Tuesday, April 21, 2009

Menyenangkan hati orang lain.

Ayah Ilham malam kemarin pulang dengan mainan tools dari plastik. Sadar akan bahaya kalo Ilham selalu tertarik buat bongkar toolbox yang isinya bukan buat anak toddler. Sayangnya Ilham udah bobo dan ga bisa liat mainannya yang baru, biarpun akhirnya memang terbangun, tapi dia terlalu ngantuk buat main lagi.

Pagi harinya begitu Ilham buka mata, langsung deh Ayah Ilham kasih tahu mainan yang baru dibelikannya plus tips cara memperbaiki roda mobil mainannya menggunakan kunci inggris. Ilham mengambil tang warna merahnya lalu bilang "Ayah..." sambil menunjukkannya pada saya, maksudnya tang itu mainan Ayahnya.. terus dia mengambil kunci inggris dan mulai memperbaiki roda mobil mainannya, persis yang dilakukan ayahnya.

Apa yang dilakukan Ilham, menyenangkan hati Ayahnya. Ayahnya pasti berfikir, 'mainan yang saya belikan disukai banget sama Ilham'. Dan dia pasti berfikir untuk membelikan mainan lain kalo ada rezeki karena dia bilang; "Palu nya belum ada."

Berbuat menyenangkan hati orang lain ternyata udah bisa dilakukan sama anak sekecil Ilham. Mungkin setiap orang waktu kecil seperti Ilham, punya kemampuan untuk berusaha menyenangkan hati orang lain. Namun setelah besar seringkali kemampuan ini menghilang seiring dengan keinginan buat eksis dan DIDENGAR bukan MENDENGAR.

Ketika Ayah Ilham pergi ke kantor, mainan baru Ilham tergeletak begitu saja. Ilham malah mencari mainan lain yang lebih ia sukai. Tapi Ayahnya tetap berfikiran tools yang baru ia belikan adalah mainan favorit Ilham dan pergi dengan hati yang senang.

Menyenangkan hati orang lain bukan berarti kita berbohong pada diri sendiri. Atau kalo istilah dalam manajemen ABS (Asal Bapak Senang). Setiap pendapat orang punya hak untuk kita pertimbangkan. Kadang kalo merasa pendapat orang lain tidak sesuai dengan pendapat kita langsung kita TOLAK. Atau kalo orang lain punya saran dan kritik yang baik sering kita anggap sebagai usaha untuk MENJATUHKAN. Beri waktu dan kesempatan sebuah pendapat, saran dan kritik untuk kita pelajari dan ambil sarinya demi perbaikan diri. Kalaupun ingin memberikan argumen lain, berikan dengan cara yang BAIK.

Seperti Ilham, dia akan belajar untuk menyenangi mainan barunya. Satu yang pasti, hati Ayah Ilham yang senang akan membuat Ilham kelak punya mainan baru lagi.

No comments: