"KELEMAHAN YANG JADI KEKUATAN, karya Ibu Selly," lalu disusul tepuk tangan.
'Eh... dia sebut nama saya!', wajah saya langsung memerah, antara perasaan senang, bangga, malu (kok malu ya??) dan tidak percaya! Fikiran saya flash back ke belakang, ingat cerita saya yang menggambarkan betapa saya berjuang untuk pantas disebut sebagai GURU oleh murid-murid saya, betapa tetesan keringat dan airmata ikut memperindah perjuangan saya, betapa energy yang saya curahkan ternyata berakhir dengan sangat manis.

Saya tatap selembar kertas berwarna hijau dengan nama saya tercetak besar-besar, lalu dibawahnya tertulis: "Sebagai Juara 2 lomba menulis kreatif dan inspiratif...". Masih tidak percaya saya tatap dan baca lagi sebelum dengan hati-hati saya masukkan ke dalam ransel yang penuh dengan pin dan gantungan kunci yang selalu bergemerincing, yang setia mengikuti langkah saya. Saya juara... mudah-mudah memang bisa jadi inspirasi. Saya juara...ini yang pertama tapi bukan yang terakhir. Saya juara... Ternyata saya BISA!!.

Saturday, November 14, 2009

KELEMAHAN YANG JADI KEKUATAN.

Entah pengalaman ini inspiratif atau tidak, tapi setiap pengalaman buat saya adalah inspirasi untuk belajar, memperbaiki diri, dan menjadi lebih baik. Amir Tengku Rusli dalam “Menjadi Guru Kaya” kurang lebih menyatakan bahwa profesi guru menginginkan kita untuk terus menerus melakukan sesuatu yang disebut self quality improvement (perbaikan kualitas diri yang terus menerus) dan salah satu yang bisa meningkatkan kualitas diri adalah bila kita bisa belajar dari pengalaman.

Langkah pertama saya memasuki dunia pendidikan adalah melalui perpustakaan. Karena membaca adalah hobi saya sejak pertama kali bisa membaca, profesi ini sangat saya sukai. Setiap hari saya masuki dunia yang sarat dengan ilmu. Di tempat ini semua informasi bisa saya peroleh, apalagi ketika internet masuk dan dijadikan salah satu media di perpustakaan. Dari perpustakaan inilah saya yang ‘gaptek’ alias gagap teknologi mulai surfing, browsing, googling, chatting dan sedikit-sedikit belajar blogging.

Namun keadaan tenang dan senang ini tidak bertahan lama. Saat seorang guru cuti dan memerlukan seorang pengganti, beliau meminta saya untuk menggantikan. Berbekal ijazah AKTA IV, jadilah saya memberanikan diri mencoba untuk berhadapan langsung dengan siswa di kelas.

Pertama yang saya rasakan adalah TAKUT. Takut tidak bisa menghadapi tatapan siswa, takut tidak bisa mengajar dengan benar, takut pertanyaan siswa tidak dapat saya jawab. Terus menerus dilanda ketakutan akhirnya minggu pertama saya mengajar dipenuhi dengan keraguan. Buku tak pernah lepas dari tangan saya, walaupun materi telah saya kuasai benar, pertanyaan murid selalu saya jadikan pekerjaan rumah (PR) yang akan saya jawab pada pertemuan berikutnya hanya karena takut salah menjawab.
Bertanya kepada guru lain yang lebih senior malah menambah rasa takut saya. Bahwa menjadi guru bukan sekedar mengajar melainkan MENDIDIK. Muncul lagi keraguan, apakah saya yang serba tidak sempurna ini bisa mendidik murid ?

Saya tenggelamkan diri saya di perpustakaan untuk menjawab pertanyaan saya dan menghilangkan keraguan. Dalam satu buku yang saya lupa judulnya, menyatakan bahwa menjadi seorang guru adalah mengajarkan sebanyak mungkin yang kita tahu, mendidik siswa kita untuk menjadi lebih baik. Dan untuk menjadi seorang pengajar sekaligus pendidik, seorang guru harus BELAJAR. Artinya seorang guru adalah seorang PEMBELAJAR.

Belajar tidak hanya bisa kita peroleh dari buku. Belajar dari murid adalah salah satu yang akhirnya sangat saya senangi. Dunia anak yang polos dan keingintahuan mereka yang besar memperkaya saya untuk terus menggali lebih dalam potensi mereka. Ini membuat saya semakin pandai secara material dan spiritual. Semangat dan kepercayaan diri saya terus tumbuh seiring dengan keinginan saya untuk terus belajar.
Dalam proses belajar ini pula saya temukan kelemahan-kelemahan saya yang lain. Seringkali saya LUPA akan materi pembelajaran. Saya sadari betul kekurangan saya ini akibat kurangnya waktu belajar dan kurangnya ‘jam terbang’ dalam mengajar. Alhasil seringkali materi yang saya bawakan meluas hingga akhirnya saya kesulitan untuk focus pada tujuan pembelajaran yang telah tercantum dalam rencana pembelajaran.

Untuk mengatasi ini saya mulai belajar membuat peta konsep, atau lebih trend bila kita sebut mind mapping. Pokok pikiran yang kemudian diurai menjadi poin-poin yang lebih khusus dan memperjelas materi pembelajaran. Tidak puas dengan mind mapping, saya belajar membuat presentasi dengan power point. Saya buat presentasi yang menarik dengan memperbanyak gambar, membuat cuplikan film dan memasukkan lagu ke dalam presentasi saya. Selain membuat saya lebih fokus dalam memberikan materi, tampilan presentasi yang menarik membuat siswa tertarik untuk memperhatikan dan terlibat dalam pembelajaran.

Namun belajar terus menerus dengan power point membuat siswa menjadi jenuh. Selain jenuh, mereka mulai tidak memperhatikan proses pembelajaran dengan mengobrol, mengalahkan suara saya yang tidak terlalu kuat menjangkau setiap sudut kelas. Teringat saya kata-kata ‘I hear, I forget; I see, I remember; I do, I understand’. Kung Fu Tzu (Confusius) seorang filsuf Cina sejak ribuan tahun lalu sudah menemukan bahwa sesuatu yang kita dengar akan kita lupakan, yang kita lihat kita akan ingat dan apa yang kita lakukan akan kita mengerti dan pahami.

Jadi, tahapan presentasi powerpoint saya, semenarik apapun akan hanya diingat oleh siswa. Mulailah saya mencari sesuatu yang sifatnya dilakukan oleh siswa, suatu kegiatan student-center (berpusat kepada siswa) supaya mereka memahami apa yang mereka pelajari. Pada saat mempelajari lapisan tanah, saya meminta mereka melakukan penelitian dengan membawa sampel tanah dari rumah masing-masing. Dari praktek ini selain siswa mengetahui dan paham lapisan-lapisan tanah, kejadian yang barangkali tidak akan mereka lupakan adalah bahwa pot-pot tanaman di rumah mereka bukan diisi dengan tanah melainkan dengan kompos.

Kelemahan saya yang lain adalah saya CEPAT BOSAN. Lingkungan sekolah dan ruang kelas semakin lama terasa semakin mengukung dan membuat bosan. Kebosanan ini juga terlihat di mata para siswa. Akhirnya saya cari kegiatan yang memungkinkan untuk dilakukan di luar sekolah.

Bogor mulai tahun ini mencanangkan wisata pendidikan. Tanpa saya sadari sebelumnya bahwa memiliki lokasi di tengah kota tidak melulu menyesakkan karena bising dan debu, melainkan memiliki keuntungan karena dekat dengan tempat wisata pendidikan. Setiap tahun saya tidak pernah melewatkan untuk mengajak para siswa ikut dalam Istana Bogor open sebuah acara yang dilaksanakan setiap hari jadi Bogor. Pada saat itu selama satu minggu, Istana Bogor yang lokasinya tepat berada di depan sekolah bebas dikunjungi. Kebun Raya, Museum Tanah, Museum Zoologi, Museum Etnobotani, Museum Perjuangan, Museum Peta, semuanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Dengan field trip kebosanan berganti dengan keceriaan dan mendekatkan hubungan saya dengan siswa karena dalam perjalanan kita lewatkan dengan obrolan-obrolan ringan.

Kesulitan terbesar saya dalam dunia ini ternyata bukan datang dari para siswa, melainkan datang dari sesama rekan guru dan ketidaksempurnaan sistem pendidikan kita. Kesenjangan usia, perbedan status dan perbedaan dalam metode pembelajaran baik proses maupun perbedaan pandangan dalam hubungan guru dengan murid merupakan kendala yang pada awalnya seringkali memancing emosi. Setiap kali saya menyampaikan pendapat sering dianggap sebagai sesuatu yang sifatnya membangkang hanya karena ‘berbeda’ dari yang seharusnya (padahal yang seharusnya ini belum tentu benar). Keadaan ini jelas membuat saya tidak nyaman dan seakan hidup dalam tekanan.

Dari keadaan ini saya mencoba untuk lebih tenang. Tapi hanya berdiam diri sementara ide-ide di kepala seperti tak terbendung dan ingin melompat keluar sering membuat saya hampir frustasi dan ingin mundur dari dunia pendidikan. Saya kemudian mencari jalan untuk membuat diam saya ini lebih berkualitas. Akhirnya terpikir untuk menyalurkannya kepada hobi.

Beruntung hobi saya adalah membaca. Membaca adalah obat rasa putus asa saya berada di lingkungan para pendidik yang seringkali merasa dirinya paling pintar dan paling benar. Dari semua pengalaman orang sukses yang saya baca, semuanya pernah mengalami masa ‘sulit’. Karenanya rasa putus asa yang melanda saya ternyata hal yang sangat biasa dan mungkin sangat remeh bila dibandingkan dengan tujuan kita untuk menjadi seorang guru. Dari hari ke hari semakin banyak referensi yang saya baca, semakin saya sabar dalam menghadapi kendala dalam bekerja dan dapat mencari solusi untuk menyelesaikannya.

Sudah menjadi kebiasaan berganti menteri, berubah pula kebijakan yang berlaku di dunia pendidikan. Saat ini kecenderungan untuk mempolitisir dunia pendidikan menjadikan saya sebagai praktisi yang langsung berhadapan dengan siswa prihatin dan kadang membuat saya bingung, karena pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan tidak disertai dengan pelaksanaan kebijakan tersebut di lapangan. Contohnya pada saat penarikan buku sejarah beberapa tahun yang lalu karena penggunaan sebuah kata yang dianggap salah. Akhirnya buku yang sudah dibeli ditarik kembali tanpa ada gantinya.
Merubah tatanan yang datang dari pemerintah tentu tidak semudah membalikan tangan, dan hal itu saya pahami benar. Namun kembali ide di kepala seakan ingin berlompatan keluar. Saat itulah saya lebih mendalami dunia maya. Dengan berinternet, informasi yang saya peroleh semakin banyak dan saya jadikan dasar sebagai bahan penulisan melalui blog. Dengan surfing dan blogging saya semakin paham mengapa sebuah kebijakan diambil dan bagaimana seharusnya kita sebagai praktisi dalam menyikapi kebijakan tersebut.

Menjadi seorang guru memang tidak mudah namun bisa kita jadikan mudah karena yang kita hadapi jenisnya sama dengan kita, MANUSIA. Karena itu saya jadikan semua kelemahan saya menjadi suatu kekuatan untuk menjadi lebih baik. Dari apa yang pernah saya lakukan, saya peroleh kesimpulan;
1. Saya ubah rasa takut saya untuk mengajar siswa menjadi belajar bersama siswa.
2. Penyakit lupa dan tidak focus saya atasi dengan belajar menjadi pembicara yang baik dengan bantuan program presentasi power point.
3. Perasaan gampang bosan dan terkukung ruang kelas saya alihkan menjadi mencari aktivitas yang lebih banyak melibatkan siswa dan kegiatan field trip.
4. Kesulitan dalam berhubungan dengan rekan kerja bisa saya atasi dengan pemahaman dan empati terhadap keberadaan serta kepentingan orang lain.
5. Kekecewaan tentang sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia justru semakin memperkaya saya untuk lebih tahu tentang apa arti pendidikan, tujuan pendidikan dan cara mendidik. Fokus pada tujuan utama sebagai seorang guru jauh lebih penting daripada memusingkan sesuatu yang tidak terjangkau.

Akhirnya sebagai seorang guru sebaiknya selalu POSITIVE THINKING, dengan selalu berfikir positif, semua hal yang paling buruk sekalipun masih memiliki sisi yang menyenangkan dan dapat diselesaikan. Menganggap semua siswa sebagai teman belajar adalah sebuah usaha untuk memanusiakan manusia. Siswa tidak hanya kita jejali dengan materi melainkan juga kita bekali dengan nilai-nilai penting yang akan berlaku dalam kehidupan nyata. Dan yang paling saya sukai menjadi seorang guru adalah bahwa kita tidak pernah berhenti B E L A J A R.

Monday, October 12, 2009

Reuni (sebuah fiksi refleksi).

Fay berdiri mematung di depan kaca. Melihat pipinya yang gembil, di ujung matanya sudah tampak kerut halus, rambutnya kini kusam dengan serpihan putih disana-sini. Perasaan menyesal lalu menyeruak, kenapa ia tidak bisa merawat tubuhnya. Tidak pernah ke salon selain untuk potong rambut, tidak pernah ke gym, dan ia tidak pernah berhadapan dengan cermin selama ini untuk menyadari semua kekurangannya.
Ditangannya undangan reuni SMA. 2 minggu lagi, menunggu konfirmasi apakah ia akan hadir atau tidak. Kali ini untuk kesekian kalinya Fay siap menolak undangan Reuni yang diterimanya.

Hati Fay diliputi keraguan. Apa kata teman-temannya nanti bila tahu Fay yang dulu salah satu cewek populer di sekolah ternyata hanya menjadi Ibu rumah tangga yang bersuamikan seorang guru? Fay lalu membuka lemari di belakang cermin yang menatapnya sejak tadi. Mencari kemeja berwarna putih yang dibelikan suaminya beberapa tahun lalu.
Uff.. bau apek seketika menyeruak ketika Fay menarik kemeja putihnya yang kini berwarna putih tua. Ada dress code untuk memakai kemeja putih seperti masa SMA dulu. Ia tatap lama bajunya. Betapa malunya bila teman-temannya mengenakan pakaian model terbaru sementara ia hanya mengenakan pakaian tua yang telah berkali-kali ia pakai.

Sedang Fay mematut dirinya di cermin, telepon berdering;
“Hallo”
“Hai Fay, ini gue, Anita.. undangan reuni udah nyampe belom?”, Anita berkata renyah diujung telepon, tetap ceria seperti dulu.
“Udah Nit,” Fay menjawab perlahan sambil menghela nafas panjang.
“Mau dateng, ya?”, Anita ingin memastikan kedatangan Fay.
“Mmm.. mungkin, Nit,” Fay tidak berani berjanji.
“Lhooo…. Kenapaaaa?? Tadinya aku mau ngajak pergi bareng,” perasaan menyesal terdengar jelas dalam suara Anita.
“Ada acara lain, Nit, tapi nanti aku kabarin deh kalo mau dateng..” Fay terpaksa berbohong dan mencoba mengakhiri percakapannya dengan Anita.
“Bener lo, yaa.. aku tunggu kabar dari kamu, bye” Anita lalu menutup teleponnya.

Perlahan Fay meletakkan gagang telepon di tempatnya semula. Ia kembali membaca undangan yang masih tergenggam di tangannya. Hatinya galau antara keinginan untuk bertemu teman-temannya dulu dan keengganannya atas perasaan kurang yang ia miliki.
Fay lalu memperhatikan Fadhil anak bungsunya yang asyik bermain dengan mainannya. Kedua kakaknya masih bersekolah pada jam segini. Semalam Fay sudah minta pendapat Faishal, suaminya tentang keraguannya datang ke reuni;
“Kenapa ga mau ketemu teman lama? Kamu malu dengan keadaan kamu sekarang?” Faishal selalu bisa membaca pikiran Fay. Fay Cuma diam.
“Bukan begituu..,” Fay berusaha menyangkal, Fay tidak mau membuat Faishal sakit hati.
“Udah lah Fay.. apa yang takutkan adalah sekedar casing, kulit luar aja. Fay yang aku kenal tidak setakut ini ketemu teman. Tapi semua keputusan ada di kamu, kok. Kalau kamu merasa kurang nyaman, yaaa… ga usah datang..” Faishal berkata
bijak. Fay bersyukur punya suami pengertian seperti Faishal. Terima kasih Tuhan..

Wib memandangi undangan reuni SMA di layar komputernya. Bukan tidak kangen pada teman-temannya dulu, tapi ketakutannya untuk mampu berhadapan dengan seseorang dari masa lalu yang menahannya untuk segera mengkonfirmasi kehadirannya.
Yup, seseorang yang Wib anggap sempurna. Secara fisik dia cantik, mudah bergaul, enak diajak bicara, easy going.. yang pasti semua yang dimiliki perempuan ini, Wib suka. Seperti apa dia sekarang? Sejak dulu Wib hanya berani memendam perasaannya. Perempuan ini selalu baik padanya, membuat Wib tak bisa berpaling pada perempuan manapun. Namun untuk menyatakan perasaannya secara langsung Wib tidak berani.
HP nya berbunyi:
“Wib speaking..”
“Wib.. gue nih.. Anita..” suara renyah di ujung sana.
“Yo, Nit.. apa khabar?”, Wib menjawab telepon Anita sambil mengingat cewek centil berbuntut kuda teman sekelasnya dulu.
“Baek..baek.. e-mail ku udah nyampe Wib?” Anita ingin memastikan undangan yang dikirimkannya sampai ke computer Wib.
“Udah, Nit, ini lagi aku buka,” Wib menjawab.
“Good.. gmana? Dateng kan?” Anita kembali bersuara ceria.
“Gimana ya…,” Wib terdengar ragu.
“Jangan gitu dong Wib..,” Anita tampaknya merasakan gelagat keengganan Wib.
“Gini aja deh.. aku ga janji dateng, tapi aku kirim donasi lewat rekening alumni, ya..,” Wib berharap Anita cukup terhibur dengan donasi yang akan ia kirimkan.
“Thanks, Wib, tapi gue tetep pengen lo dateng, biar rame,” Anita keukeuh.
“Gue usahain y, Nit,” Wib menenangkan Anita yang kebetulan jadi panitia reuni kali ini.
“Ok deh.. thanks y, Wib,” Anita mengakhiri percakapannya.
“Ok sama-sama,” Wib menekan tombol ‘end’.

“Guys.. tinggal 2 minggu lagi!” wajah Bayu sang ketua panitia reuni tampak tegang.
“Easy, pak.. sampai sejauh ini kita masih ‘aman’,” Anita berusaha menenangkan.
“Dana gimana?” Bayu bertanya.
“Kita udah dapat setengahnya dari rencana anggaran semula. Terakhir hari ini gue dapet donasi dari Wib sejuta,” Anita menyampaikan laporannya.
“Aduh..,” Bayu tampak cemas.
“Tapi Bay, dari catetan aku, akan terkumpul dana lebih banyak lagi minggu ini. Beberapa orang confirm akan kasih lebih,” Anita menenangkan.
“Acara gimana?” Bayu memeriksa bagian acara.
“Sampai saat ini belum ada perubahan sesuai format minggu lalu. MC sudah kita tetapkan mewakili tiap jurusan. Undangan untuk guru juga udah disampaikan, mereka udah konfirmasi hadir, 20 orang,” Tatty kini mendapat giliran memberi laporan.
“Bagian cendera mata?” Bayu tak ingin ada yang ketinggalan.
“Siap, sesuai jumlah yang kita perkirakan sudah naik
“Publikasi, dokumentasi?”
“Undangan 80% tersebar, 3 spanduk siap dipasang di tempat strategis minggu depan. Dokumentasi siap dengan Video capture ditambah 2 photographer,” yang ini bagian Arya.
“Yang terakhir, tempat acara sama catering?”
“Siap, sesuai dengan rencana minggu lalu” jawaban singkat Arini rupanya cukup membuat Bayu bernafas lega.
“Oke, segala persiapan keliatannya udah cukup matang. Kita ketemuan lagi minggu depan untuk membicarakan perkembangan terakhir, gimana?” Bayu selalu tegas dalam mempersiapkan segalanya dan kali ini pun ajakan Bayu disambut dengan anggukan kepala seluruh panitia.

“Ayo, Fay, kita udah nyampe,” seruan Anita membuyarkan lamunan Fay. Di hadapannya kini tampak tempat yang akan dipakai untuk acara reuni hari ini.
Fay berusaha memantapkan kakinya yang ingin segera pergi meninggalkan tempat itu, terlihat dari gerakannya yang sedikit canggung.
“Ayo..,” Anita kembali mengajak Fay sedikit tidak sabar.
“Iya Nit, bentar, sepatuku lepas,” Fay beralasan.
Anita lalu dengan cepat menghilang meninggalkan Fay berdiri kikuk. Tapi keadaan itu tak lama berlangsung;
“Fay?!” seseorang dari sebelah Fay tiba-tiba menyapa. Fay menyipitkan matanya memandang seorang wanita matang yang cantik terawat dengan asoseris apik disesuaikan dengan busana yang ia kenakan.
“Diana?!” Fay tak kalah kagetnya dan merasa senang teman sebangkunya dulu dapat hadir di tempat ini.
“Kemana aja selama ini, Fay? Kamu bak ditelan bumi!” Diana tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
Selebihnya percakapan berlanjut seputar kehidupan mereka berdua. Diana sukses dalam karier, namun dalam berkeluarga rupanya dia kurang beruntung. Setelah 10 tahun menikah belum juga dikaruniai anak. Di mata Diana terbersit kerinduan yang mendalam saat Fay memperlihatkan foto ketiga anaknya.
“Kamu sangat beruntung, Fay,” itu ucapan Diana yang sangat berarti diterima oleh Fay.

Acara berlangsung dengan sukses. Semua orang yang hadir saat itu merasakan kebahagiaan bertemu dengan teman lama dan guru-guru yang mengajar mereka dulu. Sebagian sudah pensiun, namun sebagian besar masih mengajar dan berkesempatan hadir. Fay bersyukur mengikuti saran Faishal untuk memberanikan diri datang. Fay senang bertemu kembali dengan teman-temannya. Secara fisik jelas mereka berubah, tak jauh seperti dirinya, dilihat dari kendaraan yang memenuhi tempat parkir, mereka sukses dalam karier dan pekerjaannya. Fay bahagia, ia bahagia untuk kesuksesan teman-temannya. Saat itu ia tidak perduli dengan dandanannya yang seadanya atau baju putih lusuhnya yang ia usahakan tampak baru dengan memberinya pemutih dan pewangi pakaian. Bahkan ledekan teman-temannya yang melihat tubuh gemuk Fay sekarang, dapat ia balas dengan mudah. Fay bisa tertawa lepas, sejenak melupakan semua persoalan yang membelenggunya sehari-hari, Fay bahagia…

Di seberang jalan, di sebuah mobil mewah, Wib memperhatikan jalannya acara. Ia melihat Fay, perempuan pujaannya datang bersama Anita dengan langkah yang sedikit canggung. Tubuhnya mungkin tidak sama seperti dulu, namun pancaran kematangan tampak jelas di raut wajahnya. Wib memperhatikan setiap gerakan yang dibuat Fay, cara berjalannya, cara bicaranya, tertawanya.. membuat Wib rindu dan ingin melompat kehadapannya. Wib membuka pintu mobilnya, namun kembali menutupnya. Rasanya ia tak sanggup untuk berdiri berhadapan langsung dengan Fay. Walau 18 tahun telah lewat, ternyata Wib masih belum sanggup bertatapan langsung dengan Fay, membayangkannya saja membuat Wib gelisah. Wib menyalakan mesin mobilnya, lama ia menimbang sambil tetap memperhatikan Fay, satu-satunya perempuan yang menarik di pesta reuni itu. Lalu perlahan Wib jalankan mobilnya, ia tinggalkan Fay, ia tinggalkan kenangannya. Mantap kakinya menginjak pedal gas, teringat janjinya pada Rasya, anaknya, untuk mengajaknya berenang hari ini.

Thursday, September 17, 2009

Semua Tak Lepas dari Sejarah.

Pengalaman pertama di kota Malang tempat saya kuliah dulu tak pernah saya lupakan. Pada saat makan malam di suatu tempat di alun-alun saya heran, sampe setengah habis makanan di piring saya, tak ada tanda-tanda air teh yang biasanya disajikan gratis di daerah saya, Jawa Barat, terhidang. Setelah diminta, barulah keluar segelas teh yang hangat dan kelihatan sangat nikmat. Namun kaget, itu yang saya rasakan, ketika kemudian rasa tehnya sangat manis buat lidah saya.
Setiba di hotel tempat menginap kami ingin minum segelas teh tawar untuk sarapan. Namun karena pengalaman "minta teh" dapat "teh manis" membuat saya berkesimpulan harus mengatakan "teh pahit" untuk secangkir teh tanpa gula. Ketika pesanan datang... batin saya berkata; "ini kopi apa teh??" karena warnanya yang nyaris hitam bak air kopi. Setelah dcicipi ternyata memang teh... PAHIT...

Ternyata semuanya tak lepas dari masa kolonial dulu.. Cultuurstelsel atau tanam paksa yang merupakan sisi hitam masyarakat Indonesia pada awal abad ke-19 karena menimbulkan banyak penderitaan.

Sesudah perang Napoleon, Belanda jatuh miskin dan berusaha mengisi kembali kas negaranya dalam waktu yang singkat. Hal ini kemudian menyebabkan Belanda mengambil tindakan untuk membuka perkebunan yang menanam komoditi ekspor seperti tembakau, nila, gula, kayu manis, kopi dan teh, serta memberlakukan pajak tanah (landrentstelsel) sebagaimana yang pernah dilakukan Raffles.
Pelanggaran terhadap aturan yang dibuatnya sendiri berakibat sangat baik bagi Belanda namun berakibat sangat buruk bagi rakyat di Hindia Belanda. Kas Belanda terisi dengan sangat cepat untuk membiayai perangnya dengan Belgia, sisa uang yang banyak dipakai Belanda untuk membangun gedung-gedung pemerintahan, jalan kereta api, armada kapal dan untuk memperlengkapi tentara. Lalu apa yang terjadi dengan rakyat? bekerja di perkebunan secara terus menerus tanpa henti menyebabkan tak jarang wanita hamil melahirkan anaknya di tengah kebun, atau wanita tua yang rubuh karena kelelahan, terkuras tenaganya. Para lelaki yang tidak memiliki tanah 'dipaksa' bekerja selama 66 hari 'serah tenaga' tanpa bayaran sebagai ganti pajak. Di daerah Cirebon dan Majalengka (Jawa Barat) banyak orang yang mati kelaparan, karena waktu cocok tanam tersita oleh kerja paksa.

Lalu apa hubungannya Cultuurstelsel dengan kebiasaan konsumsi antara Jawa Barat dan Jawa Tengah+Timur tadi? Kehadiran perkebunan-perkebunan Belanda di pulau Jawa pada awal abad ke-19 sangat berpengaruh terhadap kehidupan penduduknya. Daerah Tatar Sunda khususnya wilayah Priangan merupakan "gudang" tanaman teh. Sedangkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur terdapat banyak pabrik gula sehingga dijuluki "Suikerland" atau "Negeri Gula". Keberlimpahan gula di wilayah Tengah dan Timur akhirnya mengubah pola konsumsi rakyatnya menjadi cenderung 'manis'.

(Dari: Wajah Bandoeng Tempo Doeloe - Haryoto Kunto)

Tuesday, September 15, 2009

Past-Present-Future.

Waktu saya tulis besar-besar di white-board kalimat itu, rata-rata murid saya bilang "Missel ko ngajar bahasa Inggris..?" padahal hari itu saya akan memberi wawasan sosiologi tentang PERUBAHAN di kelas 9B.

Banyak cara dalam memberikan materi di kelas, saya termasuk yang tidak begitu menyukai ceramah materi persis dengan yang ada di buku pegangan siswa. Gantinya adalah dengan 'bercerita' tentang hal-hal terjadi di sekitar kita yang terkait dengan materi yang sedang diajarkan. Dalam hal ini materi bisa jadi sangat luas dan kaya, tapi tetap berpegangan pada rambu-rambu tujuan dari pembelajaran itu sendiri.

Jadi apa hubungannya PAST-PRESENT-FUTURE dengan PERUBAHAN? Bisa dikatakan bahwa apa yang kita dapat hari ini adalah hasil perbuatan hari kemarin dan besok ditentukan dengan apa yang kita lakukan hari ini. Sebetulnya kalimat ini saya ambil dari pepatah Sunda yang mengatakan "Dinu kiwari ngancik bahari seja ayeuna sampeureun jaga" yang artinya kurang lebih sama.

Sebagaimana dunia melakukan evolusi dan revolusi, terjadi juga perubahan baik secara cepat maupun lambat dengan isi dunia. Sebagai mahluk sosial yang memiliki kemampuan untuk memilih, manusia dapat menyikapi perubahan dengan mempertimbangkan akibat dari pilihannya. Contoh yang sedang banyak menjadi bahan pembicaraan saat ini adalah hubungan Indonesia dengan tetangganya, Malaysia. Kejadian yang belakangan dibesarkan oleh media sangat membuat sebagian besar murid saya "berang". Namun ketika saya balik bertanya "Apakah kalian hari ini memakai seragam batik atas dasar suka atau harus?" sebagian besar menjawab.."Harus".
Itulah kita, kadang tidak menyadari bahwa apa yang terjadi saat ini merupakan buah dari apa yang kita lakukan dulu. Globalisasi yang merembes jauh menjadikan kita hampir kehilangan status. Anak sekarang lebih suka mengambil les biola atau piano dibandingkan dengan mempelajari cara bermain kecapi atau angklung, misalnya. Mereka lebih suka mempelajari tari ballet daripada tari daerah yang mereka anggap bikin boring. Sehingga dari hari ke hari semakin lemah pertahanan kita dalam 'mengklaim' budaya sendiri. Seni batik Indonesia, banyak macam dan ragamnya, tapi coba sebutkan 5 saja jenis pola batik Jawa, kayaknya saya sendiri hanya kenal tak lebih dari dua.

Saat kita merasa apa yang menjadi milik kita ditayangkan dan diakui sebagai milik orang lain, barulah kita bangkit dan berkoar soal nasionalisme. Kita perlu juga berterimakasih karena (sebetulnya) kita sudah hampir lupa bahwa itu adalah sebagian yang sangat kecil dari milik kita.
YUK sekarang kita masukkan Keywords nya;
PAST; kita lupa bahwa kita memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, generasi muda lebih asyik dengan dunia global dan mulai meninggalkan yang tradisional.
Bandingkan iklan pariwisata kita di TV yang tak lebih dari sekedar seorang pria dengan rambut pirang yang ingin mencari kesenangan (yang tersedia di negaranya) di Jakarta, bukan menyuguhkan sesuatu yang lain yang bisa dia bawa sebagai kesan akan kekayaan budaya Indonesia.
PRESENT; pihak lain yang memiliki kekuatan menggali, mengembangkan, mengklaim lalu menayangkan sesuatu yang TRULY ASIA. Kita terusik kemudian menyerukan GANYANG!, HANCURKAN!, PERANGI!, padahal kita masih bisa memilih LESTARIKAN budaya kita dan KENALKAN pada dunia apa itu INDONESIA.
FUTURE; mana yang kita pilih... GANYANG!, HANCURKAN!, PERANGI! ?? esok hari bisa-bisa dunia BARAT bertepuk tangan dengan ompongnya MACAN ASIA.
LESTARIKAN dan KENALKAN pada dunia, mulai ajari anak-anak kita dengan nilai-nilai budaya yang kini sudah mulai dilupakan, beri pemahaman bahwa sesuatu yang tradisional belum tentu menjadi penghambat kemajuan, bahkan bisa menjadi pemersatu untuk menggalang kekuatan yang tak terkalahkan.

Namun yang paling mengesankan saya hari itu adalah pertanyaan KARTIKA...

"BU, dengan semakin berkembangnya materi pembelajaran di sekolah, apakah merupakan kemajuan di bidang pendidikan? Kalo kita bandingkan dengan sekolah di luar negeri, materi kita sangat banyak dan berat. Jadi apakah perubahan itu bersifat progresif (kemajuan) atau regresif (kemunduran)??"

Seperti biasa kita diskusi untuk menjawab pertanyaanya, termasuk dengan menanyakan materi lomba olimpiade matematika yang diikuti NUR ADHIATI di Singapura dan memperoleh medali. Kesimpulan yang dihasilkan dari hasil diskusi luar biasa...
"Anak-anak Indonesia sangat cerdas dan pandai (terbukti dengan kemenangan olimpiade matematika dan science Internasional) diberi materi sebanyak dan sesulit apapaun mereka pasti mampu, hanya saja kurang dalam aplikasinya. Akibatnya mereka tidak fokus dan tidak menjadi ahli dalam hal tertentu. materi yang BANYAK mereka peroleh akan begitu saja dilupakan dan kurang bermanfaat dalam dunia kerja di masa yang akan datang... "

Kesimpulan pembelajaran hari itu memunculkan pertanyaan baru di benak saya; Jadi, apa yang harus kita lakukan HARI INI untuk perbaikan dunia pendidikan DI MASA YANG AKAN DATANG?

Thursday, August 27, 2009

What Do You Think About English...?

(I write this with my lack of writing in English.. so i would like to say that i use MY English.. ^_^)

Today i was talked with Sue and Richard. Although we talked in a different time, the topic was the same. It's about culture and how we looked each other.
I was open the topic with asking Sue which phrase is correct; curious on, curious with, or curious about someone. She said better if i said; i'm interested in your life. Sue warned me to be careful using impression in English.
Then we talked about relationship between man and woman. First, Sue talked about the mutual respect between man and woman in her country, UK. She said the woman is the one who make decision when to open relationship with a man. She will say 'yes' if she think that the man is serious to make a relationship with her. Usually they will go out for two or three years before they've got married. unlike in here, the word 'love' seems too easy came out from man's mouth.

Then Richard in Teacher's class open the conversation with: "What do you think about English, or British.. "(the person from UK). Almost all teacher agree that English is equal with "polite". But i have different opinions. I thought English(man) is arrogant, maybe its because i'm a history teacher who always teach my student that noble people or aristocrats is a dictator in the era of Dark Age (before industrial revolution). And England as a Kingdom rules by these noble people. Besides that, i also think that English has a unique and little bit funny culture as Enid Blyton always write in her books, "time for tea" at five o'clock.

But surprisingly, Rich told us that today's noble people is humble because they make contact with people from all classes or gentry. There are 3 gentries in England, Working Class set by number of people who work in the factory or entrepreneur, Second is Middle Class set by number of people who has a bachelor degree at least or we can called them executive like teacher and doctor, and Upper Class which set by noble people.
England originally inhabited by The Celts. Invasion of Rome in 54 BC then chased them away to the side of England which is now become Scotland (North), Wales (West) and Ireland (North-West).

Actually, said Richard, English is flatter, with no excessive expression. For that I agree. Most people might be remember Mr. Bean who represent that flatter. Unlike here, people seems to like each other by saying hello with kissing both cheeks, but we don't really know what's inside them. Are they really like us or not.

Arrogant is only my wrong impression for English. Now I think English is honest. Even though they are flatter, it's only their habit not to show what's inside their heart. They are also humble if i presume. One thing that i like the most.. They are enjoyable to talk with.

Nu Gelo...

Tengah poe ereng-erengan, sim kuring jeung babaturan balik gawe ngajar di sakola negeri anu kaitung alus jeung palalinter muridna. Salian ti eta, abong sakola alus, tempatna ge di tengah kota, ngarendeng jeung gareja katederal anu tohaga jieunan walanda.

Biasana sim kuring jeung babaturan ari balik sakola resep leumpang mapay trotoar gigireun gareja, pedah hieum ku tatangkalan jadi iuh jeung seger hawana.
Ngan geus 3 bulan ieu babaturan teh unggal ngaliwat kadinya sok rada meped leumpang patutur-tutur tukangeun sim kuring. Kusabab geus 3 bulan aya jalma gelo nu ngadon diuk, sare, dahar didinya. Eta nu gelo sok noroweco sorangan. Mun teu kitu sok hayoh ngasong-ngasongkeun leungeun menta duit kanu sakur nu ngaliwat.
Gigireun trotoar aya susukan garing. Ti saprak aya nu gelo didinya, eta susukan jadi bau teu ngeunah, sigana mah dijieun kakus ku nu gelo teh.

Lainna indit ayeuna teh kalahka nambahan deui nu gelo hiji. Ku sim kuring jeung babaturan sok disebut adina nu gelo nu kahiji. Pedah sarua lodro jeung bau. Buuk gimbal, beungeut jeung awakna hideung pinuh ku daki.. Najan teu menta duit, nu gelo ieu mah make calana morosot. Sakapeung mah kaciri keur gagaro bari nololkeun 'etana'. Atuh babaturan kuring beuki sieuneun.

Tadi beurang aya hiji deui nu kasebut 'gepeng' keur sare di trotoar teu jauh ti nu garelo. Dina hate sim kuring ngahelas.. ku lemah iman jelema nepikeun ka bisa gelo. Mun lain sabab panyakit, eta jelema teu kuat nyanghareupan cocoba ti Gusti Alloh. Anu nyeiun heran, salila-lila eta nu gelo didinya, can aya anu bisa atawa wani 'ngamankeun'. Padahal nu geus disebutkeun tadi, eta tempat ayana di tengah kota, deukeut jeung balekota, pusatna pamarentahan. Pernah sim kuring nanyakeun ka babaturan anu digawe di pusat pamarentahan kota, kunaon can aya anu ngamankeun eta jelema garelo teh. Jawabna cenah, sok aya nu ngaku dulur jeung nu gelo teh mun petugas rek 'ngamankeun'. Jadi sakumaha ngagangguna ge petugas teu bisa nanaon jang ngamankeunana. Mun kieu carana mah berarti unggal poe kudu leumpang untuy-untuyan bari dipeped ku babaturan... buseeettt teuing...

Sunday, August 16, 2009

Rasa Kangen itu...

Memasuki bulan Agustus artinya masa-masa kangen. Kangen ketika pada suatu saat saya pernah ikut mengibarkan Merah Putih. Setiap kali lewat lapangan Sempur (tempat tahun 89 saya mengibarkan bendera disana), saat itu juga rasa kangen saya makin menjadi-jadi.

Tak pernah saya lupa masa-masa pembinaan yang bikin hitam (baca:belang) kulit saya, rok seragam yang terpaksa dinaikkan 5 cm karena jalan ditempat harus rata-rata air(saya sampe jait rok baru buat sekolah, bisa kena hukum klo pake rok 5cm diatas lutut!) rambut panjang yang rela saya pangkas demi kekompakan dan keseragaman, lari paling belakang pas latihan fisik (klo disuruh lari jauh... nyerah dehh..), hukuman scout-jump (waktu itu masih dibolehkan gerakan ini, sekarang kayaknya ga lagi). Yang paling parah waktu menjelang hari-hari pengibaran bendera...
Hari itu, sekitar seminggu sebelum hari-H, saya kena scout-jump total 12 seri (artinya 120 kali aja..), jalan jongkok di tanjakan sempur ke arah jalan salak yang nanjak banget(kerjaannya kang Agus nih--ga sampe setengah jalan saya dan temen-temen nyerah..), artinya banyak banget kesalahan kami (dan saya) pada hari itu (heran, seharian itu saya ama temen2 gampang banget ketawa pas latihan). Belum lagi 500 meter jalan jongkok sehabis latihan,langsung disuruh nyanyi (saya inget betul lagunya Kuingin-Ruth Sahanaya) nyanyi sambil ngos-ngosan.. aneh ga sih? abis gitu cuman saya yang musti ambil seragam ke tempat senior. Cape, kesel, sedih, bete, campur jadi satu.

Tapi saya jalanin aja. Dateng ke tempat senior (maaf ka Wingky aku bangunkan dikau dari mimpi indahmu sore itu)tepat sesuai jam yang disebutkan.. ternyata saya diberi wejangan.. "kamu jangan sombong kalo jadi paskibra, kamu ga lebih baik dari yang lain, kamu tanpa anggota team yang lain bukan apa-apa..." kira-kira itu yang saya ingat. Ternyata pelatih yang satu ini yang sangat gahar di lapangan, bisa jadi beruang madu di rumahnya.. (heheheh).

Semua yang beliau sampaikan sampai saat ini meresap banget. Intinya kita tidak boleh jadi sombong dengan kelebihan kita dan tidak jadi minder dengan kekurangan kita. Terus perbaiki diri, terus..terus..

Friday, August 14, 2009

FIELD TRIP


Kenapa field trip buat saya jadi sangat penting; pertama, saya lebih cocok dengan gaya pembelajaran yang melihat langsung keadaan yang sebenarnya. Kedua, saya suka jalan-jalan (:D).
Mata pelajaran IPS buat sebagian murid adalah pelajaran yang bikin boring, apalagi IPS bukan primadona mata pelajaran yang di UN kan. Makanya, belajar IPS akan lebih powerful bila:


1. Terasa bermakna; yaitu bila siswa mampu menghubungkan keterampilan, dan sikap yang dipelajari di sekolah dan di luar sekolah.

2. Pendekatan Integratif; yaitu terintegrasinya pengetahuan, keterampilan, sikap, kepercayaan dan keperbuatan nyata.

3. Berbasis nilai; khususnya menyangkut isu kontroversial yang memberikan ruang berefleksi dan bereaksi sebagai anggota masyarakat, bersikap kritis terhadap isu dan kebijakan sosial, serta menghargai perbedaan pandangan.

4. Bersifat menantang; siswa ditantang untuk mencapai tujuan pembelajaran baik secara individual maupun sebagai anggota kelompok, guru sebagai model untuk mencapai kualitas sesuai standar yang diinginkan, guru lebih menghargai pendapat siswa dengan alasan yang baik daripada pendapat asal-asalan.

5. Bersifat aktif; memberi kesempatan berfikir dan terlibat dalam pengambilan keputusan selama pembelajaran, pengajaran harus berbasis aktivitas yang dapat ditemui di lingkungan sosial.



Naahhh... salah satu usaha buat mewujudkan the Power of Social Studies adalah dengan Field Trip.
Hal-hal yang perlu disiapkan buat mengadakan suatu program field trip yang pertama, beri pemahaman kepada pemandu tempat yang akan kita kunjungi tentang materi yang ingin digali lebih dalam. Selain itu, siswa kita juga perlu dibekali dengan tujuan kita mendatangi tempat-tempat tadi. Dengan pemahaman baik pemandu dan siswa akan meminimalisir rasa boring.

Tapi buat saya sebagai guru manfaatnya adalah hubungan baik dengan instansi-instansi di luar sekolah dan yang lebih penting saya bisa BELAJAR banyaaaaaakkkk... (cihuyy).
Dengan bertanya ke para ahli nilainya sama dengan ikut seminar bahkan serasa kuliah lagi.. (bedanya kita ga dapet sertifikat ama ijazah aja).
Dengan pihak sekolah.. belajar bikin program kegiatan.

Belajar tentang struktur tanah di Museum Tanah. Makromonolit yang ditunjukkan disana sangat jelas memperlihatkan lapisan-lapisan tanah. Kita bisa tahu kenapa tanah berbeda di berbagai daerah, atau kenapa tanah lapisan atas berwarna lebih gelap dari lapisan dibawahnya, atau kenapa ada warna lapisan tanah yang gelap-terang-gelap lagi.. "Itu karena pencucian.." penjelasan Pak Heri Sastra. "Di Bogor banyak terjadi pencucian karena curah hujan tinggi," nambah ilmu kan?

Waktu percobaan dengan mengendapkan tanah sbenernya murid2ku belajar matematika juga.. belajar memperkirakan presentasi bagian-bagian tanah (silt-sand-gravel-clay). Plus belajar mempertajam sense dengan merasakan dengan ibu jari dan telunjuk tekstur sampel tanahnya. Klo pasir, tentu kasar, klo lempung ato tanah liat? lengket dong. Debu (ampir sama dengan clay warnanya) tapi klo udah diberi air haluuuusssss...

Di Museum Etnobotany.. kagum deh.. banyak benda buat dipakai sehari-hari oleh suku-suku di Indonesia yang jumlahnya ratusan yang asalnya dari tumbuhan.. dari kulit kayu, dari daunnya (tentu) ini bahkan sudah kita pakai sebelum kita kenal tulisan (prasejarah) makanya disebut artefak.
Murid-murid yang kadang cuma tau nama benda (seperti ani-ani buat potong padi, atau alat bajak sawah, alat pintal...) bisa melihat aslinya.

Mudah-mudahan field trip ini bikin seneng murid-muridku n nambah ilmu (of course). Nanti kita pergi kemana lagi yaaa....?

Thursday, July 16, 2009

Riwayatmu..."DULU"...

Kemarin ada teman berkata...
"Saya paling tidak suka kalimat yang diawali kata 'dulu'...."
"Maksudnya...?"
"Ketika kita usul inovasi dan kreasi baru, mereka lalu bilang... 'DULU' kita pernah melakukan itu, atau 'DULU' saya pernah punya usul begitu... tapi....bla..bla..bla..."
Kelihatan benar teman saya yang satu ini lagi kesal.
Lalu dia melanjutkan;
"Jadi kapan majunya kalo kita hanya berpikir 'dulu'... mandeg!"

Sebetulnya apa yang salah dengan kata 'dulu'? Ngga ada! apalagi klo melihat bahwa dalam pelajaran sejarah kata 'dulu' hukumnya fardhu 'ain... heheheh
Tapi bukan berarti kita harus terpaku pada masa lalu kan?? inovasi ke arah yang lebih baik juga perlu lhoo..

Inovasi berasal dari kata innovation yang berarti "new idea" atau the act or process of inventing or introducing something new.
Jadi, sebetulnya, memperkenalkan sesuatu yang sifatnya BARU seringkali dicurigai sebagai yang dapat merusak tatanan dan kemapanan yang sudah ada. Makanya seorang inovator harus mempunyai semangat tinggi dalam memperkenalkan ide-idenya, karena PENOLAKAN hampir selalu ada. Jika kemudian sesuatu yang baru tadi ternyata SUDAH PERNAH ADA, artinya ada sesuatu yang SALAH yang belum diperbaiki.

Secara teori dalam sebuah proses manajemen diawali dengan PERENCANAAN, kemudian tahap PELAKSANAAN, dan terakhir tahap EVALUASI yang mengukur hasil kinerja organisasi. Hasil evaluasi akan dijadikan acuan untuk pelaksanaan perbaikan program selanjutnya.

Kembali pada kekesalan teman saya tadi, apabila ternyata ada kalimat: "DULU pernah (dijalankan atau sekedar diusulkan), tapi ngga bisa berjalan programnya..." Indikasinya menjadi "sesuatu yang dianggap mentok dan dibiarkan mentok, kemudian dianggap gagal.. padahal niat programnya baik".

Coba kalau kita kembalikan ke proses manajemen tentang pelaksanaan suatu program. Awali dengan rencana yang merupakan tuangan dari apa yang tadinya hanya berupa WACANA. Rencana artinya pertimbangan antara yang baik dan penyelesaian perkiraan masalah yang akan timbul dari program tersebut. Perencanaan yang kita buat semakin detail dan semakin memandang ke depan, semakin baik.
Setelah selesai membuat rencana, laksanakan program STEP BY STEP. Jadikan tiap masalah sebagai kekayaan dalam perbaikan program yang diungkapkan dalam proses evaluasi. Evaluasi terhadap program tidak hanya dilaksanakan di akhir program (berupa sebentuk pelaporan) melainkan dilaksanakan mengiringi program berjalan.

Jika kemudian ada program yang (ternyata) baru berjalan (atau belum dijalankan) sudah mengalami kegagalan, ini artinya proses manajemennya tidak berjalan dengan benar. Seharusnya bisa diambil langkah perbaikan mulai dari tahap perencanaan sampai tahap evaluasinya. Syaratnya adalah; KOMITMEN terhadap program dan KONSISTEN dalam melaksanakan program tadi. jadi ngga bakal tuh ada kata MENTOK.

Ini yang lebih modern. The Balance Scorecard dari KAPLAN dan NORTON. Pada intinya teori ini berusaha menyeimbangkan 2 perspektif yaitu perspektif finansial dan perspektif non-finansial. Perspektif non-finansial yaitu;
  1. Perspektif pelanggan, yaitu untuk menjawab pertanyaan bagaimana customer memandang perusahaan.
  2. Perspektif internal, untuk menjawab pertanyaan pada bidang apa perusahaan memiliki keahlian.
  3. Perspektif inovasi dan pembelajaran, untuk menjawab pertanyaan apakah perusahaan mampu berkelanjutan dan menciptakan value.
  4. Perspektif keuangan, untuk menjawab pertanyaan bagaimana perusahaan memandang pemegang saham.
Ini sih proses manajemen tingkat tinggi.. di link aja ke tetangga klo mo lebih jelas; http://setyowibowo.wordpress.com/2006/07/06/balanced-scorecard-dari-performance-measurement-hingga-strategy-focused-organization/

Dalam teori yang baru ini intinya adalah usaha perusahaan dalam memuaskan pelanggannya, baik pelanggan internal berupa anggota organisasi dan pelanggan eksternal yaitu masyarakat. Kalau dalam masyarakat sekolah, GURU, TAS, MURID dan Orangtuanya adalah bagian dari pelanggan internal (ini kata instruktur ISO-International Standard Organization- yang setiap Sabtu datang dan memberi materi tentang ISO), pelanggan eksternalnya adalah stake holder yaitu masyarakat.
Bedanya teori ini dengan teori yang lama adalah cara pandang organisasi terhadap anggota organisasi. Dulu (dulu lagi nih..) penilaian tentang program hanya datang dari pihak manajerial, penyelesaiannya pun cukup oleh para manajer. Saat ini kepuasan pelanggan merupakan modal yang sangat penting bagi organisasi.
Jadi, bila ada kegagalan program artinya adalah kegagalan organisasi dalam memuaskan pelanggannya.

Seru juga kalau kita sudah tiba di bagian puas dan tidak puas karena indikator kepuasan tiap orang yang berbeda. Akhirnya untuk berinovasi, organisasi (sangat) perlu berkomitmen dan konsisten terhadap perbaikan setiap program untuk kepuasan pelanggan yang berujung kepada organisasi yang SEHAT.
Lalu bagaimana kabarnya dengan kata "DULU"? Orang yang terpaku pada masa lalu adalah orang-orang yang terlalu nyaman dengan sejarah dan kemapanan masa lalu serta menghindari resiko dan sudah dipastikan sangat memusuhi inovasi yang datang dari mereka yang lebih muda.



Wednesday, July 1, 2009

Belajar Menerima

Saat ini walaupun murid-murid sedang menikmati liburan, guru-guru sudah mulai mempersiapkan perangkat pembelajaran untuk tahun pelajaran baru.
Saat sibuk, masih sempat bercakap-cakap dengan rekan.

"Saya sedang belajar tidak memiliki sikap suudzhon... ingin selalu husnuzhon..."
"Susah pa.. manusia itu fitrahnya memiliki sifat untuk menimbang mana yang baik dan buruk. Makanya fikiran buruk pasti akan mengikuti.."
"Emang ya... susah..."
"Kalau saya mencoba dengan langkah yang paling mudah... (tapi implementasinya sangat sulit...) bisa menerima apapun yang menimpa kita.. terutama yang paling buruk (menurut ukuran kita... karena saya selalu ingat kata-kata Prof.-teman saya- bahwa ukuran baik-buruk bukan milik manusia, melainkan milik Alloh)"
"Selalu ada hikmah yang bisa kita ambil dari apa yang terjadi pada diri kita.. SABAR ya, Bu..."

Menjadi Seorang GURU


Waktu saya membongkar foto-foto lama milik Ibu, ada beberapa foto yang memperlihatkan kegiatan pada saat beliau baru masuk IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan; sekarang menjadi UPI-Universitas Pendidikan Indonesia) di Bandung.

Sambil memandangi Foto, Ibu tersenyum, lalu tertawa pada saat membaca nama yang diberikan para senior kepada beliau dan teman-temannya.
Padahal keadaan pada saat itu tidak memungkinkan untuk bisa tersenyum apalagi tertawa.

Perploncoan.. yang belakangan banyak diberitakan memakan korban sakit bahkan meninggal dunia karena kelelahan fisik dan mental.

"Waktu itu 'mah' ngga ada hukuman fisik yang berlebihan, ga ada tonjok-tojokan...", Ibu memperlihatkan fotonya sambil bercerita.
"Waktu itu pernah kesiangan.. kan dari rumah naek sepedah tuh (7 kilo lho... bike to school ternyata lebih efektif jaman dulu ya...). 500 meter lagi tiba ke aula tempat kumpul para mahasiswa baru, lonceng tanda masuk berbunyi... Mamah ama teman-teman yang telat otomatis (harus) berjalan mundur, ngga boleh tungak-tengok.. jadi tabrak sana sini...." Lalu Ibu tertawa..

Pembinaan mental para calon guru dilatih pada saat MAPRAM (perkembangannya menjadi perploncoan, opspek, orientasi siswa). Dari satu contoh kasus terlambat, kita dilatih untuk selalu tepat waktu dalam memulai kegiatan.

"Memanggil para senior harus menggunakan 'Akang' dan 'Teteh' supaya kita menghormati yang lebih tua".
Namun bukan berarti lahir lebih dulu menjadikan kita 'lebih' segala-galanya dari mereka yang lahir setelah kita.
Menghormati senior adalah karena pengalaman yang telah mereka lalui, namun bukan berarti sebagai senior menghalangi kesempatan buat para junior yang ingin (dan mamapu) untuk maju. Sebetulnya adalah, kemajuan senior dihasilkan bila mereka mau sedikit terbuka dengan pembaruan yang dibawa oleh para junior. Sementara keberhasilan junior adalah juga berkat dukungan para senior.


Kegiatan MAPRAM disertai dengan kegiatan MENWA (Resimen Mahasiswa) selama setahun penuh (hari-hari tertentu). Dalam MENWA para calon guru ditempa fisik dan mental. Latihan semi-militer (bahkan sama dengan latihan militer) membuat para calon guru ditempa dalam hal kedisplinan, menjadi calon guru yang tidak 'cengeng', berjuang dalam memajukan siswanya serta bermental baja dengan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan.

"Jaman Mamah mah dari mulai SMA yang mau jadi guru udah dijuruskan ke Sekolah Guru (kalau jaman saya masih ada SPG yang bisa langsung disalurkan menjadi guru SD), lalu kalau mau jadi guru SMP masuk PGSLP setelah lulus Sekolah Guru tadi. Kalau diteruskan masuk IKIP lebih baik lagi".

Jadi, niat seseorang untuk menjadi seorang guru sudah ditentukan pada saat mereka lulus sekolah menengah pertama. Kadang-kadang kita bilang bahwa sesuatu itu bisa kita lihat hasilnya tergantung niat kita. Niat baik, hasilnya akan baik, sebaliknya niat buruk, hasilnya akan dipastikan kurang baik pula.
Makanya, ngga heran deh kalau niat dan cita-cita menjadi seorang guru merupakan hal yang kurang populer di masa sekarang. Mungkin saja penyebabnya adalah hilangnya sekolah-sekolah keguruan, apalagi nasib guru sekarang selalu 'tidak jelas'.

Pendidan "moral" menjadi seorang guru sangat ditekankan. GURU adalah teladan bagi murid-muridnya. Sisi negatifnya barangkali guru selalu merasa yang paling benar dan "anti" terhadap pendapat dan masukan yang berbeda dari muridnya.

Menjadi Guru yang terpenting adalah bagaimana kita mengelola ilmu yang kita peroleh, kita kemas dalam kemasan yang menarik sehingga siswa lebih mudah menyerap dan menerapkannya di kehidupan sehari-hari.

Guru juga perlu menyadari bahwa mereka adalah teladan dan panutan bagi murid-muridnya sehingga selalu ingat jika akan melakukan sesuatu.

Guru juga sebaiknya bersikap terbuka terhadap perubahan, menerima setiap kritik dan saran yang baik dari pihak manapun, termasuk yang menjadi murid kita.

Tinggal sekarang berdoa.. semoga kita sebagai seorang guru sanggup menerima dan mengemban tanggung jawab yang besar dalam MENDIDIK generasi bangsa.
SEMANGAT!!


Saturday, June 27, 2009

Comfort Zone


Timbul keinginan untuk mengupas masalah ini pertama ketika Lucas menugaskan dan memberi rambu-rambu membuat Curriculum Vitae yang baik, kemudian saya membaca Jack Canfield tentang kunci sukses.. tapi yang lebih menguatkan hati ketika kebiasaan 'bertahan' di daerah kenyamanan ini menjauhkan dari sikap kreatif, inovatif dan tif-tif yang lain. Gairah yang seharusnya muncul seiring dengan ritme kerja kita akhirnya malah tidak muncul samasekali.


(Dari Wikipedia)
One's comfort zone refers to the set of environments and behaviours with which one is comfortable, without creating a sense of risk.

Berarti setelah seseorang merasa nyaman dengan keadaan saat ini (padahal nyaman itu belum berarti usaha yang maksimal) akhirnya mereka akan diam di posisi tersebut untuk menghindari resiko apabila ia melakukan hal yang diluar kebiasaan.


A person's personality can be described by his or her comfort zones. Highly successful persons may routinely step outside their comfort zones, to accomplish what they wish.

Nah.. kepribadian seseorang ternyata bisa dilihat dari bagaimana mereka menciptakan daerah kenyamannya. Orang yang sangat sukses bisa dipastikan keluar dari zona kenyamannya.


A comfort zone is a type of mental conditioning that causes a person to create and operate mental boundaries that are not real. Such boundaries create an unfounded sense of security. Like inertia, a person who has established a comfort zone in a particular axis of his or her life, will tend to stay within that zone without stepping outside of it.

Dari Jack Canfield;

Jangan Bodoh Seperti Gajah

Seekor anak gajah dilatih sejak lahir untuk hidup di tempat yang sangat kecil. Pelatihnya akan mengikat kakinya dengan tali ke sebuah tiang kayu yang ditancapkan ke dalam tanah. Panjang tali itu membatasi ruang gerak anak gajah-zona kenyamannya. Meski pada awalnya anak gajah itu akan berusaha memutuskan tali, tali itu terlalu kuat. Jadi, anak gajah itu belajar bahwa ia tak bisa memutuskan tali itu. Anak gajah itu belajar bahwa ia harus tinggal dalam area yang ditentukan oleh panjang tali.

Ketika tumbuh menjadi raksasa berbobot 5 ton, yang bisa dengan mudah memutuskan tali yang sama, gajah itu bahkan tak berusaha melakukannya, karena sejak bayi ia sudah belajar bahwa ia tidak bisa memutuskan tali itu. Dengan cara itu, bahkan gajah terbesar pun bisa ditahan oleh tali kecil yang sangat rentan.


Pada saat membaca cerita tersebut sudah dapat dipastikan bahwa kita akan menganggap gajah itu bodoh, tanpa kita sadari kita pun seringkali melakukan pembatasan pada diri kita sehingga tidak akan pernah mencoba untuk mencapai sasaran yang lebih tinggi.


To step outside a person's comfort zone, they must experiment with new and different behaviours, and then experience the new and different responses that then occur within his environment.

Jadi, untuk dapat keluar dari zona kenyamanan kita harus berani berbuat diluar kebiasaannya. Berani karena perilaku baru kita belum tentu mendapat respons yang berbeda-beda. Ketakutan atas respons negatif yang mungkin muncul menyebabkan orang lebih suka berperilaku secara 'aman'.


Klo baca paparan di atas (puyeng juga..) menggambarkan pengertian tentang 'daerah/keadaan aman'. Dalam manajemen keadaan seperti ini dikatakan sangat tidak mendukung seseorang untuk menjadi kreatif dan inovatif.

Sikap kreatif dan inovatif bagi pelajar misalnya, pada saat test, jawaban essai, jawaban 'aman' adalah jawaban yang sesuai dengan materi yang ada di buku, sementara berlaku kreatif apabila kemudian ditambahkan dengan aplikasi di dunia nyata tentang jawaban tersebut.
Bagi mereka yang sudah bekerja, keluar dari rutinitas kerja sehari-hari, mengeluarkan ide-ide baru serta melaksanakan ide tersebut.

Tantangannya adalah belum tentu nilai yang kita peroleh dengan memberi jawaban 'lebih' menghasilkan nilai yang lebih besar dibanding dengan mereka yang memberi jawaban 'aman'.
Ide-ide dan inovasi yang kita laksanakan tidak disukai (atau belum) disukai atasan. bahkan dalam beberapa kesempatan, ide dan inovasi kita dianggap menyalahi aturan yang berlaku bahkan lebih jauh dianggap sebagai sikap membangkang. Hal ini jelas terjadi kepada para ilmuwan jaman 'baheula' (dahulu) yang membayar ide dan inovasinya dengan nyawa.


Intinya adalah... memunculkan dan melaksanakan kreasi dan inovasi tidak mudah, perlu orang-orang dengan keberanian dan motivasi yang tinggi. Selain itu mereka harus juga memiliki kebesaran jiwa untuk tidak lalu diterima hasil kreasi dan inovasinya. Paling tidak apa telah kita lakukan pada akhirnya akan memperkaya kita dengan pengalaman dan keterampilan mengolah pikir menjadi sesuatu yang 'lebih'.

Friday, June 19, 2009

Silent moment.

Menikmati saat diam... ketika yang lain sibuk berseliweran kesana-kemari... terang saja lalu saya dikatakan.. PENAKUT... lalu yang lain mengatakan.. TIDAK TEGAS.. ada yang menganggap.. MALAS (mungkin yang ini ngga terlalu salah..^_^)..
Tapi ada juga yang sangat mengerti dengan 'my silent moment' ini. "Kalau kita mau teriak-teriak.. emangnya kita ini siapaa?" lantas, "Memangnya kamu sudah yakin kalau kamu 100% benar??"..
Entahlah apapun itu.. yang pasti saat ini saya bak SPONGEBOB.. menyerap semua tanpa memberi judge buruk atau baik.. toh jika kembali ke kalimat "tak ada yang sempurna" semua berujung pada seberapa jauh dan dari sudut mana kita memandang sebuah ketidaksempurnaan...

Ketika Manohara berhasil pulang.. BERSYUKUR.. cerminan buat kita bahwa harta dan kedudukan bukan segalanya.
Ketika Bu Prita yang telah jatuh tertimpa tangga pula.. PRIHATIN .. tapi juga bertanya.. kenapa untuk tulisan yang mencerca bangsa kita tak pernah ada tindakan seperti ini?? saking hapeningnya kasus bu prita, sampai2 masuk (atau dimanfaatkan?) dalam sesi debat Capres kemarin..
Ketika mengamati sistem Penerimaan Siswa Baru tahun ini.. BINGUNG.. saking bingungnya sampai tidak tahu apa yang harus dibingungkan...
Banyak siswa tidak lulus yang dihadapi dengan tangis, pingsan hingga bunuh diri.. SEDIH.. terjadi revisi daftar siswa yang lulus di Jawa Tengah.. akhirnya media bertanya.. "Apabila daftar siswa lulus saja bisa salah, bagaimana dengan wajah pendidikan di Indonesia sebenarnya?"
Untuk hal ini pendapat saya mungkin kita harus memperbaiki rentang antara Diknas hingga praktisi (baca:Guru), sehingga setiap kebijakan yang baik akan dilaksanakan dengan baik juga. Apabila di tengan perjalannya dicabik tikus pengerat, yang sampai ke telinga murid-murid kita adalah gambaran kekecewaan dan kegagalan semata.

Dengan DIAM barangkali kita bisa lebih kaya, menyerap tanpa harus fokus berteriak untuk satu masalah..... lebih bijak, dan lebih SABAR.. sehinga InsyaAlloh menjadi 'manusia yang baik hati dan tidak sombong' yang sebenar-benarnya...

Sunday, April 26, 2009

I've met wonderwomen..

Hari udah sore, menjelang pukul 5. Dua bis Trans Pakuan yang akan berangkat penuh, seat terisi semua, mungkin karena weekend, banyak mahasiswa IPB yang mau pulkam. Saya akhirnya memutuskan untuk menunggu bis berikutnya supaya Ilham dan kakaknya bisa lebih nyaman. Lama menunggu, bis yang pertama sudah pergi, tinggal bis yang kedua. Ilham mulai minta naik ke bis, ia terus merengek, kepaksa deh saya bawa jalan bolak-balik di pool, persis kangguru, tapi masih rewel juga.

Akhirnya pada saat menjelang pergi, ada 2 mahasiswa cantik dalam bis manggil saya,
"Bu, ada 2 tempat duduk.." (rupanya mereka rela berdiri)
"Aduuuh.. makasih", saya cepat-cepat masuk ke bis yang langsung meluncur pergi..

Saya lalu memperhatikan wonderwomen yang sudah merelakan tempat duduknya. Cantik-cantik, berkerudung pula. Doa pengharapan pun meluncur dalam hati, 'semoga adik-adik yang manis itu diberi kemudahan dalam hidupnya seperti mereka memberi kemudahan buat saya dan anak-anak'.... amieeennn

Tuesday, April 21, 2009

Menyenangkan hati orang lain.

Ayah Ilham malam kemarin pulang dengan mainan tools dari plastik. Sadar akan bahaya kalo Ilham selalu tertarik buat bongkar toolbox yang isinya bukan buat anak toddler. Sayangnya Ilham udah bobo dan ga bisa liat mainannya yang baru, biarpun akhirnya memang terbangun, tapi dia terlalu ngantuk buat main lagi.

Pagi harinya begitu Ilham buka mata, langsung deh Ayah Ilham kasih tahu mainan yang baru dibelikannya plus tips cara memperbaiki roda mobil mainannya menggunakan kunci inggris. Ilham mengambil tang warna merahnya lalu bilang "Ayah..." sambil menunjukkannya pada saya, maksudnya tang itu mainan Ayahnya.. terus dia mengambil kunci inggris dan mulai memperbaiki roda mobil mainannya, persis yang dilakukan ayahnya.

Apa yang dilakukan Ilham, menyenangkan hati Ayahnya. Ayahnya pasti berfikir, 'mainan yang saya belikan disukai banget sama Ilham'. Dan dia pasti berfikir untuk membelikan mainan lain kalo ada rezeki karena dia bilang; "Palu nya belum ada."

Berbuat menyenangkan hati orang lain ternyata udah bisa dilakukan sama anak sekecil Ilham. Mungkin setiap orang waktu kecil seperti Ilham, punya kemampuan untuk berusaha menyenangkan hati orang lain. Namun setelah besar seringkali kemampuan ini menghilang seiring dengan keinginan buat eksis dan DIDENGAR bukan MENDENGAR.

Ketika Ayah Ilham pergi ke kantor, mainan baru Ilham tergeletak begitu saja. Ilham malah mencari mainan lain yang lebih ia sukai. Tapi Ayahnya tetap berfikiran tools yang baru ia belikan adalah mainan favorit Ilham dan pergi dengan hati yang senang.

Menyenangkan hati orang lain bukan berarti kita berbohong pada diri sendiri. Atau kalo istilah dalam manajemen ABS (Asal Bapak Senang). Setiap pendapat orang punya hak untuk kita pertimbangkan. Kadang kalo merasa pendapat orang lain tidak sesuai dengan pendapat kita langsung kita TOLAK. Atau kalo orang lain punya saran dan kritik yang baik sering kita anggap sebagai usaha untuk MENJATUHKAN. Beri waktu dan kesempatan sebuah pendapat, saran dan kritik untuk kita pelajari dan ambil sarinya demi perbaikan diri. Kalaupun ingin memberikan argumen lain, berikan dengan cara yang BAIK.

Seperti Ilham, dia akan belajar untuk menyenangi mainan barunya. Satu yang pasti, hati Ayah Ilham yang senang akan membuat Ilham kelak punya mainan baru lagi.

Friday, April 17, 2009

Nak.. Kalo sudah besar...

Hari menjelang Ashar.. saya masih dalam perjalanan menuju rumah, sambil memeluk Ilham. Anakku mengoceh ga jelas sambil tengok kanan kiri seolah menikmati kemacetan, untung dia bukan anak yang rewel karena sejak umurnya 40 hari, dia udah saya bawa kemana-mana dengan kendaraan umum.

Ocehan Ilham tiba-tiba berhenti. 2 orang pemuda duduk di pintu angkot, ngamen. Tapi penampilannya ngga layaknya pengamen, lebih ke gaya PUNK. Rambut mohawk dicat, baju warna gelap (ga jelas antara hitam atau coklat tua.. saking kumelnya) dan (agak) compang camping, celana super ketat, boot... lagunya yang mereka bawain juga bukan lagu yang suka diputer sama penjual MP3 pinggir jalan, kayaknya ciptaan sendiri dengan lirik yang mungkin maunya menggigit, tapi malah jadi ga jelas.

Reaksi penumpang lain ga jauh sama reaksi Ilham. Terdiam... sedikit takut.. Angkot yang isinya 5 orang perempuan dan 2 orang laki-laki (termasuk Ilham) tiba-tiba saja jadi terasa mencekam. Dua orang tadi terus saja bernyanyi, sementara di belakang tampak beberapa teman mereka yang juga memanfaatkan kemacetan buat meneriakkan protes lewat lagu.
Setelah mereka turun dari angkot, barulah para penumpang komentar.. takut.. sayang ya ganteng2, masih muda, kuat-kuat jadi ga puguh juntrungan..

Ilham berceloteh lagi... sambil menggenggam kue donat yang tadi saya beli. Pelukan saya tambah kuat melingkupinya seraya berkata dalam hati, "Nak.. kalau sudah besar nanti, jadilah anak sholeh yang mencerahi setiap orang dengan imanmu serta menebar kebaikan dalam setiap langkahmu."