Friday, June 4, 2010

Evaluasi = blaming. (?)



Dari bang Wiki; Evaluasi (bahasa Inggris:Evaluation) adalah proses penilaian. Dalam perusahaan, evaluasi dapat diartikan sebagai proses pengukuran akan efektifitas strategi yang digunakan dalam upaya mencapai tujuan perusahaan. Data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut akan digunakan sebagai analisa situasi program berikutnya.

Melihat dari pemahaman tersebut rasanya wajib apabila setiap kegiatan yang kita lakukan perlu dievaluasi baik di awal maupun di akhir kegiatan. Manfaat dari evaluasi itu sendiri adalah sebagai masukan untuk kegiatan yang akan datang. Permasalahan yang ditemukan dalam eksekusi kegiatan kemudian dibahas dan dipecahkan bersama untuk menentukan standar bagi kegiatan yang sama. Dengan pemahaman bahwa tak ada sesuatupun yang sempurna di muka bumi ini kecuali ciptaann-Nya, wajar apabila kemudaian selalu terdapat masalah yang mengikuti setiap kegiatan.

Betapa kemudian ada segelintir orang yang menganggap evaluasi hanya sekedar blaming atau menyalahkan kepada pihak yang menyelenggarakan kegiatan. Dari mister Wiki lagi; Blame is the act of censuring, holding responsible, making negative statements about an individual or group that their action or actions are socially or morally irresponsible, the opposite of praise. When someone is morally responsible for doing something wrong their action is blameworthy. By contrast, when someone is morally responsible for doing something right, we may say that his or her action is praiseworthy. There are other senses of praise and blame that are not ethically relevant. One may praise someone’s good dress sense, and blame the weather for a crop failure.

Kenapa kemudian ada pihak yang merasa disalahkan dan menyalahkan dalam evaluasi? Hal ini bisa disebabkan beberapa hal, pertama kurangnya keterbukaan antara pihak penyelenggara dengan anggota organisasi lainnya. Kedua, ada pihak yang merasa kepentingannya dilanggar, sehingga kecenderungan untuk menyalahkan lebih besar daripada melakukan penilaian secara objektif. Ketiga, kurangnya jiwa kepemimpinan yang siap menerima kritik, apalagi jika kemudian kritik itu datang dari pihak bawahan atau dari para anggota kelompok.

Dalam masyarakat kita, evaluasi memang masih amat langka dijalankan. Terbukti kesalahan yang ada dalam satu kegiatan dapat berulang kali terjadi. Tidak adanya standar baku pelaksanaan kegiatan yang dihasilkan melalui serangkaian kegiatan evaluasi, menjadikan kita sangat miskin dengan peningkatan mutu kegiatan secara efektif dan efisien. Kedewasaan prilaku, pikiran yang terbuka serta pemahaman secara menyeluruh terhadap permasalahan yang ada bisa dijadikan beberapa syarat agar kita lebih mantap dalam mengadakan evaluasi. Kira-kira, kapan ya kita siap?

No comments: