Saturday, January 31, 2009

Protes..

Finally ada hari yang berbeda dengan hari-hari biasa. Ini terjadi hari Jumat yang lalu.

Ketika jam istirahat, saya dan Miz. KK (guru B. Inggris yang kebetulan GTT) sedang berbincang di ruang lab. bahasa tiba-tiba dikagetkan oleh datangnya serombongan anak-anak kelas 7. Seluruh anggota kelas mendatangi lab. bahasa.

"Miss.. kenapa Miss ga mau ngajar kita lagi??" salah seorang bertanya kepada Miz. KK.
"Ngga mau kenapa?" Miz KK malah ikutan bingung, pasalnya tak ada pemberitahuan dari siapapun tentang perubahan jadwal mengajarnya.
"Ini liat, Miss, diganti sama pa **********, kita g mau MIzz..." wajah mereka tampak memelas sambil memperlihatkan jadwal pelajaran yang baru..
"Gini aja .. Nanti saya bicarakan dulu dengan kurikulum ya.. ,"Miz KK berusaha tenang.
"Tapi Miss.....," mereka masih tampak tak puas, tapi akhirnya hanya bisa pasrah.

"Wah.. saya ga tau apa-apa soal ini Bu..," Miz KK bilang pada saya.
"Not even from your coordinator?" saya sedikit tak percaya.
"Not even from her.. i only teach one class. I lost 2 classes..." she sighed.. menarik nafas panjang.
Yang biasanya kami lakukan adalah.. diam bak emas..

Akhirnya kami berdua mencari kepastian tentang hal tersebut ke ruang guru. Disana terjadi kehebohan karena ternyata tak seorang pun diberitahu adanya perubahan jadwal mengajar tersebut. Whattt???
Tapi hal tak layak itu saya biarkan lewat karena ada hal yang menarik lain.

Dua orang walikelas menerima protes dari anak-anak kelasnya.
"Mz. KK, anak-anak tadi tanya sama saya, katanya salah mereka apa sampai Miss ga mau ngajar mereka lagi?" salah satunya berkata.
"Anak-anak saya juga Miss, malah mau pada protes sama Principal lo," yang lain menguatkan cerita rekannya.
"Aduh, maaf Bu, saya baru tau dari anak, jadi 'kumaha atuh' Bu?" Miz.KK bingung.

Tak ingin lama dalam kebingungannya, Mz. KK langsung menuju ke ruang kurikilum. Ternyata disana ia menemui sejumlah guru yang juga ingin menanyakan tentang 'kebijakan' pembuatan jadwal baru. Akhirnya setelah menunggu beberapa saat Mz. KK punya kesempatan BICARA.

Ternyata alasan PENGGESERAN tersebut karena pa *********** harus tatap muka dengan siswa 24 jam pertemuan, dalam rangka sertifikasi yang didapatnya.

Mz. KK ditawarkan untuk team teaching dengan pa ************, Mz. KK menolak.
(Beberapa waktu lalu Mz. KK pernah bekerja sama dengan beliau. Hasilnya bukan team work yang didapat Mz. KK melainkan menjadi ANDALAN dalam pengertian negatif).

Mz. KK 'dihibur' dengan janji tahun pelajaran yang akan datang mendampingi guru TIK RSBI yang wajib disampaikan dalam bahasa Inggris. Mz. KK menolak.
(Mz. KK kuliah di Fakultas Pendidikan jurusan B. Inggris. Mengajar mata pelajaran lain diartikan tidak profesional olehnya).

Hal ini terbawa sampai meja pa KEPSEK karena bagian kurikulum 'tidak bisa memutuskan' sendiri.
Mz. KK dihadapkan dengan pa KEPSEK.

"Pa ********* harus TM 24 jam, pa, syarat sertifikasi guru," kata bagian kurikulum.
"Team teaching bagaimana?" Pa Kepsek mencari solusi.
"Maaf pa, saya tidak mau saling mengandalkan," diplomasi singkat Mz. KK.
"2 kelas protes ya, Bu?" Pa Kepsek ingin penjelasan.
"Ke walikelas masing-masing dan langsung pada saya juga," Mz. KK memberi penjelasan.
"Tapi bagaimana pa dengan.....," kurikulum berusaha meneruskan kebijakannya, tapi dipotong oleh pa Kepsek.
"Kita bicara soal kepentingan anak, pa. Jika anak sudah merasa nyaman dengan seorang guru dan menolak untuk diajar guru yang lain, kenapa kita harus memaksakan?" ...

Two thumbs up buat Pa Kepsek. Akhirnya Mz. KK masih bisa bersama dengan murid-muridnya. Semoga saja kebijakan-kebijakan Bapak yang selanjutnya tetap memihak pada KEPENTINGAN SISWA.

Saya kemudian berfikir.. apakah diam itu tetap emas?

Friday, January 30, 2009

Wortel, Telur dan Bubuk Kopi...

Beberapa waktu yang lalu, dalam pelatihan rutin peningkatan profesionalisme guru, pemberi materi saat itu memberikan filosofi wortel, telur dan bubuk kopi yang bila kita kaji maknanya, bisa memberikan kontribusi yang baik dalam setiap langkah kita.

Ketiga bahan makanan ini kita beri lingkungan yang sama.. boiling water, air mendidih. Walaupun diberi perlakuan yang sama yaitu 'dicemplungkan' ke dalam air mendidih, ketiganya memberikan respon yang berbeda-beda.
WORTEL, yang pada awalnya berwarna oranye segar dan renyah cenderung keras dalam keadaan mentah, pada saat masuk ke dalam air mendidih semakin lama akan semakin lembek karena terlalu banyak menyerap air dan berwarna layu.
TELUR, walau diluar terlindung oleh cangkang yang cukup kuat, dalamnya cair dan memiliki protein tinggi. Semakin lama dia ditempatkan dalam air mendidih, telur akan semakin keras dan keras. Pernah saya baca dalam permainan anak tradisional 'adu telur', anak-anak ini merebus telurnya berhari-hari agar menjadi sekeras batu. Jika sudah demikian jangan tanya gizinya.
BUBUK KOPI, saat masuk ke air mendidih, air yang tadinya bening akan berubah menjadi sewarna dengan kopi dan harumnya membuat kita ingin menyesapnya. Jika kemudian kita tambah dengan gula dan susu akan tambah nikmatnya.

Intinya, pada saat kita memasuki lingkungan yang baru, lakukan penyesuaian dengan lingkungan baru kita.

Jangan seperti WORTEL yang semakin lama semakin lembek karena terpengaruh oleh lingkungan sekitar yang belum tentu baik buat diri kita. Jika kita sudah kemudian menjadi 'layu' kita akan kehilangan tujuan dan prinsip untuk menjadi lebih baik. Kasarnya sih orang bilang jadi "euweuh kahayang", tak ada keinginan untuk maju.

Jika kita berbuat seperti TELUR.. terlalu mempertahankan prinsip pribadi dan menutup diri terhadap keadaan sekitar, kita akan menjadi "keras hati". Jika kita terlalu 'keukeuh' pada prinsip akan menjadikan dunia kita sempit, sesempit cangkang telur.

Berperilakulah seperti BUBUK KOPI, memberi warna, memberi kenikmatan dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Wednesday, January 28, 2009

Instead of saying NO...

Hari ini seperti juga hari-hari yang lain. Di ruang tempat berkumpul para pendidik ini terjadi serangkaian rutinitas sosial antar mereka. Sekumpulan sedang diskusi tentang anak didik, sekumpulan lain membolak-balik contoh berkas untuk sertifikasi, sementara yang lain asyik dengan santap siang diselingi dengan obrolan ringan tentang keluarga. Sementara saya yang masih 'euphoria' menjadi digital immigrants sibuk browsing untuk sedikit mencari 'pencerahan' atas banyak pertanyaan selama ini.

Selintas pak Kepsek masuk ke ruangan, sepertinya beliau hendak melakukan briefing. Wajah-wajah di sekitar saya mulai tampak berubah. Ada yang senyum, ada yang tampak sedikit cemas, ada juga yang berkelakar dengan lantang,"SIAP... Beri salam!" seperti biasanya murid pada saat ada guru masuk kelas.

Selanjutnya (walaupun suara pa Kepsek terdengar jelas melalui pengeras suara..) yang disampaikan oleh beliau samar-samar saja saya dengar...

"Jadi.. saya TEGASKAN.. tidak ada seorang gurupun di sekolah ini yang MENJUAL buku dalam bentuk apapun kepada anak didik!"
Saya terkikik... membaca mail berisi joke-joke ringan... Lalu berfikir.. bagaimana ya kalau belajar tanpa buku? Ooh.. ada e-book... tapi bagaimana mengakses dan mencetaknya? Berarti guru harus paham betul teknologi komputer ya...

"HP... tidak diperbolehkan dibawa ke dalam kelas! Pada saat anak masuk lingkungan sekolah, semua HP DISIMPAN dalam loker yang disediakan di dekat gerbang sekolah dan diawasi oleh guru piket!"
"padahal mah ga perlu sampai begitu, ya? cukup peringatkan aja anak jangan bawa HP kamera... soalnya kalo..bla..bla..bla..." sedikit saya mendengar bisik-bisik dari rekan yang duduk di sebelah saya.

"Tip-Ex tidak diperbolehkan untuk dimiliki siswa! Jadi jika Bapak dan Ibu melihat ada siswa yang membawa Tip-ex, DISITA saja..."
Waduh.. sampai Tip-ex penghapus itu juga penting banget dibicarakan??

Selebihnya saya kurang mendengar (apalagi memahami) apa yang kemudian disampaikan oleh beliau. Saya lalu sibuk dengan pikiran saya sendiri. Saya akhirnya memahami kenapa anak-anak merasa sangat terkekang, bak hidup dalam penjara jika masuk ke lingkungan sekolah. Sekolah yang seharusnya memberi kenyamanan pada anak, menjadikannya mudah dalam menyerap ilmu dan menciptakan generasi yang bermoral tinggi.

Pada dasarnya setiap anak diciptakan dengan fitrah yang baik. Lingkungan dimana ia dibesarkan ikut mempengaruhi dalam perjalanan seorang anak menjadi dewasa. Jika pada usia rentan anak sudah merasa terkekang, suatu saat akan terjadi pemberontakan dalam bentuk pelanggaran terhadap 'aturan' yang ada. Jika terus terjadi seperti ini, mereka akan menganggap pelanggaran sebagai aktualisasi diri, protes dan sesuatu yang 'perlu' dilakukan. Akhirnya terjadilah "adanya aturan adalah untuk dilanggar".

Instead of saying NO why don't we try to explain about IF and THAT WILL...

Apa yang sebenarnya yang ditakutkan para orangtua dengan anak yang membawa HP dengan fitur lengkap disertai kamera? PORNOGRAFI.. Kita para orangtua seringkali naif dengan menganggap setiap HP kamera akan mengakses gambar (bahkan film) yang tidak senonoh. Padahal, pelarangan hanya akan membuat mereka makin penasaran. Sebaiknya tanamkan moral melalui IMTAK secara terus menerus (karena anak lebih mudah memahami dibanding orangtua) agar anak akhirnya memiliki SELF PROTECTION terhadap apa yang belum (dan tidak) boleh mereka lakukan.
Apakah kemudian tidak terfikirkan oleh kita, dengan menggenggam HP yang terhubung dengan internet, bahan pembelajaran setidak menarik apapun akan menjadi lebih menarik dan mudah dicerna oleh anak? Berikan pengertian dan TANGGUNGJAWAB moral kepada anak jika mereka mengakses hal-hal yang tidak baik akan menjadikan mereka generasi yang kurang baik pula dan berpengaruh terhadap pencapaian cita-cita mereka.

Penciptaan Tip-ex untuk menghapus secara rapi kesalahan penulisan dengan ballpoint memang seringkali disalahgunakan dengan digoreskannya di tempat lain seperti meja, kursi bahkan di tembok. Jika kita mau berbaik sangka, pelarangan membawa Tip-ex ini akan membuat anak lebih berhati-hati dengan tidak membuat kesalahan yang akhirnya harus dihapus. Namun tetap saja jika tidak secara bijak cara menyampaikannya, coret moret dengan tip-ex malah akan menjadi ajang pemberontakan tadi.

Sekali lagi... sampaikan pengertian.. IF you do that, THAT WILL...
sekarang pertanyaannya adalah, apakah perlu seorang psikolog untuk menyampaikannya? atau cukup seorang guru yang bijak dan dicintai anak-anak yang dapat MENGGUGAH rasa sayang terhadap diri sendiri dan rasa memiliki semua yang ada di sekolah?

Dunia Pendidikan.. PNS Vs GTT.

Saya sangat tidak menyangka dunia pendidikan kita ternyata kena IMBAS resesi global. Dan apa yang menjadi cara untuk menyelesaikannya (di banyak sekolah) adalah pengurangan pegawai.

Mungkin gara-gara seminar minggu lalu judul tulisan ini menggunakan Vs segala. Vs atau VERSUS berasal dari bahasa Yunani yang dipahami sebagai sesuatu yang berseberangan atau berlawanan. Kenapa lalu ada istilah PNS Vs GTT??

Di sekolah (terutama sekolah negeri) terdapat 2 GOLONGAN guru. Yang pertama adalah guru PNS, yaitu guru yang setiap bulannya mendapat gaji dari pemerintah, mendapat tunjangan dari pemerintah, mendapat kesempatan untuk sertifikasi (didahulukan) dan (sebelum adanya seruan pembebasan SPP hingga tingkat SMP), mendapat tambahan pendapatan, yang disebut uang KESEJAHTERAAN dari komite sekolah, mendapat kesempatan (didahulukan) untuk mengikuti penataran, pelatihan, seminar, workshop dan peningkatan profesionalisme lain, medapat kesempatan (didahulukan) untuk memegang jabatan lain selain mengajar (yang otomatis mendapat tambahan bayaran juga).

Di sisi lain terdapat golongan GTT atau GURU TIDAK TETAP atau lebih terkenal dengan istilah guru HONOR. Karena statusnya yang dinyatakan "TIDAK TETAP", GTT mendapat honor 'tidak tetap' dari sekolah (karena jumlahnya berbeda di tiap sekolah, tidak ada juklak resmi tentang berapa seorang guru honor harus dibayar), jatah sertifikasi menunggu PNS habis karena sifatnya yang (katanya..) menunggu giliran, sifatnya yang menjadi PENGGANJAL kekurangan jam mengajar guru PNS yang sekarang ada mungkin besok TIADA. Untuk diikutsertakan dalam kegiatan pelatihan atau seminar atau workshop dan kegiatan peningkatan profesionalisme lain, seorang GTT hanya bisa menjadi PENGGANJAL apabila guru PNS berhalangan, dianggap beresiko jika PNS kurang menguasai materi seminar atau sang GTT harus bersedia mengorek KOCEK SENDIRI demi ilmu yang ingin didapatnya.

Ketika sekolah-sekolah negeri kini hanya bisa berharap dari dana BOS yang turunnya bagai menanti hujan di saat musim kemarau ini, GTT merupakan orang-orang di baris terdepan yang siap dikorbankan. Tak perduli walaupun GTT sangat dicintai oleh anak didik atau mempunyai kemampuan yang lebih baik dibandingkan rekan2 PNS, yang mereka lihat adalah dengan mengeluarkan gaji untuk GTT merupakan suatu PEMBOROSAN. Barangkali para pejabat di sekolah lupa, ketika memproses input berupa anak didik, apabila mesin penggodoknya ternyata bermasalah, maka jangan mengharapkan output atau hasil yang sempurna.

Apakah sekarang guru PNS tidak melakukan pemborosan? Wallahu alam bissawab...

Ketika pada saat pembentukan awal RSBI dinyatakan bahwa guru yang mengajar di RSBI harus lulus TOEFL dengan point diatas 500... Minimal pasif berbahasa Inggris.. Dapat menggunakan ICT dalam pembelajaran. Dengan yakinnya saat itu juga dinyatakan 'bagi guru (GTT dan PNS - tanpa dibeda-bedakan -) yang merasa tidak memenuhi persyaratan tersebut, silahkan mengejar atau mundur teratur...'. Ternyata semua tidak terjadi, yang terjadi adalah... 'siap-siap para GTT...diRUMAHkan...'.

Apabila sekolah bersungguh-sungguh dalam MENINGKATKAN MUTU ANAK DIDIK, seharusnya diikuti juga dengan peningkatan KUALITAS PARA PENDIDIKnya. Kenapa tidak dicari (dan dijalankan) sistem yang betul-betul MEMANUSIAKAN manusia, PROFESIONAL dalam menangani setiap permasalahan dengan memandang dari berbagai sisi dan mengelola ANGGARAN dengan lebih baik lagi. Kalau benar niat baik sekolah untuk menurunkan AKUNTAN PUBLIK dalam menangani anggaran, kenapa tak terdengar juga?

Semestinya tiap sekolah kembali kepada harfiahnya sebagai lembaga pendidikan. Dimana seharusnya dapat memberikan PENDIDIKAN kepada anak didik dan masyarakat umumnya. Berikan penyelesaian yang FAIR untuk sekolah, anak didik dan pribadi para guru. Guru yang tidak dapat mengejar ketinggalan dalam mengikuti pola kerja RSBI yang dituntut serba cepat memang sebaiknya dirumahkan atau mutasi ke tempat lain yang memberi kesempatan untuk meningkatkan kemampuannya. Dan hal ini dilakukan melalui serangkaian TEST dan SUPERVISI yang (sekali lagi) FAIR dengan tidak membeda-bedakan status.

Friday, January 23, 2009

Digital Immigrants Vs Digital Natives.

Hari ini, untuk kesekian kali saya ikut dalam diskusi panel yang diadakan oleh Sampoerna Foundation yang tahun ini merubah nama Teacher Sharing Network menjadi Educators Sharing Network mengingat peserta diskusi yang ternyata tidak hanya datang dari kalangan GURU saja. Sebagai fasilitator adalah Bpk. AGUS SAMPURNO; IT Specialist Teacher di Sekolah GLOBAL JAYA. Blog beliau http://gurukreatif.wordpress.com/

Intinya adalah bagaimana GURU, ORANGTUA dan PENDIDIK secara umum menghadapi anak usia sekolah yang sudah menjadi Digital Natives atau penduduk asli dunia maya sementara orangtua (dan guru) adalah Digital Immigrants atau tamu di dunia maya. Pengelolaan peserta diskusi yang dibagi lagi menjadi beberapa kelompok sangat memungkinkan terjadi sharing yang seru sekaligus menarik (dan menyebabkan waktu selama 2 jam menjadi sangat kurang).

Dari seluruh kalangan, mulai dari ORANGTUA, GURU di jenjang TK hingga SMA serta DOSEN setuju jika ada GAP yang merentang antara orangtua dan anak. Perbedaan yang tajam tersebut perlu disikapi dengan bijak. Kadang kita sebagai orangtua melihat teknologi sebagai suatu ancaman, sesuatu yang sangat buruk dan perlu dibatasi (atau samasekali tidak perlu dikenalkan kepada anak). Padahal orangtua punya andil sangat besar menjadi penyebab trend dunia maya di kalangan anak dan remaja. Entah karena alasan ekonomi atau kepentingan lain, orangtua lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah sehingga anak mencari sesuatu yang dapat menemaninya 'membunuh' waktu.

Buku dulu dianggap jendela dunia, anak generasi sekarang menganggap dunia dapat tergenggam dan semungil HP (ini salah satu pendapat peserta diskusi lho...).
Peserta diskusi yang hampir semua merupakan Digital Immigrants ini menelurkan beberapa simpulan yang menarik:

  1. Keberadaan dunia maya selain memiliki dampak negatif juga memiliki sisi positif sebagai salah satu media belajar. Orangtua (dan guru) hendaknya dapat mengarahkan dan mengoptimalkan pemakaian digital world oleh anak karena masa-masa tersebut anak sedang mencari jati diri dan bereksplorasi. Pada masanya anak akan merasa bosan sendiri;
  2. Untuk mengarahkan anak, orangtua (dan guru) perlu mengetahui teknologi dan jika perlu mempelajari sedikit lebih dalam sehingga dapat mengalihkan anak (misalnya dari game online) ke hal-hal (situs-situs) yang lebih positif. Tidak ada salahnya kemudian bergabung menjadi anggota komunitas anak seperti Facebook, Friendster atau blog;
  3. Pengawasan dalam pemakaian teknologi tidak bisa terus menerus dilakukan, cara yang paling baik adalah dengan penanaman moral Imtak secara terus menerus sehingga pada akhirnya anak memiliki self-protection.
Kasus lain yang kemudian muncul, karena akses di dunia maya yang begitu luas dan cepat, menyebabkan aparat kepolisian kemudian diterjunkan ke sekolah-sekolah untuk melakukan razia HP dan ke warnet-warnet untuk melihat 'keamanan' dibalik 'kenyamanan' yang ditawarkan kebanyakan warnet. Walaupun pada awalnya kami anggap penurunan jajaran kepolisian ini adalah "LEBAY" atau berlebihan, sekali lagi hal ini patut disikapi secara bijak;

  1. Dunia maya merupakan salah satu media yang dapat digunakan untuk menyebarkan hal-hal berbau pornografi dan pornoaksi sehingga dianggap sebagai suatu ancaman. Dengan adanya UU tentang pornografi dan pornoaksi, pemerintah menyiapkan jajarannya dengan menyiapkan aparat kepolisian. Para polisi ini dilatih secara profesional dan intensif sehingga memahami benar apa yang harus dilakukan;
  2. Penurunan aparat kepolisian ke sekolah-sekolah dengan seizin kepala sekolah bisa kita anggap sebagai shock therapy untuk para siswa yang menegaskan ada hukum yang harus ditegakkan bila anak menyalahgunakan teknologi;
  3. Pihak sekolah (terutama guru) harus ikut berkembang dengan mempelajari teknologi sehingga tidak menjadi bulan-bulanan anak. Karena pada kenyataannya perkembangan penggunaan teknologi di kalangan pendidik amat sangat lambat dibandingkan dengan kecepatan anak dalam mengakses teknologi;
  4. Menurunkan polisi ke warnet-warnet, selama polisi tadi tahu benar apa yang dilakukannya, bisa kita anggap sebagai membantu orangtua (dan guru) dalam mengawasi penggunaan teknomogi oleh anak di luar rumah dan di luar sekolah.
Akhirnya kesimpulan pribadi saya, sebagai seorang guru dan orangtua, lebih baik kita ciptakan KUALITAS KEBERSAMAAN dengan anak. Kehadiran orangtua, keinginan orangtua untuk memahami dunia anak, penanaman nilai dan norma agama serta merta akan menciptakan sosok anak yang bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungannya. Tanggung jawab itu bisa berupa self-awareness dan self-protection yang akan menciptakan generasi mendatang yang lebih baik.

Monday, January 19, 2009

GURU, Antara Profesi dan Pengabdian.

Masih seputar PP No. 47 dan 48 tahun 2008 tentang Wajib Belajar 9 tahun serta peningkatan pelayanan di bidang pendidikan dengan meniadakan penarikan dana dari masyarakat bagi SD dan SMP negeri kecuali sekolah-sekolah yang sudah bertaraf Internasional.

Perubahan ini mengundang sejumlah reaksi mulai dari yang pasrah sampai yang gundah gulana. Sejumlah sekolah bahkan sudah siap untuk mengurangi jumlah pengeluaran dengan memperkecil jumlah pegawai honor, membatalkan sejumlah kegiatan, memangkas pengeluaran seluruhnya atas nama penghematan. Walaupun sebenarnya jaring penggantinya telah disiapkan dengan meningkatkan dana BOS yang diperoleh dari tingkat pusat hingga kota, karena sifatnya yang tidak dapat langsung dicairkan, sekolah akhirnya mengandalkan jurus mempertahankan segala yang ada.

Saya adalah salah satu yang mempunyai sikap bingung. Entah karena dalam setiap langkah saya selalu banyak pertimbangan atau karena kurangnya informasi yang saya peroleh, tapi yang pasti dasar kebingungan saya adalah ketika saya masih mempertanyakan honor saya bulan depan yang entah dapat cair atau tidak. Dengan arogan saya berkata,"Udah honor telat, jumlahnya tidak tentu, tuntutannya macem2 lagi, ini namanya kerja bhakti!".

Saya lalu ingin mengembalikan apa yang selama ini saya percaya. GURU. Apa pengertiannya, apa yang seharusnya dilakukan seorang guru dan apa maslahatnya bagi dunia pendidikan secara umum. Saya temukan di kamus besar Bahasa Indonesia bahwa pengertian guru adalah 'orang yang pekerjaannya mengajar'. Dalam bahasa Jawa kuno (Hindu) arti GURU diterjemahkan secara lebih tinggi lagi dari sekedar 'mengajar'. GURU bisa berarti ahli dalam bidang ilmu baik spiritual maupun intelektual yang dalam kesehariannya memberikan bimbingan dan pelayanan kepada sesama manusia.

Jika kita perhatikan, terdapat perbedaan pemahaman. Dulu seorang guru sukarela menularkan ilmu yang dimilikinya without complaining. Sementara pada saat ini guru lebih dianggap sebagai profesi/pekerjaan semata. Dengan adanya PP No. 14/2005, yang saya sebut gulali (karena menjanjikan yang manis-manis bagi profesi ini), semakin menguatkan usaha pemerintah untuk semakin memperhatikan Guru secara profesional dan menghargainya sebagai profesi. Hal ini berdampak juga terhadap cara pandang seorang guru terhadap pekerjaannya. Keinginannya untuk dihargai secara profesi menjadikan guru hedonist dan mengenyampingkan apa yang disebut "pengabdian".

Termasuk saya, kenyataan akan mengharapkan penghasilan berakibat kepada merosotnya jiwa mengabdi. Guru di pelosok mungkin tidak akan merasakan hal ini karena penghargaan yang tinggi terhadap seorang guru yang digugu dan ditiru serta kecukupan untuk makan tanpa menginginkan lebih, menjadikan mereka memberikan apapun yang mereka punya untuk anak didiknya (mungkin ini sosok Ibu Muslimah dalam Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata).

Ditambah lagi ketika saya membaca artikel-artikel dari blog Ibu Murni yang saya ikuti. Kesadaran akan keinginan untuk menuntut penghasilan yang telah menjadi hak saya, sangat membuat saya malu. Saya merasa telah melenceng dari 'menjadi' seorang guru yang mengabdikan diri untuk ilmu pengetahuan dan kemaslahatan orang-orang yang di sekitarnya, dalam hal ini seluruh murid-murid. Jika kemudian seorang Doktor seperti beliau ini merasa seperti bulir padi yang gemuk tapi baru berisi angin karena keinginan beliau untuk belajar dan berguru kepada semua orang, lalu apalah saya ini?

Saturday, January 3, 2009

Bullying files...

Kasus yang makin happening di dunia pendidikan..

banyak orang setuju bahwa sebenernya hal seperti ini sudah berlangsung dari dulu. Pada masa prasejarah orang berjuang untuk makan sampe "makan" temen sendiri-pun kejadian (sekarang mah gara-gara sumanto makan kodok di tipi, bisa bikin tukul ganti judul...).
klo ditelusuri kekerasan dari jaman prasejarah kayaknya terlalu jauh ya.. karena kalimat awalnya 'happening di dunia pendidikan', gmana klo dari jaman sayah SD ajah.. (kebetulan saya ngga ngalamin sekolah TK apalagi playgroup).

Waktu saya SD, kerapihan tiap anak diperiksa betul-betul. Sepatu hitam, kaus kaki putih nutupin betis, rok merah nutupin lutut, ikat pinggang hitam, kemeja putih, dasi merah, topi, buat perempuan rambut diikat (klu panjang) n... kuku tangan harus pendek, rapi dan bersih... (penampilan siswa teladan neh.. :D).

siswa yang ga pake spatu item.. bersihin WC sekolah (buat anak kelas 4 keatas), yang pernah sayah alamin lupa gunting kuku... atuhh mistar bu guru melayang ke atas jari-jari tangan... pletakkk!

SMP.. lagi masanya badung.. ada 15 temen (kebetulan lalaki semua) nyerang sekolah lain.. bahasa kerennya sih gelut!.. ketauan nih ama guru.. besoknya langsung eta yang 15 orang teh 'ditampilingan' ku 3 guru! baris satu-satu di mimbar.. plakkk!plakkk!plakkk! persis kayak gambar di tipi yang direkam pake hape tea..

ngajailan guru di kelas.. atuh sekelas disetrap di tengah lapangan pas panas poe ereng2an sambil hormat kana tihang bendera sebelumnya lari dulu 5x keliling lapangan.. weww...

jangankan menyiksa secara fisik, serangan kata2 juga termasuk bullying. pernah kajadian dimarahin abis2an di depan kelas ku guru (nepikeun ka ceurik sayah mah) makanya mungkin sampe sekarang akika bete ama matematik...

SMA.. kayaknya malah tenang tuh.. paling sering kabeurangan (kesiangan)...hehehe.. disetrap didepan peserta upacara, nyapu musholla, sistem hukuman SMA jaman eta mah skorsing. mun udah 3 kali kena skors (atawa yang parah pisan) dikeluarin.. skor2an siga harry potter ajahh... tapi ada juga kasus sepet-menyepet ama senior. ade kelas ga boleh kinclong dikit, dicari aja masalah ku kaka kelas, jadi perang mulut. yang diliat di tipi udah jauh lebih berkembang peke ngajenggut n najong n nonjok segala... alahhh..

Kuliah.. alhamdulillah waktu itu belom ngarti bahasa jawa, matak (makanya) pas OPSPEK dimarahin abis2an ama senior malah pengen ketawa...xixixixi..


well.. intinya kekerasan di sekolah mah dari jaman baheula ada, bedanya dulu ga ada hape canggih buat ngerekam kejadiannya dan mentrinya dulu pa harmoko dimana akses informasi dibatasi scr ketat. Jadi apakah kita akan menghapuskan hape canggih atau menaikkan kembali harmoko jadi mentri penerangan supaya ga ada (baca:ga denger dan ga liat) kejadian bullying?

Namanya 'kekerasan' gimana pun bentuknya, apapun alasannya ujung2nya memang melanggar hak orang lain. Karena sikap orang lain pelaku bullying ga bisa saya cegah, jadi mulai dari sayah sendiri aja ya.. moal neke, moal nyiwit (tapi pernah ketang, waktu baju seragam murid kalaluar..), moal nampiling, moal neunggeul, moal nyarekan...Alhamdulillah boga murid teh balalageur... :D


PS:

maaf buat temen2 yang ga paham bahasa Sunda, kadang dicari artinya yang pas susah benerr :)