Sunday, October 3, 2010

Dibalik kisah 'Singapura'.

Cerita tentang Singapura saya tulis dalam beberapa episode. Seperti judulnya yang terakhir, it's never ending story, kesan saya tentang negara kota itu sangat dalam sehingga membuat selalu ingin kembali. Disana saya lihat hubungan antara rekan guru yang sangat profesional, penghargaan atas keahlian yang dimiliki guru serta keterlibatan seluruh guru walaupun statusnya hanya sebagai guru magang. Dalam kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) sekolah, mereka mempunyai hak yang sama dalam mengusulkan suatu kegiatan pembelajaran dan sangat dihargai oleh seluruh guru yang hadir.
Saya mungkin dipilih karena pertimbangan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris, serta penghargaan dari pihak komite sekolah karena terpilih oleh murid-murid sebagai salah satu favorit mereka. Atau mungkin juga karena setelah 4 kali kesempatan tugas seperti ini diserahkan kepada yang lebih 'berstatus' akhirnya tiba giliran saya. Itupun dengan keluhan dari Pimpinan seminggu setelah memilih saya,"Aduhh saya lupa, seharusnya Pa Dedi yang guru bahasa Inggris senior dulu yang pergi ya...," langsung ditujukan kepada saya.. :(

Ada lagi yang tidak kalian ketahui. Pada saat setelah saya kembali. belum sempat saya buat laporan untuk dilaporkan kepada pihak sekolah, artinya baru saja saya tiba kembali ke tanah air, Pimpinan memanggil saya..
"Maaf ibu, untuk tahun ini tidak ada lowongan untuk mengajar, semua jam sudah penuh. Ibu bisa mengajukan lamaran untuk bagian administrasi... itu juga kalau Ibu mau.. kalau tidak, yaa.. terserah Ibu". Terserah? maksudnya "silahkan keluar???"
kata Pak Kepala Sekolah tanpa ragu, tanpa sedikitpun peringatan sebelumnya bahwa saya, guru yang dipilih sekolah untuk mewakili ke ajang pertukaran pelajar, guru yang dipilih siswa sebagai salah satu yang mereka sukai, guru yang selama 5 tahun mencurahkan semua yang saya punya demi sekolah ini.. tiba-tiba harus mendengar keputusan mendadak seperti tadi.

Mendapat perlakuan seperti tadi bukan kali yang pertama. Status saya sebagai guru honor selalu menghalangi dari setiap kesempatan untuk mengembangkan diri. Ketika melahirkan anak kedua, tanpa sempat mengajukan cuti, satu semester saya dinonaktifkan secara sepihak dengan tidak diberi jam mengajar. Jangan tanya berapa kali kesempatan pelatihan, seminar atau sekedar MGMP terlewati hanya karena status.
"Biarpun pintar, terampil, komitmen terhadap sekolah tinggi, jika status masih honor, jangan harap bisa mengalahkan guru PNS disini," dengan 'bijak' Pimpinan menyatakan hal tersebut dalam suatu kesempatan di depan forum rapat.

Jadi, satu lagi yang menghalangi kemajuan sekolah-sekolah negeri di Indonesia, status guru lebih penting dari kompetensi guru.

No comments: