Wednesday, January 28, 2009

Dunia Pendidikan.. PNS Vs GTT.

Saya sangat tidak menyangka dunia pendidikan kita ternyata kena IMBAS resesi global. Dan apa yang menjadi cara untuk menyelesaikannya (di banyak sekolah) adalah pengurangan pegawai.

Mungkin gara-gara seminar minggu lalu judul tulisan ini menggunakan Vs segala. Vs atau VERSUS berasal dari bahasa Yunani yang dipahami sebagai sesuatu yang berseberangan atau berlawanan. Kenapa lalu ada istilah PNS Vs GTT??

Di sekolah (terutama sekolah negeri) terdapat 2 GOLONGAN guru. Yang pertama adalah guru PNS, yaitu guru yang setiap bulannya mendapat gaji dari pemerintah, mendapat tunjangan dari pemerintah, mendapat kesempatan untuk sertifikasi (didahulukan) dan (sebelum adanya seruan pembebasan SPP hingga tingkat SMP), mendapat tambahan pendapatan, yang disebut uang KESEJAHTERAAN dari komite sekolah, mendapat kesempatan (didahulukan) untuk mengikuti penataran, pelatihan, seminar, workshop dan peningkatan profesionalisme lain, medapat kesempatan (didahulukan) untuk memegang jabatan lain selain mengajar (yang otomatis mendapat tambahan bayaran juga).

Di sisi lain terdapat golongan GTT atau GURU TIDAK TETAP atau lebih terkenal dengan istilah guru HONOR. Karena statusnya yang dinyatakan "TIDAK TETAP", GTT mendapat honor 'tidak tetap' dari sekolah (karena jumlahnya berbeda di tiap sekolah, tidak ada juklak resmi tentang berapa seorang guru honor harus dibayar), jatah sertifikasi menunggu PNS habis karena sifatnya yang (katanya..) menunggu giliran, sifatnya yang menjadi PENGGANJAL kekurangan jam mengajar guru PNS yang sekarang ada mungkin besok TIADA. Untuk diikutsertakan dalam kegiatan pelatihan atau seminar atau workshop dan kegiatan peningkatan profesionalisme lain, seorang GTT hanya bisa menjadi PENGGANJAL apabila guru PNS berhalangan, dianggap beresiko jika PNS kurang menguasai materi seminar atau sang GTT harus bersedia mengorek KOCEK SENDIRI demi ilmu yang ingin didapatnya.

Ketika sekolah-sekolah negeri kini hanya bisa berharap dari dana BOS yang turunnya bagai menanti hujan di saat musim kemarau ini, GTT merupakan orang-orang di baris terdepan yang siap dikorbankan. Tak perduli walaupun GTT sangat dicintai oleh anak didik atau mempunyai kemampuan yang lebih baik dibandingkan rekan2 PNS, yang mereka lihat adalah dengan mengeluarkan gaji untuk GTT merupakan suatu PEMBOROSAN. Barangkali para pejabat di sekolah lupa, ketika memproses input berupa anak didik, apabila mesin penggodoknya ternyata bermasalah, maka jangan mengharapkan output atau hasil yang sempurna.

Apakah sekarang guru PNS tidak melakukan pemborosan? Wallahu alam bissawab...

Ketika pada saat pembentukan awal RSBI dinyatakan bahwa guru yang mengajar di RSBI harus lulus TOEFL dengan point diatas 500... Minimal pasif berbahasa Inggris.. Dapat menggunakan ICT dalam pembelajaran. Dengan yakinnya saat itu juga dinyatakan 'bagi guru (GTT dan PNS - tanpa dibeda-bedakan -) yang merasa tidak memenuhi persyaratan tersebut, silahkan mengejar atau mundur teratur...'. Ternyata semua tidak terjadi, yang terjadi adalah... 'siap-siap para GTT...diRUMAHkan...'.

Apabila sekolah bersungguh-sungguh dalam MENINGKATKAN MUTU ANAK DIDIK, seharusnya diikuti juga dengan peningkatan KUALITAS PARA PENDIDIKnya. Kenapa tidak dicari (dan dijalankan) sistem yang betul-betul MEMANUSIAKAN manusia, PROFESIONAL dalam menangani setiap permasalahan dengan memandang dari berbagai sisi dan mengelola ANGGARAN dengan lebih baik lagi. Kalau benar niat baik sekolah untuk menurunkan AKUNTAN PUBLIK dalam menangani anggaran, kenapa tak terdengar juga?

Semestinya tiap sekolah kembali kepada harfiahnya sebagai lembaga pendidikan. Dimana seharusnya dapat memberikan PENDIDIKAN kepada anak didik dan masyarakat umumnya. Berikan penyelesaian yang FAIR untuk sekolah, anak didik dan pribadi para guru. Guru yang tidak dapat mengejar ketinggalan dalam mengikuti pola kerja RSBI yang dituntut serba cepat memang sebaiknya dirumahkan atau mutasi ke tempat lain yang memberi kesempatan untuk meningkatkan kemampuannya. Dan hal ini dilakukan melalui serangkaian TEST dan SUPERVISI yang (sekali lagi) FAIR dengan tidak membeda-bedakan status.

3 comments:

Hindraswari said...

Kalo pun ada yang saya irikan dari guru PNS adalah banyaknya kesempatan untuk belajar dan mengikuti berbagai seminar dan workshop. Sejatinya sih dengan bekal berbagai pelajaran itu kelak diharapkan mereka dapat mengaplikasikan dalam mengajar dan mendidik siswa/i nya. Realitanya? mbuhh. Mungkin ada yang berubah ada juga yang cuek saja. Saya kira balik lagi ke individu-nya. Tapi, memang, kenapa sih harus dibedakan? Yaa Shell, sama seperti aku, kamu pasti tahu realita yang ada di lapangan :).

Michelle Lee said...

Mba Enggar..
mudah-mudahan 'realita' ini ga bikin kita patah semangat dalam mendidik yaa... chaiyoo..

SAWAH KITA ORGANIK said...

1. sertivikasi untuk guru honor di sekolah negeri tidak ada, yang ada adalah untuk GTY. untuk GTY suasta malah lebih dahulu dibandingkan dengan PNS (PNS diatas 15 Tahun, GTY malah 6 Tahun, untuk ditempat saya)
2. Jangan salah kepala sekolah jika guru honor lama-lama tersingkir karena datangnya PNS baru.
3. Guru honor jangan selalu mengejek guru PNS yang lambat dan ngulet, berdoalah kalo memang ingin jadi PNS, karena dengan menghina dan mengejek tak akan dapat apapun selain menumbuhkan kebencian diantara keduannya.
4. Selayaknya untuk sekolah negeri tidak ada guru honor, karena sekolah negeri menjadi tanggung jawab penuh pemerintah (baik dana maupun pegawai)
4. untuk michelle lee, jangan mengadu domba dengan VS, karena tak ada Versus (hal yang bersebrangan antara guru honor dan PNS)data dan pemikiran anda pun tak semuanya sesuai realitas
terima kasih