Monday, December 27, 2010

Berapa kilo?

Beberapa minggu belakangan ini saya sedang bersemangat ber-fun bike keliling kota. Bahkan jika waktunya memungkinkan bersemangat ber-bike to school (coz I work at school). Motivasi bersepeda karena kebetulan mantan pacar juga hobi bersepeda dan menyediakan fasilitas bersepeda buat saya, so pada mulanya lebih kepada memanfaatkan sarana yang telah ada.

Awalnya jarak dekat dari rumah ke minimarket buat beli susu atau eskrim kesukaan anak2. Setelah menemukan teman yang punya hobi sama saya tambah teratur bersepeda tiap minggu dan tambah jauh. Jika dihitung bisa lebih dari 10 kilo bersepeda setiap minggu.

Sekali waktu saya seperti biasa bersepeda di hari minggu dengan teman, berpapasan dengan sekitar 20 orang anggota sebuah klub sepeda. Hampir semua anggotanya melambaikan tangan dan mengajak kami untuk bergabung. Karena kami melihat secara usia kebanyakan mereka jauh diatas kami dan ada ladies biker, akhirnya saya dan teman tertarik untuk ikut bergabung tanpa tahu kemana menuju.
Karena kesamaan hobi, walaupun kami baru bertemu, suasana sangat akrab seperti sudah bertahun-tahun kenal. Dan kebetulan klub sepeda mereka adalah klub sepeda yang telah ada sejak 16 tahun lalu!

Alhasil dari perjalanan tersebut rute yang diambil cukup jauh dan baru hujan di pagi harinya, membuat saya yg menggunakan seli cukup kerepotan ketika harus melintas pematang yang licin dan sempit. Jika dihitung hari itu sekitar 40 kilo kami bersepeda!

Seperti biasanya new comer, saya mengalami euphoria dan semangat yang menggebu saat bercerita tentang sepeda. Termasuk ketika bertelepon dengan mantan pacar yg sedang tugas di luar pulau dan sudah lebih dulu menyukai bersepeda.
Saya; asik ai, apalagi waktu gabung dengan klub yang keluar masuk kebun.
Ai; iya, saya pernah juga lewat jalur itu.
S; jauh banget Ai... Saya juga nyoba bike to school ai..
Ai; emang klo ke sekolah juga pake speda?
S; iya ai... Ampir tiap hari sekarang mah..
Ai; berapa kilo?
S; (menjawab dengan semangat) klo ke sekolah bisa sampe 7 kilo-an ai bolak balik, waktu minggu itu jaraknya ada 40 kilo tuhh! (Dengan bangga saya bercerita bahwa saya juga bisa bersepeda sejauh biasanya dia bersepeda).
Ai; iiii mamah ga denger ya... Maksudnya udah turun berapa kilo berat badannya?
S; (sedikit malu) beloom sih aaiii.. Tapi paling ngga aku sehat lahh.. Hehehe
I didn't mention it ya.. Setiap bersepeda selera kuliner berkembang.. Akhirnya bisa ditebak. Tapi untuk menjadi tambah sehat adalah 100% benar karena dalam pancaroba ini saya terbebas dari flu yang bolak balik mencoba menyerang.. Alhamdulillah... ^_^

Saturday, December 4, 2010

Memutar Waktu.



Sudah lebih dari sebulan ayah Ilham bertugas di daerah lain. Buat Ilham ini adalah pengalamannya yang pertama jaun dengan ayahnya. Sejak hari pertama keberangkatan ayahnya, setiap pagi Ilham selalu bertanya 'ayah dimana'.

Minggu lalu ayah Ilham berkesempatan pulang beberapa hari. Selama itu juga Ilham tidak mau jauh dari ayahnya. Kemanapun ayahnya pergi, Ilham pasti ingin ikut, sampai-sampai ketiduran di warnet waktu ayahnya surfing. Saking capek setiba di rumah Ilham tidur lagi sehingga waktu ayahnya akan menghadiri launching @america di Jakarta, Ilham tidak tahu. Alhasil ketika Ilham bangun dan mendapati ayahnya tidak ada, Ilham menagis meraung-raung dilanjutkan dengan rengekan panjang yang baru berhenti setelah ayahnya telpon dan acara sketsa kesayangannya tayang... Fiuuuhhh..

Pagi sebelum berangkat ke bandara pelan-pelan saya bangunkan Ilham dan bilang kalau ayahnya akan berangkat kerja jauh lagi. Tidak seperti malam sebelumnya, kali ini Ilham hanya diam sambil mengikuti gerak-gerik ayahnya yang sibuk bersiap-siap dengan tatapan matanya. Sampai ketika berangkat pun Ilham dengan tabah melambaikan tangan, kelihatan benar ia berusaha sangat kuat merelakan ayahnya pergi lagi.

Seharian itu sepertinya Ilham tak ingat ayahnya. Namun pada saat Maghrib ketika semua sedang bersiap untuk sholat, Ilham naik ke bangku dan mulai memutar jarum jam dinding. Neneknya yang melihat itu lantas bertanya:
"Ilham kenapa jarumnya diputer-puter?"
"Biar cepet jam 7, Nini," kata Ilham sambil terus memutar jarumnya.
"Emang kenapa harus jam 7?" Neneknya bertanya lagi, saya ikut memperhatikan jawaban Ilham karena ingin tau juga.
"Iya Nini, biar ayah cepet pulang, kan ayah pulangnya jam 7.." Kata Ilham menjawab dengan polosnya.
Kami yang mendengar jawaban itu otomatis tertawa sambil terselip perasaan bangga, nalarnya sudah sampai pada 'mempercepat waktu'.

Tuesday, November 30, 2010

bm

Punya hape yang bisa menghubungkan dengan banyak orang melalui serangkaian nomer pin memungkinkan kita bertukar pesan tanpa takut tagihan membengkak layaknya mengirim sms. Pesan yang disampaikan pun dapat ditulis dengan panjang atau cukup dengan forward dan copy paste. Dengan begitu baik berita, permintaan bantuan sampai dakwah dapat menjangkau luas.
Hari ini saya dapat 2 'bm' yang cukup menarik yang pertama mengenai pungutan atas nama ujian akhir yang diberlakukan di sebuah SD negeri di Tangerang. Disertai dengan tambahan berita bahwa tulisan tersebut bukan hoax serta mencantumkan nama aktivis dan para anggota dewan yth sebagai bukti dukungan dan ketidaksetujuan atas tindakan terswbut.
Namun yang paling sukai apabila 'bm' yang masuk berupa cerita yang bisa membuat saya tertawa sendiri saat membacanya, seperti bm ke-2 saya hari ini;

Hiji sore keur panas mentrang mentring kang Emod kikiplik di teras imahna bari halabhab kahausan.

Kang Emod :"Encep, pan maneh geus diajar ngitung matematika nya ... Ka warung jig pang meulikeun KOKA KOLA keur urang sa imah"

Encep : "nya bapa ... Encep geus bisa ka warung"

Kang Emod: "meuli Koka Kola, hiji keur Bapa, hiji keur Ema', hiji keur Euis, jeung hiji keur Encep. Jadi sabaraha botol kudu meuli"

Encep: "tilu bapaaa ..."

Kang Emod: " eeeee naha tilu?? Cik itung deui sing tarapti, bapa, emak, euis jeung encep hiji sewang, jadi koka kola sabaraha botol"

Encep bari molohok ngajawab lalaunan: .... ti..luuuu ...

Kang Emod jadi ambek, sementara si Encep keukeuh rek meli koka kola "tilu"

Teu sabar Kang Emod ambeuk geus rek nalipak si Encep
.
Si Encep bari cirambay ceurik keukeuh ngajawab: "Koka Kola tilu botol bapaaaa, da Encep hayang PANTAAAAA ..."

(Saya yakin kamu yang mengerti bahasa Sunda bakal ketawa seperti saya ^,^)

Wednesday, November 24, 2010

Topi Ilham

Ilham paling suka pakai topi. Kemanapun dia pergi pasti tak lupa pakai topi. Dia tahu topi akan melindungi dari panas dan dinginnya udara. Kemarin Ilham menemukan manfaat lain dari topinya.
Beda dengan kakaknya, Ilham suka makanan yang sedikit pedas. Waktu kakaknya bawa keripik pedas untuk Ilham, Ilham seneng banget. Satu dua keripik dia makan, lama-lama pedasnya mulai terasa. Ilham mulai garuk-garuk kepala, biasanya dia begitu jika makan yang pedas-pedas.
Ilham: Mamah.. Ambilin topi ; kata Ilham sambil terus makankeripik sambil sekali-sekali mengaruk kepalanya.
Saya: Buat apa pakai topi? ; saya agak heran karena kami tidak berencana keluar rumah.
I: buat ini mamah kepala..; Ilham tetap keukeuh minta diambilkan topi.
S: emang Ilham kepalanya kenapa kok pengen pake topi ; sambil agak heran saya serahkan juga topinya.
I: ini mamah, Ilham biar ga kepanasan kepalanya pake topi. Nih tuh kan Ilham keringetan; katanya sambil masih menggaruk kepalanya yang mulai berkeringat karena kepedasan..

Saya lalu tertawa waktu tau topi yang dia minta rupanya untuk menghilangkan rasa panas yang dia rasakan karena makan keripik pedas...Ilham..Ilham...hahahahaham

Tuesday, October 12, 2010

Ketika Sekolah Berdandan.

Betapa melelahkan menjadi sekolah yang diunggulkan dan menyandang status berbeda dengan yang lain. Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional.. mmm.. walaupun sampai sekarang masih diperdebatkan arti dibalik istilah tersebut, yang jelas kami yang berkecimpung di dalamnya seringkali merasa seperti memakai baju yang sangat ketat.. susah bernafas, takut salah bergerak sehingga mengakibatkan robeknya baju.

Apalagi saat-saat akredetasi seperti ini. Layakkah sekolah kami menyandang status yang lebih tinggi yaitu Sekolah Bertaraf Internasional. Setiap pertanyaan yang diajukan assessor harus dijawab dengan tepat dan meyakinkan. Jika yang satu dianggap menjawab dengan kurang tepat, yang lain akan 'membenarkan' sehingga sesuai dengan keinginan. Keinginan siapa? keinginan sekolah? keinginan seluruh warga sekolah? atau hanya sekedar jawaban yang diinginkan didengar oleh para assessor?

Alangkah indahnya jika sekolah kapanpun siap diperiksa oleh siapa saja, tidak hanya oleh assessor. Yang terpenting adalah sekolah siap menghadapi tantangan bila dperiksa oleh masyarakat umum tentang kegiatan serta proses pembelajaran yang dilakukan selama ini. Semua data siap tersedia tidak hanya bersifat dadakan yang menyebabkan ngadatnya seluruh printer sekolah karena kelebihan beban, sekolah yang cantik tidak hanya pada saat pemeriksaan melainkan setiap saat, dengan keadaan yang demikian otomatis para guru tidak perlu harus 'mendadak' rajin dan bekerja sampai malam hanya untuk menyusun data, siswa tidak perlu mengorbankan jam belajarnya dengan hanya mengerjakan tugas mandiri tanpa didampingi guru yang sibuk menyiapkan berkas.

Guru bertanggung jawab terhadap kemajuan anak didiknya. Cukup meraka menyiapkan segala sesuatu yang akan disampaikan terkait dengan kegiatan pembelajaran. Apakah kemudian fokus seorang guru tidak akan terbagi apabila kemudian dia harus menjadi bendahara BOS? atau menjadi Bagian Sarana dan Prasarana yang setiap hari harus mendengarkan keluhan semua orang tentang sarana yang dianggap (selalu) tidak mencukupi? Betapa lelahnya.

Yang berbeda dari sekolahku kali ini adalah terpasangnya CCTV di 32 titik. Seluruh kelas, laboratorium, perpustakaan, lorong bahkan kantin dipasangi kamera yang dapat merekam seluruh kegiatan yang sedang berlangsung. Selain manfaat, ternyata mengundang masalah juga seperti hari ini segerombolan siswa putri yang habis berolahraga menyerbu ruangan saya; "kami mau ganti baju dimana, Bu? biasanya kami ganti baju di kelas...," yups.. selain printer yang selalu tidak tersedia karena overload atau tak ada tintanya, ternyata tidak adanya sarana ruang ganti untuk siswa tidak sejalan dengan 'modernisasi' berbentuk CCTV..

Sunday, October 3, 2010

Dibalik kisah 'Singapura'.

Cerita tentang Singapura saya tulis dalam beberapa episode. Seperti judulnya yang terakhir, it's never ending story, kesan saya tentang negara kota itu sangat dalam sehingga membuat selalu ingin kembali. Disana saya lihat hubungan antara rekan guru yang sangat profesional, penghargaan atas keahlian yang dimiliki guru serta keterlibatan seluruh guru walaupun statusnya hanya sebagai guru magang. Dalam kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) sekolah, mereka mempunyai hak yang sama dalam mengusulkan suatu kegiatan pembelajaran dan sangat dihargai oleh seluruh guru yang hadir.
Saya mungkin dipilih karena pertimbangan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris, serta penghargaan dari pihak komite sekolah karena terpilih oleh murid-murid sebagai salah satu favorit mereka. Atau mungkin juga karena setelah 4 kali kesempatan tugas seperti ini diserahkan kepada yang lebih 'berstatus' akhirnya tiba giliran saya. Itupun dengan keluhan dari Pimpinan seminggu setelah memilih saya,"Aduhh saya lupa, seharusnya Pa Dedi yang guru bahasa Inggris senior dulu yang pergi ya...," langsung ditujukan kepada saya.. :(

Ada lagi yang tidak kalian ketahui. Pada saat setelah saya kembali. belum sempat saya buat laporan untuk dilaporkan kepada pihak sekolah, artinya baru saja saya tiba kembali ke tanah air, Pimpinan memanggil saya..
"Maaf ibu, untuk tahun ini tidak ada lowongan untuk mengajar, semua jam sudah penuh. Ibu bisa mengajukan lamaran untuk bagian administrasi... itu juga kalau Ibu mau.. kalau tidak, yaa.. terserah Ibu". Terserah? maksudnya "silahkan keluar???"
kata Pak Kepala Sekolah tanpa ragu, tanpa sedikitpun peringatan sebelumnya bahwa saya, guru yang dipilih sekolah untuk mewakili ke ajang pertukaran pelajar, guru yang dipilih siswa sebagai salah satu yang mereka sukai, guru yang selama 5 tahun mencurahkan semua yang saya punya demi sekolah ini.. tiba-tiba harus mendengar keputusan mendadak seperti tadi.

Mendapat perlakuan seperti tadi bukan kali yang pertama. Status saya sebagai guru honor selalu menghalangi dari setiap kesempatan untuk mengembangkan diri. Ketika melahirkan anak kedua, tanpa sempat mengajukan cuti, satu semester saya dinonaktifkan secara sepihak dengan tidak diberi jam mengajar. Jangan tanya berapa kali kesempatan pelatihan, seminar atau sekedar MGMP terlewati hanya karena status.
"Biarpun pintar, terampil, komitmen terhadap sekolah tinggi, jika status masih honor, jangan harap bisa mengalahkan guru PNS disini," dengan 'bijak' Pimpinan menyatakan hal tersebut dalam suatu kesempatan di depan forum rapat.

Jadi, satu lagi yang menghalangi kemajuan sekolah-sekolah negeri di Indonesia, status guru lebih penting dari kompetensi guru.

Saturday, August 7, 2010

Singapura; Never Ending Story.

Kerjaan mengedit foto dan film waktu kegiatan ke Singapura kemarin membuat saya jadi terkenang selalu kejadian demi kejadian. Waktu saya disana balutan rindu ingin cepat pulang ke tanah air, tapi kini lonjakan kangen hampir tak terbendung ingin kembali melihat 'kampoeng modern' dengan merlionnya (yang sudah selesai mandi :D).

Penghargaan yang setinggi-tinggi nya buat pihak sekolah yang sudah mengirim kami berkesempatan bertemu dengan saudara baru. Para Orangtua yang percaya melepas anak-anaknya dibawah bimbingan kami selama disana. Buat keluarga yang sabar menanti. Murid-murid yang mengikuti program ini dengan baik. Bu Mabel as the Principal. Buat para buddies yang setia mendamphingi. Dan semua warga Hua Yi.

Special thanks buat:
Pak Shaheful.. terima kasih bodorannya, kadang saya sering terkecoh juga, ini orang serius apa tidak.. but anyway, anda buat hari-hari kami jadi lebih cerah walau Singapura sedang mendung. Murid-murid sampai percaya 100% waktu Pak Shaheful bilang tidak membolehkan anak laki-laki datang ke farewell party.. "can lah.." hehehe. Plus Pak Lee yang jalan bareng ke China Town, yang penasaran apa betul laki-laki Indonesia punya lebih dari satu istri, (ini jailnya Pak Shaheful lagi saya kira).


Bu Gowtum.. wanita keturunan India yang cantik dan perfume nya yang khas, bikin kangen. Sikapnya yang keibuan buat semua merasa nyaman dan merasa di rumah sendiri. Sampe bingung waktu ke Jurong Bird Park kami ngga mau nonton Lory bird show (padahal keren banget katanya), soalnya kami sempat ill feel waktu ngga kebagian duduk di pertunjukan gajah. Thank's Bu Gowtum, for your hospitality and for the nice earing you gave me.

Pak Shoon.. pemuda serius yang baik hati. Pengetahuan sejarahnya luar biasa, suatu saat saya ingin beri dia buku tentang Soekarno dan kopi luak, sesuatu yang cuma Indonesia yang punya. Terima Kasih Pak Shoon, juga buat buku pelajaran sejarah yang dia bagi buat saya bermanfaat banget.

Dan terakhir, rasa terima kasih saya buat Bu Lelyana. Jika saya punya adik perempuan, saya ingin yang seperti dia. Cantik, modern dan taat beragama, semangatnya tinggi berbagi dengan murid-muridnya. I miss y'all....

Friday, July 23, 2010

Singapura; Saat-saat yang aneh.


Asyiknya belajar sambil berwisata di Singapura memang indah, kenangannya membawa serta 20 murid-murid pilihan sebagai wakil sekolah juga sesuatu yang tak terlupakan. Capeknya juga masih terasa berminggu-minggu kemudian, belum lagi laporan yang harus kami buat dengan hati-hati dan cermat.

Namun dibalik itu semua ternyata ada juga kejadian aneh yang menyertai waktu kami disana.

Malam pertama saya tidur di kamar sering dikejutkan dengan bunyi kucuran air keran tiba-tiba. Saya berusaha berbesar hati, 'mungkin suara dari toilet kamar sebelah,' pikir saya, walaupun agak seram juga. Saya tidak berani mematikan tv sampai harus memasang sleep timer nya hanya supaya tidak sepi.

Setan jail...
Murid-murid saya sering mengeluh barang-barangnya hilang. Entah kamera, handphone atau benda-benda lainnya.
"Miz, kameraku hilang!" Alfi pagi ini membuat laporan pada saya.
"Kamu lupa nyimpennya barangkali," saya mencoba menenangkan.
"Saya simpennya di tempat tidur, Miz, baru saya simpen pas saya liat lagi udah ngga ada," wajahnya terlihat sedih.
"Nanti pulang sekolah kita cari lagi, ya?" saya berjanji dalam hati untuk menemaninya mencari kameranya yang hilang.

Esoknya ada lagi laporan kehilangan, kali ini pass key berupa kartu yang dimiliki tiap anak.
"Pernah ada yang minjem, Miz, naronya ga tau dimana," wajahnya sedih karena jika hilang dia harus mengganti sebesar 30 Sin $.
"Ketelingsut atau jatuh ke bawah meja barangkali, kamera Alfi juga ketemu kan kemarin?" saya kembali coba menenangkan, ingat kamera Alfi yang tiba-tiba muncul dari bawah lipatan jeans nya.
Belum habis kata-kata saya, tiba-tiba HP saya berdering, rupanya dari rekan guru pendamping, karena sedang membetulkan salah satu kostum siswa (hari ini waktu mereka menampilkan kesenian), salah satu murid saya yang menerima teleponnya.
"Kenapa Pak Odik?" saya bertanya pada Prilli yang tadi membantu saya menjawab telepon.
"Itu Miz, katanya kunci kamarnya ilang," Prilli menjawab.
"Lha kok bisa ilang terus masa nanya sama aku ya? emang aku bisa ngumpetin gitu?" saya sedikit geli, mungkin teman saya panik menyangka kuncinya tertinggal di luar dan saya sembunyikan karena untuk mengunci pintu dari dalam kita tidak perlu anak kunci.
Namun tak lama teman saya muncul dengan wajah yang masih sedikit pucat.
"Ketemu, Pak?" saya bertanya. Tanpa banyak bicara dia mengangguk.

Sepulang sekolah ada laporan lain lagi.
"Miz, HP ku kayaknya jatuh di bis," kali ini Fira.
"Innalillahi.. gimana kejadiannya?" saya tanya.
"Saya kan tadi pagi ketiduran, terus kayaknya HP nya jatuh, soalnya ga ada di tas," Fira tampak kebingungan.
"Ya udah saya laporan sama Pak Shaheful ya. mudah-mudahan HPnya masih rejeki kamu," ucapan terakhir saya disambut anggukan Fira.
Lalu saya ingat kunci teman saya yang sempat hilang tadi pagi.
"Pak, kuncinya ketemu dimana?" tanya saya penasaran.
"Ya, kan biasanya abis masuk pasti saya simpen di meja. Tadi pagi kok ga ada. Saya takut ketinggalan di luar, ga ada juga," dia menjelaskan kronologis kejadiannya.
"Terus saya Istighfar terus takut juga," katanya selanjutnya.
"SAya cari lagi sampai ke bantal segala! taunya pas saya angkat bantal kok agak berat, taunya ada di dalam sarung bantal!" dia menjelaskan dengan wajah bingung.
"Bapak lupa kali tadi malem nyimpen di bawah bantal terus kegeser-geser, masuk deh ke sarung bantal," saya berusaha logis.
"Iya kali," teman saya setuju sambil tetap dalam hatinya dia masih heran.

Ternyata HP Fira setelah ditanya ke perusahaan bis yang mengantar kami pagi tadi tidak menemukan HP milik Fira.
"Saya tadi sempet coba telpon Miz, pertamanya ga ada jawaban, tapi sekitarnya rame banget, pas yang kedua kali ada yang jawab suara cowo tapi ngomongnya aneh gitu Miz," wajahnya sedih.
"Ya udah, artinya kamu harus lebih hati-hati ya Fir sama barang bawaan kamu sendiri. Kalau perlu komunikasi sama orangtua kamu nanti pakai HP saya aja ya," saya berusaha menghibur.
Rupanya salah seorang murid saya yang lain, Ara, mencuri dengar:
"Sebenernya barang-barang aku juga sering ilang, Miz," lha ada lagi laporan barang hilang.
"Ilang gimana, Ra?" saya tambah bingung.
"Beneran Miz, kemarin tuh kamera aku, tadi nih, Miz, HP aku yang ilang, masa ketemunya di bawah kasur!" Ara dengan santai cerita pada saya.
"Masa ada yang jail di kamar kamu?" saya jadi heran.

Setiba di kamar, saya masih mendengar gemericik air yang sering tiba-tiba terdengar. Lalu dengan memberanikan diri saya telusuri asal suara. Saya sampai menempelkan telinga ke dinding kamar yang bersebelahan dengan kamar lain. Tapi kemudian saya ingat kamar sebelah kosong. Saya berusaha berani, lalu pandangan saya layangkan ke atas eternit, ke serangkaian pipa yang meintang di bawahnya. Ooo rupanya pipa pembuangan air dari lantai atas mengelir melalui kamar saya. Saya tersenyum sendiri dan malam itu saya tidur lebih tenang.

Sampai di Cengkareng saya sudah lupa tentang kehilangan-kehilangan tadi sampai ada satu tas yang tertinggal di trolley yang saya bawa.
"Ini ransel siapa?" saya berteriak pada anak-anak yang masuk bis Damri yang akan membawa kami ke Bogor, tak ada yang menjawab. Saat bis kami mulai berjalan, tiba-tiba Fira berteriak..
"Miz, ranselku ketinggalan!" saya lalu mengangkat ranselnya yang tadi ditinggalkan begitu saja di atas trolley. Fira tersenyum malu sambil bilang terima kasih.

Hal itu lalu saya ceritakan kepada teman saya,
"Fira tu ceroboh, Pak, kemaren HP nya, tadi ranselnya mau ditinggal. Kemaren kok banyak cerita kehilangan, ya? Jail juga ya mahluk2 luar negeri," kataku sambil geli.
"Kalo hilang sih mungkin aja memang salah taro kayak kartu anak yang ilang kemaren kan ketemu? kalo kejadian saya lebih aneh lagi, Bu," Pak Odik mengingatkan saya waktu kartu murid saya yang hilang ketemu dengan kondisi yang kotor talinya seperti terkena oli.
"Saya tiap malam selalu ngedenger pintu dibanting-banting, sering lagi," dia menyambung.
"Mungkin dari kamar-kamar lantai atas, Pak, kalo di atas pintunya gampang kebanting soalnya anginnya kencang.
"Iya, tapi saya pernah lihat penasaran pas bunyi 'Brukkk!' sekali saya intip keluar, jam 3 pagi! ga ada apa-apa! nah Ibu kan kamarnya ga jauh dari kamar saya, suka ngedenger ga suara pintu dibanting-banting?" teman saya bertanya ingin tahu.
Saya lalu ingat-ingat ketika di hostel apakah saya pernah mendengar pintu dibanting-banting...
"Pernah ga, Bu?" teman saya bertanya penasaran," sambil agak bingung saya menjawab,
"....ngga...," jadi...???

Singapura; "Cik Gu, muridnya tidak disiplin!"

Tingkat disiplin masyarakat Singapura jauh melampaui tingkat disiplin di Indonesia. Anak murid saya sangat merasakan itu sehingga selama di Singapura mereka tidak pernah menyulitkan kami, guru pembimbingnya. Tidak pernah sekalipun mereka terlambat pada waktu makan, waktu berangkat dan pulang sekolah, maupun ketika dibebaskan untuk berkeliling di suatu tempat, mereka pasti kembali tepat waktu.

Dalam hal makanan, jenis makanan yang kami makan (baik di hostel yang merupakan asrama sekolah maupun di kantin sekolah) adalah makanan bersertifikat sehat dari pemerintah. Namun karena kami terbiasa dengan makanan yang gurih, makanan disana kami rasa plain alias tidak terasa asin atau gurih. Kecuali jika sarapan kami berupa kari dengan roti cane (karena kebetulan kami seasrama dengan tamu dari India yang vegetarian), bumbunya yang kental luar biasa nikmat (jadi kangen... ^_^).


Mungkin karena kekurangan garam selama berhari-hari atau karena semalam nonton piala dunia sehingga kurang tidur, pada hari ketiga di Singapura kepala saya mendadak pusing berat. Wajah saya pucat dan hampir tidak bisa bangun dari duduk. Untung di sekolah tersedia klinik yang menyediakan obat-obatan.
Sepulang sekolah sekarang waktu kami tour ke tempat-tempat bersejarah di Singapura. Pemerintrah Singapura berupaya dengan keras agar masyarakat Singapura tidak lupa akan akar budaya yang terdiri dari campuran masyarakat Melayu, Tionghoa dan India. Setiap museum di Singapura gratis bagi para pelajar. Hari ini kami mengunjungi Masjid Sultan, Buddhist ToothRelic temple dan Sri Krishnan temple.

Seperti biasa, kami berangkat menggunakan bis yang disewa oleh pihak sekolah. Rasa pusing yang tiba-tiba menyerang dua jam lalu agak lumayan setelah diberi paracetamol dari pihak sekolah. Hari itu supir bis yang akan membawa kami agak lain penampilannya dari supir-supir bis yang pernah membawa kami. Wajahnya khas wajah orang India, berkumis tebal dan berkacamata hitam. Saya senyumi dia tak bereaksi (mungkin matanya yang tertutup kacamata hitam sedang memandang ke arah lain sehingga tidak melihat senyum saya). Semua murid saya ditambah dengan buddies (siswa Hua Yi yang ditugaskan ikut mengantar) sudah naik serta merta supir yang bertampang seram tadi berdiri dan mulai berteriak-teriak (tepat disamping kursi saya yang duduk paling depan).
"LISTEN !!" waduh teriakan pertamanya membuat kepala saya yang tadi lumayan jadi pening lagi.
"DO NOT MOVED FROM YOUR SEAT WHEN THE BUS IS MOVING, PUT ON YOUR SEAT BELT... bla.. bla.. bla..," si supir terus berteriak-teriak membuat anak didik saya ketakutan.


Peraturan berkendaraan di Singapura memang ketat. Kamera yang tersebar di tepi-tepi jalan membuat para pengemudi patuh dan takut untuk melanggar. Jika terjadi pelanggaran misalnya para penumpang yang berdiri saat kendaraan berjalan pengemudi akan diberi peringatan sampai dengan izin bekerjanya yang dicabut. Pantas saja teriakannya begitu keras.
Sampai di tempat wisata, kami tambah dibuat kaget, sang pengemudi bersuara halilintar tadi menghampiri salah seorang murid dan tampak bercakap-cakap, saya terlalu pusing untuk melihat siapa yang dia ajak bercakap-cakap. Tak lama sopir tadi menghampiri rekan kerja saya dan berkata:
"Cik Gu, muridnya tidak disiplin!" rupanya dia bisa bahasa Melayu.
"Tadi saya lihat murid cik Gu berdiri tapi dia tidak mau mengaku!" suaranya menggelegar.
"LISTEN!! I TOLD YOU ONE MORE TIME! DO NOT MOVE FROM YOUR SEAT! .... ," sebagian besar kata-katanya sudah tidak sanggup saya cerna.

Setelah tanya murid saya, ternyata yang tadi berdiri bukan salah satu murid saya melainkan salah satu buddies dari sekolah yang kami kunjungi. Itupun karena ingin membetulkan roknya yang merosot. Waktu harus masuk kembali ke bis, saya memberanikan diri balik menegur sang sopir:
"Sorry, Pak, that was not my student who stood,"
"Oo, not your student?" dia bertanya (kok seperti ngga percaya?).
"No, and she's having a trouble with her skirt," masih saya bela takut dia langsung menegur lagi.
"Oo, I will tell their teachers then, I'm sorry Cik Gu, it's the rule to... blablabla," intinya dia bilang cuma ingin mengikuti aturan yang ada, saya mengangguk-angguk. Akhirnya dia bilang:
"Oke Cik Gu, Indonesia bagus lah," seringainya muncul kontras dengan warna kulitnya. Dalam hati agak ilfil juga tapi hal itu bagus buat anak murid saya belajar disiplin dalam kendaraan.

Tak mau kalah dengan sang sopir, saya ikut-ikutan mengingatkan:
"Oke guys, kamera pengawas ada di mana-mana. Kalian lihat cctv di belakang sana? hati-hati, saya ngga mau kita kena masalah," saya berkata sambil menunjuk sebuah kamera cctv di belakang bis. Salah satu murid saya lalu nyeletuk:
"Itu bukan cctv Miz, itu kan kamera spion," katanya sambil menunjuk pesawat tv kecil di sebelah kursi pengemudi. Sambil sedikit malu saya berkata lagi:
"Yaa, pokonya kamu tertib, kameranya bisa ada dimana aja," guru memang harus punya jawaban untuk apapun ya... xixixixi

Thursday, July 22, 2010

Singapura: "My shoes is killing me."

Untuk memberikan kesan baik koper perjalanan saya mengunjungi Singapura dipenuhi dengan baju yang biasa saya kenakan untuk mengajar. Namun koper kembali saya bongkar, mengganti baju formal dengan kemeja-kemeja batik. Untuk praktisnya saya tidak membawa rok seperti yang biasa saya pakai ke tempat mengajar melainkan celana panjang hitam (warna yang aman dan tidak gampang kotor).

Termasuk sepatu (dan kaos kaki). Sebagian gaji saya bulan lalu sengaja saya sisihkan untuk membeli sepatu baru. Sepasang sepatu hitam standar yang biasa dipakai seorang guru perempuan di Indonesia. Biasa kita sebut vantoufel (pantopel), sepatu kulit tertutup dengan hak yang tidak terlalu tinggi.

Ketika waktunya mengunjungi sekolah tempat kami mengadakan pertukaran pelajar, sepatu baru saya yang masih mengkilat dengan manisnya menghias kaki saya.
Satu jam.. dua jam berkeliling area sekolah yang luasnya 5 kali sekolah tempat saya mengajar. Ketika waktunya tour sepulang sekolah, hari itu jadwal kami adalah mengunjungi Singapore Botanic Garden. Setelah Botanic Garden masih mengunjungi beberapa museum.
Semakin jauh berjalan sepatu baru yang masih menyesuaikan dengan kaki saya lama-lama membuat kepala pusing. Mr. Shaheful rupanya memperhatikan:
"Are you feeling OK?"
"My shoes is killing me,"
saya menjawab sambik mengurut-urut telapak kaki saya.
"So why you have to wear that shoes," Mr. Shaheful tampak heran.
"This is my teaching shoes. Because I have to come to your school so I chose this shoes," saya berkata lagi.
Lalu saya cerita di Indonesia (khususnya sekolah tempat saya mengajar) buat guru perempuan harus menggunakan rok dan memakai apa yang saya sebut teacher's shoes sebagai contoh buat murid-murid.

Penjelasan saya membuat Mr. Shaheful sedikit terbelalak karena di Singapore tak ada ketentuan khusus berpakaian bagi guru perempuan. Hari ini justru saya terbelalak terlebih dahulu ketika melihat seorang guru memakai pakaian 'you can see' ditambah selop. Atau seorang guru yang menggunakan high heel warna menyolok. Barangkali di Singapore aturan berseragam bagi murid sudah jelas dan tegas sehingga tak ada korelasi antara cara berpakaian guru dengan tingkat kepatuhan siswa untuk tidak patuh terhadap aturan berseragam. Karena hal tersebut maka tak ada perlunya membatasi jenis pakaian gurunya.
Demikian juga tidak ada korelasi antara jenis pakaian guru dengan tingkat profesionalisme guru. Guru di Singapura sangat profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai guru. Mereka tidak pernah terlambat apalagi meninggalkan kelas tanpa alasan yang jelas. Mengetahui hal tersebut ketika ada kesempatan akhirnya saya membeli sepatu 'flat' yang menjadi favorit saya.

Besoknya saya bertemu dengan Mr. Shaheful dengan bangga saya katakan:
"You can walk me anywhere, Pak, coz my shoes is not killing me anymore...." :D

Singapura; Esplanade, durian yang super besar vs buah durian.

Singapura menggeliat sangat cepat. Pembangunan terlihat di setiap bagian kota (atau negara). Hal ini dimaksudkan untuk membangkitkan kegiatan pariwisata yang menjadi salah satu andalan negeri Singapura.

Untuk menonton konser musik, orkestra, Singapura punya Esplanade. Sebuah pusat budaya dimana tersedia mulai dari hall berkapasitas 2000 tempat duduk, gedung pertunjukan terbuka, roof terrace dengan pemandangan ke arah marina bay, perpustakaan, food court and of course shooping mall. Bentuknya yang mirip potongan buah durian membuat esplanade juga dikenal dengan nama 'durian'.
Tapi yang membuat saya terkesan adalah "the tunnel". Jalur jalan kaki di bawah Esplanade yang menghubungkan Esplanade dengan stasiun MRT di raffles city dan 5 mall besar termasuk orchad.

Tapi pengalaman dengan buah durian (yang sesungguhnya) membuat saya sedikit malu. Kesukaan saya akan durian memang luar biasa. Tak ada buahnya, setiap ada makanan rasa durian menjadi pilihan utama. Saat berwisata ke Bugis, toko buah menawarkan harga yang sangat murah untuk buah durian yang ranum kuning menggoda. Belum lagi aromanya yang tajam menggelitik hidung. Entah karena memang aromanya demikian atau karena pengaruh keadaan suhu dan lain-lain, aroma buah durian di Singapura terasa lebih menusuk.

Bukan main sukanya hati saya dan teman saat diberi 2 box durian yang masing-masing berisi 6 biji buah durian. Sampai di hostel dengan tidak sabar saya buka dan dinikmati dengan santai di kamar. Entah bagaimana rupanya bau durian yang tajam tercium sampai luar kamar dan kebetulan 3 orang admin hostel sedang memperlihatkan kamar kepada tamu baru di sebelah kamar saya. Hati saya agak tidak enak juga dan tak berapa lama pintu kamar saya diketuk.

"Are you eating durian in your room?", sang admin bertanya apa saya makan durian di kamar, baunya memang tajam sekali, ngga mungkin berkelit lagi.
Sambil sedikit takut (didenda) saya jawab;
"Yes..yes.. but I'm sorry i didn't know that its not allowed...what should I do?" sambil memperlihatkan muka yang sedikit memelas.
Admin tadi jadi kehilangan kata-kata, temannya lalu berkata:
"The smell is very strong, I'm afraid that nobody wants to rent this room," sambil mukanya ga enak dilihat.
Dalam hati kenapa ga sekalian memasang gambar durian dicoret seperti gambar rokok dicoret untuk NO SMOKING IN THE ROOM yang tertempel di balik pintu kamar.
Otak kreatif saya jalan lagi,
"Gini lah mister.. I'll still be here for 5 days, so the smell will be gone laahh.. i will open the door and windows to remove the smell.." mukaku tetep tanpa dosa. Brina (salah satu murid yang kebetulan sedang ada di kamar saya) sampai cengar cengir melihat kesialan saya.
Rupanya sang admin jatuh kasian juga;
"do you still have the durian?" dia tanya lagi, dan cepat saya jawab: "NO NO NO," (memang duriannya sudah habis saya santap).
Dia lalu berkata lagi;
"Next time if you want to eat durian please do outside the room ya.. in the open air," kira-kira begitu caranya untuk meminta jika lain kali saya ingin makan durian harus dilakukan di udara terbuka. Setelah itu pergilah sang admins tadi.

Sambil masih sedikit tegang saya langsung sms teman di kamar lain untuk segera mengenyahkan sisa buah durian di kamarnya takut kalau para admin tadi akan lewat juga ke depan kamarnya. Dan malam itu saya tidur dengan jendela nako yang terbuka semua.

Rupanya teman saya lebih beruntung, malam itu dia tidak kena tegur gara-gara durian. Tapi entah karena sisa durian yang masih ada atau karena memang ada buah durian, saat masuk bis yang akan mengantar kami ke sekolah bau durian menyeruak begitu tajam. Langsung mata saya melirik curiga pada ransel teman saya,
"Pak, duriannya belum habis?" saya bertanya sambil menatap ranselnya penuh curiga.
"Belum, ini saya bawa di tas," dengan polos teman saya mengaku.
"Buang..buang.. Pak, di bis juga ga boleh bau duren kayak gini!" aku berkata sambil sedikit berbisik takut ketahuan sang driver bis. Sontak teman saya melompat turun lagi dari bis dan membuang kotak duriannya yang masih tersisa. Sayang memang, tapi apa mau dikata, tanah orang lain, kultur dan kebiasaannya juga berbeda. Sebagai tamu kita sebaiknya manut agar tidak terjadi salah paham.

Saya ceritakan pengalaman ini ke Mr. Shaheful, guru dari Hua Yi yang hari itu menemani kami tour setelah pulang sekolah. Saat tiba di Marina Bay kami turun untuk mengambil gambar merlion yang beberapa hari lalu sedang mandi. Saya terpisah dari Mr. Shaheful dan tiba-tiba 2 orang murid saya mendekat sambil menyerahkan eskrim yang bentuknya seperti potongan kue bolu sambil berkata,
"Miz, ini dari pak Shaheful."
Warnanya kuning, aromanya... DURIAN!! lalu pandangan saya menyapu mencari teman saya, ternyata di tangannya sudah ada potongan eskrim yang serupa, tampangnya kaget sambil geli. Rupanya dia masih trauma dengan kejadian durian saya. Takut tiba-tiba dia didatangi polisi dan mengambil eskrim duriannya.
'Masih mending kalo cuma diambil, kalo harus bayar, Begimana??' (teman saya setelahnya bercerita rupanya dia betul-betul takut kena denda :))

Lalu pandangan saya mencari Mr. Shaheful yang dari jauh tampak cengar-cengir mentertawakan kekonyolan kami... Jail betul...*_*

Singapura; "Let's check your temperature!"


Setiap hari Minggu pertama di bulan Juli diperingati sebagai Youth Day untuk menghargai para generasi muda di Singapura. Youth Day diperingati dengan cara mengadakan pertandingan antar kelas dan kegiatan yang bersifat kegiatan di luar ruangan, mungkin seperti class meeting di sekolah-sekolah Indonesia. Entah karena mungkin hari libur yang jatuh pada hari Minggu kemuadian diganti hari Senin, yang pasti rombongan pertukaran pelajar kami baru dapat mengunjungi Hua Yi Secondary School pada hari Selasa, 6 Juli.

Pagi hari dengan perbedaan waktu satu jam, dalam keadaan masih gelap kami pergi ke sekolah menggunakan bis yang dikirim pihak sekolah ke asrama tempat kami menginap. Walaupun langit masih gelap, jam kami menunjuk pada angka 7. Tiba di sekolah kami dibawa menuju hall, sebuah ruangan besar dimana kami diajak untuk flag rising and pledge taking ceremony. Dalam acara tersebut walaupun tidak ada pengibaran bendera seperti di Indonesia, semua warga sekolah wajib menyanyikan lagu kebangsaan Singapura "Majulah Singapura" dan menyatakan semacam janji atau sumpah sebagai warga negara Singapura bersama-sama.

Kegiatan setelahnya...temperature taking; "Let's check your temperature!", begitu Mr. Lee, guru yang bertanggung jawab atas upacara hari itu berbicara di depan mikrofon. Semua murid mengeluarkan termometer mereka dan HAP.. 3 menit kemudian setiap ketua kelas mencatat nomor yang tertera dalam setiap termometer warga kelasnya. Hal ini dilakukan dua kali sehari.

Rupanya hal ini berhubungan dengan upaya pemerintah Singapura dalam mencegah menjangkitnya virus H1N1. Sampai-sampai temperature taking ini berlaku wajib bagi semua warga di semua sekolah Singapura yang tertuang dalam kebijakan Kementrian Pendidikan Singapura.

Berbeda dengan di Indonesia, influenza dianggap penyakit ringan yang akan sembuh sendiri dan kita tidak harus sampai meninggalkan aktivitas hanya karena penyakit ini menyerang. Padahal obat flu satu-satunya adalah istirahat. Kadang hampir semua warga kelas menderita flu, termasuk saya sebagai guru apabila pola makan sudah tidak teratur dan kurang istirahat akan juga tertular virus ini.
Singapura mengharuskan mereka yang mempunyai gejala flu segera mengobati dan melindungi dirinya (dan orang lain) dengan menggunakan masker. Poster-poster mengenai cara memelihara diri sendiri untuk tidak tertular dan menularkan flu banyak terdapat di seputar sekolah, terutama di daerah kantin yang paling banyak dikunjungi dan memungkinkan banyak orang untuk berinteraksi.

Begitu sadar pemerintah dan warga Singapura bahwa satu-satunya mencegah penyebaran virus ini adalah dengan menghindari timbulnya penyakit dan penanganan segera terhadap kasus yang timbul. Kesehatan warga sekolah dijaga dengan menyediakan makanan sehat bersertifikat A atau B dari pemerintah di kantin sekolah. Sertifikat itu sendiri diperoleh melalui standar uji yang harus dibayar cukup mahal oleh pemilik gerai makanan kepada pemerintah. Karena memperoleh dengan harga yang tinggi, pemilik kantin berusaha sangat keras untuk tetap menjaga kualitas kantin agar sertifikatnya dapat dipertanggungkawabkan.

Mmmm... seandainya pemerintah kita atau paling tidak sekolah menerapkan standar kesehatan seperti itu, warga sekolah barangkali akan lebih sehat, generasi muda kita pun akan tambah semangat.
Hari ini kami masing-masing dapat sebuah termometer sebagai.. souvenir... ;)

Wednesday, July 21, 2010

Singapura; "The Merlion is Taking a Shower"


City tour (atau country tour?) Singapura yang sangat mungil dibanding Indonesia memungkinkan kita berkeliling Singapura dalam satu hari. Hari kedua di Singapura, kami diajak berkeliling mengunjungi situs-situs bersejarah di Singapura. Mulai dari patung Raffles sampai gedung parlemen, mulai dari Singapore Flyer hingga Marina Bay Sands dengan sky parknya. Selain itu melewati juga tempat-tempat belanja di Singapura yang luar biasa.

Tentu saja belum lengkap tanpa mengunjungi The Merlion, patung singa dengan buntut ikan. Sejarah mahluk setengah singa setengah ikan ini bermula ketika Pangeran Sang Nila Utama saat ia menemukan kembali Singapura di tahun 11 M, seperti yang tercantum dalam “Sejarah Melayu”. Ekor ikan sang Merlion melambangkan kota kuno Temasek (berarti “laut” dalam bahasa Jawa), nama Singapura sebelum sang Pangeran menamakannya “Singapura” (berarti “Kota Singa” dalam bahasa Sansekerta) dan juga melambangkan awal Singapura yang sederhana, yaitu sebagai perkampungan nelayan.

Pemandu kami adalah Mr. Shoon, seorang guru sejarah di Hua Yi Secondary School, sekolah yang kami kunjungi untuk studi banding kali ini. Mr. Shoon sangat baik menjelaskan situs-situs di Singapura dan tipikal orang yang sangat serius. Ketika tiba melintasi patung Merlion, betapa kecewanya kami ketika seluruh badan merlion ditutupi oleh plastik biru, sehingga rencana semula kami untuk sekedar berfoto di ikon kota singa ini batal. Mr. Shoon bilang bahwa ; "I'm sorry we can't see the merlion because the merlion is taking a shower," saya tersenyum lalu tertawa ketika Mr. Shoon bilang "True..true.. he is taking a shower". Saya pikir orang serius seperti Mr. Shoon bisa juga bercanda ketika mengatakan merlionnya sedang mandi. Namun tak lama tawa saya pecah tambah keras ketika membaca tulisan "SORRY THE MERLION IS TAKING A SHOWER", rupanya Mr. Shoon membaca papan petunjuk yang menyatakan merlionnya sedang mandi... berarti, Singaporean lucu juga untuk menyatakan merlion sedang dibersihkan dalam rangka peringatan kemerdekaan Singapura pada 9 Agustus mendatang... ^_^

Singapura; Negara Tanpa Klakson dan Polisi.

Betapa beruntungnya saya ketika sekolah menugaskan saya dan salah seorang rekan untuk mendampingi 20 orang siswa mengikuti pertukaran pelajar ke Singapura. Persiapan saya lakukan termasuk berbagai kebiasaan yang berlaku di Singapura.

Namun sesiap apapun mental saya, ternyata ketika pertama kali menginjakkan kaki di Changi Airport, Singapura membuat saya kagum. Saya bak orang desa yang baru melihat kota terlebih baru pertama kali ini saya berkesempatan melihat negeri lain.
Kenapa Singapura? Secara umur, luas wilayah dan jumlah penduduk, Singapura kalah jauh dari Indonesia. Singapura melepaskan diri dari Malaysia pada tahun 1965, memiliki penduduk kurang lebih 4 juta jiwa, luas wilayah 700 km2. Bandingkan dengan Indonesia yang merdeka sejak tahun 1945, memiliki penduduk kurang lebih 234 juta jiwa dan jika digabungkan luas wilayah 5 pulau utamanya adalah sekitar 1756.37 km2 belum termasuk ribuan pulau yang tersebar di seluruh wilayahnya.
Singapura juga bukan termasuk negara OECD yang merupakan kelompok negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan terpesat di dunia (karena alasan tertentu).

Dalam waktu yang sangat cepat Singapura berkembang dari sekedar kampung nelayan menjadi sebuah negara megapolitan. Pandangan pertama saya jatuh ketika melihat kendaraan di Singapura memiliki umur tak lebih dari 5 tahun. Otomatis yang saya lihat hanya kendaraan bagus di jalan raya. Kendaraan yang out of date hanya terdapat di proyek-proyek pembangunan yang menggeliat di setiap sudut.

Selain mobilnya yang bagus, rupanya pengemudi di Singapura mempunyai kesadaran tinggi untuk tertib di jalan raya. Masyarakat Singapura sangat menghargai pejalan kaki. Sangat mudah buat saya yang sedikit phobia menyeberang jalan untuk melintas di jalan-jalan Singapura. Setiap Zebra Cross artinya bebas buat kita menyeberang tanpa harus tengok kiri dan kanan, pengemudi lah yang mengurangi kecepatan dan tengok kiri kanan apabila akan melintasi zebra cross. Garis putus-putus di setiap perempatan artinya kita dapat menyebrang setelah lampu menyeberang berubah menjadi hijau. Untuk menyalakannya terdapat tombol di setiap tiang lampu lalu lintas yang harus kita tekan apabila akan melintas.

Saking tertibnya lalu lintas disana, selama seminggu berada di Singapura, hanya 3 (tiga) kali saya mendengar suara klakson dibunyikan. Selain itu tidak pernah sekalipun saya lihat polisi yang (seperti di Indonesia atau negara lain) sibuk mengatur jalan raya. Mungkin selain tingkat kesadarannya yang tinggi, masyarakat Singapura selalu diawasi melalui kamera-kamera pengamat. Polisi akan segera datang bila diperlukan. Sekali kami melihat polisi pada saat menyelesaikan kecelakaan di jalan raya. Dan walaupun kendaraan yang mengalami kecelakaan masih melintang di jalan raya, sama sekali tidak menimbulkan kemacetan yang berarti. Saking jarangnya ketemu polisi, teman saya begitu excited sampai histeris saat ketemu satu polisi yang sedang dalam perjalanan pulang.

Padahal semua orang seakan berlari di Singapura. Berjalan pun dengan kecepatan tinggi. Namun dalam berkendara, masyarakat Singapura begitu sabar menunggu giliran. Tidak seperti pengalaman saya pagi tadi yang diklaksoni gara-gara angkot yang yang saya tumpangi berhenti sembarangan. Hal yang justru saya kangeni ketika berada di Singapura... :)

Friday, June 4, 2010

Evaluasi = blaming. (?)



Dari bang Wiki; Evaluasi (bahasa Inggris:Evaluation) adalah proses penilaian. Dalam perusahaan, evaluasi dapat diartikan sebagai proses pengukuran akan efektifitas strategi yang digunakan dalam upaya mencapai tujuan perusahaan. Data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut akan digunakan sebagai analisa situasi program berikutnya.

Melihat dari pemahaman tersebut rasanya wajib apabila setiap kegiatan yang kita lakukan perlu dievaluasi baik di awal maupun di akhir kegiatan. Manfaat dari evaluasi itu sendiri adalah sebagai masukan untuk kegiatan yang akan datang. Permasalahan yang ditemukan dalam eksekusi kegiatan kemudian dibahas dan dipecahkan bersama untuk menentukan standar bagi kegiatan yang sama. Dengan pemahaman bahwa tak ada sesuatupun yang sempurna di muka bumi ini kecuali ciptaann-Nya, wajar apabila kemudaian selalu terdapat masalah yang mengikuti setiap kegiatan.

Betapa kemudian ada segelintir orang yang menganggap evaluasi hanya sekedar blaming atau menyalahkan kepada pihak yang menyelenggarakan kegiatan. Dari mister Wiki lagi; Blame is the act of censuring, holding responsible, making negative statements about an individual or group that their action or actions are socially or morally irresponsible, the opposite of praise. When someone is morally responsible for doing something wrong their action is blameworthy. By contrast, when someone is morally responsible for doing something right, we may say that his or her action is praiseworthy. There are other senses of praise and blame that are not ethically relevant. One may praise someone’s good dress sense, and blame the weather for a crop failure.

Kenapa kemudian ada pihak yang merasa disalahkan dan menyalahkan dalam evaluasi? Hal ini bisa disebabkan beberapa hal, pertama kurangnya keterbukaan antara pihak penyelenggara dengan anggota organisasi lainnya. Kedua, ada pihak yang merasa kepentingannya dilanggar, sehingga kecenderungan untuk menyalahkan lebih besar daripada melakukan penilaian secara objektif. Ketiga, kurangnya jiwa kepemimpinan yang siap menerima kritik, apalagi jika kemudian kritik itu datang dari pihak bawahan atau dari para anggota kelompok.

Dalam masyarakat kita, evaluasi memang masih amat langka dijalankan. Terbukti kesalahan yang ada dalam satu kegiatan dapat berulang kali terjadi. Tidak adanya standar baku pelaksanaan kegiatan yang dihasilkan melalui serangkaian kegiatan evaluasi, menjadikan kita sangat miskin dengan peningkatan mutu kegiatan secara efektif dan efisien. Kedewasaan prilaku, pikiran yang terbuka serta pemahaman secara menyeluruh terhadap permasalahan yang ada bisa dijadikan beberapa syarat agar kita lebih mantap dalam mengadakan evaluasi. Kira-kira, kapan ya kita siap?

Wednesday, June 2, 2010

Baru Bisa Jadi Guide..


Tanggal 24-29 Mei yang lalu sekolah kami kedatangan 22 orang tamu dari negeri tetangga, Singapura. 20 siswa dan 2 orang guru selama 6 hari mengikuti pembelajaran di kelas dan di luar kelas. Jauh dari kesan sombong (yang tadinya saya kira akan temukan), baik murid maupun gurunya sangat bersahaja dan menawarkan persahabatan dengan memahami betul kekurangleluasaan berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Singapura adalah sebuah negara kecil yang setelah berpisah dari Malaysia sejak tahun 1965, menjadi sebuah negara yang berkembang sangat cepat terutama di bidang ekonomi. Posisinya yang strategis membuat pelabuhan Singapura merupakan pelabuhan yang sibuk dan membuat standar hidup di Singapura menempati peringkat 5 termahal di Asia dan ke 14 dunia.

Untuk sistem pendidikan, Singapura sangat menyadari bahwa setiap orang mempunyai keahlian yang berbeda-beda. Oleh karena itu kementrian pendidikan Singapura merancang sedemikian rupa agar setiap orang mendapatkan pendidikan yang tepat. Berbeda dengan Indonesia, pendidikan dasar di Singapura tidak berlangsung sampai dengan kelas 12, melainkan hanya sampai kelas 10, selebihnya selama 2 tahun adalah pendidikan persiapan ke universitas atau politelnik untuk meraih diploma. Landscape pendidikan di Singapura dapat dilihat disini.

Menyadari kelebihan sistem pendidikan Singapura, dalam kunjungan tersebut kami sepakat untuk lebih memperkenalkan sesuatu yang sifatnya budaya dan pengalaman bersentuhan langsung dengan alam. Dengan hidup yang serba terprogram dan tanah yang sempit bagi sekitar 4 juta penduduknya, pengalaman berwisata ke Taman Safari Indonesia, praktek menanam padi di Kampung Budaya Sunda serta membatik, merupakan hal yang baru bagi mereka. Pengalaman berkendara menuruni gunung pun merupakan hal baru yang menyenangkan buat mereka yang hanya memiliki tempat tertinggi di 166 m/dpl.

Karena lebih banyak 'main'nya daripada belajar di kelas, rekan guru dengan sedikit berseloroh mengatakan 'kita ini lagi pertukaran pelajar atau lagi belajar jadi guide?' Namun saya masih bisa berbesar hati karena ternyata baik siswa maupun guru dari Singapura cukup excited dengan pengalaman berwisata tadi. Buktinya ms. Leyana (salah seorang guru yang datang) berkata; 'me and my students are really enjoy when visiting Safari Garden, because in Singapore we never get close to the animals like that.' Mereka baru pertama kali bisa melihat tiba-tiba hidung llama muncul di jendela bis, atau melihat harimau yang menyebrang di depan bis yang mereka tumpangi. Untuk wisata belanja, jangan tanya, dengan hobi shopping mereka dan PDB yang tinggi, Indonesia merupakan surga belanja.
Intinya dari pertukaran pelajar adalah saling memberi. Memberi sebuah pengalaman yang tidak dapat mereka temui di negara mereka. Jadi, betul juga kata teman saya, bahwa kita memang baru bisa jadi guide.


Monday, March 8, 2010

Hati-hati Menyakiti Hati Orang Lain.


Maia menghambur masuk ke rumah Mama dengan wajah yang bersungut-sungut, dan langsung duduk di sebelah Mama yang sedang asyik merenda.

"Kenapa, Mai?" Mama bertanya.
"Rumah kami sudah tak layak huni! Mas Adhi susah bener dikasih tau kalo rumah kami itu kayak museum, sejak dibeli ngga pernah diutak-atik!"
Mama Maia meletakkan benang wol yang melilit-lilit di jarinya.
"Kok sepertinya putus asa sekali?" Mama kembali bertanya.

Maia lalu menceritakan segala keluh kesahnya, betapa ia sakit hati melihat tingkah polah tetangganya yang sibuk kipas-kipas saat arisan di rumah tipe 36-nya yang belum dirombak seperti rumah tetangga2nya yang lain. Maia juga tidak punya AC. Belum lagi komentar-komentar yang mengatakan cuaca saat itu seperti di Arab.
"Aku sebel banget, Ma," Maia menutup ceritanya.
"Ada yang bilang ngga kalau rumahmu jelek?" Mama bertanya.
"Yaa.. ngga sih , Ma, tapi dengan mereka sibuk kipas2 itu menyakiti perasaan Maia!" Maia seperti ngga mau disalahkan.
"Apa saat itu cuaca sedang tidak benar2 panas?" Mama bertanya lagi.
"Emang lagi panas banget sih, Ma.. kan udah 2 hari ngga turun hujan," Maia mengakui.
"Berarti tetangga2mu jujur, Mai," Mama berusaha menenangkan Maia yang terlanjur tersinggung oleh perlakuan tetangganya.
"Mereka tidak menyadari bahwa mereka telah menyakiti hati kamu. Lebih mulia jika kamu memaafkan orang yang telah menyakitimu, karena artinya kamu lebih "kaya" dari mereka. Mungkin mereka tidak biasa menenggang perasaan orang lain, kita seharusnya kasihan dengan orang seperti ini. Tapi diluar itu Mama bangga sama kamu, dengan kamu tidak membalas perlakuan mereka artinya kamu sudah bertindak dengan benar dan menabung amal," Mama seperti biasa menjelaskan dengan sederhana namun kena.
Tiba-tiba saja rasanya Maia ingin meminta maaf kepada semua orang yang barangkali pernah ia sakiti...

(renungan fiksi)


Kezaliman Adalah Kegelapan di Hari Kiamat

Banyak diantara umat Islam yang tidak menyadari bahwa dirinya telah
melakukan suatu perbuatan yang menyakiti orang lain lantas membiarkan
hal itu berlalu begitu saja tanpa meminta ma’af kepadanya atas
perbuatannya tersebut. Hal ini bisa disebabkan oleh ego yang terlalu
tinggi, menganggap hal itu adalah sepele, kurang memahami ajaran
agamanya sehingga tidak mengetahui implikasinya, dan sebagainya.
Padahal sebenarnya amat berbahaya dan akan membebankannya di hari
Akhirat kelak karena harus mempertanggungjawabkannya. Perbuatan
tersebut tidak lain adalah kezhaliman.

(http://www.mail-archive.com/daarut-tauhiid@yahoogroups.com/msg07731.html)

Tuesday, February 16, 2010

Komposiana, Wujud Cinta Lingkungan Warga Griya Melati.

Griya Melati, sebuah lingkungan perumahan yang jauh dari kesan mewah. Dari namanya yang mengambil nama bunga melati, perumahan ini memang diisi oleh bangunan-bangunan mungil. Jumlah KK yang mendiami perumahan ini tak lebih dari 230 KK. Namun walaupun kecil dalam jumlah, kecintaan dan kepedulian warga Griya Melati terhadap lingkungan sangat besar.


Awal dari wujud kecintaan ini adalah sebuah ide yang sangat sederhana, yaitu bagaimana sampah yang sudah dibuang warga tidak perlu diangkut oleh dinas kebersihan kota untuk ditimbun di tempat pembuangan akhirnya. Truk sampah yang masuk ke lingkungan perumahan sebanyak 2 minggu sekali sangat mengganggu warga terutama dari aromanya yang aduhai. Selain itu, truk pengangkut sampah hanya mengangkut sampah yang berasal dari sampah rumah tangga. Sampah berupa puing kayu, sampah kebun dan furniture yang tak terpakai tidak akan diangkut kecuali diberi tambahan biaya angkut. Hal ini menjadi masalah, karena di tempat pembuangan akhir kemudian sampah semakin menggunung menciptakan pemandangan yang kurang sedap.


Ide sederhana tadi ternyata menuntut pengorbanan dan kerja keras. Seorang warga menggagas dengan membiayai sendiri, mengembangkan tempat pembuangan sampah akhir warga menjadi sebuah bangunan yang dipergunakan sebagai tempat untuk membuat kompos. Adalah Tri Bangun Laksono (warga lebih mengenal beliau dengan sebutan Pak Sony) seorang Asisten Deputi Bidang Pencemaran Limbah Domestik-Kementrian Lingkungan Hidup, yang pada tahun 2004 mulai mewujudkan gagasannya. Barangkali bagi beliau hal tersebut biasa dilakukan dalam melaksanakan apa yang menjadi pekerjaannya sehari-hari, yaitu mengatasi sampah domestik di seluruh Indonesia. Namun sebiasa apapun itu, seluruh warga sangat menghargai usaha beliau yang dilakukan pada saat awal merintis, mengajak dan membuka kesadaran warga atas ancaman sampah terhadap lingkungan.


Pak Sony, seorang asisten Menteri yang dengan tenaga dan pikirannya mau terjun langsung mengajak seluruh warga untuk mengendalikan sampah yang terlanjur dianggap sampah. Ajakan beliau semakin menggaung ketika beliau dengan segala kerendahan hatinya mau menerima jabatan RW di lingkungan kami. Sosialisasi dilakukan melalui berbagai kegiatan warga, mulai dari arisan ibu-ibu, kegiatan bersepeda yang menjadi kegiatan mingguan bapak-bapak, sampai ke kegiatan pengajian di mesjid kami, Mesjid Nurul Ikhsan.

Himbauannya adalah untuk memisahkan sampah organik dan anorganik serta gerakan 4R (Reduce, Reuse, Recycle and Replace). Akhirnya setelah sekian lama, himbauan ini seakan telah melekat di hati seluruh warga. Sampai hari ini, warga Griya Melati sudah dapat mengolah 70% sampah rumah tangga untukdijadikan kompos dan kerajinan daur ulang. 70% dengan hitungan dari 23 gerobak sampah yang dihasilkan warga dan lingkungan berupa sampah rumah tangga, limbah rumput dan tanaman dari taman perumahan perminggunya, hanya 7 gerobak yang 'terpaksa' kami buang ke tempat pembuangan sampah akhir karena tidak dapat didaur ulang seperti limbah popok bayi (diapers).

Pembuatan kompos yang kami lakukan menggunakan teknologi yang sangat sederhana, bahkan bisa dikatakan tidak menggunakan teknologi sama sekali karena seluruhnya dikerjakan secara manual. Kompos yang kami kelola mempekerjakan 5 orang tenaga kebersihan, berhasil memberi tambahan kas warga yang seluruhnya dipergunakan sebagai tambahan penghasilan mereka ditambah dengan para security yang ikut memasarkan kompos Griya Melati tepat di pintu gerbang perumahan. Selain mengolah sampah organik, sampah anorganik yang mempunyai nilai jual seperti ember bekas, botol minuman kemasan, menjadi hak para tenaga kebersihan yang akan diambil sendiri oleh pengumpul. Sampah Styrofoam kami olah untuk dijadikan media tanam berupa pot. Selain kuat, pot ini lebih ringan daripada pot yang berbahan baku tanah liat.

Selain tenaga kebersihan yang terjun langsung dalam pembuatan kompos, seluruh warga melaksanakan perannya dalam menanggulangi sampah. Pak Ponirat, pensiunan fire-rescue DKI Jakarta, yang selama masa bhaktinya berusaha menyelamatkan jiwa orang lain dari ganasnya api, dalam masa pensiunnya beliau tetap menjadi penyelamat lingkungan dengan memberi informasi bagi setiap tamu yang berkunjung ke rumah kompos kami. Ibu Sarmila, yang dengan tangan dan fikirannya yang kreatif, berusaha mendaur ulang sampah menjadi produk yang dapat digunakan kembali. Para dosen yang seringkali mendapat undangan entah sebagai dosen tamu atau pembicara di seminar-seminar, meluangkan waktu 5-10 menit untuk khusus memperkenalkan perumahan Griya Melati sebagai masyarakat yang sadar lingkungan. Setiap warga yang mempunyai akses internet (RTRW-net) secara aktif mempromosikan setiap kegiatan melalui Blog atau melalui situs jejaring sosial, bahkan kami mempunyai website yang dapat diakses secara bebas (http://www.griyamelati.net/versi2/). Kegiatan bersepeda warga juga ikut mempromosikan nama 'Griya Melati' sebagai suatu komunitas dan membawa serta produk daur ulang di masing-masing sepeda.



Sementara saya yang seorang guru di sebuah SMP Negeri sebisa mungkin menggugah kesadaran anak didik saya dengan memperkenalkan produk daur ulang yang dapat dipakai sebagai perlengkapan sekolah yang mempunyai keunggulan berbahan kuat dan mempunyai aroma yang wangi karena terbuat dari bahan bekas refill produk pelembut dan pewangi pakaian. Setelah kenal dengan produknya, saya bawa anak-anak berkunjung ke tempat pengolahan sampah kami. Misi kami sekedar untuk menggugah kesadaran anak-anak sedini mungkin supaya tidak membuang sampah sembarangan dan selalu menjaga kebersihan di lingkungannya.

Usaha bahu-membahu dan tak kenal lelah seluruh komponen masyarakat Griya Melati ini menghasilkan buah yang manis. Selain perumahan kami banyak dikunjungi untuk dijadikan contoh pengolahan sampah komunitas perumahan, usaha kami juga dihargai oleh Pemerintah Kota Bogor dengan dinobatkannya Perumahan Griya Melati sebagai RW terbaik se-kota Bogor dalam pengolahan sampah warga. Artinya, semakin banyak orang mengenal kami, kami harap semakin banyak pula yang tergugah untuk kemudian mengupayakan pengolahan sampah seperti yang kami lakukan atau bahkan lebih baik lagi.

Jadi jika kemudian memelesetkan kompAsiana menjadi kompOsiana, saya hanya ingin menunjukkan bahwa terdapat komunitas pecinta lingkungan yang menghasilkan kompos di Perumahan Griya Melati, Kelurahan Bubulak, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Dengan segala kerendahan hati mudah-mudahan dapat diterima.

Saturday, February 6, 2010

Kenapa Kunamai Kamu Ilham...


setelah sembilan taun punya bayi lagi...awalnya kupikir cuma akan merepotkan dan menahan aktivitas yang terlanjur melaju. terbayang derita dan beban yang harus dibawa selama 9 bulan 10 hari, belum lagi akan menaikkan berat badan yang susah payah turun 10 kilo...

Ternyata kamu baik, kamu ga pernah bikin repot, bahkan kamu bikin aku santai dan makan dengan lahap tanpa perasaan bersalah. Awalnya kamu memang bikin aku mual dan sakit kepala, mungkin kamu mau ingatkan aku bahwa kamu mulai tumbuh. Kamu membuat aku minta dibawakan keripik pedas, makan pisang goreng hampir setiap hari dan sangat suka jajan bakso. Kamu membuat bibirku tersenyum terus, melihat semua masalah dengan lucu dan tanpa beban.

Kamu betah sehingga selalu berada dalam posisi tetap. Artinya masalah buat kita karena dokter akhirnya memaksamu keluar dengan cara bedah. Aku jelas takut teringat cerita di media tentang gagal operasi dan peristiwa yang terjadi sesudahnya. Aku ga mau kalau sampai aku ga diberi kesempatan membelai dan memelukmu. Di meja operasi aku sempat gemetar, terbawa cerita andai-andai yang buruk. Tapi aku lebih takut bila sampai rasa takutku membuat kamu takut juga, akhirnya kutarik nafas panjang, berdoa dan terus menyebut namaNya hingga tangis kecilmu memecah pagi yang cerah.

Aku ingin memberi nama yang istimewa dan baik buatmu. Karena banyaknya nama, aku sampai bingung untuk memilih satu. Sampai di umurmu yang 7 hari kamu harus ke rumah sakit untuk meningkatkan bilirubin mu yang rendah. Dalam perjalanan aku berfikir nama apa yang akan aku pakai untuk mendaftarkanmu... ayahmu usul namamu seperti pemain bola Iran Mehdi Mahdavikia.. aku suka nama itu, tapi di akhir ayahmu bilang tidak.. aku bingung lagi...

Sebetulnya aku punya satu nama (tapi saat itu aku lupa) jauh sebelum kamu lahir aku punya perasaan suatu saat aku akan punya anak laki-laki. Walaupun aku tidak terlalu suka menonton sepak bola tapi aku suka gaya dan nama pemain Turki Ilhan Mansiz.. tapi aku pikir pasti orang Indonesia akan salah memanggil Ilhan dengan Ilham.. mmm...
Ilham memang selalu aku tunggu buat mengalirkan apa yang ada di otak menjadi kalimat-kalimat yang bisa memberi makna paling tidak buatku. Ilham.. memberi aku kekuatan mematangkan ide, memberi aku keberanian untuk berbagi, memberi aku harapan akan membuat hidup ini menjadi lebih baik dan semakin baik. Ilham...

Sekarang kamu adalah my sweet Ilham, lewat matamu aku menemukan kekuatan, lewat senyummu aku menemukan kebahagian, lewat tingkahmu ideku selalu mengalir dan celotehmu membuat marahku berubah jadi tawa. My dear Ilham adalah keceriaan yang tak pernah habis, optimisme yang tak pernah berhenti, bahagia yang tak pernah putus. My Ilham, My Inspiration...

Friday, January 15, 2010

Di Ujung Penantian.

Hal yang sedang happening di dunia pendidik saat ini adalah cairnya tunjangan sertifikasi guru dan tunjangan fungsional guru bagi mereka yang belum PNS. Setelah tertunda kurang lebih enam bulan akhirnya rekening saya dan teman-teman bertambah. Jumlahnya? rekening saya bertambah hanya 10%nya dibandingkan teman-teman yang sudah lulus sertifikasi.

Walaupun jumlahnya kalah banyak, namun tetap saja hal tersebut sangat membahagiakan saya. Penantian panjang ini akhirnya berhenti. Liburan ini akhirnya saya bisa mengajak anak saya menonton film kesayangannya. membelikan sesuatu yang ia inginkan dan membayar sebagian tagihan yang sempat tertunda.

Reaksi teman-teman juga berbeda-beda. Karena jumlahnya yang "sangat banyak" beberapa teman-teman sampai gemetar melihat saldo atm nya bertambah. "saya ga pernah punya saldo sebanyak ini di rekening.." lalu dilanjutkan dengan senyumnya yang cerah. Ada lagi yang berniat menyelesaikan pembangunan rumah yang sempat tertunda, melunasi cicilan kendaraan, dan banyak lagi. Saya, walaupun saya tidak ikut menerima uang sejumlah itu, namun kebahagiaan yang terpancar dari wajah-wajah mereka membuat saya ikut senang.

Itulah fenomena para pendidik yang sedang berbagi kebahagian. Senyumnya jadi cerah, dan berpengaruh terhadap semangat kerjanya yang bertambah. Murid-murid ikut merasakan kebahagiaan para gurunya. Penantian yang lama dan meresahkan hilang seiring bertambahnya saldo mereka, dalam hati saya bertanya: 'kapan saya akan ada di tempat mereka?'. Semoga saja penghargaan yang mereka peroleh akan seiring dengan peningkatan profesionalisme dan kinerja teman-teman sebagai guru. Maju terus pendidikan Indonesia!!

Gado-gado.

Membayangkan makanan yang satu ini membuat perut saya bermain musik. Sayuran segar dengan guyuran bumbu kacang yang gurih, belum lagi pedasnya yang menggoyang lidah saat kita menikmatinya. Kombinasi bahan yang saling melengkapi, membuat gado-gado memiliki rasa yang unik dan bikin ketagihan. Harganya sendiri kalah jauh dibandingkan makanan bulat Itali yang namanya pizza, tapi rasanya boleh diadu!

Kalau boleh meminjam fenomena gado-gado di dunia pendidikan kita. Tenaga pendidik (atau sering kita sebut guru) merupakan orang yang dalam pekerjaannya memadukan keahlian dan pengetahuan untuk menyajikan sesuatu yang unik sehingga diminati oleh siswa. Karakteristik guru yang bermacam-macam bisa dipetakan melalui pumping teacher untuk memberdayakan kemampuan yang paling tepat dilaksanakan oleh seorang guru.

Namun seringkali pekerjaan dan keikhlasan seorang guru terganggu. Salah satunya adalah masalah STATUS. guru yang sudah diangkat menjadi PNS dan Non PNS atau Honor atau GTT (Guru Tidak Tetap). Apapun namanya itu, guru honor merupakan masyarakat guru terpinggirkan yang tersingkir dalam hal pelayanan. Padahal dalam hal beban mengajar dan beban pekerjaan, guru honor sangat diandalkan.

Pengorbanan para guru honor ini luar biasa. Ketika para PNS menjalani sertifikasi yang mewajibkan mereka mengajar 24 jam tatap muka, berapa banyak guru honor yang dipecat dari tempat mereka mengajar? kalaupun tidak dipecat (karena ukuran dipecat berarti mendapat pesangon) para guru honor ini dibuat tidak betah dengan tidak diberi jam mengajar, sehingga mereka akan mundur dengan sendirinya, keuntungan bagi pihak sekolah, tidak perlu memberi uang pesangon.

Hak mengikuti sertifikasi adalah hak semua guru yang memiliki jam mengajar dalam hal ini akktif mengajar. Yang menjadi pertimbangan untuk seorang guru bisa mengikuti sertifikasi adalah ijazah kesarjanaan, lama bekerja, usia.. itu diantaranya aturan yang saya baca dalam PP 14/2008 tentang tenaga pendidik dan kependidikan, tidak ada tulisan tentang status nya yang harus PNS. Namun kenyataannya tetap memandang status; "Guru honor belum bisa diajukan, Bu. Peraturannya belum ada untuk pihak sekolah mengajukan sertifikasi guru honor." Nah kan.. jadi dimana PP tadi kebenarannya?

Akhirnya status PNS menjadi tujuan akhir dan cita-cita para guru honor. Keadaan guru PNS yang SUPERIOR baik dalam perlakuan profesionalisme dan perlakuan tunjangan yang diterima, membuat para guru honor ingin mencicipi juga penghargaan pemerintah atas usaha mereka mencerdaskan kehidupan bangsa. Padahal sebetulnya status bukan merupakan hal penting jika saja niat pemerintah dalam menyamakan perlakuan tadi betul-betul dilaksanakan mulai dari tingkat pusat hingga ke tingkat satuan pendidikan atau tingkat manajemen sekolah. Kalau saja pemerintah mencermati hal ini, perlakuan istimewa yang diterima PNS hanya akan menempatkan mereka di zona aman. Jika zona aman berarti "tanpa melakukan apapun hidup saya akan terjamin" sangat membahayakan dunia pendidikan kita. Sementara di pihak lain para guru honor berjibaku untuk 400 ribu sebulan.

Dalam meracik gado-gado yang enak, pergunakan hanya bahan-bahan terbaik yang dipilih secara cermat. Bahan yang kurang baik hanya akan merusak cita rasa gado-gado yang unik tadi. Apapun statusnya, PNS maupun honor, secara profesional lakukan tugas dengan baik, saling dukung, saling bantu, singkirkan perbedaan agar dunia pendidikan kita tampil semakin baik dan dapat diterima secara global. Sebagai timbal baliknya berikan penghargaan yang sesuai dan tanpa memandang status.

What a Questionaire....

Pihak komite sekolah tempat saya mengajar baru-baru ini mengeluarkan kuisioner yang harus diisi oleh para guru, peserta didik dan orangtua. Salah tiga pertanyaannya adalah tentang guru idola, strategi pembelajaran serta gaya mengajar yang paling pantas dilakukan oleh para guru. Pertanyaan-pertanyaan ini sangat menggelitik saya.

"apakah anda adalah seorang guru yang diidolakan oleh murid-murid?" begitu kira-kira pertanyaannya.
Batin saya narsist banget kalau ternyata saya menjawab, "Ya, saya adalah guru idola."
jadi senyum-senyum sendiri saya.. dan bersyukur juga saya tidak termasuk golongan narsist tadi..

Pertanyaan lain tentang pelaksanaan strategi pembelajaran. Apakah saya sudah melaksanakan strategi yang baik di kelas.. kira-kira begitu. Lagi-lagi batin narsist kalo sampai saya menjawab sudah.. padahal yang penting adalah usaha kita untuk membuat pembelajaran jadi menarik, mudah dimengerti dan dipahami secara kontekstual oleh para siswa.

Terakhir pertanyaan tentang gaya belajar yang paling baik dilaksanakan. Ini sangat tergantung materi apa yang akan kita berikan, sedalam apa pemahaman yang harus dimiliki murid dan terkait sangat erat dengan strategi. Akhirnya begitu jawaban saya.

Diluar narsist atau tidak jawaban-jawaban yang saya berikan hari itu, yang pasti usaha agar murid bisa tertarik untuk belajar, peningkatan keahlian dan profesionalisme serta perbaikan diri adalah mutlak perlu agar kita sebagai guru benar-benar layak untuk diGugu dan ditiRu.