Thursday, July 22, 2010

Singapura: "My shoes is killing me."

Untuk memberikan kesan baik koper perjalanan saya mengunjungi Singapura dipenuhi dengan baju yang biasa saya kenakan untuk mengajar. Namun koper kembali saya bongkar, mengganti baju formal dengan kemeja-kemeja batik. Untuk praktisnya saya tidak membawa rok seperti yang biasa saya pakai ke tempat mengajar melainkan celana panjang hitam (warna yang aman dan tidak gampang kotor).

Termasuk sepatu (dan kaos kaki). Sebagian gaji saya bulan lalu sengaja saya sisihkan untuk membeli sepatu baru. Sepasang sepatu hitam standar yang biasa dipakai seorang guru perempuan di Indonesia. Biasa kita sebut vantoufel (pantopel), sepatu kulit tertutup dengan hak yang tidak terlalu tinggi.

Ketika waktunya mengunjungi sekolah tempat kami mengadakan pertukaran pelajar, sepatu baru saya yang masih mengkilat dengan manisnya menghias kaki saya.
Satu jam.. dua jam berkeliling area sekolah yang luasnya 5 kali sekolah tempat saya mengajar. Ketika waktunya tour sepulang sekolah, hari itu jadwal kami adalah mengunjungi Singapore Botanic Garden. Setelah Botanic Garden masih mengunjungi beberapa museum.
Semakin jauh berjalan sepatu baru yang masih menyesuaikan dengan kaki saya lama-lama membuat kepala pusing. Mr. Shaheful rupanya memperhatikan:
"Are you feeling OK?"
"My shoes is killing me,"
saya menjawab sambik mengurut-urut telapak kaki saya.
"So why you have to wear that shoes," Mr. Shaheful tampak heran.
"This is my teaching shoes. Because I have to come to your school so I chose this shoes," saya berkata lagi.
Lalu saya cerita di Indonesia (khususnya sekolah tempat saya mengajar) buat guru perempuan harus menggunakan rok dan memakai apa yang saya sebut teacher's shoes sebagai contoh buat murid-murid.

Penjelasan saya membuat Mr. Shaheful sedikit terbelalak karena di Singapore tak ada ketentuan khusus berpakaian bagi guru perempuan. Hari ini justru saya terbelalak terlebih dahulu ketika melihat seorang guru memakai pakaian 'you can see' ditambah selop. Atau seorang guru yang menggunakan high heel warna menyolok. Barangkali di Singapore aturan berseragam bagi murid sudah jelas dan tegas sehingga tak ada korelasi antara cara berpakaian guru dengan tingkat kepatuhan siswa untuk tidak patuh terhadap aturan berseragam. Karena hal tersebut maka tak ada perlunya membatasi jenis pakaian gurunya.
Demikian juga tidak ada korelasi antara jenis pakaian guru dengan tingkat profesionalisme guru. Guru di Singapura sangat profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai guru. Mereka tidak pernah terlambat apalagi meninggalkan kelas tanpa alasan yang jelas. Mengetahui hal tersebut ketika ada kesempatan akhirnya saya membeli sepatu 'flat' yang menjadi favorit saya.

Besoknya saya bertemu dengan Mr. Shaheful dengan bangga saya katakan:
"You can walk me anywhere, Pak, coz my shoes is not killing me anymore...." :D

No comments: