Wednesday, July 21, 2010

Singapura; Negara Tanpa Klakson dan Polisi.

Betapa beruntungnya saya ketika sekolah menugaskan saya dan salah seorang rekan untuk mendampingi 20 orang siswa mengikuti pertukaran pelajar ke Singapura. Persiapan saya lakukan termasuk berbagai kebiasaan yang berlaku di Singapura.

Namun sesiap apapun mental saya, ternyata ketika pertama kali menginjakkan kaki di Changi Airport, Singapura membuat saya kagum. Saya bak orang desa yang baru melihat kota terlebih baru pertama kali ini saya berkesempatan melihat negeri lain.
Kenapa Singapura? Secara umur, luas wilayah dan jumlah penduduk, Singapura kalah jauh dari Indonesia. Singapura melepaskan diri dari Malaysia pada tahun 1965, memiliki penduduk kurang lebih 4 juta jiwa, luas wilayah 700 km2. Bandingkan dengan Indonesia yang merdeka sejak tahun 1945, memiliki penduduk kurang lebih 234 juta jiwa dan jika digabungkan luas wilayah 5 pulau utamanya adalah sekitar 1756.37 km2 belum termasuk ribuan pulau yang tersebar di seluruh wilayahnya.
Singapura juga bukan termasuk negara OECD yang merupakan kelompok negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan terpesat di dunia (karena alasan tertentu).

Dalam waktu yang sangat cepat Singapura berkembang dari sekedar kampung nelayan menjadi sebuah negara megapolitan. Pandangan pertama saya jatuh ketika melihat kendaraan di Singapura memiliki umur tak lebih dari 5 tahun. Otomatis yang saya lihat hanya kendaraan bagus di jalan raya. Kendaraan yang out of date hanya terdapat di proyek-proyek pembangunan yang menggeliat di setiap sudut.

Selain mobilnya yang bagus, rupanya pengemudi di Singapura mempunyai kesadaran tinggi untuk tertib di jalan raya. Masyarakat Singapura sangat menghargai pejalan kaki. Sangat mudah buat saya yang sedikit phobia menyeberang jalan untuk melintas di jalan-jalan Singapura. Setiap Zebra Cross artinya bebas buat kita menyeberang tanpa harus tengok kiri dan kanan, pengemudi lah yang mengurangi kecepatan dan tengok kiri kanan apabila akan melintasi zebra cross. Garis putus-putus di setiap perempatan artinya kita dapat menyebrang setelah lampu menyeberang berubah menjadi hijau. Untuk menyalakannya terdapat tombol di setiap tiang lampu lalu lintas yang harus kita tekan apabila akan melintas.

Saking tertibnya lalu lintas disana, selama seminggu berada di Singapura, hanya 3 (tiga) kali saya mendengar suara klakson dibunyikan. Selain itu tidak pernah sekalipun saya lihat polisi yang (seperti di Indonesia atau negara lain) sibuk mengatur jalan raya. Mungkin selain tingkat kesadarannya yang tinggi, masyarakat Singapura selalu diawasi melalui kamera-kamera pengamat. Polisi akan segera datang bila diperlukan. Sekali kami melihat polisi pada saat menyelesaikan kecelakaan di jalan raya. Dan walaupun kendaraan yang mengalami kecelakaan masih melintang di jalan raya, sama sekali tidak menimbulkan kemacetan yang berarti. Saking jarangnya ketemu polisi, teman saya begitu excited sampai histeris saat ketemu satu polisi yang sedang dalam perjalanan pulang.

Padahal semua orang seakan berlari di Singapura. Berjalan pun dengan kecepatan tinggi. Namun dalam berkendara, masyarakat Singapura begitu sabar menunggu giliran. Tidak seperti pengalaman saya pagi tadi yang diklaksoni gara-gara angkot yang yang saya tumpangi berhenti sembarangan. Hal yang justru saya kangeni ketika berada di Singapura... :)

No comments: