Thursday, September 17, 2009

Semua Tak Lepas dari Sejarah.

Pengalaman pertama di kota Malang tempat saya kuliah dulu tak pernah saya lupakan. Pada saat makan malam di suatu tempat di alun-alun saya heran, sampe setengah habis makanan di piring saya, tak ada tanda-tanda air teh yang biasanya disajikan gratis di daerah saya, Jawa Barat, terhidang. Setelah diminta, barulah keluar segelas teh yang hangat dan kelihatan sangat nikmat. Namun kaget, itu yang saya rasakan, ketika kemudian rasa tehnya sangat manis buat lidah saya.
Setiba di hotel tempat menginap kami ingin minum segelas teh tawar untuk sarapan. Namun karena pengalaman "minta teh" dapat "teh manis" membuat saya berkesimpulan harus mengatakan "teh pahit" untuk secangkir teh tanpa gula. Ketika pesanan datang... batin saya berkata; "ini kopi apa teh??" karena warnanya yang nyaris hitam bak air kopi. Setelah dcicipi ternyata memang teh... PAHIT...

Ternyata semuanya tak lepas dari masa kolonial dulu.. Cultuurstelsel atau tanam paksa yang merupakan sisi hitam masyarakat Indonesia pada awal abad ke-19 karena menimbulkan banyak penderitaan.

Sesudah perang Napoleon, Belanda jatuh miskin dan berusaha mengisi kembali kas negaranya dalam waktu yang singkat. Hal ini kemudian menyebabkan Belanda mengambil tindakan untuk membuka perkebunan yang menanam komoditi ekspor seperti tembakau, nila, gula, kayu manis, kopi dan teh, serta memberlakukan pajak tanah (landrentstelsel) sebagaimana yang pernah dilakukan Raffles.
Pelanggaran terhadap aturan yang dibuatnya sendiri berakibat sangat baik bagi Belanda namun berakibat sangat buruk bagi rakyat di Hindia Belanda. Kas Belanda terisi dengan sangat cepat untuk membiayai perangnya dengan Belgia, sisa uang yang banyak dipakai Belanda untuk membangun gedung-gedung pemerintahan, jalan kereta api, armada kapal dan untuk memperlengkapi tentara. Lalu apa yang terjadi dengan rakyat? bekerja di perkebunan secara terus menerus tanpa henti menyebabkan tak jarang wanita hamil melahirkan anaknya di tengah kebun, atau wanita tua yang rubuh karena kelelahan, terkuras tenaganya. Para lelaki yang tidak memiliki tanah 'dipaksa' bekerja selama 66 hari 'serah tenaga' tanpa bayaran sebagai ganti pajak. Di daerah Cirebon dan Majalengka (Jawa Barat) banyak orang yang mati kelaparan, karena waktu cocok tanam tersita oleh kerja paksa.

Lalu apa hubungannya Cultuurstelsel dengan kebiasaan konsumsi antara Jawa Barat dan Jawa Tengah+Timur tadi? Kehadiran perkebunan-perkebunan Belanda di pulau Jawa pada awal abad ke-19 sangat berpengaruh terhadap kehidupan penduduknya. Daerah Tatar Sunda khususnya wilayah Priangan merupakan "gudang" tanaman teh. Sedangkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur terdapat banyak pabrik gula sehingga dijuluki "Suikerland" atau "Negeri Gula". Keberlimpahan gula di wilayah Tengah dan Timur akhirnya mengubah pola konsumsi rakyatnya menjadi cenderung 'manis'.

(Dari: Wajah Bandoeng Tempo Doeloe - Haryoto Kunto)

No comments: