Friday, July 23, 2010

Singapura; Saat-saat yang aneh.


Asyiknya belajar sambil berwisata di Singapura memang indah, kenangannya membawa serta 20 murid-murid pilihan sebagai wakil sekolah juga sesuatu yang tak terlupakan. Capeknya juga masih terasa berminggu-minggu kemudian, belum lagi laporan yang harus kami buat dengan hati-hati dan cermat.

Namun dibalik itu semua ternyata ada juga kejadian aneh yang menyertai waktu kami disana.

Malam pertama saya tidur di kamar sering dikejutkan dengan bunyi kucuran air keran tiba-tiba. Saya berusaha berbesar hati, 'mungkin suara dari toilet kamar sebelah,' pikir saya, walaupun agak seram juga. Saya tidak berani mematikan tv sampai harus memasang sleep timer nya hanya supaya tidak sepi.

Setan jail...
Murid-murid saya sering mengeluh barang-barangnya hilang. Entah kamera, handphone atau benda-benda lainnya.
"Miz, kameraku hilang!" Alfi pagi ini membuat laporan pada saya.
"Kamu lupa nyimpennya barangkali," saya mencoba menenangkan.
"Saya simpennya di tempat tidur, Miz, baru saya simpen pas saya liat lagi udah ngga ada," wajahnya terlihat sedih.
"Nanti pulang sekolah kita cari lagi, ya?" saya berjanji dalam hati untuk menemaninya mencari kameranya yang hilang.

Esoknya ada lagi laporan kehilangan, kali ini pass key berupa kartu yang dimiliki tiap anak.
"Pernah ada yang minjem, Miz, naronya ga tau dimana," wajahnya sedih karena jika hilang dia harus mengganti sebesar 30 Sin $.
"Ketelingsut atau jatuh ke bawah meja barangkali, kamera Alfi juga ketemu kan kemarin?" saya kembali coba menenangkan, ingat kamera Alfi yang tiba-tiba muncul dari bawah lipatan jeans nya.
Belum habis kata-kata saya, tiba-tiba HP saya berdering, rupanya dari rekan guru pendamping, karena sedang membetulkan salah satu kostum siswa (hari ini waktu mereka menampilkan kesenian), salah satu murid saya yang menerima teleponnya.
"Kenapa Pak Odik?" saya bertanya pada Prilli yang tadi membantu saya menjawab telepon.
"Itu Miz, katanya kunci kamarnya ilang," Prilli menjawab.
"Lha kok bisa ilang terus masa nanya sama aku ya? emang aku bisa ngumpetin gitu?" saya sedikit geli, mungkin teman saya panik menyangka kuncinya tertinggal di luar dan saya sembunyikan karena untuk mengunci pintu dari dalam kita tidak perlu anak kunci.
Namun tak lama teman saya muncul dengan wajah yang masih sedikit pucat.
"Ketemu, Pak?" saya bertanya. Tanpa banyak bicara dia mengangguk.

Sepulang sekolah ada laporan lain lagi.
"Miz, HP ku kayaknya jatuh di bis," kali ini Fira.
"Innalillahi.. gimana kejadiannya?" saya tanya.
"Saya kan tadi pagi ketiduran, terus kayaknya HP nya jatuh, soalnya ga ada di tas," Fira tampak kebingungan.
"Ya udah saya laporan sama Pak Shaheful ya. mudah-mudahan HPnya masih rejeki kamu," ucapan terakhir saya disambut anggukan Fira.
Lalu saya ingat kunci teman saya yang sempat hilang tadi pagi.
"Pak, kuncinya ketemu dimana?" tanya saya penasaran.
"Ya, kan biasanya abis masuk pasti saya simpen di meja. Tadi pagi kok ga ada. Saya takut ketinggalan di luar, ga ada juga," dia menjelaskan kronologis kejadiannya.
"Terus saya Istighfar terus takut juga," katanya selanjutnya.
"SAya cari lagi sampai ke bantal segala! taunya pas saya angkat bantal kok agak berat, taunya ada di dalam sarung bantal!" dia menjelaskan dengan wajah bingung.
"Bapak lupa kali tadi malem nyimpen di bawah bantal terus kegeser-geser, masuk deh ke sarung bantal," saya berusaha logis.
"Iya kali," teman saya setuju sambil tetap dalam hatinya dia masih heran.

Ternyata HP Fira setelah ditanya ke perusahaan bis yang mengantar kami pagi tadi tidak menemukan HP milik Fira.
"Saya tadi sempet coba telpon Miz, pertamanya ga ada jawaban, tapi sekitarnya rame banget, pas yang kedua kali ada yang jawab suara cowo tapi ngomongnya aneh gitu Miz," wajahnya sedih.
"Ya udah, artinya kamu harus lebih hati-hati ya Fir sama barang bawaan kamu sendiri. Kalau perlu komunikasi sama orangtua kamu nanti pakai HP saya aja ya," saya berusaha menghibur.
Rupanya salah seorang murid saya yang lain, Ara, mencuri dengar:
"Sebenernya barang-barang aku juga sering ilang, Miz," lha ada lagi laporan barang hilang.
"Ilang gimana, Ra?" saya tambah bingung.
"Beneran Miz, kemarin tuh kamera aku, tadi nih, Miz, HP aku yang ilang, masa ketemunya di bawah kasur!" Ara dengan santai cerita pada saya.
"Masa ada yang jail di kamar kamu?" saya jadi heran.

Setiba di kamar, saya masih mendengar gemericik air yang sering tiba-tiba terdengar. Lalu dengan memberanikan diri saya telusuri asal suara. Saya sampai menempelkan telinga ke dinding kamar yang bersebelahan dengan kamar lain. Tapi kemudian saya ingat kamar sebelah kosong. Saya berusaha berani, lalu pandangan saya layangkan ke atas eternit, ke serangkaian pipa yang meintang di bawahnya. Ooo rupanya pipa pembuangan air dari lantai atas mengelir melalui kamar saya. Saya tersenyum sendiri dan malam itu saya tidur lebih tenang.

Sampai di Cengkareng saya sudah lupa tentang kehilangan-kehilangan tadi sampai ada satu tas yang tertinggal di trolley yang saya bawa.
"Ini ransel siapa?" saya berteriak pada anak-anak yang masuk bis Damri yang akan membawa kami ke Bogor, tak ada yang menjawab. Saat bis kami mulai berjalan, tiba-tiba Fira berteriak..
"Miz, ranselku ketinggalan!" saya lalu mengangkat ranselnya yang tadi ditinggalkan begitu saja di atas trolley. Fira tersenyum malu sambil bilang terima kasih.

Hal itu lalu saya ceritakan kepada teman saya,
"Fira tu ceroboh, Pak, kemaren HP nya, tadi ranselnya mau ditinggal. Kemaren kok banyak cerita kehilangan, ya? Jail juga ya mahluk2 luar negeri," kataku sambil geli.
"Kalo hilang sih mungkin aja memang salah taro kayak kartu anak yang ilang kemaren kan ketemu? kalo kejadian saya lebih aneh lagi, Bu," Pak Odik mengingatkan saya waktu kartu murid saya yang hilang ketemu dengan kondisi yang kotor talinya seperti terkena oli.
"Saya tiap malam selalu ngedenger pintu dibanting-banting, sering lagi," dia menyambung.
"Mungkin dari kamar-kamar lantai atas, Pak, kalo di atas pintunya gampang kebanting soalnya anginnya kencang.
"Iya, tapi saya pernah lihat penasaran pas bunyi 'Brukkk!' sekali saya intip keluar, jam 3 pagi! ga ada apa-apa! nah Ibu kan kamarnya ga jauh dari kamar saya, suka ngedenger ga suara pintu dibanting-banting?" teman saya bertanya ingin tahu.
Saya lalu ingat-ingat ketika di hostel apakah saya pernah mendengar pintu dibanting-banting...
"Pernah ga, Bu?" teman saya bertanya penasaran," sambil agak bingung saya menjawab,
"....ngga...," jadi...???

Singapura; "Cik Gu, muridnya tidak disiplin!"

Tingkat disiplin masyarakat Singapura jauh melampaui tingkat disiplin di Indonesia. Anak murid saya sangat merasakan itu sehingga selama di Singapura mereka tidak pernah menyulitkan kami, guru pembimbingnya. Tidak pernah sekalipun mereka terlambat pada waktu makan, waktu berangkat dan pulang sekolah, maupun ketika dibebaskan untuk berkeliling di suatu tempat, mereka pasti kembali tepat waktu.

Dalam hal makanan, jenis makanan yang kami makan (baik di hostel yang merupakan asrama sekolah maupun di kantin sekolah) adalah makanan bersertifikat sehat dari pemerintah. Namun karena kami terbiasa dengan makanan yang gurih, makanan disana kami rasa plain alias tidak terasa asin atau gurih. Kecuali jika sarapan kami berupa kari dengan roti cane (karena kebetulan kami seasrama dengan tamu dari India yang vegetarian), bumbunya yang kental luar biasa nikmat (jadi kangen... ^_^).


Mungkin karena kekurangan garam selama berhari-hari atau karena semalam nonton piala dunia sehingga kurang tidur, pada hari ketiga di Singapura kepala saya mendadak pusing berat. Wajah saya pucat dan hampir tidak bisa bangun dari duduk. Untung di sekolah tersedia klinik yang menyediakan obat-obatan.
Sepulang sekolah sekarang waktu kami tour ke tempat-tempat bersejarah di Singapura. Pemerintrah Singapura berupaya dengan keras agar masyarakat Singapura tidak lupa akan akar budaya yang terdiri dari campuran masyarakat Melayu, Tionghoa dan India. Setiap museum di Singapura gratis bagi para pelajar. Hari ini kami mengunjungi Masjid Sultan, Buddhist ToothRelic temple dan Sri Krishnan temple.

Seperti biasa, kami berangkat menggunakan bis yang disewa oleh pihak sekolah. Rasa pusing yang tiba-tiba menyerang dua jam lalu agak lumayan setelah diberi paracetamol dari pihak sekolah. Hari itu supir bis yang akan membawa kami agak lain penampilannya dari supir-supir bis yang pernah membawa kami. Wajahnya khas wajah orang India, berkumis tebal dan berkacamata hitam. Saya senyumi dia tak bereaksi (mungkin matanya yang tertutup kacamata hitam sedang memandang ke arah lain sehingga tidak melihat senyum saya). Semua murid saya ditambah dengan buddies (siswa Hua Yi yang ditugaskan ikut mengantar) sudah naik serta merta supir yang bertampang seram tadi berdiri dan mulai berteriak-teriak (tepat disamping kursi saya yang duduk paling depan).
"LISTEN !!" waduh teriakan pertamanya membuat kepala saya yang tadi lumayan jadi pening lagi.
"DO NOT MOVED FROM YOUR SEAT WHEN THE BUS IS MOVING, PUT ON YOUR SEAT BELT... bla.. bla.. bla..," si supir terus berteriak-teriak membuat anak didik saya ketakutan.


Peraturan berkendaraan di Singapura memang ketat. Kamera yang tersebar di tepi-tepi jalan membuat para pengemudi patuh dan takut untuk melanggar. Jika terjadi pelanggaran misalnya para penumpang yang berdiri saat kendaraan berjalan pengemudi akan diberi peringatan sampai dengan izin bekerjanya yang dicabut. Pantas saja teriakannya begitu keras.
Sampai di tempat wisata, kami tambah dibuat kaget, sang pengemudi bersuara halilintar tadi menghampiri salah seorang murid dan tampak bercakap-cakap, saya terlalu pusing untuk melihat siapa yang dia ajak bercakap-cakap. Tak lama sopir tadi menghampiri rekan kerja saya dan berkata:
"Cik Gu, muridnya tidak disiplin!" rupanya dia bisa bahasa Melayu.
"Tadi saya lihat murid cik Gu berdiri tapi dia tidak mau mengaku!" suaranya menggelegar.
"LISTEN!! I TOLD YOU ONE MORE TIME! DO NOT MOVE FROM YOUR SEAT! .... ," sebagian besar kata-katanya sudah tidak sanggup saya cerna.

Setelah tanya murid saya, ternyata yang tadi berdiri bukan salah satu murid saya melainkan salah satu buddies dari sekolah yang kami kunjungi. Itupun karena ingin membetulkan roknya yang merosot. Waktu harus masuk kembali ke bis, saya memberanikan diri balik menegur sang sopir:
"Sorry, Pak, that was not my student who stood,"
"Oo, not your student?" dia bertanya (kok seperti ngga percaya?).
"No, and she's having a trouble with her skirt," masih saya bela takut dia langsung menegur lagi.
"Oo, I will tell their teachers then, I'm sorry Cik Gu, it's the rule to... blablabla," intinya dia bilang cuma ingin mengikuti aturan yang ada, saya mengangguk-angguk. Akhirnya dia bilang:
"Oke Cik Gu, Indonesia bagus lah," seringainya muncul kontras dengan warna kulitnya. Dalam hati agak ilfil juga tapi hal itu bagus buat anak murid saya belajar disiplin dalam kendaraan.

Tak mau kalah dengan sang sopir, saya ikut-ikutan mengingatkan:
"Oke guys, kamera pengawas ada di mana-mana. Kalian lihat cctv di belakang sana? hati-hati, saya ngga mau kita kena masalah," saya berkata sambil menunjuk sebuah kamera cctv di belakang bis. Salah satu murid saya lalu nyeletuk:
"Itu bukan cctv Miz, itu kan kamera spion," katanya sambil menunjuk pesawat tv kecil di sebelah kursi pengemudi. Sambil sedikit malu saya berkata lagi:
"Yaa, pokonya kamu tertib, kameranya bisa ada dimana aja," guru memang harus punya jawaban untuk apapun ya... xixixixi

Thursday, July 22, 2010

Singapura: "My shoes is killing me."

Untuk memberikan kesan baik koper perjalanan saya mengunjungi Singapura dipenuhi dengan baju yang biasa saya kenakan untuk mengajar. Namun koper kembali saya bongkar, mengganti baju formal dengan kemeja-kemeja batik. Untuk praktisnya saya tidak membawa rok seperti yang biasa saya pakai ke tempat mengajar melainkan celana panjang hitam (warna yang aman dan tidak gampang kotor).

Termasuk sepatu (dan kaos kaki). Sebagian gaji saya bulan lalu sengaja saya sisihkan untuk membeli sepatu baru. Sepasang sepatu hitam standar yang biasa dipakai seorang guru perempuan di Indonesia. Biasa kita sebut vantoufel (pantopel), sepatu kulit tertutup dengan hak yang tidak terlalu tinggi.

Ketika waktunya mengunjungi sekolah tempat kami mengadakan pertukaran pelajar, sepatu baru saya yang masih mengkilat dengan manisnya menghias kaki saya.
Satu jam.. dua jam berkeliling area sekolah yang luasnya 5 kali sekolah tempat saya mengajar. Ketika waktunya tour sepulang sekolah, hari itu jadwal kami adalah mengunjungi Singapore Botanic Garden. Setelah Botanic Garden masih mengunjungi beberapa museum.
Semakin jauh berjalan sepatu baru yang masih menyesuaikan dengan kaki saya lama-lama membuat kepala pusing. Mr. Shaheful rupanya memperhatikan:
"Are you feeling OK?"
"My shoes is killing me,"
saya menjawab sambik mengurut-urut telapak kaki saya.
"So why you have to wear that shoes," Mr. Shaheful tampak heran.
"This is my teaching shoes. Because I have to come to your school so I chose this shoes," saya berkata lagi.
Lalu saya cerita di Indonesia (khususnya sekolah tempat saya mengajar) buat guru perempuan harus menggunakan rok dan memakai apa yang saya sebut teacher's shoes sebagai contoh buat murid-murid.

Penjelasan saya membuat Mr. Shaheful sedikit terbelalak karena di Singapore tak ada ketentuan khusus berpakaian bagi guru perempuan. Hari ini justru saya terbelalak terlebih dahulu ketika melihat seorang guru memakai pakaian 'you can see' ditambah selop. Atau seorang guru yang menggunakan high heel warna menyolok. Barangkali di Singapore aturan berseragam bagi murid sudah jelas dan tegas sehingga tak ada korelasi antara cara berpakaian guru dengan tingkat kepatuhan siswa untuk tidak patuh terhadap aturan berseragam. Karena hal tersebut maka tak ada perlunya membatasi jenis pakaian gurunya.
Demikian juga tidak ada korelasi antara jenis pakaian guru dengan tingkat profesionalisme guru. Guru di Singapura sangat profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai guru. Mereka tidak pernah terlambat apalagi meninggalkan kelas tanpa alasan yang jelas. Mengetahui hal tersebut ketika ada kesempatan akhirnya saya membeli sepatu 'flat' yang menjadi favorit saya.

Besoknya saya bertemu dengan Mr. Shaheful dengan bangga saya katakan:
"You can walk me anywhere, Pak, coz my shoes is not killing me anymore...." :D

Singapura; Esplanade, durian yang super besar vs buah durian.

Singapura menggeliat sangat cepat. Pembangunan terlihat di setiap bagian kota (atau negara). Hal ini dimaksudkan untuk membangkitkan kegiatan pariwisata yang menjadi salah satu andalan negeri Singapura.

Untuk menonton konser musik, orkestra, Singapura punya Esplanade. Sebuah pusat budaya dimana tersedia mulai dari hall berkapasitas 2000 tempat duduk, gedung pertunjukan terbuka, roof terrace dengan pemandangan ke arah marina bay, perpustakaan, food court and of course shooping mall. Bentuknya yang mirip potongan buah durian membuat esplanade juga dikenal dengan nama 'durian'.
Tapi yang membuat saya terkesan adalah "the tunnel". Jalur jalan kaki di bawah Esplanade yang menghubungkan Esplanade dengan stasiun MRT di raffles city dan 5 mall besar termasuk orchad.

Tapi pengalaman dengan buah durian (yang sesungguhnya) membuat saya sedikit malu. Kesukaan saya akan durian memang luar biasa. Tak ada buahnya, setiap ada makanan rasa durian menjadi pilihan utama. Saat berwisata ke Bugis, toko buah menawarkan harga yang sangat murah untuk buah durian yang ranum kuning menggoda. Belum lagi aromanya yang tajam menggelitik hidung. Entah karena memang aromanya demikian atau karena pengaruh keadaan suhu dan lain-lain, aroma buah durian di Singapura terasa lebih menusuk.

Bukan main sukanya hati saya dan teman saat diberi 2 box durian yang masing-masing berisi 6 biji buah durian. Sampai di hostel dengan tidak sabar saya buka dan dinikmati dengan santai di kamar. Entah bagaimana rupanya bau durian yang tajam tercium sampai luar kamar dan kebetulan 3 orang admin hostel sedang memperlihatkan kamar kepada tamu baru di sebelah kamar saya. Hati saya agak tidak enak juga dan tak berapa lama pintu kamar saya diketuk.

"Are you eating durian in your room?", sang admin bertanya apa saya makan durian di kamar, baunya memang tajam sekali, ngga mungkin berkelit lagi.
Sambil sedikit takut (didenda) saya jawab;
"Yes..yes.. but I'm sorry i didn't know that its not allowed...what should I do?" sambil memperlihatkan muka yang sedikit memelas.
Admin tadi jadi kehilangan kata-kata, temannya lalu berkata:
"The smell is very strong, I'm afraid that nobody wants to rent this room," sambil mukanya ga enak dilihat.
Dalam hati kenapa ga sekalian memasang gambar durian dicoret seperti gambar rokok dicoret untuk NO SMOKING IN THE ROOM yang tertempel di balik pintu kamar.
Otak kreatif saya jalan lagi,
"Gini lah mister.. I'll still be here for 5 days, so the smell will be gone laahh.. i will open the door and windows to remove the smell.." mukaku tetep tanpa dosa. Brina (salah satu murid yang kebetulan sedang ada di kamar saya) sampai cengar cengir melihat kesialan saya.
Rupanya sang admin jatuh kasian juga;
"do you still have the durian?" dia tanya lagi, dan cepat saya jawab: "NO NO NO," (memang duriannya sudah habis saya santap).
Dia lalu berkata lagi;
"Next time if you want to eat durian please do outside the room ya.. in the open air," kira-kira begitu caranya untuk meminta jika lain kali saya ingin makan durian harus dilakukan di udara terbuka. Setelah itu pergilah sang admins tadi.

Sambil masih sedikit tegang saya langsung sms teman di kamar lain untuk segera mengenyahkan sisa buah durian di kamarnya takut kalau para admin tadi akan lewat juga ke depan kamarnya. Dan malam itu saya tidur dengan jendela nako yang terbuka semua.

Rupanya teman saya lebih beruntung, malam itu dia tidak kena tegur gara-gara durian. Tapi entah karena sisa durian yang masih ada atau karena memang ada buah durian, saat masuk bis yang akan mengantar kami ke sekolah bau durian menyeruak begitu tajam. Langsung mata saya melirik curiga pada ransel teman saya,
"Pak, duriannya belum habis?" saya bertanya sambil menatap ranselnya penuh curiga.
"Belum, ini saya bawa di tas," dengan polos teman saya mengaku.
"Buang..buang.. Pak, di bis juga ga boleh bau duren kayak gini!" aku berkata sambil sedikit berbisik takut ketahuan sang driver bis. Sontak teman saya melompat turun lagi dari bis dan membuang kotak duriannya yang masih tersisa. Sayang memang, tapi apa mau dikata, tanah orang lain, kultur dan kebiasaannya juga berbeda. Sebagai tamu kita sebaiknya manut agar tidak terjadi salah paham.

Saya ceritakan pengalaman ini ke Mr. Shaheful, guru dari Hua Yi yang hari itu menemani kami tour setelah pulang sekolah. Saat tiba di Marina Bay kami turun untuk mengambil gambar merlion yang beberapa hari lalu sedang mandi. Saya terpisah dari Mr. Shaheful dan tiba-tiba 2 orang murid saya mendekat sambil menyerahkan eskrim yang bentuknya seperti potongan kue bolu sambil berkata,
"Miz, ini dari pak Shaheful."
Warnanya kuning, aromanya... DURIAN!! lalu pandangan saya menyapu mencari teman saya, ternyata di tangannya sudah ada potongan eskrim yang serupa, tampangnya kaget sambil geli. Rupanya dia masih trauma dengan kejadian durian saya. Takut tiba-tiba dia didatangi polisi dan mengambil eskrim duriannya.
'Masih mending kalo cuma diambil, kalo harus bayar, Begimana??' (teman saya setelahnya bercerita rupanya dia betul-betul takut kena denda :))

Lalu pandangan saya mencari Mr. Shaheful yang dari jauh tampak cengar-cengir mentertawakan kekonyolan kami... Jail betul...*_*

Singapura; "Let's check your temperature!"


Setiap hari Minggu pertama di bulan Juli diperingati sebagai Youth Day untuk menghargai para generasi muda di Singapura. Youth Day diperingati dengan cara mengadakan pertandingan antar kelas dan kegiatan yang bersifat kegiatan di luar ruangan, mungkin seperti class meeting di sekolah-sekolah Indonesia. Entah karena mungkin hari libur yang jatuh pada hari Minggu kemuadian diganti hari Senin, yang pasti rombongan pertukaran pelajar kami baru dapat mengunjungi Hua Yi Secondary School pada hari Selasa, 6 Juli.

Pagi hari dengan perbedaan waktu satu jam, dalam keadaan masih gelap kami pergi ke sekolah menggunakan bis yang dikirim pihak sekolah ke asrama tempat kami menginap. Walaupun langit masih gelap, jam kami menunjuk pada angka 7. Tiba di sekolah kami dibawa menuju hall, sebuah ruangan besar dimana kami diajak untuk flag rising and pledge taking ceremony. Dalam acara tersebut walaupun tidak ada pengibaran bendera seperti di Indonesia, semua warga sekolah wajib menyanyikan lagu kebangsaan Singapura "Majulah Singapura" dan menyatakan semacam janji atau sumpah sebagai warga negara Singapura bersama-sama.

Kegiatan setelahnya...temperature taking; "Let's check your temperature!", begitu Mr. Lee, guru yang bertanggung jawab atas upacara hari itu berbicara di depan mikrofon. Semua murid mengeluarkan termometer mereka dan HAP.. 3 menit kemudian setiap ketua kelas mencatat nomor yang tertera dalam setiap termometer warga kelasnya. Hal ini dilakukan dua kali sehari.

Rupanya hal ini berhubungan dengan upaya pemerintah Singapura dalam mencegah menjangkitnya virus H1N1. Sampai-sampai temperature taking ini berlaku wajib bagi semua warga di semua sekolah Singapura yang tertuang dalam kebijakan Kementrian Pendidikan Singapura.

Berbeda dengan di Indonesia, influenza dianggap penyakit ringan yang akan sembuh sendiri dan kita tidak harus sampai meninggalkan aktivitas hanya karena penyakit ini menyerang. Padahal obat flu satu-satunya adalah istirahat. Kadang hampir semua warga kelas menderita flu, termasuk saya sebagai guru apabila pola makan sudah tidak teratur dan kurang istirahat akan juga tertular virus ini.
Singapura mengharuskan mereka yang mempunyai gejala flu segera mengobati dan melindungi dirinya (dan orang lain) dengan menggunakan masker. Poster-poster mengenai cara memelihara diri sendiri untuk tidak tertular dan menularkan flu banyak terdapat di seputar sekolah, terutama di daerah kantin yang paling banyak dikunjungi dan memungkinkan banyak orang untuk berinteraksi.

Begitu sadar pemerintah dan warga Singapura bahwa satu-satunya mencegah penyebaran virus ini adalah dengan menghindari timbulnya penyakit dan penanganan segera terhadap kasus yang timbul. Kesehatan warga sekolah dijaga dengan menyediakan makanan sehat bersertifikat A atau B dari pemerintah di kantin sekolah. Sertifikat itu sendiri diperoleh melalui standar uji yang harus dibayar cukup mahal oleh pemilik gerai makanan kepada pemerintah. Karena memperoleh dengan harga yang tinggi, pemilik kantin berusaha sangat keras untuk tetap menjaga kualitas kantin agar sertifikatnya dapat dipertanggungkawabkan.

Mmmm... seandainya pemerintah kita atau paling tidak sekolah menerapkan standar kesehatan seperti itu, warga sekolah barangkali akan lebih sehat, generasi muda kita pun akan tambah semangat.
Hari ini kami masing-masing dapat sebuah termometer sebagai.. souvenir... ;)

Wednesday, July 21, 2010

Singapura; "The Merlion is Taking a Shower"


City tour (atau country tour?) Singapura yang sangat mungil dibanding Indonesia memungkinkan kita berkeliling Singapura dalam satu hari. Hari kedua di Singapura, kami diajak berkeliling mengunjungi situs-situs bersejarah di Singapura. Mulai dari patung Raffles sampai gedung parlemen, mulai dari Singapore Flyer hingga Marina Bay Sands dengan sky parknya. Selain itu melewati juga tempat-tempat belanja di Singapura yang luar biasa.

Tentu saja belum lengkap tanpa mengunjungi The Merlion, patung singa dengan buntut ikan. Sejarah mahluk setengah singa setengah ikan ini bermula ketika Pangeran Sang Nila Utama saat ia menemukan kembali Singapura di tahun 11 M, seperti yang tercantum dalam “Sejarah Melayu”. Ekor ikan sang Merlion melambangkan kota kuno Temasek (berarti “laut” dalam bahasa Jawa), nama Singapura sebelum sang Pangeran menamakannya “Singapura” (berarti “Kota Singa” dalam bahasa Sansekerta) dan juga melambangkan awal Singapura yang sederhana, yaitu sebagai perkampungan nelayan.

Pemandu kami adalah Mr. Shoon, seorang guru sejarah di Hua Yi Secondary School, sekolah yang kami kunjungi untuk studi banding kali ini. Mr. Shoon sangat baik menjelaskan situs-situs di Singapura dan tipikal orang yang sangat serius. Ketika tiba melintasi patung Merlion, betapa kecewanya kami ketika seluruh badan merlion ditutupi oleh plastik biru, sehingga rencana semula kami untuk sekedar berfoto di ikon kota singa ini batal. Mr. Shoon bilang bahwa ; "I'm sorry we can't see the merlion because the merlion is taking a shower," saya tersenyum lalu tertawa ketika Mr. Shoon bilang "True..true.. he is taking a shower". Saya pikir orang serius seperti Mr. Shoon bisa juga bercanda ketika mengatakan merlionnya sedang mandi. Namun tak lama tawa saya pecah tambah keras ketika membaca tulisan "SORRY THE MERLION IS TAKING A SHOWER", rupanya Mr. Shoon membaca papan petunjuk yang menyatakan merlionnya sedang mandi... berarti, Singaporean lucu juga untuk menyatakan merlion sedang dibersihkan dalam rangka peringatan kemerdekaan Singapura pada 9 Agustus mendatang... ^_^

Singapura; Negara Tanpa Klakson dan Polisi.

Betapa beruntungnya saya ketika sekolah menugaskan saya dan salah seorang rekan untuk mendampingi 20 orang siswa mengikuti pertukaran pelajar ke Singapura. Persiapan saya lakukan termasuk berbagai kebiasaan yang berlaku di Singapura.

Namun sesiap apapun mental saya, ternyata ketika pertama kali menginjakkan kaki di Changi Airport, Singapura membuat saya kagum. Saya bak orang desa yang baru melihat kota terlebih baru pertama kali ini saya berkesempatan melihat negeri lain.
Kenapa Singapura? Secara umur, luas wilayah dan jumlah penduduk, Singapura kalah jauh dari Indonesia. Singapura melepaskan diri dari Malaysia pada tahun 1965, memiliki penduduk kurang lebih 4 juta jiwa, luas wilayah 700 km2. Bandingkan dengan Indonesia yang merdeka sejak tahun 1945, memiliki penduduk kurang lebih 234 juta jiwa dan jika digabungkan luas wilayah 5 pulau utamanya adalah sekitar 1756.37 km2 belum termasuk ribuan pulau yang tersebar di seluruh wilayahnya.
Singapura juga bukan termasuk negara OECD yang merupakan kelompok negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan terpesat di dunia (karena alasan tertentu).

Dalam waktu yang sangat cepat Singapura berkembang dari sekedar kampung nelayan menjadi sebuah negara megapolitan. Pandangan pertama saya jatuh ketika melihat kendaraan di Singapura memiliki umur tak lebih dari 5 tahun. Otomatis yang saya lihat hanya kendaraan bagus di jalan raya. Kendaraan yang out of date hanya terdapat di proyek-proyek pembangunan yang menggeliat di setiap sudut.

Selain mobilnya yang bagus, rupanya pengemudi di Singapura mempunyai kesadaran tinggi untuk tertib di jalan raya. Masyarakat Singapura sangat menghargai pejalan kaki. Sangat mudah buat saya yang sedikit phobia menyeberang jalan untuk melintas di jalan-jalan Singapura. Setiap Zebra Cross artinya bebas buat kita menyeberang tanpa harus tengok kiri dan kanan, pengemudi lah yang mengurangi kecepatan dan tengok kiri kanan apabila akan melintasi zebra cross. Garis putus-putus di setiap perempatan artinya kita dapat menyebrang setelah lampu menyeberang berubah menjadi hijau. Untuk menyalakannya terdapat tombol di setiap tiang lampu lalu lintas yang harus kita tekan apabila akan melintas.

Saking tertibnya lalu lintas disana, selama seminggu berada di Singapura, hanya 3 (tiga) kali saya mendengar suara klakson dibunyikan. Selain itu tidak pernah sekalipun saya lihat polisi yang (seperti di Indonesia atau negara lain) sibuk mengatur jalan raya. Mungkin selain tingkat kesadarannya yang tinggi, masyarakat Singapura selalu diawasi melalui kamera-kamera pengamat. Polisi akan segera datang bila diperlukan. Sekali kami melihat polisi pada saat menyelesaikan kecelakaan di jalan raya. Dan walaupun kendaraan yang mengalami kecelakaan masih melintang di jalan raya, sama sekali tidak menimbulkan kemacetan yang berarti. Saking jarangnya ketemu polisi, teman saya begitu excited sampai histeris saat ketemu satu polisi yang sedang dalam perjalanan pulang.

Padahal semua orang seakan berlari di Singapura. Berjalan pun dengan kecepatan tinggi. Namun dalam berkendara, masyarakat Singapura begitu sabar menunggu giliran. Tidak seperti pengalaman saya pagi tadi yang diklaksoni gara-gara angkot yang yang saya tumpangi berhenti sembarangan. Hal yang justru saya kangeni ketika berada di Singapura... :)