Friday, June 24, 2011

Pendidikan Karakter

Dari tanggal 23 Juni sampai dengan 26 Juni 2011, dapat pengalaman mengikuti Workshop tentang Peningkatan Profesional Guru RSBI Se-Jawa Barat. Sisipan materi yang didengungkan kali ini adalah selain membangun profesionalisme melalui pembelajaran dengan bahasa Inggris dan ICT, juga ditekankan pembelajaran yang berkarakter. Karakter yang bagaimana yang dimaksud dan kenapa karakter bangsa perlu ditekankan dan disisipkan dalam pendidikan?
Pembicara pertama yang merupakan Ketua PGRI Provinsi Jawa Barat; H. K. Edi Parmadi, menekankan bahwa bangsa Indonesia sebetulnya mempunyai karakter yang kuat dan tangguh. Namun benturan teknologi dan budaya asing yang kurang tersaring akhirnya memberi dampak yang kurang baik terhadap perkembangan karakter anak bangsa pada masa sekarang. Karakter itu hanya perlu dibangkitkan lagi.
Pembicara-pembicara selanjutnya yang merupakan para pakar dan praktisi di bidang pendidikan sepakat dengan itu. Namun dari sekian materi yang disampaikan masih terkesan bahwa pendidikan di Indonesia terkukung oleh intervensi dan pencitraan semata.
Baru-baru ini anak-anak yang berani mengungkapkan kebenaran 'contek massal' hanya berada di headline pemberitaan selama seminggu, setelah itu.. ??
Pencopotan Kepala Sekolah? Menindak guru yang ikut bekerjasama dalam usaha pembodohan tersebut? Ujian ulang? No No No...
Bahkan Menteri Pendidikan dengan tegas mengatakan "NO" contek massal. Tampak jelas darimana sebenarnya intervensi tentang 'angka sempurna' ini berasal.
Tahun ini sekolah negeri kembali menggunakan nilai ujian murni sebagai syarat masuknya. Awalnya saya fikir ini merupakan suatu tindakan yang fair, mengurangi beban sekolah tujuan karena tidak perlu mengadakan ujian mandiri dan mengetahui standar anak secara nasional. Ternyata...
Mungkin tulisan ini semata kekecewaan karena anakku tahun ini kemungkinan besar tidak bisa masuk smp negeri seperti keinginannya. Mungkin juga karena kecewa terhadap sistem pendidikan kita yang terlalu mementingkan kuantitas, bukan kualitas, angka, bukan nilai. Atau karena kecewa terhadap diri sendiri yang membiarkan semua itu terjadi di depan mata...

No comments: