Saturday, February 23, 2013

Destinasi.

Banyak orang mengatakan untuk tidak membatasi sebuah cita-cita. Banyak pula yang menyarankan untuk meletakkan gambar cita-cita kita di tempat yang gampang terlihat. Maksudnya, dengan melihatnya, kita akan memacu alam bawah sadar untuk membantu mewujudkannya.

Belum ada penelitian yang resmi untuk pernyataan tersebut, tapi tidak ada salahnya untuk dicoba. Ada teman  yang punya sebuah buku yang dia sebut "Buku Mimpi". Isinya mirip buku klipping dengan gambar-gambar barang yang ingin dia miliki dan tempat yang ingin ia kunjungi. Ada juga yang lebih ekstrem dengan memasang gambar seukuran poster mimpi-mimpinya. Akhirnya saya sebut kamarnya sebagai "Galeri Mimpi".


Saya "menyimpan" mimpi saya dengan cara yang berbeda.
Seingat saya, sejak duduk di bangku SMP dulu, saya sangat menyukai souvenir terutama gantungan kunci. Saya menyukai gantungan kunci karena bentuknya yang unik dan jika digantung di tas, akan membuat "ramai". Waktu SMP dulu tak jarang saya berjalan kaki bersama teman-teman dari sekolah sampai rumah yang berjarak kurang lebih 3 km. Karena dalam 500 meter terakhir saya harus berjalan sendiri, saya menggantung sebuah lonceng kecil souvenir dari sepupu yang baru pulang dari Swiss supaya '"ramai". Bentuknya kira-kira seperti gambar di bawah (*saya copas dari blog tetangga). Gemerincingnya saat saya berjalan merupakan hiburan tersendiri. Namun hal ini juga yang sering mengundang orang di sepanjang jalan yang saya lalui berkomentar "siga sapi wae, neng!" katanya, yang kalau diterjemahkan secara bebas "kayak sapi aja, neng!". 


Swiss Bell
Kecintaan saya terhadap gantungan kunci masih seperti dulu. Tas ransel kerja saya "ramai" oleh gantungan kunci yang saya dapat sebagai souvenir dari suami atau murid-murid. Suami memang sering dinas ke luar kota dan murid-murid biasanya memberi gantungan kunci sehabis liburan mereka di luar kota atau di luar negeri. Diingat seperti ini buat saya sangat istimewa. Pernah juga urusan gantungan kunci ini membuat saya ditegur guru senior karena menganggap tak ada beda antara saya sebagai guru dan murid saking ramenya kalau saya berjalan. Hal ini saya sikapi dengan melucuti "sementara" yang diikuti oleh protes murid-murid karena saya katanya jadi kehilangan ciri khas.. hehehehe.

Destinasi.
Namun sekarang tas saya sudah "ramai" lagi. Jika ada gantugan kunci yang diturunkan pasti ada gantungan kunci lain yang akan dipasang. Yang saya pakai saat ini adalah gantungan kunci Lawang Sewu pemberian suami waktu tugas ke Semarang, Brunei dari teman yang ikut mengantar siswa mengikuti lomba, New York dari teman yang ikut pertukaran pelajar dan guru kesana, Hongkong dari suami yang kebetulan dinas, Bali dapat dari teman dan siswa yang mengadakan studi wisata liburan lalu, Taiwan dari murid yang ikut olimpiade matematika, Thailand oleh-oleh orangtua murid yang liburan kesana, Bike to Work untuk kecintaan saya bersepeda, Singapore oleh-oleh liburan murid, ada juga pin Hotel Bellevue bangunan bersejarah yang pernah ada di Bogor untuk kecintaan saya terhadap Kota Bogor dan sejarahnya, dan gantungan kunci berbentuk tag warna merah yang saya beli di Dunia Fantasi-Ancol untuk kenangan indah yang saya lewatkan bersama keluarga.

Setiap gantungan kunci punya cerita. Akhirnya saya putuskan gantungan kunci saya sebagai destinasi tempat yang ingin saya kunjungi atau akan saya kunjungi lagi yang akan terus bertambah. Jadi ingat Bung Karno pernah bilang "Gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit!"

No comments: