Friday, September 28, 2012

Rumah Kompos: Penyelamat Lingkungan a la Kampung.

Tidak ada yang istimewa dari lingkungan perumahan Griya Melati di Jl. Cifor Kelurahan Bubulak Kecamatan Bogor Barat tempat saya tinggal selama hampir 8 (delapan) tahun ini. Namun saya sangat percaya bahwa memiliki rumah dengan lingkungan sesuai dengan harapan adalah rezeki tersendiri.

Kompos Griya Melati

Suatu hari sekantung tanah dibagikan oleh petugas kebersihan di setiap rumah, disertai undangan untuk datang ke tempat pembuangan sampah kami pada sore harinya. Penasaran, saya dan suami akhirnya datang. Ternyata seorang warga yang dikenal dengan nama pak Sony dan istrinya, sore itu menjelaskan tentang 3R, Reduce, Reuse, dan Recycle. 'Oke' (dalam hati saya bilang) lalu apa hubungannya tanah yang dikirimkan tadi pagi dengan ini?
"Bapak Ibu tadi pagi sudah menerima sekantung tanah tadi pagi?" Pak Sony akhirnya akan menjawab rasa keingintahuan saya.
"Itu adalah sampah bapak ibu selama ini." katanya lagi.

What? dalam hati saya berkata. Oow.. Jadi tumpukan lapisan tanah di sekitar pembuangan sampah kami ternyata sampah organik yang berasal dari rumah kami untuk kemudian dijadikan kompos, mata saya menatap mengelilingi sekitar tempat pembuangan sampah kami. Jadilah mulai saat itu resmi tempat pembuangan sampah kami dinamai Rumah Kompos Selengkapnya tentang hal itu ada disini dan pernah dimuat di kompas cetak pada 22 Agustus 2012 lalu.

Pot bunga dari botol bekas.
Itu awalnya. Dari usaha seorang Sony yang sepakat dipilih oleh warga menjadi ketua RW, pemahaman warga untuk bergaya hidup lebih bersahabat dengan lingkungan mulai tumbuh. Sampah organik diolah menjadi kompos, yang anorganik?

Beliau juga yang kemudian mendorong warganya untuk me-Recycle sampah plastik kemasan pelembut pakaian, pencuci piring, bungkus kopi dan lain-lain menjadi barang kerajinan seperti tas, dompet, topi, sampai payung.
Salah seorang warga secara serius mengolah sampah mulai dari kemasan kopi sampai tas plastik keresek, dari kertas koran sampai styrofoam! Bahkan sedotan yang biasa dipakai untuk air kemasan pun bisa disulapnya menjadi taplak meja. Di tangannya sampah bisa menjadi sesuatu yang selain bermanfaat juga cantik.

Pot bunga berbahan styrofoam.
Belakangan ia bersemangat  mengolah styrofoam untuk dijadikan pot bunga. Untuk itu dia membutuhkan alat pemarut kelapa untuk menghancukan styrofoam. Harapannya barangkali suatu saat ada yang tergerak menyumbang entah dari lembaga mana saja yang bisa membantunya mengolah limbah styrofoam, karena selama ini ia menghancurkan strofoam dengan memarut secara manual. Tentangnya ada disini.

Selain untuk dijual, kompos hasil sampah organik kami juga membuat subur apotik hidup yang dimanfaatkan warga untuk mengatasi berbagai penyakit dan menjaga stamina. Lengkap sudah, memiliki kampung yang sesuai hati nurani.
Hasil dari usaha yang sejak 2004 saat ini membawa lingkungan kami menerima penghargaan dari walikota sebagai Pengelola Sampah Lingkungan terbaik se-kota Bogor, serta RW terbaik se-kota Bogor.


produk daur ulang lain; taplak, tatakan dan tempat pensil.
Banyak kunjungan dari berbagai daerah bahkan luar negeri yang ingin tahu cara kami mengelola sampah. Kerjasama dengan kampus IPB dan beberapa kampus lain dalam hal pengelolaan lingkungan dengan sering diundangnya kami sebagai pembicara atau sebagai trainer di acara seminar atau workshop. Kunjungan dari murid-murid sekolah yang bisa ikut mengkampanyekan pola hidup yang sadar lingkungan serta beberapa kali kampung kami juga diliput untuk acara di stasiun-stasiun televisi.

Setiap warga memanfaatkan sampah
Namun dari semua yang kami alami pastinya tinggal di Griya Melati telah menginspirasi saya untuk menjadikan green living sebagai lifestyle,
tahu limbah yang saya buang selama ini jadi apa dan paling tidak mengurangi sedikit rasa bersalah ketika terpaksa menggunakan kemasan plastik karena akan kami olah kembali.




2 comments:

Utami Utar said...

Hebat!

@utamiutar

Michelle Lee said...

Setuju mba Tami.. orang2 di kampungku emang hebat2.. :)