Saturday, May 14, 2011

DOUWES DEKKER

Masih merasa sebagai seorang guru sejarah (walaupun beberapa waktu ini sedang mengalami 'grounded') saya tertarik untuk menyaksikan acara malam ini di Metro TV yang isinya full sejarah mulai jam 7 malam. Keadaan rumah yang tenang (anak-anak sedang berlibur dan mantan pacar sedang asyik dengan siaran bola nya) membuat saya sangat fokus dan menyadari benar bahwa selama ini ternyata saya telah salah.


Adalah EDUARD DOUWES DEKKER, yang lahir di Amsterdam dari kalangan berkecukupan, beranjak dewasa kegelisahannya menyebabkan prestasinya di sekolah merosot dari hari ke hari. Hal ini yang kemudian menyebabkan ayahnya lalu mengeluarkannya dari sekolah dan menjadikannya seorang buruh rendahan di sebuah kantor dagang. Perkenalannya dengan kemiskinan dan serba kekurangan berpengaruh sangat besar pada kehidupannya di kemudian hari.

Nasib kemudian membawa Eduard DD pergi ke Hindia Belanda menumpang kapal ayahnya. Pada tahun 1839 petualangannya di Hindia Belanda dengan dimulai dengan menjadi seorang Ambtenaar (Pegawai Negeri). Perjalanannya sebagai seorang ambtenaar tidak selalu berjalan dengan mulus, kekecewaan atas perlakuan bangsanya bahkan para pejabat pribumi yang melakukan pemerasan terhadap tenaga rakyat pribumi, menjadikan Eduard DD mengundurkan diri dari jabatannya yang terakhir sebagai asisten residen Lebak dan melakukan hidup sebagai bohemian di Eropa. Pada saat itulah bukunya yang berjudul "Max Havelaar" ditulis dan diterbitkan (1860). Isi buku tersebut adalah pengungkapan dalam versi fiksi tentang pengalamannya pada saat menjadi Asisten residen di Lebak. Namanya sendiri kemudian ia ganti menjadi , "Multatuli" yang berasal dari bahasa latin yang berarti 'aku sudah banyak menderita'.

Kakak Eduard DD yaitu Olaf DD mempunyai seorang cucu yang mempunyai jasa besar bagi Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan. Dr. ERNEST DOUWES DEKKER yang lahir di Pasuruan, dalam perjalanan kariernya ia sempat menjadi pegawai perkebunan kopi, bahkan ia juga pernah menjadi serdadu bagi negerinya dalam perang Boer di Afrika, namun kembali pulang ke Hindia Belanda. Pada masa itu Ernest DD lebih dikenal sebagai seorang wartawan.

Dalam karier menulisnya yang kebanyakan tentang kritik terhadap bangsa Belanda dalam memperlakukan negara jajahannya, Ernest bertemu dengan dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat. Ketiganya kemudian dikenal dengan tiga serangkai. Mereka lalu mendirikan partai yang beranggotakan siapa saja yang menginginkan kemerdekaan yang dinamakan Indische Partij. Partai ini disambut sangat baik dengan mampu mengumpulkan anggota hingga 7000 orang hanya dalam waktu 4 bulan. Perjuangan tiga serangkai dengan juga menulis di surat kabar tentang kritik tentang bangsa Belanda membuat mereka diasingkan serta dipenjara.

Dibubarkannya IP pada tahun 1913 setahun setelah didirikannya mengubah haluan Ernest yang kemudian mendirikan Ksatrian instituut mengikuti Suwardi Suryaningrat yang terlebih dahulu mendirikan Taman Siswa. Namun keterlibatannya dalam menulis buku sejarah yang dianggap antikolonial membuatnya dilarang mengajar. Pengalaman pembuangannya yang terakhir adalah ke Suriname pada tahun 1941. Kondisi fisiknya sangat buruk karena berpindah-pindah penjara. Pada saat Soekarno mengumandangkan kemerdekaan Indonesia, Ernest merasa perjuangannya tak sia-sia. Ia kembali ke Indonesia dan melanjutkan perjuangannya dengan membantu Soekarno dalam pemerintahan awal Indonesia. Karena jasa-jasa beliau, Soekarno mengganti namanya menjadi Danudirdja Setiabudhi.

Dalam memperjuangkan kemerdekaan bagi Indonesia berbagai macam pengorbanan dijalani baik oleh Eduard Douwes Dekker maupun Ernest Douwes Dekker. Dasarnya adalah kebenciannya terhadap ketidakadilan dan kesewenangan dari negara penjajah. Padahal darah penjajah lebih banyak mengalir di tubuh mereka. Memperjuangkan kebenaran selalu tidak mudah. Kegigihan dan pengorbanan mutlak perlu. Intisari lain yang bisa kita peroleh adalah bahwa esensi pendidikan adalah salah satu cara untuk menegakkan kebenaran dan keadilan yang amat susah kita temukan di negeri ini. Seperti juga keadilan bagi putra Ernest yang sekarang terbaring di Rumah Sakit yang bernama sama dengan rekan ayahnya dulu, yang terpaksa mengajukan diri sebagai warga 'miskin' karena tidak ada biaya untuk operasinya. Apakah kita termasuk bangsa yang tidak tahu berterima kasih?

sumber mang wiki:
Eduard Douwes Dekker
Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker
Politik Etis
Kebangkitan Nasional Indonesia

No comments: