Saturday, November 14, 2009

KELEMAHAN YANG JADI KEKUATAN.

Entah pengalaman ini inspiratif atau tidak, tapi setiap pengalaman buat saya adalah inspirasi untuk belajar, memperbaiki diri, dan menjadi lebih baik. Amir Tengku Rusli dalam “Menjadi Guru Kaya” kurang lebih menyatakan bahwa profesi guru menginginkan kita untuk terus menerus melakukan sesuatu yang disebut self quality improvement (perbaikan kualitas diri yang terus menerus) dan salah satu yang bisa meningkatkan kualitas diri adalah bila kita bisa belajar dari pengalaman.

Langkah pertama saya memasuki dunia pendidikan adalah melalui perpustakaan. Karena membaca adalah hobi saya sejak pertama kali bisa membaca, profesi ini sangat saya sukai. Setiap hari saya masuki dunia yang sarat dengan ilmu. Di tempat ini semua informasi bisa saya peroleh, apalagi ketika internet masuk dan dijadikan salah satu media di perpustakaan. Dari perpustakaan inilah saya yang ‘gaptek’ alias gagap teknologi mulai surfing, browsing, googling, chatting dan sedikit-sedikit belajar blogging.

Namun keadaan tenang dan senang ini tidak bertahan lama. Saat seorang guru cuti dan memerlukan seorang pengganti, beliau meminta saya untuk menggantikan. Berbekal ijazah AKTA IV, jadilah saya memberanikan diri mencoba untuk berhadapan langsung dengan siswa di kelas.

Pertama yang saya rasakan adalah TAKUT. Takut tidak bisa menghadapi tatapan siswa, takut tidak bisa mengajar dengan benar, takut pertanyaan siswa tidak dapat saya jawab. Terus menerus dilanda ketakutan akhirnya minggu pertama saya mengajar dipenuhi dengan keraguan. Buku tak pernah lepas dari tangan saya, walaupun materi telah saya kuasai benar, pertanyaan murid selalu saya jadikan pekerjaan rumah (PR) yang akan saya jawab pada pertemuan berikutnya hanya karena takut salah menjawab.
Bertanya kepada guru lain yang lebih senior malah menambah rasa takut saya. Bahwa menjadi guru bukan sekedar mengajar melainkan MENDIDIK. Muncul lagi keraguan, apakah saya yang serba tidak sempurna ini bisa mendidik murid ?

Saya tenggelamkan diri saya di perpustakaan untuk menjawab pertanyaan saya dan menghilangkan keraguan. Dalam satu buku yang saya lupa judulnya, menyatakan bahwa menjadi seorang guru adalah mengajarkan sebanyak mungkin yang kita tahu, mendidik siswa kita untuk menjadi lebih baik. Dan untuk menjadi seorang pengajar sekaligus pendidik, seorang guru harus BELAJAR. Artinya seorang guru adalah seorang PEMBELAJAR.

Belajar tidak hanya bisa kita peroleh dari buku. Belajar dari murid adalah salah satu yang akhirnya sangat saya senangi. Dunia anak yang polos dan keingintahuan mereka yang besar memperkaya saya untuk terus menggali lebih dalam potensi mereka. Ini membuat saya semakin pandai secara material dan spiritual. Semangat dan kepercayaan diri saya terus tumbuh seiring dengan keinginan saya untuk terus belajar.
Dalam proses belajar ini pula saya temukan kelemahan-kelemahan saya yang lain. Seringkali saya LUPA akan materi pembelajaran. Saya sadari betul kekurangan saya ini akibat kurangnya waktu belajar dan kurangnya ‘jam terbang’ dalam mengajar. Alhasil seringkali materi yang saya bawakan meluas hingga akhirnya saya kesulitan untuk focus pada tujuan pembelajaran yang telah tercantum dalam rencana pembelajaran.

Untuk mengatasi ini saya mulai belajar membuat peta konsep, atau lebih trend bila kita sebut mind mapping. Pokok pikiran yang kemudian diurai menjadi poin-poin yang lebih khusus dan memperjelas materi pembelajaran. Tidak puas dengan mind mapping, saya belajar membuat presentasi dengan power point. Saya buat presentasi yang menarik dengan memperbanyak gambar, membuat cuplikan film dan memasukkan lagu ke dalam presentasi saya. Selain membuat saya lebih fokus dalam memberikan materi, tampilan presentasi yang menarik membuat siswa tertarik untuk memperhatikan dan terlibat dalam pembelajaran.

Namun belajar terus menerus dengan power point membuat siswa menjadi jenuh. Selain jenuh, mereka mulai tidak memperhatikan proses pembelajaran dengan mengobrol, mengalahkan suara saya yang tidak terlalu kuat menjangkau setiap sudut kelas. Teringat saya kata-kata ‘I hear, I forget; I see, I remember; I do, I understand’. Kung Fu Tzu (Confusius) seorang filsuf Cina sejak ribuan tahun lalu sudah menemukan bahwa sesuatu yang kita dengar akan kita lupakan, yang kita lihat kita akan ingat dan apa yang kita lakukan akan kita mengerti dan pahami.

Jadi, tahapan presentasi powerpoint saya, semenarik apapun akan hanya diingat oleh siswa. Mulailah saya mencari sesuatu yang sifatnya dilakukan oleh siswa, suatu kegiatan student-center (berpusat kepada siswa) supaya mereka memahami apa yang mereka pelajari. Pada saat mempelajari lapisan tanah, saya meminta mereka melakukan penelitian dengan membawa sampel tanah dari rumah masing-masing. Dari praktek ini selain siswa mengetahui dan paham lapisan-lapisan tanah, kejadian yang barangkali tidak akan mereka lupakan adalah bahwa pot-pot tanaman di rumah mereka bukan diisi dengan tanah melainkan dengan kompos.

Kelemahan saya yang lain adalah saya CEPAT BOSAN. Lingkungan sekolah dan ruang kelas semakin lama terasa semakin mengukung dan membuat bosan. Kebosanan ini juga terlihat di mata para siswa. Akhirnya saya cari kegiatan yang memungkinkan untuk dilakukan di luar sekolah.

Bogor mulai tahun ini mencanangkan wisata pendidikan. Tanpa saya sadari sebelumnya bahwa memiliki lokasi di tengah kota tidak melulu menyesakkan karena bising dan debu, melainkan memiliki keuntungan karena dekat dengan tempat wisata pendidikan. Setiap tahun saya tidak pernah melewatkan untuk mengajak para siswa ikut dalam Istana Bogor open sebuah acara yang dilaksanakan setiap hari jadi Bogor. Pada saat itu selama satu minggu, Istana Bogor yang lokasinya tepat berada di depan sekolah bebas dikunjungi. Kebun Raya, Museum Tanah, Museum Zoologi, Museum Etnobotani, Museum Perjuangan, Museum Peta, semuanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Dengan field trip kebosanan berganti dengan keceriaan dan mendekatkan hubungan saya dengan siswa karena dalam perjalanan kita lewatkan dengan obrolan-obrolan ringan.

Kesulitan terbesar saya dalam dunia ini ternyata bukan datang dari para siswa, melainkan datang dari sesama rekan guru dan ketidaksempurnaan sistem pendidikan kita. Kesenjangan usia, perbedan status dan perbedaan dalam metode pembelajaran baik proses maupun perbedaan pandangan dalam hubungan guru dengan murid merupakan kendala yang pada awalnya seringkali memancing emosi. Setiap kali saya menyampaikan pendapat sering dianggap sebagai sesuatu yang sifatnya membangkang hanya karena ‘berbeda’ dari yang seharusnya (padahal yang seharusnya ini belum tentu benar). Keadaan ini jelas membuat saya tidak nyaman dan seakan hidup dalam tekanan.

Dari keadaan ini saya mencoba untuk lebih tenang. Tapi hanya berdiam diri sementara ide-ide di kepala seperti tak terbendung dan ingin melompat keluar sering membuat saya hampir frustasi dan ingin mundur dari dunia pendidikan. Saya kemudian mencari jalan untuk membuat diam saya ini lebih berkualitas. Akhirnya terpikir untuk menyalurkannya kepada hobi.

Beruntung hobi saya adalah membaca. Membaca adalah obat rasa putus asa saya berada di lingkungan para pendidik yang seringkali merasa dirinya paling pintar dan paling benar. Dari semua pengalaman orang sukses yang saya baca, semuanya pernah mengalami masa ‘sulit’. Karenanya rasa putus asa yang melanda saya ternyata hal yang sangat biasa dan mungkin sangat remeh bila dibandingkan dengan tujuan kita untuk menjadi seorang guru. Dari hari ke hari semakin banyak referensi yang saya baca, semakin saya sabar dalam menghadapi kendala dalam bekerja dan dapat mencari solusi untuk menyelesaikannya.

Sudah menjadi kebiasaan berganti menteri, berubah pula kebijakan yang berlaku di dunia pendidikan. Saat ini kecenderungan untuk mempolitisir dunia pendidikan menjadikan saya sebagai praktisi yang langsung berhadapan dengan siswa prihatin dan kadang membuat saya bingung, karena pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan tidak disertai dengan pelaksanaan kebijakan tersebut di lapangan. Contohnya pada saat penarikan buku sejarah beberapa tahun yang lalu karena penggunaan sebuah kata yang dianggap salah. Akhirnya buku yang sudah dibeli ditarik kembali tanpa ada gantinya.
Merubah tatanan yang datang dari pemerintah tentu tidak semudah membalikan tangan, dan hal itu saya pahami benar. Namun kembali ide di kepala seakan ingin berlompatan keluar. Saat itulah saya lebih mendalami dunia maya. Dengan berinternet, informasi yang saya peroleh semakin banyak dan saya jadikan dasar sebagai bahan penulisan melalui blog. Dengan surfing dan blogging saya semakin paham mengapa sebuah kebijakan diambil dan bagaimana seharusnya kita sebagai praktisi dalam menyikapi kebijakan tersebut.

Menjadi seorang guru memang tidak mudah namun bisa kita jadikan mudah karena yang kita hadapi jenisnya sama dengan kita, MANUSIA. Karena itu saya jadikan semua kelemahan saya menjadi suatu kekuatan untuk menjadi lebih baik. Dari apa yang pernah saya lakukan, saya peroleh kesimpulan;
1. Saya ubah rasa takut saya untuk mengajar siswa menjadi belajar bersama siswa.
2. Penyakit lupa dan tidak focus saya atasi dengan belajar menjadi pembicara yang baik dengan bantuan program presentasi power point.
3. Perasaan gampang bosan dan terkukung ruang kelas saya alihkan menjadi mencari aktivitas yang lebih banyak melibatkan siswa dan kegiatan field trip.
4. Kesulitan dalam berhubungan dengan rekan kerja bisa saya atasi dengan pemahaman dan empati terhadap keberadaan serta kepentingan orang lain.
5. Kekecewaan tentang sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia justru semakin memperkaya saya untuk lebih tahu tentang apa arti pendidikan, tujuan pendidikan dan cara mendidik. Fokus pada tujuan utama sebagai seorang guru jauh lebih penting daripada memusingkan sesuatu yang tidak terjangkau.

Akhirnya sebagai seorang guru sebaiknya selalu POSITIVE THINKING, dengan selalu berfikir positif, semua hal yang paling buruk sekalipun masih memiliki sisi yang menyenangkan dan dapat diselesaikan. Menganggap semua siswa sebagai teman belajar adalah sebuah usaha untuk memanusiakan manusia. Siswa tidak hanya kita jejali dengan materi melainkan juga kita bekali dengan nilai-nilai penting yang akan berlaku dalam kehidupan nyata. Dan yang paling saya sukai menjadi seorang guru adalah bahwa kita tidak pernah berhenti B E L A J A R.

No comments: