Monday, February 27, 2012

Ket Ket Ket Ket

4 kali kata cat (baca: ket) buat 4 kucingku yang mati dalam 2 minggu ini.
Diawali sama Kimung yang tiba-tiba terbujur kaku, lalu adiknya yang masih bayi.
Saat si bayi mati, entah mungkin karena jiwa si bayi sudah hilang, induknya gelisah mencari. Melihat si ibu yang sibuk melongok kolong tempat tidur dan mencium kesana-kemari, saya takut anaknya terselip dan mati perlahan entah dimana (ini pernah saya alami dulu). Langsung ikut sibuk.
Ternyata anaknya masih ada lengkap 4 ekor dalam dus. Tapi.. seekor anaknya berada dalam posisi yang mencurigakan, kepalanya mendongak aneh. Saya coba colek-colek, tak bergeming.. jadilah malam itu saya jadi tukang gali kubur lagi.

Setelah mayat anaknya disingkirkan dan tilam dusnya diganti, si ibu kembali lagi dengan aktifitasnya; menyusui, seakan tak terjadi apa-apa. Paginya seperti biasa dia tiduran di dekat Ilham di depan TV. Mungkin cape habis menyusui anak-anaknya. Ilham sempat bermain sebentar dengannya dan seperti biasa setelah bermain dengan kucing, Ilham tak lupa cuci tangan.

Belum kering tangan Ilham, pembantu rumah sebelah berkata ada kucing tertabrak mobil dan mati, dia takut itu kucing kami. Takut-takut saya lihat di seberang jalan depan rumah, seonggok bulu kuning dengan belang hitam dan putih diantara rerumputan. Lemas, berarti ada 3 anak kucing yang masih belum bisa apa-apa (usianya belum genap sebulan) yang ditinggal induknya. Koneng, si jantan yang berbulu kuning, Tiger, si betina perkasa dan si Stu yang... lambat..

Tiger (atas), Koneng (tengah), Stu (bawah)

Memelihara anak kucing yang sangat kecil tanpa induknya memang luar biasa. Memandikan, memeberi obat cacing, obat salep mata dan vitamin pun dilakukan dengan harapan 3 ekor anak kucing yang ditinggal mati induknya akan tumbuh dengan sehat. Belum lagi mendidik mereka buang air... bukan main!!

Kesulitan timbul saat satu ekor kucing tak bisa minum susu sendiri. Ketika kedua saudaranya sudah dengan lahap minum semangkuk kecil susu, si stu hanya mampu menggigit dan menumpahkannya. Terpaksa setiap kali minum harus dengan spuit dan alhasil dia paling kecil diantara ketiganya.

Cuaca buruk, curah hujan yang tinggi setiap malam, udara siang siang yang kadang panas kadang berangin, ketidakmampuannya minum susu akhirnya membuat Stu menyerah juga. Jadilah ia menyusul induk dan saudaranya berbaring di bawah pohon jambu di depan rumah...bye Stu, mukanya yang besar dan lucu dan tingkahnya yang bodoh tapi lucu membuat saya sering tertawa, bahkan ketika dia tiba-tiba mengompol pun bikin saya geli. dasar Stu***!

Masih tersisa Koneng dan Tiger...

No comments: