Friday, July 12, 2013

DIKLAT KURIKULUM 2013, UJIAN DI BULAN PUASA.

Cerita duka.

Diklat Kurikulum 2013 bagi Guru Sasaran memasuki hari ketiga. Hari ini kelas kami membahas tentang perubahan mindset dan elemen perubahan kurikulum 2013 yang kemarin-kemarin selalu disinggung agar guru sasaran ini mengerti benar apa yang akan dan harus dilakukannya di kelas, dilanjutkan dengan pembuatan RPP.

Diklat kurikulum 2013 untuk Guru Sasaran mata pelajaran Matematika, IPA, Seni Budaya dan Prakarya diadakan dari tanggal 9 s.d 13 Juli 2013 bertempat di Green Hill Resort & Convention, Jl. Raya Ciherang Km. 3, Cipanas, Puncak-Jawa Barat. Nara sumber adalah pejabat pusat, provinsi, atau kabupaten/kota/instruktur yang ditugasi untuk memaparkan hal-hal yang terkait dengan peraturan dan kebijakan tentang pelaksanaan kurikulum 2013. Instruktur pelatihan terdiri dari Widyaiswara dan Guru Inti. Fasilitator pelatihan adalah staf teknis yang membantu instruktur pelatihan pelaksanaan pelatihan. Panitia pelaksana kegiatan kali ini adalah PPPPTK Bisnis dan Pariwisata.

Kedatangan hampir sekitar 780 orang Guru Sasaran ke Green Hill yang bersemangat untuk mengupas Kurikulum 2013 harus diawali dengan kekecewaan. Pada saat registrasi administrasi bisa dilalui dengan lancar, namun mulai terjadi kekacauan pada saat pembagian tempat penginapan. Banyak peserta yang ditempatkan  di tempat yang kurang layak seperti tidak ditempatkan di dalam kamar melainkan di selasar luar kamar dengan kasur lipat, sementara di tempat lain ada rumah yang kosong atau terdaftar dengan nama lain. Sebagai gambaran, Green Hill resort lebih tampak seperti perumahan dimana rumah-rumah tadi diisi oleh 4 s.d 8 orang. Posisi rumah menyebar mulai dari Blok A s.d E dan jauh dari tempat pelatihan. Ada 2 penginapan (hostel) lain di gerbang masuk Green Hill yang juga diisi 4 orang per kamar. Satu penginapan diisi oleh guru laki-laki yang lain oleh guru perempuan.

Green Hill Resort & Convention (atau perumahan?)


Pada saat datang, kondisi perut yang lapar dan penat karena perjalanan jauh semakin membuat lemas karena boro-boro makan siang, snack pun tak ada. Padahal kami datang dari tempat yang jauh dari seluruh Jawa Barat seperti Cirebon, Ciamis, Sindang, Bekasi, Depok dan lain-lain. Akhirnya tukang mie ayam yang mangkal di gerbang resort (atau kompleks perumahan?) diserbu peserta pelatihan yang kelaparan termasuk saya, lumayan buat ganjal perut. 

Acara pembukaan di jadwal kegiatan ditulis pukul 14.15 para peserta mulai masuk memenuhi ruangan aula. Detik demi detik berlalu, tanpa ada pemberitahuan sedikitpun, sampai pukul 15.00 belum tampak kehadiran pembicara ataupun pejabat yang akan mengisi acara pembukaan hari ini. Cuaca mulai tampak mendung akhirnya hujan pun turun deras membuat peserta yang tidak kebagian duduk di dalam terkena curahan air hujan. 

Akhirnya acara pun dimulai pada pukul 15.23. Para pejabat yang berwenang membuka acara serta pihak panitia penyelenggara membuat alasan macet sebagai alasan keterlambatan. Padahal macet di daerah puncak dan cipanas seharusnya sudah menjadi hal yang bisa diprediksi, andai saja mereka pergi lebih awal... Pembukaan diklat kurikulum 2013 serta ceramah dari Dr. Wahidin berlangsung sampai jam 17.15. Penjelasan yang cepat dan banyaknya slide yang dilewat membuat saya masih gamang mengenai kurikulum ini.

Saat paparan umum mengenai kurikulum ini selesai dilakukan, tanpa ada penjelasan kapan acara selanjutnya dimulai atau apa yang harus kami lakukan setelah itu, peserta membubarkan diri dengan langkah ragu karena tidak tahu harus kemana. Dalam fikiran kami kalau tadi siang tidak ada snack atau makan siang, tentulah ada coffee break atau hidangan makan malam. Setelah tengok kiri kanan dan tanya sana sini ada kabar meja snack tersedia dengan jarak sekitar 20 meter dari aula tempat acara pembukaan tadi. Jadilah saya kesana. Namun tak lama saya menyurutkan langkah saya dan memutuskan untuk kembali saja ke penginapan karena tampak 2 buah meja prasmanan berisi snack dirubung oleh ratusan orang sampai mejanya pun tak terlihat sementara ada 1 meja prasmanan lain yang hanya berisi panci-panci kosong.
Saat sesi grup berlangsung terjadi sharing tentang kejadian pada saat penyajian makan malam. Selain menu yang kurang menggugah selera, banyak peserta yang tidak kebagian sendok bahkan piring! Saya sendiri tidak kebagian apa-apa karena lebih memilih untuk pergi mencari makan diluar yang mengharuskan saya merogoh kocek yang seharusnya tidak perlu.

Ruang Matpel Prakarya Kelas D.
Ruang pelatihan mulai dibagi perkelas. Biasanya ruang pertemuan bentuknya seperti ruang konferensi yang akan membuat para peserta nyaman dalam bekerja, namun yang terjadi adalah kurang memadainya ruang-ruang yang dipakai pelatihan kali ini. Grup mata pelajaran matematika harus menempati aula yang hanya berisi tempat duduk tanpa meja, grup mata pelajaran IPA lebih beruntung dengan mendapat ruang pendopo yang bisa dibilang lumayan karena cukup memenuhi syarat sebagai ruang konferensi dengan media yang cukup serta dilengkapi AC. Ruang-ruang yang ditempati grup mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya adalah rumah-rumah yang disewakan dan menjadi tempat menginap peserta pelatihan dengan kondisi yang sangat jauh dari memadai. Beberapa kelompok malah harus berkali-kali pindah karena tempat yang sempit atau kurangnya sarana prasarana. Beberapa kali terjadi ketika para peserta pelatihan masih mengerjakan tugas-tugas, penghuni rumah yang ada di grup lain datang, akhirnya kami jadikan alasan untuk istirahat atau pada saat pagi-pagi datang, penghuni rumah masih bersinglet ria yang membuat kami merasa sangat tidak nyaman.

Shuttle bus yang seringkali overload.
Jalan panjang dan berliku dengan kemiringan 20 s.d 30 derajat harus dilalui peserta pelatihan setiap hari. Rata-rata untuk mencapai tempat pelatihan setiap peserta harus berjalan sejauh kurang lebih 300 meter! Bisa dibayangkan jarak yang harus ditempuh peserta setiap hari untuk mencapai tempat pelatihan belum lagi bila istirahat dan harus kembali lagi sangat membuat kami kelelahan.
Pihak Green Hill memang menyediakan alat transportasi berupa shuttle bus yang berkeliling tapi dengan peserta yang sedemikian banyak, 3 buah shuttle bus sangat tidak memadai.

Perjuangan untuk mengikuti pelatihan ini semakin terasa berat karena sebagai muslim saya mulai melaksanakan puasa. Sahur pertama pengaturan makanan kacau dengan tidak terbaginya makanan sahur secara merata. Banyak peserta pelatihan yang terpaksa tidak makan sahur atau makan sahur seadanya dengan mie instant atau minuman sereal karena tidak mendapat nasi kotak untuk sahur. Padahal sejauh apapun lokasi tempat menginap peserta, pihak pengelola seharusnya sudah memiliki data yang bisa digunakan untuk mengantarkan makanan. Saat ditanyakan pihak Green Hill menyatakan kekurangan tenaga untuk mengantar makanan ke seluruh peserta pelatihan. Jelas hal ini tidak dapat diterima karena pihak pengelola seharusnya bisa memperhitungkan berapa jumlah pegawai yang dibutuhkan untuk mengatasi soal antar mengantar makanan sahur dan melakukan penambahan. Pihak pengelola bisa dianggap melecehkan agama karena menghambat umat dalam menjalankan ibadah puasa.

Kekacauan yang terjadi demi sekotak nasi.

Saat buka puasa kekacauan terjadi lagi. Pihak Green Hill memang sudah menyediakan nasi kotak dan takjil tapi hanya sejumlah setengah dari seluruh peserta pelatihan! Saya yang datang ke pendopo tempat makanan disediakan dengan menempuh 200an meter berjalan kaki beberapa menit sebelum adzan berkumandang hanya bisa melihat meja-meja yang kosong dan kerumunan orang (perserta pelatihan) yang kebingungan kemana harus mencari panganan berbuka. Maghrib telah tiba, nasi kotak yang katanya masih di jalan belum tiba juga. Terjadi kekacauan dimana para peserta pelatihan yang belum kebagian makanan protes menanyakan nasib nasi kotak jatah mereka. Penyerbuan terjadi ke dapur dimana hanya terdapat dus-dus kosong dan sisa makanan yang tidak banyak. Akhirnya karena kesal, beberapa peserta pelatihan 'menjarah' makanan yang tersisa di dapur. Baru setelah para peserta pelatihan kembali ke tempat penginapan masing-masing dan memutuskan untuk mencari sendiri makanan untuk berbuka, datang sebuah mobil box mengangkut sisa nasi kotak yang seharusnya sudah dibagikan sebelum maghrib tadi, masalah makanan yang salah urus!

Saat sahur keesokan paginya memang terlihat pihak hotel berusaha untuk memperbaiki kesalahannya dengan waktu pengantaran yang lebih pagi. Beruntung tempat menginap saya adalah di hotel Panorama yang berada tepat di gerbang Green Hill sehingga mendapat kepastian pengantaran. Masih ada juga peserta pelatihan yang tidak mendapat jatah nasi kotak untuk sahur pagi itu. Ini yang membuat saya heran, padahal seharusnya pihak pengelola penginapan sudah memiliki data yang akurat tentang peserta pelatihan.

semangat!

Saya sebagai pribadi merasa sangat prihatin dengan keadaan ini. Padahal Kurikulum 2013 adalah sebuah skenario besar untuk merubah pola ajar yang selama ini berlaku dengan tujuan untuk membuat generasi yang bisa diperhitungkan secara global. Padahal Kurikulum 2013 ini harus dipahami secara utuh oleh guru sebagai ujung tombak dalam rangka implementasinya sehingga kenyamanan dan ketersediaan fasilitas pendukung pelatihan mutlak perlu. Padahal dana yang dikucurkan untuk membiayai kegiatan ini tidak sedikit dan diperlukan pertanggungjawaban penuh. Padahal, semangat yang ditunjukkan para peserta dalam melaksanakan tiap kegiatan sangat tinggi terbukti dengan minimnya fasilitas para peserta masih punya keinginan untuk belajar.
Bila kita perhatikan gambar di samping, dari kiri ke kanan, ada Ibu guru peserta pelatihan yang menjinjing sepatu hak tingginya karena lelah harus berjalan jauh dari penginapan ke tempat pelatihan. Gambar berikutnya peserta pelatihan yang pagi-pagi sudah datang ke tempat pelatihan dan sambil menunggu mereka membaca-baca literatur dan buku yang telah diberikan. selanjutnya Bapak/Ibu guru ini rela mengabaikan keselamatan dan kenyamanan demi sampai ke tempat pelatihan dengan cepat dan tidak terlalu lelah untuk kembali menelaah kurikulum 2013 dengan berdesak-desakan dalam shuttle bus yang overload. Dan seluruh kerja keras yang ditunjukkan oleh  peserta dihargai dengan sekotak nasi bungkus yang tidak pernah becus penanganannya sampai hari ke-3 ini.

Green Hill resort & Convention nama yang tidak seindah nama aslinya sangat tidak direkomendasikan untuk melaksanakan kegiatan dengan melibatkan peserta sebesar ini dalam waktu yang relatif lama. Mulai dari mobilisasi peserta yang sangat tidak memadai, penempatan peserta yang kacau dan amat sangat menyebar sehingga menyulitkan untuk bertemu, masalah penyediaan makanan yang dikelola sangat buruk menjadi pertimbangannya. Saya dan teman-teman peserta pelatihan tidak mengerti kenapa penginapan seperti Green Hill dipilih PPPPTK bidang Bisnis dan Pariwisata yang dikoordinatori oleh Bapak Joko Purwanto untuk mamfasilitasi kelompok mata pelajaran MIPA, Seni Budaya dan Prakarya. Muncul pertanyaan apakah sebelumnya telah dilakukan survey terlebih dahulu melihat kesiapan tempat pelatihan? atau ada alasan lain misalnya masalah pendanaan? Kenapa sangat terlihat tidak adanya kerjasama dan komunikasi antara panitia dengan pihak penginapan? Karena selama kami melaksanakan pelatihan selain staf teknis yang membantu para fasilitator, tidak tampak panitia yang dapat mengatasi setiap permasalahan yang timbul, misalnya pada saat terjadi kekacauan saat tidak adanya makanan untuk berbuka, tak ada satupun panitia yang tampak berusaha mengatasi atau paling tidak menenangkan para peserta yang tidak puas. Mudah-mudah kejadian buruknya penanganan Diklat yang diselenggarakan bagi Guru Sasaran oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk wilayah Jawa Barat khususnya kelompok mata pelajaran MIPA, Seni Budaya dan Prakarya dapat dievaluasi dan tidak akan terjadi lagi di waktu yang akan datang.

Malam ini, disela-sela pembuatan tugas yang harus diselesaikan berkaitan dengan implementasi kurikulum 2013, dengan kepala yang sedikit pening akibat kehujanan sepulang pelatihan tadi sore dan berharap jaket dan bajunya bisa kering esok, tersisa harapan semoga ketergesaan kurikulum 2013 ini tidak dimatangkan secara dikarbit (baca: dipaksakan) serta diberi kesabaran lebih sampai akhir pelatihan nanti, sekian.

2 comments:

Wijaya Kusumah said...

salut dgn catatan harian anda, semoga dibaca pejabat kemdikbud

salam
Omjay

Michelle Lee said...

thx Omjay, perjuangan kita cukup berat, mohon pencerahannya :)