Friday, July 23, 2010

Singapura; "Cik Gu, muridnya tidak disiplin!"

Tingkat disiplin masyarakat Singapura jauh melampaui tingkat disiplin di Indonesia. Anak murid saya sangat merasakan itu sehingga selama di Singapura mereka tidak pernah menyulitkan kami, guru pembimbingnya. Tidak pernah sekalipun mereka terlambat pada waktu makan, waktu berangkat dan pulang sekolah, maupun ketika dibebaskan untuk berkeliling di suatu tempat, mereka pasti kembali tepat waktu.

Dalam hal makanan, jenis makanan yang kami makan (baik di hostel yang merupakan asrama sekolah maupun di kantin sekolah) adalah makanan bersertifikat sehat dari pemerintah. Namun karena kami terbiasa dengan makanan yang gurih, makanan disana kami rasa plain alias tidak terasa asin atau gurih. Kecuali jika sarapan kami berupa kari dengan roti cane (karena kebetulan kami seasrama dengan tamu dari India yang vegetarian), bumbunya yang kental luar biasa nikmat (jadi kangen... ^_^).


Mungkin karena kekurangan garam selama berhari-hari atau karena semalam nonton piala dunia sehingga kurang tidur, pada hari ketiga di Singapura kepala saya mendadak pusing berat. Wajah saya pucat dan hampir tidak bisa bangun dari duduk. Untung di sekolah tersedia klinik yang menyediakan obat-obatan.
Sepulang sekolah sekarang waktu kami tour ke tempat-tempat bersejarah di Singapura. Pemerintrah Singapura berupaya dengan keras agar masyarakat Singapura tidak lupa akan akar budaya yang terdiri dari campuran masyarakat Melayu, Tionghoa dan India. Setiap museum di Singapura gratis bagi para pelajar. Hari ini kami mengunjungi Masjid Sultan, Buddhist ToothRelic temple dan Sri Krishnan temple.

Seperti biasa, kami berangkat menggunakan bis yang disewa oleh pihak sekolah. Rasa pusing yang tiba-tiba menyerang dua jam lalu agak lumayan setelah diberi paracetamol dari pihak sekolah. Hari itu supir bis yang akan membawa kami agak lain penampilannya dari supir-supir bis yang pernah membawa kami. Wajahnya khas wajah orang India, berkumis tebal dan berkacamata hitam. Saya senyumi dia tak bereaksi (mungkin matanya yang tertutup kacamata hitam sedang memandang ke arah lain sehingga tidak melihat senyum saya). Semua murid saya ditambah dengan buddies (siswa Hua Yi yang ditugaskan ikut mengantar) sudah naik serta merta supir yang bertampang seram tadi berdiri dan mulai berteriak-teriak (tepat disamping kursi saya yang duduk paling depan).
"LISTEN !!" waduh teriakan pertamanya membuat kepala saya yang tadi lumayan jadi pening lagi.
"DO NOT MOVED FROM YOUR SEAT WHEN THE BUS IS MOVING, PUT ON YOUR SEAT BELT... bla.. bla.. bla..," si supir terus berteriak-teriak membuat anak didik saya ketakutan.


Peraturan berkendaraan di Singapura memang ketat. Kamera yang tersebar di tepi-tepi jalan membuat para pengemudi patuh dan takut untuk melanggar. Jika terjadi pelanggaran misalnya para penumpang yang berdiri saat kendaraan berjalan pengemudi akan diberi peringatan sampai dengan izin bekerjanya yang dicabut. Pantas saja teriakannya begitu keras.
Sampai di tempat wisata, kami tambah dibuat kaget, sang pengemudi bersuara halilintar tadi menghampiri salah seorang murid dan tampak bercakap-cakap, saya terlalu pusing untuk melihat siapa yang dia ajak bercakap-cakap. Tak lama sopir tadi menghampiri rekan kerja saya dan berkata:
"Cik Gu, muridnya tidak disiplin!" rupanya dia bisa bahasa Melayu.
"Tadi saya lihat murid cik Gu berdiri tapi dia tidak mau mengaku!" suaranya menggelegar.
"LISTEN!! I TOLD YOU ONE MORE TIME! DO NOT MOVE FROM YOUR SEAT! .... ," sebagian besar kata-katanya sudah tidak sanggup saya cerna.

Setelah tanya murid saya, ternyata yang tadi berdiri bukan salah satu murid saya melainkan salah satu buddies dari sekolah yang kami kunjungi. Itupun karena ingin membetulkan roknya yang merosot. Waktu harus masuk kembali ke bis, saya memberanikan diri balik menegur sang sopir:
"Sorry, Pak, that was not my student who stood,"
"Oo, not your student?" dia bertanya (kok seperti ngga percaya?).
"No, and she's having a trouble with her skirt," masih saya bela takut dia langsung menegur lagi.
"Oo, I will tell their teachers then, I'm sorry Cik Gu, it's the rule to... blablabla," intinya dia bilang cuma ingin mengikuti aturan yang ada, saya mengangguk-angguk. Akhirnya dia bilang:
"Oke Cik Gu, Indonesia bagus lah," seringainya muncul kontras dengan warna kulitnya. Dalam hati agak ilfil juga tapi hal itu bagus buat anak murid saya belajar disiplin dalam kendaraan.

Tak mau kalah dengan sang sopir, saya ikut-ikutan mengingatkan:
"Oke guys, kamera pengawas ada di mana-mana. Kalian lihat cctv di belakang sana? hati-hati, saya ngga mau kita kena masalah," saya berkata sambil menunjuk sebuah kamera cctv di belakang bis. Salah satu murid saya lalu nyeletuk:
"Itu bukan cctv Miz, itu kan kamera spion," katanya sambil menunjuk pesawat tv kecil di sebelah kursi pengemudi. Sambil sedikit malu saya berkata lagi:
"Yaa, pokonya kamu tertib, kameranya bisa ada dimana aja," guru memang harus punya jawaban untuk apapun ya... xixixixi

1 comment:

Cheryl said...

haha, segarang itu ya pengemudinya. tapi pasti jd pengalaman jg yg nggak terlupakan tuh si bapak india itu :P