Friday, January 6, 2012

Hidup Yang Terhormat Adalah Hidup Yang Realistis.

Agak panjang judul saya kali ini. Sebetulnya bukan judul, tepatnya kalimat tadi saya copas dari status teman yang saya jadikan inspirasi hari ini. "Hidup yang terhormat adalah hidup yang realistis" by Idang Rasjidi, pemusik Jazz yang hidupnya pasti realistis karena hingga sekarang masih eksis di dunianya. Pentingkah kita memandang sesuatu secara realistis sementara di sisi lain kita diharapkan bisa mempunyai mimpi untuk diraih?


Dalam kamus besar bahasa Indonesia, realistis diartikan sebagai : bersifat nyata (real); bersifat wajar (adjektiva). Kenapa lebih terhormat jika kita realistis? Jika saya terjemahkan sesuai pandangan saya, bisa berarti hidup dalam realita adalah sesuai dengan apa adanya diri kita tanpa harus berkedok jabatan atau bertingkah seperti orang lain.

Ada kalanya kita merasa seseorang berubah saat jabatan mereka naik. Topeng jabatan bisa membuat sesorang merasa harus merubah sedikit apa yang biasa ia lakukan. Mungkin peningkatan (menurut kacamata jabatan), misalnya dari yang biasa berolahraga bulutangkis atau tennis lalu berubah memilih golf. Bukan berarti golf tingkatannya paling tinggi dibanding olahraga yang lain, tapi biaya yang dikeluarkan untuk olahraga yang satu ini cukup besar dibanding olahraga lain, apalagi jika dilatarbelakangi oleh negosiasi yang jumlahnya tidak bisa saya bayangkan. Ia memilih golf demi jabatannya padahal ia mungkin lebih menyukai bulutangkis yang tidak bisa dia lakukan lagi karena kesibukannya.

Mungkin juga seorang bawahan yang berusaha menjadi orang lain demi disukai oleh atasannya. Demi karier dan cita-cita yang ingin diraihnya, seseorang bisa jadi apa saja, bahkan seringkali mereka lupa harga diri. Banyak orang mau melakukan apa yang dulu tidak mereka sukai dengan alasan totalitas pekerjaan atau demi uang lebih yang ingin diraihnya. Lama-lama mereka bisa kehilangan jatidiri.

Jatidiri adalah ciri-ciri, gambaran, atau keadaan khusus seseorang atau suatu benda; identitas; (2) inti, jiwa, semangat, dan daya gerak dr dalam; spiritualitas: mencari -- diri pembangunan nasional
(Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/jati%20diri#ixzz1ih7l9KJ9). Jika seseorang kemudian berusaha menyukai apa yang tidak disukainya atau menjadi seseorang yang bukan dirinya, bisa jadi orang ini akan kehilangan jati dirinya. Kehilangan identitas yang selama ini dimilikinya.

Saya agak kabur dengan perubahan demi perbaikan. Akhirnya kita harus dan akan kembali pada realita siapa diri kita sebenarnya. Misalnya, secara pribadi tak ada salahnya kita skeptis, tapi jika skeptis bisa menjadi suudzon berlebihan, hal itu akan kurang baik bahkan bagi jiwa kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Jiwa kita akan banyak dihantui oleh pemikiran buruk yang belum tentu akan terjadi. Kenali skeptis kita untuk menjadikan kita waspada bukan malah jadi paranoid, takut pada apapun yang akan terjadi.

Untuk meningkatkan karier kita, tidak salah perilaku untuk menyenangkan atasan, tapi bukan berarti kita menghilangkan realita bahwa hal tadi sangat bertentangan dengan pribadi kita yang sesungguhnya. Daripada kita sibuk menjadi orang lain, ada baiknya kita meningkatkan kemampuan kita karena kerja keras kita akan menguntungkan tempat kita bekerja dan lambat laun akan menarik perhatian atasan kita. Tak ada ruginya karena secara terus menerus kita akan belajar untuk meningkatkan kualitas diri.

Ini barangkali "terjemahan" bebas saya untuk quote kang Idang bahwa bersikap realistis akan menjadikan seseorang lebih terhormat. Dia akan meningkatkan kualitas dirinya tanpa kehilangan jati diri dan yang lebih penting lagi dia tidak akan meninggalkan teman lama karena dia akan mengajak teman-temannya untuk maju bersamanya. Alih-alih kehilangan, dia akan menambah banyak teman dengan sikapnya yang humble dan sangat paham apa yang diinginkannya karena dia tahu benar siapa dirinya secara realistis. Mimpinya adalah bagaimana dia bisa lebih bermanfaat secara pribadi buat orang lain.

2 comments:

mataharitimoer said...

terima kasih atas tulisan yang bermanfaat.

Michelle Lee said...

terima kasih mas MT, smoga sy bisa produktif menyebarkan kebaikan seperti mas MT...