Wednesday, July 10, 2013

DIKLAT KURIKULUM 2013 HARI KEDUA.

Perubahan mindset.

Hari ini dengan semangat hari pertama puasa, para Guru Sasaran Kurikulum 2013 mulai memasuki ruang-ruang pelatihan untuk menerima materi. Untuk mata pelajaran Prakarya kelas D difasilitasi oleh pak Agus, Guru Inti dari SMPN 2 Bandung, yang baru saja pulang dari pelatihan sebagai Guru Inti minggu lalu. Kondisi kelas yang kurang kondusif dengan tidak adanya media pendukung seperti white board atau LCD, membuat fasilitator yang seharusnya 2 orang sedikit kesulitan memberikan materi. Tapi bukan guru namanya jika tidak kreatif, akhirnya dengan segala keterbatasan berlangsung juga pelatihan hari ini.

Mengawali dengan pembelajaran secara mandiri, kami dibagi menjadi 4 kelompok sesuai aspek mata pelajaran Prakarya yaitu Budidaya, Kerajinan, Rekayasa dan Pengolahan. Sebelum membahas secara khusus materi pelajaran, kami digiring untuk merombak mindset/pola pikir guru terhadap kurikulum 2013 sehingga kurikulum 2013 dapat diterima secara terbuka dan guru memiliki keinginan yang kuat untuk mengimplementasikannya. Hal ini menurut Pak Madira dari SMPN 7 Cirebon yang kebetulan satu kelompok dengan saya di bagian pengolahan, merasa seperti cuci otak dengan mengosongkan isi kepala dari kurikulum 2006 dan digantikan oleh kurikulum 2013.


Banyak pendapat mengenai kurikulum 2013 ini. Secara teori tujuan yang ingin dicapai sangat ideal, hanya saja masih banyak keraguan dalam proses pelaksanaannya terutama karena implementasi kurikulum yang terkesan sangat terburu-buru. Kesan ini kami dapat dengan melihat ketidaksiapan panitia baik dalam menyediakan tempat pelatihan maupun kemampuan para fasilitator yang merupakan Guru Inti yang hanya berbeda 4 hari lebih dulu mengetahui tentang kurikulum ini. Pengetahuan para fasilitator yang terbatas menjadikan keingintahuan para peserta tentang kedalaman dan pengembangan kurikulum 2013 tidak sepenuhnya bisa terjawab.

Kesulitan lain pada mata pelajaran prakarya adalah, berbedanya latar belakang pendidikan serta mata pelajaran yang sebelumnya diampu para guru di kelas ini yaitu TIK, PTD, Elektronika, Tata Busana, Seni Rupa, Matematika, Agama bahkan Bahasa Sunda. Hal ini membuat keraguan implementasi kurikulum 2013 semakin besar. Karena kebanyakan guru di kelas ini adalah guru TIK masalah menjadi berkembang ke arena "curhat" kenapa mata pelajaran TIK harus hilang dari kurikulum 2013? Padahal selama ini ruh kurikulum 2013 yaitu konsep sikap, pengetahuan dan keterampilan telah dilaksanakan di mata pelajaran ini. Pembelajaran terintegrasi TIK di mata pelajaran lain diragukan mampu dilaksanakan oleh guru mata pelajaran lain. Tapi diluar masalah itu, let's think positivelly, pengintegrasian TIK ke semua mata pelajaran akan meningkatkan kemampuan teknologi bagi teman-teman guru, jadi, sebagai 'mantan' guru TIK wajib menularkan ilmu teknologi dan informasi ke guru-guru lain.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa ada 3 aspek penilaian yaitu sikap, keterampilan dan pengetahuan. Ketiga aspek ini dapat dilakukan dengan teknik mengamati, bertanya, mencoba yang menuntut guru untuk melakukan penilaian autentik. Penilaian autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap berupa nilai-nilai spiritual dan sosial, keterampilan dan pengetahuan. Untuk penilaian ini guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, aktivitas mengamati dan mencoba serta nilai prestasi luar sekolah. Dalam hal pembelajaran guru akan berperan murni sebagai fasilitator sehingga murid adalah juga guru dan lingkungan sekitar adalah ruang-ruang kelas yang terbuka.

Kembali ke kegiatan pelatihan kurikulum 2013 mata pelajaran Prakarya, kali ini kami diminta untuk menganalis keterkaitan antara SKL (Standar Kompetensi Lulusan), KI (Kompetensi Inti) dan KD (Kompetensi Dasar). KI atau Kompetensi Inti merupakan istilah baru yang menggantikan SK (Standar Kompetensi) di kurikulum 2006.

Pada saat melakukan analisis jangan heran bila melihat pada kolom KI terdapat nomor yang tidak runut. Bagi kita yang sudah terbiasa dengan kurikulum 2006 dengan angka SK (Standar Kompetensi) yang berurutan, tidak akan terjadi pada silabus kurikulum 2013 ini. Aspek sikap diwakili oleh angka 1 dan 2 yang harus terintegrasi di setiap materi/konsep esensial; aspek pengetahuan diwakili oleh angka 3 dan keterampilan diwakili oleh angka 4. Jadi dalam satu materi misalnya pada mata pelajaran prakarya, buku siswa Bab VII. Pengolahan Bahan Pangan Buah dan Sayuran, Sub Bab Pengolahan Minuman Kesehatan, terdapat KI nomor 3.6. (Memahami manfaat dan proses pembuatan penyajian dan pengemasan aneka olahan pangan buah dan sayuran menjadi minuman kesehatan yang ada di wilayah setempat) dan di bawahnya KI nomor 4.2. (Mencoba membuat olahan pangan buah dan sayuran menjadi minuman kesehatan sesuai dengan hasil analisis dan bahan yang ada di wilayah setempat). KI 3.6 adalah aspek pengetahuan dari bab tersebut sementara KI 4.2 adalah aspek keterampilan.

Pada kegiatan pembelajaran dilakukan pendekatan scientific dengan mengembangkan proses mengamati, menanya, mengeksplorasi/mengumpulkan data, mengasosiasi dan mengkomunikasikan. Untuk mendukung cara belajar seperti ini guru dituntut untuk berfikiran terbuka untuk menerima pendapat siswa dan dapat menggiring pola berfikir siswa sehingga memunculkan kreativitas dan inovasi.

Baiklah, pelatihan hari ini saya simpulkan dengan bagaimanapun situasinya, seberat apapun tantangan yang akan kita hadapi ke depan, guru dituntut untuk merubah mindset sehingga guru adalah pendukung utama, pelaku utama dan ujung tombak kurikulum 2013, semoga.









1 comment:

KERTA SENI said...

SALAM SENI BUDAYA
AHAHAH NASIBNYA SAMA KAYAK ANE