Tuesday, October 12, 2010

Ketika Sekolah Berdandan.

Betapa melelahkan menjadi sekolah yang diunggulkan dan menyandang status berbeda dengan yang lain. Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional.. mmm.. walaupun sampai sekarang masih diperdebatkan arti dibalik istilah tersebut, yang jelas kami yang berkecimpung di dalamnya seringkali merasa seperti memakai baju yang sangat ketat.. susah bernafas, takut salah bergerak sehingga mengakibatkan robeknya baju.

Apalagi saat-saat akredetasi seperti ini. Layakkah sekolah kami menyandang status yang lebih tinggi yaitu Sekolah Bertaraf Internasional. Setiap pertanyaan yang diajukan assessor harus dijawab dengan tepat dan meyakinkan. Jika yang satu dianggap menjawab dengan kurang tepat, yang lain akan 'membenarkan' sehingga sesuai dengan keinginan. Keinginan siapa? keinginan sekolah? keinginan seluruh warga sekolah? atau hanya sekedar jawaban yang diinginkan didengar oleh para assessor?

Alangkah indahnya jika sekolah kapanpun siap diperiksa oleh siapa saja, tidak hanya oleh assessor. Yang terpenting adalah sekolah siap menghadapi tantangan bila dperiksa oleh masyarakat umum tentang kegiatan serta proses pembelajaran yang dilakukan selama ini. Semua data siap tersedia tidak hanya bersifat dadakan yang menyebabkan ngadatnya seluruh printer sekolah karena kelebihan beban, sekolah yang cantik tidak hanya pada saat pemeriksaan melainkan setiap saat, dengan keadaan yang demikian otomatis para guru tidak perlu harus 'mendadak' rajin dan bekerja sampai malam hanya untuk menyusun data, siswa tidak perlu mengorbankan jam belajarnya dengan hanya mengerjakan tugas mandiri tanpa didampingi guru yang sibuk menyiapkan berkas.

Guru bertanggung jawab terhadap kemajuan anak didiknya. Cukup meraka menyiapkan segala sesuatu yang akan disampaikan terkait dengan kegiatan pembelajaran. Apakah kemudian fokus seorang guru tidak akan terbagi apabila kemudian dia harus menjadi bendahara BOS? atau menjadi Bagian Sarana dan Prasarana yang setiap hari harus mendengarkan keluhan semua orang tentang sarana yang dianggap (selalu) tidak mencukupi? Betapa lelahnya.

Yang berbeda dari sekolahku kali ini adalah terpasangnya CCTV di 32 titik. Seluruh kelas, laboratorium, perpustakaan, lorong bahkan kantin dipasangi kamera yang dapat merekam seluruh kegiatan yang sedang berlangsung. Selain manfaat, ternyata mengundang masalah juga seperti hari ini segerombolan siswa putri yang habis berolahraga menyerbu ruangan saya; "kami mau ganti baju dimana, Bu? biasanya kami ganti baju di kelas...," yups.. selain printer yang selalu tidak tersedia karena overload atau tak ada tintanya, ternyata tidak adanya sarana ruang ganti untuk siswa tidak sejalan dengan 'modernisasi' berbentuk CCTV..

No comments: