Friday, July 23, 2010

Singapura; Saat-saat yang aneh.


Asyiknya belajar sambil berwisata di Singapura memang indah, kenangannya membawa serta 20 murid-murid pilihan sebagai wakil sekolah juga sesuatu yang tak terlupakan. Capeknya juga masih terasa berminggu-minggu kemudian, belum lagi laporan yang harus kami buat dengan hati-hati dan cermat.

Namun dibalik itu semua ternyata ada juga kejadian aneh yang menyertai waktu kami disana.

Malam pertama saya tidur di kamar sering dikejutkan dengan bunyi kucuran air keran tiba-tiba. Saya berusaha berbesar hati, 'mungkin suara dari toilet kamar sebelah,' pikir saya, walaupun agak seram juga. Saya tidak berani mematikan tv sampai harus memasang sleep timer nya hanya supaya tidak sepi.

Setan jail...
Murid-murid saya sering mengeluh barang-barangnya hilang. Entah kamera, handphone atau benda-benda lainnya.
"Miz, kameraku hilang!" Alfi pagi ini membuat laporan pada saya.
"Kamu lupa nyimpennya barangkali," saya mencoba menenangkan.
"Saya simpennya di tempat tidur, Miz, baru saya simpen pas saya liat lagi udah ngga ada," wajahnya terlihat sedih.
"Nanti pulang sekolah kita cari lagi, ya?" saya berjanji dalam hati untuk menemaninya mencari kameranya yang hilang.

Esoknya ada lagi laporan kehilangan, kali ini pass key berupa kartu yang dimiliki tiap anak.
"Pernah ada yang minjem, Miz, naronya ga tau dimana," wajahnya sedih karena jika hilang dia harus mengganti sebesar 30 Sin $.
"Ketelingsut atau jatuh ke bawah meja barangkali, kamera Alfi juga ketemu kan kemarin?" saya kembali coba menenangkan, ingat kamera Alfi yang tiba-tiba muncul dari bawah lipatan jeans nya.
Belum habis kata-kata saya, tiba-tiba HP saya berdering, rupanya dari rekan guru pendamping, karena sedang membetulkan salah satu kostum siswa (hari ini waktu mereka menampilkan kesenian), salah satu murid saya yang menerima teleponnya.
"Kenapa Pak Odik?" saya bertanya pada Prilli yang tadi membantu saya menjawab telepon.
"Itu Miz, katanya kunci kamarnya ilang," Prilli menjawab.
"Lha kok bisa ilang terus masa nanya sama aku ya? emang aku bisa ngumpetin gitu?" saya sedikit geli, mungkin teman saya panik menyangka kuncinya tertinggal di luar dan saya sembunyikan karena untuk mengunci pintu dari dalam kita tidak perlu anak kunci.
Namun tak lama teman saya muncul dengan wajah yang masih sedikit pucat.
"Ketemu, Pak?" saya bertanya. Tanpa banyak bicara dia mengangguk.

Sepulang sekolah ada laporan lain lagi.
"Miz, HP ku kayaknya jatuh di bis," kali ini Fira.
"Innalillahi.. gimana kejadiannya?" saya tanya.
"Saya kan tadi pagi ketiduran, terus kayaknya HP nya jatuh, soalnya ga ada di tas," Fira tampak kebingungan.
"Ya udah saya laporan sama Pak Shaheful ya. mudah-mudahan HPnya masih rejeki kamu," ucapan terakhir saya disambut anggukan Fira.
Lalu saya ingat kunci teman saya yang sempat hilang tadi pagi.
"Pak, kuncinya ketemu dimana?" tanya saya penasaran.
"Ya, kan biasanya abis masuk pasti saya simpen di meja. Tadi pagi kok ga ada. Saya takut ketinggalan di luar, ga ada juga," dia menjelaskan kronologis kejadiannya.
"Terus saya Istighfar terus takut juga," katanya selanjutnya.
"SAya cari lagi sampai ke bantal segala! taunya pas saya angkat bantal kok agak berat, taunya ada di dalam sarung bantal!" dia menjelaskan dengan wajah bingung.
"Bapak lupa kali tadi malem nyimpen di bawah bantal terus kegeser-geser, masuk deh ke sarung bantal," saya berusaha logis.
"Iya kali," teman saya setuju sambil tetap dalam hatinya dia masih heran.

Ternyata HP Fira setelah ditanya ke perusahaan bis yang mengantar kami pagi tadi tidak menemukan HP milik Fira.
"Saya tadi sempet coba telpon Miz, pertamanya ga ada jawaban, tapi sekitarnya rame banget, pas yang kedua kali ada yang jawab suara cowo tapi ngomongnya aneh gitu Miz," wajahnya sedih.
"Ya udah, artinya kamu harus lebih hati-hati ya Fir sama barang bawaan kamu sendiri. Kalau perlu komunikasi sama orangtua kamu nanti pakai HP saya aja ya," saya berusaha menghibur.
Rupanya salah seorang murid saya yang lain, Ara, mencuri dengar:
"Sebenernya barang-barang aku juga sering ilang, Miz," lha ada lagi laporan barang hilang.
"Ilang gimana, Ra?" saya tambah bingung.
"Beneran Miz, kemarin tuh kamera aku, tadi nih, Miz, HP aku yang ilang, masa ketemunya di bawah kasur!" Ara dengan santai cerita pada saya.
"Masa ada yang jail di kamar kamu?" saya jadi heran.

Setiba di kamar, saya masih mendengar gemericik air yang sering tiba-tiba terdengar. Lalu dengan memberanikan diri saya telusuri asal suara. Saya sampai menempelkan telinga ke dinding kamar yang bersebelahan dengan kamar lain. Tapi kemudian saya ingat kamar sebelah kosong. Saya berusaha berani, lalu pandangan saya layangkan ke atas eternit, ke serangkaian pipa yang meintang di bawahnya. Ooo rupanya pipa pembuangan air dari lantai atas mengelir melalui kamar saya. Saya tersenyum sendiri dan malam itu saya tidur lebih tenang.

Sampai di Cengkareng saya sudah lupa tentang kehilangan-kehilangan tadi sampai ada satu tas yang tertinggal di trolley yang saya bawa.
"Ini ransel siapa?" saya berteriak pada anak-anak yang masuk bis Damri yang akan membawa kami ke Bogor, tak ada yang menjawab. Saat bis kami mulai berjalan, tiba-tiba Fira berteriak..
"Miz, ranselku ketinggalan!" saya lalu mengangkat ranselnya yang tadi ditinggalkan begitu saja di atas trolley. Fira tersenyum malu sambil bilang terima kasih.

Hal itu lalu saya ceritakan kepada teman saya,
"Fira tu ceroboh, Pak, kemaren HP nya, tadi ranselnya mau ditinggal. Kemaren kok banyak cerita kehilangan, ya? Jail juga ya mahluk2 luar negeri," kataku sambil geli.
"Kalo hilang sih mungkin aja memang salah taro kayak kartu anak yang ilang kemaren kan ketemu? kalo kejadian saya lebih aneh lagi, Bu," Pak Odik mengingatkan saya waktu kartu murid saya yang hilang ketemu dengan kondisi yang kotor talinya seperti terkena oli.
"Saya tiap malam selalu ngedenger pintu dibanting-banting, sering lagi," dia menyambung.
"Mungkin dari kamar-kamar lantai atas, Pak, kalo di atas pintunya gampang kebanting soalnya anginnya kencang.
"Iya, tapi saya pernah lihat penasaran pas bunyi 'Brukkk!' sekali saya intip keluar, jam 3 pagi! ga ada apa-apa! nah Ibu kan kamarnya ga jauh dari kamar saya, suka ngedenger ga suara pintu dibanting-banting?" teman saya bertanya ingin tahu.
Saya lalu ingat-ingat ketika di hostel apakah saya pernah mendengar pintu dibanting-banting...
"Pernah ga, Bu?" teman saya bertanya penasaran," sambil agak bingung saya menjawab,
"....ngga...," jadi...???

2 comments:

Cheryl said...

wah, setan luar negeri rupanya ingin memberi kesan pada turis. xixixixi hahahaha.

Michelle Lee said...

yupz, Cheryl.. pengennya dibikin serem tapi kok malah jd lucu y? hehehehe...